INTERMESO

"Mulai Hari Ini, Aku Hidup Dengan HIV"

"Kalau nanti saya lulus kuliah, apakah masih ada yang mau terima saya dengan kondisi stigma yang melekat pada penderita HIV/AIDS"

Ilustrasi orang yang hidup dengan HIV

Foto : Getty Images

Sabtu, 1 Desember 2018

Rasa was-was bergelayut di pikiran Acep Saepudin ketika menginjakkan kaki di ruang tunggu sebuah rumah sakit milik pemerintah beberapa waktu lalu. Perlu berbulan-bulan lamanya bagi pemuda berusia 22 tahun itu berjuang mengumpulkan keberanian masuk ke rumah sakit tersebut untuk menjalani prosedur pemeriksaan HIV (Human Immunodeficiency Virus), virus yang menghancurkan sistem kekebalan tubuh. Setelah mendaftar dia diminta masuk ke sebuah ruangan. Empat orang berpakaian putih khas perawat sudah menantinya di ruang itu.

Acep memutuskan memeriksakan dirinya setelah melakukan kegiatan berisiko tinggi penularan HIV. "Hanya rasa khawatir saja yang jadi halangan. Jadinya saya maju mundur untuk ke rumah sakit," ujar Acep saat menceritakan kisahnya kepada detikX di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat. Beragam cara dilakukan Acep untk memupus rasa cemas itu. Mulai dari membaca berbagai literatur terkait HIV sampai meminta dukungan orang-orang terdekatnya. "Saya takut seandainya positif, bagaimana nantinya."

Begitu Acep duduk, empat perawat itu mencecarnya dengan sejumlah pertanyaan. Dicecar layaknya terdakwa di persidangan membuat Acep merasa tak nyaman. "Katanya prosedur konsultasi tapi kok saya merasa seperti dinterogasi," ujar mahasiswa semester akhir jurusan Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu. Selesai dengan para perawat, Acep dialihkan ke ruangan dokter. Acep berharap dokter tersebut bisa lebih netral melihat kondisi dirinya.

Dokter tersebut membuka percakapan dengan mengatakan kurang suka dengan orang-orang yang berisiko terinfeksi virus HIV. "Lebih baik kalau kamu punya kesempatan, jangan tinggal di Indonesia," ujar Acep menirukan ucapan dokter itu. Merasa dihakimi secara verbal, Acep mengurungkan niatnya ikut tes. Keberanian yang dikumpulkan berbulan-bulan luruh seketika. Dia pun memutuskan angkat kaki dari rumah sakit itu. "Gawat kalau saya balik ke rumah sakit ini pasti perlakuannya sama seperti itu. Apalagi kalau hasilnya positif."

Acep saat mengikuti kursus singkat soal hak asasi manusia di Northern Illinois University, Amerika Serikat, pada 2017 lalu
Foto : dok.pribadi

Pemuda asal Cikalongkulon, Cianjur, Jawa Barat itu akhirnya mencari alternatif tempat pemeriksaan lain. Dari penelusurannya di internet, Acep mendapat nama Ruang Carlo di Rumah Sakit St. Carolus, Jakarta Pusat. Pada akhir Maret 2018 lalu dia menjalani tes pertama. Hasilnya negatif. "Tapi saya diminta kembali untuk tes ulang enam bulan kemudian," katanya. Acep sempat berbesar hati saat mengetahui hasil tes pertamanya tersebut.

Selang beberapa bulan kemudian Acep mengalami demam yang menurutnya tak biasa. Selain panas dingin dia merasakan nyeri yang luar biasa pada tulang di hampir sekujur tubuhnya. "Dua hari saya tak bisa jalan hanya bisa berbaring saja," ujarnya. Tak hanya demam, suatu malam kepalanya sakit luar biasa. Pagi harinya muncul bengkak sebesar bola pingpong di leher bagian belakang.

Dokter menjelaskan ini artinya saya positif HIV'

Acep dirujuk ke dokter spesialis saraf. Menurut diagnosa dokter, kelenjar getah beningnya bengkak karena mengalami depresi berat. "Saya juga gampang capek, berkeringat di malam hari, ketombean, dan berat badan turun empat kilogram," katanya. "Saya punya firasat kuat, ini bukan sakit biasa. Sepertinya saya positif HIV. Karena saya baca-baca, itu masuk gejala-gejala terinfeksi HIV"

Tepat enam bulan setelah pemeriksaannya yang pertama, pada akhir September lalu, Acep kembali ke Ruang Carlo. Kecemasannya naik ketika satu jam berlalu hasil uji darahnya tak kunjung keluar. Benar saja, Acep dipanggil ke ruangan dokter dan kemudian diminta membuka hasil tes. Dokter menjelaskan satu per satu indikator yang diuji. Baris pertama memperlihatkan kadar CD4, protein dalam tubuh yang sangat penting bagi sistem kekebalan tubuh, menunjukkan angka 237 atau separuh dari ambang bawah batas normal.

Baris selanjutnya indikator Anti HIV Rapid memperlihatkan hasil reaktif. "Dokter menjelaskan ini artinya saya positif HIV," kata Acep. Mendengar itu Acep berusaha untuk tegar. "Meskipun sebenarnya hati saya sangat hancur." Hari itu juga Acep menyetujui melakukan pengobatan dengan terapi antiretroviral (ARV).

Acep bersama anak-anak di Kabupaten Cianjur
Foto : dok.pribadi

Saat kembali ke kos, Acep baru melampiaskan emosinya. Rencana untuk mengakhiri hidup sempat melintas di pikirannya. Dia galau berat. Perasaan takut ditolak oleh orang-orang di sekitar bila mereka tahu bahwa dia positif HIV makin menguatkan niat bunuh diri. "Niat bunuh diri itu muncul ketika saya memikirkan bagaimana hidup saya ke depan. Kalau nanti saya lulus kuliah, apakah masih ada yang mau terima saya dengan kondisi stigma yang melekat pada penderita HIV AIDS," ujarnya.

Untung lah, niat itu lewat dan tak pernah terlaksana. Kedua orang tuanya di kampung salah satu yang memberinya kekuatan. Ibunya, Masrifah, dan ayahnya, Musa,  tak mencerca dan meninggalkannya, malah terus memberi dukungan untuk mengarungi masa sulit itu. "Saya juga pikir banyak orang yang lebih sengsara tapi mereka berusaha keras untuk berjuang hidup," ujar Acep. Dia memutuskan untuk kembali menjalani hidupnya seperti biasa. Kuliah dan beraktivitas sebagai pendiri For Children Foundation, sebuah yayasan untuk mencegah perundungan di sekolah-sekolah.

Hingga beberapa hari kemudian, Acep membuka status kesehatannya lewat akun media sosial. Dia menulis status singkat di linimasa Facebook "From today, I am living with HIV". Tulisan itu membuat gempar orang-orang yang mengenalnya di Facebook. "Ada guru SMA yang kirim pesan menyuruh saya bertobat. Setelah itu akun saya diblok," katanya. Sejumlah kawan kuliahnya juga menunjukkan perubahan sikap. "Kalau saya ikut menimbrung pembicaraan, gestur mereka memperlihatkan kurang nyaman dengan bergeser menjauh."

Acep menyadari konsekuensi dari keputusannya membuka diri dengan kondisinya itu. "Saya tak bisa seumur hidup merahasiakan," katanya beralasan. "Kalau pintu untuk saya berkarir di sini tertutup, saya yakin ada ratusan pintu di luar sana akan terbuka." Acep pun memutuskan membuat video pengakuan.

Tepat pada 7 Oktober lalu, video itu dia unggah ke akun Youtube dengan nama Acep Gates. Nama Gates dipilih karena Acep mengagumi Bill Gates yang dinilainya sosok dermawan. "Sederhana saja. Bukan untuk menginspirasi orang, cuma ingin bikin semacam catatan harian. Kalau lewat video dan diunggah ke Youtube, pasti sampai saya tua nanti akan tetap ada."

Kegiatan belajar For Children Foundation dengan sejumlah pelajar di Kabupaten Cianjur
Foto : dok.pribadi

Video pertama yang berjudul "Pengalaman Gue Kena HIV" itu ternyata menarik banyak penonton. Hingga hari ini, video itu sudah ditonton 637.786 kali. Dua minggu kemudian, video kedua berjudul "6 Gejala HIV Yang Gue Alami" diunggah dan sampai hari ini ditonton lebih dari 1,5 juta kali. "Saya juga tak sadar video itu sampai viral, hingga ada sepupu yang membagikan tautan di grup Whatsapp keluarga besar," kata anak pertama dari dua orang bersaudara itu.

Setelah video keduanya muncul media sosial miliknya kebanjiran pesan-pesan pribadi. Ada ribuan komentar ditulis di akun Youtube milik Acep. Bisa diduga, banyak yang memberikan dukungan, tapi tak sedikit pula yang justru mencerca. "Saya bisa dapat ratusan pesan dalam sehari," katanya. Sebagian besar orang yang mengirimkan pesan itu hanya bercerita dan membuat pengakuan. "Ada yang sudah bertahun-tahun memendam rahasia bahwa dirinya terinfeksi virus HIV. Dia takut kalau orang-orang di kantornya tahu, nanti dia bakal dipecat. Ada yang minta pendapat apakah saya harus speak up. Saya bilang tidak ada kewajiban untuk membuka status sebagai orang yang kena HIV kepada orang lain."

....stigma terhadap HIV itu tinggi banget. Karena masyarakat mengganggap HIV itu adalah masalah moralitas

Kesibukannya pun bertambah ketika banyak penonton videonya meminta untuk bertemu langsung. "Dua minggu terakhir hampir tiap hari saya ketemu ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Mereka mengaku bingung harus cerita kepada siapa statusnya," ujar Acep. "Saya tak pernah belajar jadi konselor. Saya hanya mendengarkan mereka bercerita saja. Sepertinya itu saja yang mereka mau."

Tak seperti pengidap penyakit lain, orang-orang yang terinfeksi HIV dan menyandang penyakit AIDS harus menanggung beban ganda, penyakitnya dan cap buruk dari orang sekitar. Menurut Program Manager Yayasan Kasih Suwitno, Tono Permana, stigma terhadap penderita HIV/AIDS sangat tinggi. Pengalamannya saat berada di Bali, seorang yang ingin melakukan tes bahkan tidak membuka helm dan masker saat berada di ruang tunggu klinik. "Banyak yang masih malu untuk melakukan tes karena stigma terhadap penyandang HIV/AIDS masih tinggi," katanya. Akibatnya cukup sulit mendorong orang-orang yang berisiko terinfeksi HIV agar mau memeriksakan diri.

Menurut data dari Kementerian Kesehatan, jumlah orang yang melaporkan terinfeksi HIV pada 2014 sebanyak 32711 orang. Setahun kemudian angka itu sedikit turun, 30935 orang. Jumlah penularan lewat jarum suntik di kalangan pecandu narkoba terus turun, tapi angka penularan di kalangan homoseksual (laki-laki) cenderung naik. Meski menurut Laporan Perkembangan HIV-AIDS Triwulan IV tahun 2017 dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, faktor risiko penularan tertinggi HIV adalah kelompok heteroseksual, 22 persen, disusul kelompok homoseksual, 21 persen, dan pengguna jarum suntik tidak steril, 2 persen.

Karena itu menurut Tono, sangat penting untuk menyediakan layanan kesehatan yang bersahabat dan ramah. "Penekanannya bersahabat karena kita tahu stigma terhadap HIV itu tinggi banget. Karena masyarakat mengganggap HIV itu adalah masalah moralitas." Yayasan Kasih Suwitno saat ini bekerja dengan RS St Carolus untuk menyokong program Ruang Carlo sejak 2010 dan dengan Kementerian Kesehatan untuk memberi dukungan teknis pada 37 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di 34 kota dan kabupaten. "Layanan kesehatan juga harus bisa melakukan tes HIV yang cepat dan menyediakan pengobatan dengan segera."


Reporter/Penulis: PASTI LIBERTI
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE