INTERMESO


DILARANG NIKAH MEWAH!

"Hidup hanya sekali dan semua orang ingin punya kenangan indah."

Pernikahan di China

Foto: dok. Getty Images

Minggu, 9 Desember 2018

Lima tahun lalu, Li Yefei menikah dengan pujaan hatinya di Kota Shijiazhuang, Provinsi Hebei, China. Tak ada yang tampak istimewa, apalagi gemerlap dari acara perkawinan itu. Bahkan acara yang mestinya hanya sekali seumur hidup itu berlangsung cepat sekali.

Cukup lima belas menit dan selesai. Ini memang pernikahan ‘paket hemat’ ala restoran cepat saji. Biaya yang dihabiskan Li Yefei dan suaminya untuk pernikahan ekstrakilat ini hanya 500 yuan atau sekitar Rp 1 juta. Sebagai pegawai di kantor pemerintah, Li Yefei memang harus memberi ‘teladan’ bagaimana semestinya acara pernikahan di negara komunis itu.

“Acara seperti ini menghemat waktu dan membebaskan orang dari kewajiban membeli barang-barang yang sebenarnya tak dibutuhkan orang,” kata Lie Yefei kepada China Daily. Dalam beberapa tahun terakhir, perkawinan cara irit ongkos seperti yang dilakukan Li Yefei ini memang makin langka di China. Seiring makin makmurnya negara itu, orang-orang seperti berlomba membuat acara pernikahan paling wah.

Lima tahun lalu saja, menurut perusahaan penyelenggara pernikahan, rata-rata biaya untuk menggelar pesta perkawinan di China berkisar 100 ribu yuan atau sekitar Rp 200 juta. Bahkan bukan lagi hal mengejutkan, beberapa pesta pernikahan menghabiskan biaya hingga jutaan yuan atau miliaran rupiah.

Pernikahan di China
Foto: dok. Getty Images

Pengurus Partai Komunis China bukannya berdiam diri melihat pamer kekayaan seperti itu. Pejabat pemerintah Kota Ruicheng di Provinsi Shanxi dicopot dari jabatan setelah menggelar pesta pernikahan dengan lebih dari 100 meja tamu selama empat hari berturut-turut.

Ketua Partai Komunis di salah satu kota di Hebei dipecat setelah menyelenggarakan pesta pernikahan untuk putrinya dengan biaya 200 ribu yuan dan menerima hadiah perkawinan senilai 1 juta yuan. “Kami terus mempromosikan pesta pernikahan yang hemat dan mencegah acara perkawinan mewah dan berlebihan,” kata Xu Zhenke, Direktur Disiplin di Kantor Urusan Sipil di Provinsi Hebei.

Kami terus mempromosikan pesta pernikahan yang hemat dan mencegah acara perkawinan mewah dan berlebihan."

Tapi sepertinya imbauan pengurus Partai Komunis China dan pemerintah China soal pesta pernikahan itu seperti berteriak di padang pasir. Tak banyak yang menggubris. Jika punya banyak duit, barangkali memang sulit orang dipaksa hidup irit. Apalagi untuk pesta pernikahan, peristiwa istimewa dalam hidup seseorang.

Stasiun televisi China, CCTV, menyebutnya sebagai ‘the wedding of the century’, pernikahan abad ini. Itulah pesta perkawinan antara penyanyi Angela Yeung alias Angelababy dengan bintang film Huang Xiaoming. Di negaranya, Angela yang cantik itu punya julukan lain, yakni Kim Kardashian dari China. Popularitasnya di China memang tak kalah dengan Kim Kardashian di Amerika Serikat.

Tapi satu hal dia unggul jauh dari Kim Kardashian. Saat menikah dengan penyanyi kondang Kanye West, Kim yang ‘asli’ itu ‘hanya’ menghabiskan duit US$ 12 juta, kurang-lebih Rp 170 miliar. Sedangkan Angelababy dan suaminya menghamburkan duit hingga US$ 31 juta atau Rp 440 miliar saat mereka naik pelaminan tiga tahun lalu. Ongkos perkawinan pasangan Angela-Huang Xiaoming ini hanya kalah dari biaya pernikahan Pangeran William dengan Kate Middleton, yang konon menghabiskan US$ 34 juta.

Angela Yeung alias Angelababy, penyanyi China, yang pernikahannya sangat heboh
Foto: dok. Getty Images

Pesta pernikahan Angela Yeung memang bukan main mewahnya untuk ukuran China dan di mana pun di dunia. Gaun yang dikenakan saat pesta dirancang oleh Christian Dior dan proses pembuatannya memakan waktu hampir lima bulan. Cincin di jarinya keluaran House of Chaumet, butik perhiasan mahal di Paris. Harganya ‘cuma’ US$ 1,5 juta, lebih dari Rp 22 miliar.

Di Weibo dan jejaring sosial di China ada banyak sekali foto dan gosip soal pesta-pesta pernikahan mewah yang tak jarang agak lebay. Salah satu ‘saksi mata’ dari kelakuan orang-orang kaya China–walaupun kadang tak benar-benar kaya–menghamburkan duit untuk pesta perkawinan ini adalah Allen Shi, pendiri perusahaan jasa foto perkawinan Jiahao Group.

Satu klien yang tak bakal terlupakan adalah pasangan calon suami-istri yang membuat album foto pranikah dengan berkeliling dunia selama hampir dua bulan. “Kami menerbangkan satu tim beserta gaun-gaun yang akan dipakai ke pelbagai tempat di dunia bersama pasangan itu,” kata Allen kepada News.com beberapa pekan lalu. Mereka, Allen menuturkan, memulainya dengan pembuatan foto di bawah air bersama paus. “Kemudian kami ke Antartika untuk berfoto dengan latar belakang pemandangan aurora, kemudian pindah ke gurun pasir, dan berakhir di Afrika untuk berfoto bersama satwa liar.”

Pamer kemewahan seperti itu jelas suatu hal yang jauh dari bayangan Karl Marx dan cita-cita Mao Zedong, pendiri negara negara komunis China. Apalagi, meski hari ini China sudah jadi negara yang jauh lebih makmur dari masa Revolusi Kebudayaan dulu, masih banyak sekali penduduk miskin di negara itu. Belum lama lewat, Kementerian Urusan Sipil China kembali mengeluarkan imbauan agar warga China mengerem kebiasaan menyelenggarakan pesta-pesta mewah untuk merayakan perkawinan.

Barisan mobil yang disewa untuk pernikahan di China
Foto: dok. Getty Images

Menurut Kementerian Urusan Sipil, pesta perkawinan yang boros berlawanan dengan nilai-nilai moral dan cita-cita sosialis. Tak cuma bisa memicu kecemburuan sosial, pamer kemewahan pesta seperti itu, menurut Kementerian, bisa menghambat program pengentasan warga dari kemiskinan.

"Kami akan mendorong organisasi-organisasi di pedesaan agar membuat panduan soal pesta perkawinan dan hadiah-hadiah yang diperkenankan. Akan dibuat standardisasi oleh komite perkawinan dan kematian," kata Yang Zongtao, pejabat Kementerian Urusan Sipil, kepada South China Morning Post. Agar 'lomba' pesta pernikahan ini tak makin liar, beberapa daerah di China sampai mengeluarkan batas maksimum biaya pernikahan yang diperkenankan.

Pemerintah kota Dengzhou di Provinsi Henan misalnya, membatasi ongkos pesta perkawinan tak boleh lebih dari 30 ribu yuan atau sekitar Rp 60 juta. Di daerah lain, pemerintah setempat membatasi jumlah tamu yang diundang tak boleh lebih dari 200 orang. Pemberian mahar perkawinan mahal semacam mobil atau apartemen tak diperkenankan.

Kami akan mendorong organisasi-organisasi di pedesaan agar membuat panduan soal pesta perkawinan dan hadiah-hadiah yang diperkenankan."                 

Tapi mengatur ongkos pesta pernikahan ini sepertinya bukan hal gampang. Xu Anqi dari Akademi Ilmu Sosial China ragu usaha pemerintah mengendalikan pesta perkawinan bakal berhasil. Menurut dia, membuat pesta pernikahan semewah mungkin sudah menjadi tradisi selama bertahun-tahun.

Bagi mereka yang punya duit seperti Bo Xiao dan Sheng Zuxing, menghabiskan banyak uang, bahkan miliaran rupiah, untuk satu kali acara pernikahan tak jadi soal. Saat menikah dua tahun lalu, Bo menghabiskan duit sekitar US$ 500 ribu atau sekitar Rp 7 miliar. Sebagian besar duit itu dia habiskan untuk membeli hadiah mobil mewah dan satu unit apartemen bagi calon istrinya, juga mahar sebesar US$ 20 ribu atau hampir Rp 300 juta untuk ibu mertua. "Hidup hanya sekali dan semua orang ingin punya kenangan indah," kata Sheng Zuxing dari Tianjin.



Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE