INTERMESO


NASI PECEL JADI STARTUP

"Saya bukan contoh terbaik sebuah startup karena visi saya tidak untuk mengejar valuasi"

Ilustrasi startup

Foto : Getty Images

Minggu, 23 Desember 2018

Sebuah "surat cinta" masuk forum berbagi DapurMasak.com. Pengirimnya seorang ibu muda yang menuliskan curahan hatinya. "Saya memasak untuk mewariskan sesuatu untuk anak saya nanti." Bukan harta yang diwariskannya. Namun resep-resep masakan yang setiap hari diolahnya di dapur rumah untuk keluarganya. Ibu itu ingin anaknya dua puluh tahun mendatang bisa mengenang masakan-masakan yang setiap hari dibuatnya dengan sepenuh hati. "Jika anak saya nanti menikah dia bisa masak untuk keluarganya dengan resep yang saya tinggalkan."

Surat itu menggugah Soegianto Widjaya, pendiri DapurMasak.com, sebuah situs berbagi resep-resep masakan yang kini berintegrasi dengan jaringan Cookpad. Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu menantang anggota timnya untuk mewujudkan mimpi ibu muda tadi. "Mampu tidak kita bertahan paling tidak dua puluh tahun ke depan untuk mewujudkan keinginan ibu itu," ujarnya pada detikX di kantor Cookpad Indonesia di kawasan Matraman, Jakarta. "Spirit tersebut yang membuat kami berusaha keras untuk mempertahankan DapurMasak."

DapurMasak.com bukan bisnis rintisan pertama yang didirikan Soegianto. Bisnis pertamanya juga tak jauh-jauh dari dapur yang diberi nama Sedapur.com pada 2010. Hanya saja Sedapur.com bukan soal resep masakan. "Konsepnya mirip dengan Go Food tapi kurirnya kami outsource," ujar Soegianto. Sedapur.com didirikannya setelah mendengar kisah sukses perkembangan e-commerce di Jepang. Kakak laki-lakinya, Soetrisno Widjaya yang baru pindah dari Jepang membawa cerita tersebut.

Soegianto teringat beberapa tahun sebelumnya saat masih bekerja di industri telekomunikasi. Saat itu, ia menggagas bisnis sosial bersama beberapa kawannya untuk menggerakkan perekonomian ibu-ibu rumah tangga dengan berjualan roti panggang. Namun usaha itu urung dijalankan. "Tidak mungkin ibu-ibu berjualan sampai malam sementara keluarganya juga butuh mereka," kata Soegianto. Berbekal masalah itu, Soegianto pun terpikirkan membuat sebuah startup yang menjembatani ibu-ibu yang bisa masak dengan para calon konsumennya.

Nasi pecel
Foto : Detik.com

Lapak maya bagi ibu-ibu berjualan makanan itu mendapat perhatian. Sejumlah penghargaan seperti Nokia Entreprenuer Fellowship dan Indonesia ICT Award (Inaicta)yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika berhasil diraih pada 2011. Sayang "anak" pertama itu tak bertumbuh baik secara bisnis. Meski cukup banyak ibu yang bergabung dengan Sedapur tapi konsumen tak mengenali mereka dan produk-produknya. "Kami lupa melihat pada sisi konsumen apakah mereka mau beli produk yang tidak dikenal," kata ayah dua anak itu.

Pria yang lahir di Jakarta, 20 Februari 1981 itu juga menyadari model pembelian makanan lewat internet belum populer kala itu. Belum lagi e-commerce kuliner besutannya belum didukung infrastruktur teknologi yang memadai. Orang masih lebih banyak mengakses internet lewat komputer di perumahan atau perkantoran. "Akses internet masih belum lewat perangkat mobile, dan saat itu belum seberapa banyak orang yang cari makanan lewat internet. Tidak semasif sekarang," kata Soegianto. "Kami terlalu cepat saat itu."

"Akses internet masih belum lewat perangkat mobile, dan saat itu belum seberapa banyak orang yang cari makanan lewat internet. Tidak semasif sekarang'

Pertumbuhan Sedapur yang jelek membuat kepercayaan diri timnya mulai goyah. Mereka pun mencari alternatif agar perusahaan tetap berdiri. Ide platform berbagi resep masakan di internet pun muncul pada pertengahan 2011. Konsepnya meniru situs Cookpad yang sudah eksis di Jepang. "Setiap orang bisa berbagi dan menyimpan catatan masak mereka," ujar Soegianto. Resep pertama pun datang dari Didik Wicaksono yang juga web developer Sedapur dan DapurMasak. "Melalui jaringan pertemanan, kami perkenalkan DapurMasak sekaligus minta mereka jadi user dan membagi resep-resep masaknya."

Didik Wicaksono menceritakan, sebagai perusahaan rintisan tanpa modal besar, salah satu cara murah untuk mencari model bisnis adalah dengan melihat bisnis serupa yang sudah berhasil di luar negeri. "Barangkali ada model bisnis yang cocok namun belum ada di dalam negeri. Jika kita menjadi yang pertama, maka kita bisa jadi merek pertama diingat orang. Amati, tiru, dan modifikasi," ujar Didik yang pernah menjadi web desainer untuk Detikcom.

Resep pertama yang masuk DapurMasak pun muncul dengan sangat mudah dan sederhana. Dengan peralatan masak ala kadarnya, istri Didik mengukus sayuran yang dibeli di pasar tak jauh dari kos tempat mereka tinggal. Sementara Didik membeli bumbu pecel dan abon sapi dari minimarket. "Jadilah resep nomor urut satu di DapurMasak, pecel ala anak kos," ujar Didik.

Ilustrasi
Foto : Getty Images

Saat Akimitsu Sano pendiri Cookpad datang ke Jakarta untuk seminar Boost Asia di awal 2012, Soegianto dipaksa untuk ikut. Aki Sano dengan penampilan yang sederhana bercerita soal Cookpad yang bukan sekedar situs resep. "Aki Sano menyebut Cookpad hadir untuk menciptakan keseimbangan pasokan dan permintaan makanan, sikap respek pada makanan, menghangatkan meja makan rumah tangga, dan pada akhirnya menolong petani," ujar Soegianto. Momen itu sangat berkesan baginya dan semangatnya berkobar mengembangkan DapurMasak.

Lagi-lagi aplikasi besutannya itu berhasil mendapat penghargaan Indonesia ICT Award (Inaicta) 2012 kemudian disusul Sparxup Award 2012. "Saya rajin ikut kompetisi karena waktu itu masih susah cari mentor," kata Soegianto. Saat memenangkan Sparxup Award itu penyelenggara Boost Asia menghampiri dan menyarankan dirinya mengontak Aki Sano. Melalui surat elektronik Soegianto mulai berinteraksi langsung dengan Aki Sano.

Percakapan mereka kemudian berakhir saat Aki Sano menanyakan berapa banyak orang Indonesia yang mau masak. Rupanya saat berkunjung ke Jakarta Aki Sano mencoba makan di Warung Tegal. "Dia (Aki Sano) bilang makan di warteg harganya terbilang sangat murah hanya sekitar 1 dolar. Mengapa harus masak?," kata Soegianto. Apalagi hampir setahun setelah didirikan tidak ada kemajuan yang berarti dari sisi trafik pengunjung. "Pertumbuhannya nyaris landai."

Akhir 2012 DapurMasak mulai diterjang badai, beberapa anggota tim DapurMasak meminta mundur termasuk Didik Wicaksono. "Dua tahun gaji kami minimalis sementara mereka juga punya keluarga. Saya harus realistis," kata Soegianto. Untuk menghemat biaya operasional, kantor mereka tutup dan dipindahkan ke garasi rumah. "Timnya hanya sisa tiga orang termasuk saya dan admin. Engineernya hanya support dari luar. Kami bertahan dengan uang hadiah kompetisi-kompetisi."

Soegianto hampir saja menyerah. Saat semangatnya membangun DapurMasak berada di titik nadir, istrinya yang lagi hamil pun masuk rumah sakit. Ia didekati kawannya yang juga sedang dalam proses mendirikan sebuah startup kosmetik. "Saya ditawari jadi leader. Dia bilang startup ini pasti berhasil. Kalau berhasil dan lu punya uang, lu bisa kerjakan apapun. Saya mulai goyah dan hampir gelap mata pokoknya asal ada pendapatan. Saya bilang saya pikir dulu," kata Soegianto.

Ketika istrinya mulai pulih, Soegianto menceritakan tawaran besar tersebut. "Dia bilang kalau menyerah itu bukan Soegi yang saya kenal," ujar Soegianto menirukan kata-kata istrinya. Agar lebih fokus mengembangkan DapurMasak, Soegianto memutuskan mematikan Sedapur pada Juni 2013. "Dua tahun lebih kami sudah coba. Saatnya untuk berhenti. Waktu menutup, saya ingat di milis startup lokal saya dihujat, dibilang nggak serius."

Ilustrasi
Foto : EV Hive

Tanpa diduga keajaiban datang pada hari pertama bulan Ramadan 8 Juli 2013. Server DapurMasak berulang-ulang down. Setelah dianalisis ternyata trafik pengunjungnya melonjak sangat tajam. "Hari pertama puasa itu tiba-tiba orang-orang pada cari resep buat sahur. Sepertinya saat itu seorang istri diuji kemampuannya di dapur. Mereka harus masak," kata Soegianto. Ia juga menyebut DapurMasak pada momen itu diuntungkan dengan mulai masuknya beragam produk telepon cerdas dengan harga terjangkau.

Kondisi dengan jumlah pengunjung berlipat ganda membuat Soegianto kembali optimistis masa depan DapurMasak. Sementara di sisi lain ia kebingungan. Pendapatan DapurMasak tak mencukupi untuk meningkatkan kapasitas server. Saat itulah Soetrisno memaksanya untuk segera mencari investor. Ia hampir menandatangani sebuah kontrak investasi namun batal karena merasa tak cocok. "Dalam periode yang sama saya terus kirim email ke Aki Sano. Saya tunjukkan data kenaikan trafik DapurMasak."

Saya bilang kalau boleh dua-duanya. Terserah dia mau bilang saya greedy, tamak

Surat elektronik balasan Aki Sano yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Aki Sano mengajak kontak lewat skype. "Saya ngomong dengan broken english ke dia selama hampir satu jam. Saya cerita soal bisnis model, apa yang saya percaya betapa pentingnya meja makan, saya punya keluarga yang punya tradisi makan, saya suka masakan ibu saya. Saya ceritakan semua," ujarnya.

Menjelang akhir percakapan, Aki Sano menanyakan apa yang Soegianto inginkan. Soegianto disuruh memilih antara pendanaan atau pendampingan. "Saya bilang kalau boleh dua-duanya. Terserah dia mau bilang saya greedy, tamak," kata Soegianto. "Jika akhirnya ternyata cuma dikasih satu, saya pilih pelatihan saja. Mau dibawa kemana produk ini dan apa yang harus saya lakukan lebih penting ketimbang dapat uang doang tapi tidak tahu mau ngapain." Rupanya Aki Sano tak menolak permintaannya.

Berbekal janji investasi dari Aki Sano, Soegianto mengontak kembali Didik Wicaksono yang sempat hengkang dan didaulat menjadi Chief Technology Officer. Hampir bersamaan pada akhir 2013 Cookpad mulai ekspansi ke luar Jepang. Perusahaan yang didirikan pada 1997 itu mulai mengakuisisi satu per satu aplikasi dan situs resep di berbagai negara diantaranya aplikasi resep terbesar di Amerika Serikat dan salah satu situs resep terbesar berbahasa Spanyol.

Ketika sejumlah aplikasi dari berbagai negara berkumpul di Jepang pada Februari 2014, DapurMasak ditawari bergabung dengan jaringan Cookpad. "Saya ditawari mau nggak membangun sebuah platform global dan memberi pengaruh ke seluruh dunia. Tawaran bergabung dengan gerakan global yang percaya bahwa memasak itu penting dan harus diwariskan. Ini tawaran sekali seumur hidup dan saya memutuskan setuju untuk bergabung," kata Soegianto.,

Keputusan Soegianto untuk bergabung dengan Cookpad banyak mendapat cibiran. Apalagi nilai valuasinya yang terhitung tidak besar. "Saya bukan contoh terbaik sebuah startup karena visi saya tidak untuk mengejar valuasi. Ketika kami bangun DapurMasak visi pertama kami memang bukan valuasi. Tapi apakah kami bisa menyelesaikan masalah memasak untuk membuat masak itu jadi lebih menyenangkan. Tidak semua orang bisa mengerti itu. Tapi di situlah titik balik kami," katanya. "Ketika kami bergabung visi dan transfer pengetahuan makin jelas. Dari situ pertumbuhan kami naik berkali-kali lipat."


Penulis/Redaktur: PASTI LIBERTI
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE