INTERMESO

"Mungkin Ini Obat Yang Dikirim Oleh Tuhan"

Tak ada obat anti retroviral, warga Venezuela beralih ke pengobatan tradisional untuk melawan penyakit AIDS. Sebagian lagi kabur ke negara tetangga.

Ilustrasi obat untuk penderita HIV/AIDS

FOTO : GETTY IMAGES

Minggu, 2 November 2018

Sudah dua tahun lamanya Rafael Pequeno rutin menyambangi Jobure de Guayo, kampung kecil jauh di pedalaman, di tepi Sungai Orinoco, Venezuela. Setiap kali datang, Rafael yang bekerja sebagai perawat, rutin ‘mengabsen’ satu demi satu daftar ‘pasiennya’.

“Armando Beria?” Rafael bertanya.

“Masih ada,” Ramon Quintin, Kepala Kampung Jobure, menyahut.

“Ebelo Quinino?”

“Masih ada.”

“Mario Navarro?”

“Meninggal.”

“Wilmer Medina?”

“Juga meninggal.”

Kondisi seperti itu sudah jadi hal rutin bagi Rafael. Setiap kali dia datang, selalu ada di antara ‘pasien-pasiennya’ yang meninggal. Mereka adalah orang-orang yang ‘kalah’ melawan virus HIV (Human Immunodeficiency Virus ) dan penyakit AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Dalam beberapa tahun terakhir, sudah ada sekitar 40 warga Kampung Jobure, dari sekitar 200 penghuni kampung itu, yang meninggal karena penyakit AIDS.

Pengobatan bagi penderita AIDS
Foto : Getty Images

“Aku sangat khawatir....AIDS bisa menyapu bersih warga Jobure,” kata Rafael kepada New York Times beberapa bulan lalu. Kampung Jobure bukan satu-satunya kampung di sepanjang Sungai Orinoco yang kehidupan warganya terancam oleh AIDS. Tak ada data yang cukup akurat soal berapa jumlah keturunan Suku Warao, suku asli terbesar kedua di Venezuela, yang menghuni delta Sungai Orinoco, yang meninggal setiap tahun karena AIDS.

Infeksi HIV pertama terdeteksi di kampung-kampung Warao pada 2007. Diduga, virus HIV yang menyebar lewat hubungan seksual itu dibawa oleh warga perkampungan Warao yang bekerja di kota-kota di Venezuela. Ada lumayan banyak keturunan Suku Warao yang merantau ke kota dan bekerja sebagai petugas kebersihan, penjaga keamanan atau pedagang kaki lima.

Aku sangat khawatir....AIDS bisa menyapu bersih warga Jobure'

Hanya dalam waktu enam tahun, infeksi HIV telah menyebar ke sekitar 10 persen keturunan Warao dewasa di delapan desa di sepanjang Sungai Orinoco. Bahkan ada satu kampung, hampir 35 persen warga dewasanya terinfeksi HIV. Angka infeksi HIV di kalangan Suku Warao ini jauh di atas rata-rata infeksi HIV di negara-negara Amerika Latin yang hanya berkisar 0,5 persen. Menurut data UNAIDS, badan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk penanganan HIV/AIDS, ada 120.000 warga Venezuela terinfeksi HIV pada 2016.

Dan kondisi itu makin memburuk setelah Presiden Nicolas Maduro naik kekuasaan menggantikan Hugo Chavez. Pada masa Presiden Chavez, Venezuela punya fasilitas kesehatan dan penanganan penderita AIDS kelas satu. Namun sejak 2013, setelah Presiden Maduro berkuasa, perekonomian negara itu terjun bebas. Jangankan untuk pengobatan HIV dan AIDS, untuk mencukupi kebutuhan pokok warganya saja pemerintah Venezuela pontang-panting.

Pengungsi suku Warao dari Venezuela di Manaus, Brazil
Foto : Getty Images

Program pembagian kondom untuk menghambat penularan HIV dihentikan pemerintah. Banyak dokter di Venezuela yang memilih hengkang dari negara itu. Nasib suku Warao yang berjuang melawan HIV/AIDS pun terabaikan. “Jika tak ada intervensi, masalah ini bisa mengancam keberadaan Suku Warao.....Sebagian dari populasi Warao akan hilang,” Jacobus de Waard, dokter spesialis penyakit menular di Central University of Venezuela, memperingatkan.

Dulu, masih ada obat yang rutin dikirim ke pedalaman perkampungan orang-orang Warao. Tapi kini, meski kadang ada obat anti retroviral yang dikirim bagi penderita HIV/AIDS, jumlahnya sangat jauh dari cukup. “Aku seperti prajurit yang pergi berperang tanpa bawa senjata....Aku tak bisa berbuat apa-apa,” kata Rafael. Kondisi suku Warao makin gawat lagi lantaran virus HIV yang menginfeksi mereka, belum jelas bagaimana asal-muasalnya, ternyata jenis yang sangat agresif. Dalam waktu cepat, infeksi HIV berubah menjadi penyakit AIDS.

Repotnya lagi, urusan politik di lingkaran kekuasaan, membuat penanganan HIV/AIDS di komunitas Warao makin buruk. Dr. Julian A. Villalba, mantan kepala tim yang memeriksa kasus infeksi HIV/AIDS di komunitas Warao, menuturkan bagaimana para pejabat di Venezuela justru mencoba menutupi masalah itu. “Mereka tak ingin ada yang menunjukkan bahwa kekuasaan politik telah gagal,” kata Julian, kini peneliti di Sekolah Kedokteran Harvard. Dia menduga, 80 persen keturunan Warao yang terinfeksi HIV antara tahun 2010 hingga 2012 kini telah meninggal.

“Kami berhadapan dengan rezim yang ingin membungkam segala hal....Mereka selalu bilang bahwa masalah ini akan teratasi. Tapi makin banyak orang yang mati,” ujar Romo Ernesto Jose Romero, pemimpin Gereja Katholik di kota Tucupita.

Pengungsi suku Warao dari Venezuela di Manaus, Brazil
Foto : Getty Images

Kekurangan obat anti retroviral di Venezuela ini sebenarnya hampir merata di semua tempat. Bahkan di ibukota negara, Caracas, sekali pun. Putus asa tak ada obat untuk penyakit mereka, sebagian warga beralih ke pengobatan tradisional. Seperti yang dilakukan oleh Jesus Eduardo Redriguez, warga Caracas.

Jesus terdiagnosa terinfeksi HIV pada 2013. Sudah beberapa bulan terakhir dia meminum ramuan daun Suriana tiga kali sehari. “Sejak meminum ramuan itu, aku merasa kondisiku lebih baik. Mungkin ini obat yang dikirim oleh Tuhan untuk menjawab doaku,” kata Jesus dikutip Miami Herald. Dia memang bukan satu-satunya orang dengan HIV dan AIDS yang lari ke ramuan daun Suriana.

Dulu dokter di Venezuela selalu bilang, ‘Tak ada obat bulan ini. Coba datang lagi bulan depan’

Beberapa kenalannya sesama pengidap HIV/AIDS juga mengkonsumsi ramuan daun Suriana setelah obat anti retroviral makin sulit didapat. Menurut Carlos Perez, dokter yang menangani Jesus dan teman-temannya, dia punya 160 pasien HIV/AIDS. Dan sekarang, sebagian besar pasiennya menggantungkan harapan pada ramuan daun Suriana itu.

Konon, ramuan sejenis juga dipakai oleh para pengidap HIV/AIDS di Brazil dan negara-negara Amerika Latin. Soal bagaimana khasiat obat ini melawan virus HIV, belum ada bukti ilmiah yang cukup meyakinkan. Tapi bagi mereka yang sudah hampir putus asa menunggu obat yang tak kunjung datang, ramuan daun Suriana atau Guasimo ini bak setitik cahaya di dalam kegelapan gua.

Jesus dan kawan-kawannya memilih beralih ke ramuan daun Suriana, tapi ada pula pengidap HIV seperti Danielis Diaz yang memilih lari ke negara tetangga, Kolombia, untuk mencari obat. Kini Danielis, 22 tahun, seorang perempuan transgender, melanjutkan pengobatan infeksi HIV dengan obat anti retroviral gratis dari Yayasan Censurados di kota Cucuta, Kolombia.

Di Yayasan Censurados di Cucuta, kota perbatasan Kolombia dengan Venezuela, ada hampir 50 warga Venezuela yang mencari obat untuk infeksi HIV. “Dulu dokter di Venezuela selalu bilang, ‘Tak ada obat bulan ini. Coba datang lagi bulan depan,’” kata Danielis kepada Reuters. ”Dokter menyuruhku minum vitamin dan makan lentil sambil menunggu obat datang. Tapi saat aku menunggu obat, itu berarti aku juga menunggu dikirim ke kuburan.”


Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE