INTERMESO


BAGAIMANA STARTUP JAGOAN BISA BANGKRUT?

"Para investor juga sering salah sangka bahwa besarnya suntikan investasi merupakan tanda kesuksesan, padahal yang terjadi sebaliknya"

Foto : Inhabitat

Sabtu, 22 Desember 2018

Sepuluh tahun lalu, Hosain Rahman merupakan salah satu idola baru di Lembah Silikon. Hosain dan timnya di AliphCom baru saja meluncurkan headset nirkabel dan sukses besar. Produk pertama itu laris manis dan Hosain mengeruk keuntungan jutaan dolar.

Aliph didirikan oleh dua sahabat di Universitas Stanford, Hosain dan Alexander Asseily. Mereka kenal sejak kuliah di jurusan Teknik Mesin, Universitas Stanford. Punya minat yang sama dan sama-sama keturunan keluarga imigran di Amerika Serikat membuat mereka dekat. Hosain lahir dari keluarga imigran Pakistan, sementara orang tua Asseily berasal dari Lebanon.

Perusahaan itu bermula dari hasil penelitian Asseily soal teknologi untuk menjernihkan suara. Mereka sempat mendapatkan dana penelitian dari Badan Riset Pertahanan Amerika (DARPA). Hasil penelitian itu rupanya menarik perhatian perusahaan perangkat suara Plantronics. Merasa bisa menghasilkan sesuatu dengan modal riset itu, Hosain dan Asseily menolak penawaran Plantronics yang berminat membeli hasil penelitian mereka.

Tak hanya Plantronics yang tertarik dengan penelitian itu. Steve Jobs yang sangat tenar itu pun bersedia menemui mereka. Tapi Steve tak terkesan dengan konsep produk yang dibuat Hosain yakni headset yang terhubung ke ponsel lewat kabel dan klip. “Satu-satunya tempat di mana orang mau pakai perangkat seperti itu hanya ada di pikiran kalian,” kata Jobs, dikutip majalah Fortune. Memang benar kata Steve Jobs. Tak ada yang berminat dengan konsep itu.

Baru setelah Hosain meralat konsep headset itu, menjadikannya perangkat tanpa kabel, produk itu mendulang sukses. Para investor besar di Lembah Silikon yang sebelumnya ogah-ogahan mendengarkan ‘jualan kecap’ Hosain, mulai berdatangan. Mereka datang dan menawarkan banyak duit. Aliph yang telah berubah nama menjadi Jawbone kebanjiran investasi. “Pada Januari 2007, orang-orang berdatangan dari mana-mana dan mengatakan, ‘Kami suka kalian,’” Asseily menuturkan.

Hosain Rahman, pendiri Jawbone
Foto : Getty Images

Di antara investor yang datang adalah Vinod Khosla, salah satu legenda di Lembah Silikon, pendiri Sun Microsystems dan Khosla Ventures, juga Ben Horowitz, pendiri Opsware. Vinod menyuntikkan duit US$ 5 juta. Ben Horowitz, yang belakangan mendirikan perusahaan investasi Andreessen Horowitz bersama Marc Andreesen, turut menggelontorkan duit hingga US$ 49 juta, sekitar Rp 715 miliar dengan nilai tukar hari ini.

“Bersama Vinod, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa betapa kecil ideku,” kata Hosain. Sejak saat itu, meski berkali-kali melewati kesulitan, Jawbone terus diguyur duit para investor. Marissa Mayer, salah satu perempuan paling kondang di kalangan perusahaan teknologi dan sesama alumnus Universitas Stanford, sempat bergabung di jajaran direksi Jawbone.

Bersama Vinod, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa betapa kecil ideku'

Puncaknya ketika pada Februari 2014, Suhail R. Rizvi, pendiri perusahaan investasi Rizvi Traverse, mengumumkan rencana menanamkan duit US$ 250 juta, hampir Rp 3,7 triliun, di Jawbone. Suntikan modal dari Rizvi, investor yang sangat tertutup itu, menggelembungkan nilai Jawbone hingga US$ 3,3 miliar, lebih dari Rp 48 triliun. Gelembung itu begitu cepat membesar, tapi cepat pula kempisnya.

Baru dua tahun setelah diguyur duit oleh Suhail Rizvi, meski sudah berinvestasi besar-besaran untuk memperkuat timnya, Jawbone mulai terbatuk-batuk, menunjukkan gejala sakit. Pesaing-pesaing berat bermunculan sementara produk-produk Jawbone terus bermasalah. Pangsa pasar Jawbone terus tergerus. Hingga akhirnya pada pertengahan 2017 lalu, Hosain terpaksa mengaku ‘kalah’. Jawbone bangkrut dan aset-asetnya dilikuidasi.

Padahal, sepanjang hidupnya, Jawbone sudah menyedot duit investor hampir US$ 1 miliar, sekitar Rp 14 triliun. Sebagian besar duit yang disuntikkan oleh Khosla Ventures, Andreessen Horowitz, Sequioa Capital, hingga Kuwait Investment Authority amblas bersama ‘pemakaman’ Jawbone satu setengah tahun lalu.

Jawbone, menurut konsultan investasi Sramana Mitra, merupakan contoh perusahaan yang nilainya digelembungkan oleh suntikan modal, melampaui nilai bisnisnya sendiri. “Para investor juga sering salah sangka bahwa besarnya suntikan investasi merupakan tanda kesuksesan, padahal yang terjadi sebaliknya,” kata Rebecca Lynn dari Canvas Ventures dikutip Reuters.

Terbukti, banyak duit bukan jaminan bakal terhindar dari pailit. Jawbone bukan satu-satunya perusahaan teknologi yang diguyur duit ratusan juta dolar, tapi akhirnya mati. Deretan perusahaan itu lumayan panjang. Sepanjang 2017 saja, ada beberapa perusahaan startup yang sudah mendapatkan injeksi modal besar yang ‘dikuburkan’. Di antaranya Beepi, Quixey, Yik Yak, Sprig, Juicero, Doppler’s Lab, dan Luxe.

Ofo, perusahaan startup bike sharing dari China
Foto : Getty Images

Baru sembilan bulan lalu, Ofo dapat injeksi modal US$ 866 juta, sekitar Rp 12,6 triliun, dari raksasa teknologi di China, Grup Alibaba. Itu lah untuk kali kedua Alibaba mengguyurkan duit ke Ofo. Setahun sebelumnya, Alibaba memimpin konsorsium investor menanamkan modal US$ 700 juta. Siraman uang itu jadi modal Ofo untuk bertarung melawan pesaing beratnya, Mobike, yang disokong raksasa teknologi Tencent.

“Ofo akan terus mengutamakan pelanggan dan memimpin industri bike sharing lewat pengoperasian yang efisien dan inovasi,” kata Dai Wei, pendiri Ofo, dikutip Techcrunch, saat itu. Namun beberapa hari lalu beredar kabar perusahaan bike sharing dari China itu tengah mempertimbangkan mengajukan pailit alias bangkrut. Dai Wei mengatakan Ofo sedang ‘demam’. “Sepanjang tahun ini, arus kas kami terus menghadapi tekanan. Kami harus memenuhi penarikan deposit dari pelanggan, membayar utang dari pemasok sepeda dan menjaga operasi terus berjalan....Artinya, kami mesti membelah tiga setiap Renminbi yang kami dapat.”

Ofo yang baru berumur empat tahun memang cepat sekali terbang berkat siraman duit dari Alibaba dan investor lain. Pada akhir 2017 lalu, manajemen Ofo mengklaim mereka punya 200 juta pelanggan. Agar bisa memakai jasa Ofo, para pelanggan ini menyimpan deposit di perusahaan itu. Sekarang, ada banyak pelanggan yang ingin menarik duit yang disimpan di Ofo, salah satunya Zhang Na dari Beijing.

Sudah dua bulan dia berusaha menarik duitnya di Ofo, namun tak kunjung berhasil. Repotnya, lantaran ada banyak sekali orang yang ingin melakukan hal yang sama dengannya, nasib duit Zhang Na terkatung-katung. “Aku tak bisa bicara dengan staf Ofo,” kata Zhang Na dikutip Straits Times. Hingga 18 Desember 2018 lalu, ada lebih dari 9,8 juta pelanggan Ofo yang ingin menarik depositnya. Total duit yang mereka tarik kurang lebih 40 miliar yuan atau sekitar Rp 40 triliun.

Di tengah tekanan berat ke Ofo, Dai Wei berusaha mati-matian agar perusahaan yang dia dirikan itu tak tinggal nama belaka. “Di tengah kesulitan ini, kami harus cari cara untuk mengatasinya,” kata Dai Wei. Yang jadi soal, makin sedikit investor yang mau mengambil risiko membenamkan modal di perusahaan yang tengah berjuang lepas dari ‘maut’ itu.

“Ofo telah dibajak oleh modal,” kata Zhang Yi, pendiri iMedia Research, kepada majalah Forbes. “Para investor ingin perusahaan ini bisa bersaing, padahal di lapangan, kompetisinya begitu kacau dan tak rasional. Sekarang, dengan nilainya yang begitu mahal, tak ada yang mau berinvestasi di perusahaan itu.”



Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE