INTERMESO

Biar KW Asal Oke

"Emang sekali ketahuan, malu banget sih...Tapi mau gimana lagi"

Foto ilustrasi hypebeast

Foto : Getty Images

Selasa, 18 Desember 2018

“BLAM....” Denny masuk ke kamar kosan sambil membanting pintu. Membuat beberapa helai baju yang dia gantung di dinding jadi berjatuhan ke lantai. Meski tubuh basah bercampur keringat dia seolah tidak peduli dan langsung menghempaskan badan di atas kasur. Beberapa kali dia menghela nafas, seolah hendak membuang kesal, apalagi kalau teringat kejadian barusan di kampus.

Acara nongkrong bareng teman-temannya di kampus malah berakhir bikin keki. Kali ini ada salah seorang temannya, sebut saja Budi, bikin dia sebal bukan kepalang. Di kala pikiran Denny sedang mumet karena dosennya tega ngerjain mahasiswa baru seperti dirinya dengan setumpuk tugas, baru mau curhat kepada teman-temannya, Denny diselak. Dia malah dipaksa mendengar kisah Budi membeli sepatu yang sedang ia kenakan di kakinya.

Tanpa perlu dijelaskan panjang lebar, Denny sebetulnya juga tahu kalau sepasang sepatu itu merupakan keluaran Adidas Yeezy. Bahkan Denny ingat betul serinya yakni Boost 350 V2 Black White Oreo. Disebut oreo karena warna kulitnya mirip biskuit coklat oreo yang ditengahnya terdapat selai krim putih. Sepatu ini sebetulnya sudah Denny idamkan sejak lama. Tapi sayang karena harganya yang terlampau mahal bagi isi dompetnya, di atas Rp 10 juta, mahasiswa Desain Komunikasi Visual ini terpaksa hanya bisa memendam hasratnya itu.

Mendengar Budi pamer sepatu terbarunya ibarat menaburkan garam di atas luka. Isi dompet Budi memang jauh lebih tebal dari Denny. Budi anak orang kaya. Entah apa pekerjaan orang tuanya. Denny tak pernah tanya. Tapi Denny tahu persis kalau Budi selalu datang ke kampus mengendarai Toyota Fortuner hitam kinclong yang besar bodinya bikin sesak lahan parkir.

Sedangkan Denny cuma anak rantau yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Kedua orang tuanya punya usaha toko kelontong yang lumayan sukses untuk ukuran kampung halamannya di Padang, Sumatera Barat sehingga mampu menguliahkan anaknya di Jakarta. Tapi sebagai ganti dari ongkos kuliah yang mahal, Denny cuma dapat jatah uang bulanan pas-pasan buat bayar kos dan makan sederhana. Rasanya mustahil untuk beli sepatu Yeezy. Padahal sepatu Yeezy bikinan rapper Kanye West ini merupakan semacam starter kit untuk menjadi seorang hypebeast.

Gua kepengin juga tampil keren kayak anak hypebeast tapi barangnya mahal-mahal. Teman gua bilang cicil aja dari uang jajan, tapi mau sampai kapan baru terkumpul uangnya,” kata Denny, bukan nama sebenarnya. Dia meminta identitasnya disamarkan.

Ilustrasi
Foto : Getty Images

Anak kedua dari tiga bersaudara ini memang sudah lama mengikuti perkembangan tren fesyen jalanan ala hypebeast di sosial media. Salah satu idolanya adalah Kanye West, suami dari Kim Kardashian ini. Saking tergila-gilanya dengan produk Yeezy, dia suka mendengarkan lagu Facts dari album The Life of Pablo milik Kanye. “Yeezy Yeezy Yeezy just jumped over jumpman, Yeezy Yeezy Yeezy I feel so accomplished,” begitu penggalan lirik yang dibawakan langsung oleh Kanye. Makna liriknya kurang lebih menggambarkan pengaruh label Yeezy di dunia sneakers, sepatu yang menjadi identitas bagi para hypebeast.

Urban Dictionary punya definisi untuk para hypebeast ini, yakni anak-anak muda yang terobsesi mengikuti hype fesyen dan mau melakukan apa pun untuk mengejar barang yang dia mau. Tujuan akhirnya, membuat terkesan orang-orang di sekitarnya dengan sepatu, baju, topi, dan segala hal yang menempel di tubuhnya. Biasanya, makin langka sepatu, baju atau hoodie, makin dikejar orang. Sesuai hukum ekonomi, barang langka sudah pasti mahal harganya.

Yeezy Yeezy Yeezy just jumped over jumpman, Yeezy Yeezy Yeezy I feel so accomplished'

Suatu kali Denny sudah tidak tahan, ia kepincut untuk beli barang palsu alias KW. Ia tahu betul, di kalangan Hypebeast, memakai barang palsu haram hukumnya, dianggap suatu ‘pengkhianatan’ luar dalam. Mereka yang pakai tshirt atau hoodie Supreme KW tidak pernah dianggap bagian dari para hypebeast. Karena pengikut setianya cinta mati dengan produk asli. Bahkan kadang mereka memaksakan diri untuk membeli, tidak peduli seberapa mahal harga barangnya.

Di jaman serba digital ini sangat mudah menemukan barang palsu segala kualitas, dari yang katanya KW2, KW3, sampai KW Super yang tampilannya konon mirip sekali dengan barang aslinya. Coba saja ketik merk brand hypebeast yang diinginkan di Instagram. Mulai dari akun penjual Nike, Stussy, Supreme, BAPE, Anti Social Social Club tumbuh subur bak jamur. Pengikutnya puluhan hingga ratusan ribu.

Sayang mereka enggan buka suara mengenai bisnisnya. Umumnya barang semacam ini diberikan label 'Made in China'. Memang sudah jadi rahasia umum kalau Negeri Panda ini adalah sumbernya segala barang KW, mulai dari gadget sampai fesyen. Hanya di Tiongkok, para hypebeast bisa menemukan toko Yeezy palsu. Berada di kota Wenzhou, Provinsi Zhejiang, toko ini memasang papan besar menyala bertuliskan ‘Yeezy’ dan menjual produk Kanye dan Adidas palsu. YouTuber Collin Abroadcast pernah mengunggah video kunjungan ke toko Yeezy imitasi itu yang kemudian jadi viral.

Kanye West bersama Nigo, pendiri A Bathing Ape
Foto : Getty Images

“Kalau beli KW paling cuma Rp 200-300 ribu. Harganya masih terjangkau lah buat gua. Tapi emang sekali ketahuan, malu banget sih...Tapi mau gimana lagi,” kata Denny. Anak-anak baru gede jaman now sudah tidak peduli lagi dengan nasihat almarhum pengusaha Bob Sadino, 'Bergayalah sesuai isi dompetmu'. Semua orang, tak peduli anak pengusaha tajir melintir atau anak kuli di pasar, pengin bergaya.

Meski sudah jelas barang yang dia pakai palsu belaka, ada kelompok yang tidak malu memamerkannya. Kelompok yang menamakan diri sebagai Klub Supreme Magelang ini mengunggah foto di Instagram. Isinya sekumpulan bocah berusia belasan tahun memakai baju Supreme palsu. Mereka bergaya di belakang spanduk bertuliskan Supreme Magelang dengan latar belakang kartun The Simpson. Bukannya keren yang ada malah jadi bahan perundungan netizen.

Belakangan ada cara lebih 'legal' yang dipakai Denny untuk mengoleksi produk-produk hypbeast. Bersama temannya dia suka melakukan thrift shopping yaitu belanja barang bekas yang masih oke. “Gua udah dua kali thrifting di Pasar Senen. Walaupun bajunya bau bongkaran kapal tapi masih banyak barang bermerk dalam kondisi layak pakai,” kata dia.

Di salah satu pasar tertua di Jakarta ini berbagai macam barang bekas dijual. Coba pergi ke bangunan baru berwarna oranye yang lebih nyaman. Di sana tempat berkumpulnya pakaian-pakaian vintage. Meskipun bermerk, kebanyakan barang bekas yang dijual sudah lewat masanya. Belakangan Pasar Senen juga dijejali aneka merk barang hypebeast dan dijual dengan harga sangat miring. Mulai dari jaket, sweater, hoodie, sepatu sampai pakaian dalam, semua serba ada.

Pembeli seperti Denny rela bersusah payah mengaduk-aduk tumpukan ‘harta karun’ barang-barang bekas itu. “Baju biasa diobral satu potongnya Rp 5 ribu. Tapi memang cari barang-barang hypebeast susah. Lu ngubek satu pasar juga belum tentu dapet. Kalo cari merk dari Jepang kayak Uniqlo lebih mudah dicari. Gua kemarin beli kaus Champion. Tapi susah bedain antara yang palsu sama KW, harus jeli banget,” kata Denny.

Toko A Bathing Ape (BAPE) di New York
Foto : Getty Images

Anak-anak muda seperti Denny ini jumlahnya tak sedikit. Mereka, anak-anak muda yang mau gaya tapi kurang biaya ini jadi ladang rezeki bagi orang lain. Dedi Prayitno asal kota Parepare, Sulawesi Selatan, sudah lama mengendus potensi fulus ini. Sebelum virus hypebeast merebak, sejak tahun 2012 Dedi sering berburu barang bekas di pasar senggol di kota Parepare. Dedi yang dulunya anak skate dan juga suka main band, jadi akrab dengan aneka merk pakaian dan sneakers. Merek Supreme yang jadi salah satu identitas wajib bagi para hypebeast, sebelum menjelma menjadi merek prestisius juga lebih dahulu identik sebagai merek skateboard.

“Saya kurang suka pakai baju hypebeast mending dijualin aja jadi duit. Yeezy bekas saya beli Rp 150-200 ribu, bisa dijual Rp 600 ribu. Kalau barang langka kayak merk Stone Island bahkan bisa dijual sampai Rp 2 juta. Karena besok kita belum tentu dapat lagi kayak gitu,” kata pemilik akun YouTube Sampah Mahal ini. Dedi biasanya blusukan lebih dari sepuluh pasar yang tersebar di kota Parepare dan sekitarnya sehingga dia tidak pernah kehabisan bahan.

Kadang udah lima jam nyetir ke daerah lain belum tentu dapat. Seharian berburu barang bekas nggak dapat, juga pernah

Namun belakangan, dia mulai kewalahan memenuhi pesana dari anak-anak ABG yang tergila-gila produk-produk hypebeast. Pemasok barang-barang hypebeast bekas sekarang ternyata sudah lebih lihai. Barang yang bagus dan punya daya jual tinggi biasa disimpan terlebih dahulu. Untungnya Dedi sudah lama bermain di bidang ini. Dia punya banyak akses ke juragan barang bekas. Dedi mendatangi langsung markas para juragan dan memilah barang langsung dari karung.

“Persaingan sekarang ketat banget karena bukan saya sendiri yang cari merek tapi ada banyak pedagang lain. Kadang udah lima jam nyetir ke daerah lain belum tentu dapat. Seharian berburu barang bekas nggak dapat, juga pernah. Udah keliling ke tiga kota satu pun nggak ada yang saya ambil. Makanya begitu dapat saya naikkan harganya untuk menutup uang bensin kemarin,” kata Dedi. Untung lah, selain bisnis baju bekas, dia juga masih punya usaha restoran.

Dedi juga mesti hati-hati dan teliti agar tidak salah pilih membawa pulang barang palsu. Menurutnya kaos Supreme merupakan pakaian hypebeast yang paling banyak dipalsukan. Meski berburu barang bekas makin sulit karena peminatnya tambah banyak, Dedi mendapatkan keuntungan yang menggiurkan. “Rp 20 juta per bulan masih bisa dapat. Makanya sekarang saya jualan juga di YouTube. Rencananya, kalau kanal YouTube sudah tembus 100 ribu subscriber, saya mau cari barang bekas sampai ke luar kota, ” kata dia.


Reporter/Penulis: MELISA MAILOA
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE