INTERMESO


DIJUAL: PENYADAP IPHONE DAN ANDROID DARI ISRAEL

Produk-produk perusahaan siber Israel dipakai banyak negara, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Dipakai memata-matai kelompok minoritas.

Ilustrasi penyadapan ponsel

Foto: dok. Getty Images

Minggu, 25 November 2018

Beberapa waktu lalu, seorang pengusaha Israel diundang menghadiri pertemuan dengan perwakilan NSO Group Technologies. Setelah sedikit basa-basi, salah satu perwakilan NSO minta izin untuk memamerkan ‘kehebatan’ produknya. Target dari demonstrasi ini adalah salah satu ponsel iPhone milik pengusaha Israel itu.

Hanya dalam hitungan lima hingga tujuh menit, tanpa ada seorang pun yang menyentuh ponsel itu, seluruh isi iPhone tersebut sudah pindah ke layar proyektor. “Aku melihat semua ikon di layar iPhone milikku ada di sana; e-mail, SMS, dan semuanya.... Saat ikon itu diklik, semua isi e-mail-ku terpampang di sana. Mereka bisa membuka semua informasi dalam ponselku,” pengusaha itu menuturkan pengalamannya kepada Vice dua bulan lalu.

Pertunjukan produk NSO itu membuktikan bahwa ponsel kita, semahal iPhone sekalipun, tak kebal dari penyadapan. NSO Group adalah perusahaan ‘jasa keamanan’ yang didirikan oleh Niv Carmi, Omri Lavie, and Shalev Hulio. Perusahaan ini berkantor di Herzliya Pituah, Israel. Di brosur yang dibagikan oleh NSO, seperti dikutip Foreign Policy, NSO menawarkan “a powerful and unique monitoring tool, called Pegasus, which allows remote and stealth monitoring and full data extraction from remote targeted devices via untraceable commands”.

Di profil NSO Group yang ada di situs SIBAT Kementerian Pertahanan Israel, perusahaan itu ditulis sebagai ‘leader in the field of cyber warfare’. Singkat kata, NSO ini menawarkan spyware Pegasus yang bisa dipakai memata-matai orang lewat ponsel yang dikantonginya. NSO inilah yang dituding oleh Edward Snowden, mantan analis di National Security Agency (NSA) Amerika Serikat, sebagai alat mata-mata Arab Saudi untuk melacak jejak wartawan Jamal Khashoggi. Jamal mati dibunuh di kantor Konsulat Jenderal Arab Saudi di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober lalu.

Ilustrasi
Foto: dok. Getty Images

NSO sebenarnya bukan perusahaan yang suka pamer dan unjuk diri. Mereka tak punya situs di internet. Tak banyak pula cerita soal dua bos perusahaan itu sekarang, Shalev Hulio dan Omri Lavie. Mereka sangat irit bicara kepada wartawan. “Aku tak melayani wawancara,” Omrie Lavie menulis pesan kepada wartawan majalah Forbes beberapa waktu lalu.

Selain menjabat bos di NSO, Shalev dan Omrie merangkap jabatan di Kaymera Technologies dan Orchestra. Berlawanan dengan NSO, yang menjual jasa ‘mata-mata’, Kaymera justru menjual jasa kepada pemerintah dan perusahaan-perusahaan bagaimana menghindari ancaman keamanan di internet, salah satunya dari intipan mata-mata. Thomas Brewster, wartawan majalah Forbes yang mengikuti jejak NSO bertahun-tahun, menduga Shalev dan Omrie merupakan ‘alumni’ Unit 8200, unit intelijen Israel yang bertugas menguping semua percakapan terkait keamanan negara.

Aku tak melayani wawancara."

Berdiri sejak 2009, sebelumnya tak banyak orang mendengar soal NSO hingga kasus penyadapan terhadap aktivis hak asasi manusia Uni Emirat Arab, Ahmed Mansoor, terbongkar. Dua hari berturut-turut pada 10 dan 11 Agustus 2016, Mansoor mendapat kiriman pesan pendek di ponsel iPhone 6 miliknya. Isi tautan pada dua pesan itu sama-sama ‘menggoda’, menjanjikan daftar tahanan yang mengalami penyiksaan di penjara Emirat Arab.

Untunglah Mansoor waspada dan tak tergoda untuk mengklik tautan itu. Sudah dua kali dia dimata-matai dengan spyware. Alih-alih membuka tautan, Mansoor malah mengirimkan pesan itu ke CitizenLab di Munk School of Global Affairs and Public Policy, University of Toronto, Kanada. Bekerja sama dengan perusahaan keamanan jaringan Lookout Security, CitizenLab menelusuri tautan di iPhone milik Mansoor. Hasilnya, mengarah pada spyware Pegasus yang dibuat oleh NSO.

Jika tautan itu diklik dan Pegasus ‘menginfeksi’ ponsel itu, siapa pun yang memesan jasa NSO bisa melihat dan menyalin semua isi ponsel, termasuk menyadap percakapan lewat WhatsApp maupun Telegram dan memantau pergerakan, bahkan bisa menghidupkan kamera dan aplikasi perekam suara, tanpa pemiliknya menyadari.

Pesan pendek di ponsel milik aktivis HAM Uni Emirat Arab, Ahmed Mansoor
Foto: dok. CitizenLab

Menurut penelusuran CitizenLab, ada 45 negara di dunia yang memakai Pegasus milik NSO Group, dari Meksiko, Arab Saudi, Panama, sampai Botswana. Sebagai perusahaan yang terdaftar di Kementerian Pertahanan Israel, semua transaksi pembelian Pegasus harus mendapatkan izin dari pemerintah Israel. Para analis CitizenLab menduga, pemerintah Uni Emirat Arab-lah yang menyewa jasa NSO untuk memata-matai Mansoor.

Pada Agustus 2018, sejumlah pihak yang menjadi korban penyadapan ilegal oleh NSO dan Circles Technologies, perusahaan jasa sejenis asal Israel, mendaftarkan gugatan di Siprus dan Israel. Ada sejumlah bukti yang disertakan dalam gugatan itu. Salah satu bukti adalah percakapan lewat e-mail antara Eric Banoun, salah satu eksekutif di Circles, dengan Ahmad Ali al-Habsi, pejabat di Dewan Keamanan Nasional Uni Emirat Arab.

Lewat e-mail itu, Ahmad, yang berniat memakai jasa Circles, meminta Eric memamerkan kemampuan perusahaannya menyadap telepon milik salah satu redaktur situs berita Al-Arab, Abdulaziz Alkhamis. Dua hari kemudian datang balasan dari Eric. “Silakan buka rekaman terlampir,” Eric, seperti dikutip New York Times, menulis. Rekaman itu berisi semua percakapan Abdulaziz lewat ponselnya selama 48 jam.

Uni Emirat Arab sudah memakai jasa NSO sejak Agustus 2013. “Emirat Arab merupakan pelanggan besar teknologi mata-mata.... Dan mereka tahu teknologi terbaik dalam memata-matai itu dari Israel,” kata Ben, bukan nama sebenarnya, konsultan di perusahaan jasa mata-mata di Emirat Arab.

Target-target penyadapan Emirat Arab yang dipesan kepada NSO Group bukan hanya aktivis yang sering mengkritik pemerintah seperti Mansoor, tapi juga para pemimpin di negara tetangga. Di antaranya Emir Qatar beserta 159 anggota keluarganya dan Pangeran Mutaib bin Abdullah, salah satu pesaing dari Pangeran Mohammad bin Salman dalam memperebutkan kursi putra mahkota Arab Saudi.

Dalam persaingan memperebutkan kursi nomor dua di Saudi, Emirat Arab merupakan pendukung Pangeran Mohammad. “Mereka tak perlu menyadap teleponku. Aku akan ceritakan apa saja yang aku lakukan,” kata Pangeran Mutaib saat mendengar kabar bahwa Emirat Arab menguping ponselnya.

Ilustrasi
Foto: dok. Getty Images

Dua perusahaan itu, NSO Group dan Circles, sebenarnya masih ‘bersaudara’. Pada Maret 2014, perusahaan investasi mengambil alih kepemilikan saham NSO dengan nilai US$ 170 juta, kurang-lebih Rp 2,47 triliun. Tak lama berselang, perusahaan investasi dari Amerika Serikat itu juga memborong saham perusahaan Israel lainnya, Circles. Israel memang salah satu negara termaju dalam hal teknologi mata-mata.

Ada lumayan banyak perusahaan Israel yang menawarkan jasa yang kurang-lebih mirip dengan Pegasus milik NSO. “Perusahaan-perusahaan Israel itu kadang punya teknik yang lebih canggih dari badan-badan intelijen Amerika Serikat,” ujar Sasha Romanosky, peneliti di Rand Corporation, dikutip Foreign Policy. Menurut data yang diberikan Kementerian Pertahanan Israel kepada parlemen Israel (Knesset), produk-produk keamanan dari perusahaan-perusahaan Israel dijual ke 130 negara, di antaranya Arab Saudi dan Indonesia.

Perusahaan-perusahaan Israel itu kadang punya teknik yang lebih canggih dari badan-badan intelijen Amerika Serikat."

Paham betul bahwa banyak negara enggan berurusan dengan apa pun yang ada kaitan dengan Israel, perusahaan-perusahaan dari Negeri Bintang Daud ini rata-rata punya ‘kantor cabang’ atau bahkan ‘kantor pusat’ di negara lain. “Dalam banyak kasus, jika kami ingin berjualan di Eropa, dan terutama di negara-negara Teluk, maka kami perlu perusahaan-perusahaan yang terdaftar di luar Israel,” kata Guy Mizrahi, bos Cyberia, perusahaan intelijen dari Israel, kepada Haaretz.

Verint System mungkin salah satunya. Meski didirikan oleh warga Israel dan sekitar separuh dari karyawannya berkantor di Israel, perusahaan ini menjual sahamnya di bursa saham Amerika dan berkantor pusat di Melville, New York. Menurut penelusuran Haaretz, ada produk Verint yang dijual ke salah satu lembaga pemerintah di Indonesia.

Oleh lembaga itu, tiga orang sumber bercerita kepada wartawan Haaretz, alat itu dipakai untuk memata-matai aktivis-aktivis hak lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) serta kelompok minoritas agama. “Begitu tiba di negara itu, aku diminta membantu investigasi kasus yang sedang macet. Ternyata kasus itu terkait dengan seorang tokoh publik yang terkena kasus penistaan agama,” kata salah satu konsultan Verint, Natanel, bukan nama sebenarnya.


Reporter/Penulis: Pasti Liberti
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE