INTERMESO


STARTUP BUKAN UNTUK BONEK

Banyak sekali perusahaan startup lokal yang tak sempat tumbuh besar dan mati muda. Apa masalahnya?

Ilustrasi startup

Foto : Getty Images

Senin, 24 Desember 2018

Kecintaan pada buku membuat Fajar Endra Nusa tergugah membuat sebuah aplikasi bagi para pengemar buku. Niatnya mulia, ingin meningkatkan literasi masyarakat Indonesia. Bersama dua orang rekan kerjanya di sebuah perusahaan pengembang piranti lunak di Bali, Fajar mengembangkan BukuQ pada 2009 sebagai platform untuk para penggemar buku berbagi ulasan buku yang mereka punya.

"Ide awalnya mirip dengan goodreads.com dengan menambah beberapa fitur," kata Fajar saat ditemui detikX di Bogor, Selasa lalu. Aplikasi BukuQ langsung masuk nominasi Indonesia ICT Award (INAICTA) yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika pada Juli 2009. Berselang empat bulan kemudian, aplikasi ini diganjar Juara 1 Indosat Wireless Innovation Contest (IWIC) kategori Social Networking.

Keberhasilan itu membuat Fajar merasa yakin meninggalkan pekerjaannya di Denpasar. Ia pindah ke Bogor dan berniat fokus mengembangkan BukuQ. "Waktu itu saya modal semangat dan nekat saja," ujar lulusan Manajemen Informatika Institut Pertanian Bogor dan Ilmu Komputer Universitas Gajah Mada itu.

Untuk melanjutkan proyek BukuQ, Fajar mengajak beberapa rekannya membentuk tim Ink & Canvas. Karena berhasil memenangkan IWIC, BukuQ terpilih ikut dalam ajang Echelon Singapura. Fajar diberi kesempatan untuk bertemu dengan sejumlah calon investor untuk mempresentasikan aplikasi buatannya. Sayang tak ada calon investor yang tertarik. Fajar sendiri mengakui bisnis model yang dibuatnya untuk BukuQ kurang matang. "Calon investor menilai sulit direalisasikan," ujar pria berusia 36 tahun itu.

Sempat terpilih menjadi salah satu Asia's Top 50 Apps versi SingTel Innovation Exchange, BukuQ sudah dikembangkan sampai memiliki fitur pinjam meminjam buku antar pengguna. Anggota aktifnya nyaris mencapai angka 1000 orang. Namun karena tak kunjung berhasil mendapatkan pendanaan dan pendapatan, Fajar dan timnya memutuskan menghentikan operasional BUkuQ.

"Karena persiapan yang kurang, sampai tiga tahun belum menemukan model bisnis yang pas," kata Fajar. "Akhirnya kami tak berhasil monetisasi, mengubahnya jadi sumber duit, sehingga kehabisan bahan bakar di tengah jalan."

Fajar Endra Foto : dok. pribadi

Fajar akhirnya kembali bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi. Namun Ink & Canvas tak dimatikan. Setahun kemudian, ia membangkitkan Ink & Canvas dengan mengalihkan fokus bisnis ke layanan costum software development. Mereka menerima order dari sejumlah institusi, termasuk sebuah perusahaan teknologi di Jepang bernama Infinitec untuk mempertahankan operasional. "Kami tawarkan strategi pada klien agar dapat berkompetisi di era disruptif," kata Fajar.

Tak ingin mengulang kegagalan BukuQ, Fajar kini lebih hati-hati dalam mengembangkan sebuah produk. Mulai dari rencana dan model bisnis, serta rencana-rencana pencapaian dan pengembangan disiapkan dengan matang dari awal. Ia tak mau sekedar modal nekat alias bondho nekat alias bonek saja seperti yang lalu.

Pelan-pelan bikin aplikasi. Sambil garap proyek klien, kami sisihkan sebagian dana dan waktu.'

Bersama timnya Fajar sedang menyiapkan produk berkonsep "General Online Registration", layanan pendaftaran online untuk sekolah, universitas, tempat kursus, dan event. "Pelan-pelan bikin aplikasi. Sambil garap proyek klien, kami sisihkan sebagian dana dan waktu," katanya. "Aplikasi ini membuat proses pendaftaran dapat dilakukan dengan sangat praktis."

Mati lima puluh, tumbuh lagi seratus. Perusahaan startup tumbuh bak rumput di musim hujan. Siapa yang tak ingin jadi seperti Evan Spiegel, pendiri Snap Inc.? Masih muda, kaya raya, punya istri cantik jelita. Tapi sayangnya, pendiri perusahaan rintisan yang bernasib seperti Evan Spiegel ini sangat langka. Jauh lebih banyak perusahaan startup yang mati di tengah jalan, tanpa sempat jadi besar seperti Bukalapak, Tokopedia, Traveloka dan Gojek.

Ilustrasi
Foto :Getty Images

Sanny Gaddafi, kini Chief Executive Officer di 8Villages, juga pernah merasakan pahitnya kegagalan membesarkan startup. Pria yang punya nama panggilan Sagad itu merupakan salah satu "pemain" lama di panggung startup lokal. Aplikasi pertama dibuatnya saat masih menempuh kuliah di Universitas Bina Nusantara. Bentuknya layanan jejaring sosial yang diberi nama Fupei.

Waktu itu situs jejaring sosial Friendster masih jadi raja sosial media sebelum akhirnya digusur Facebook. "Friendster itu simpel, menghubungkan satu orang ke orang lain. Saya tertantang untuk bikin versi lokal," ujar Sagad kepada detikX di Jakarta. Tak ada ekosistem startup di Indonesia saat itu. Sagad mengaku membuat Fupei yang dilengkapi fitur belasan bahasa daerah hanya sebagai eksperimen untuk mengisi portofolio.

"Karena Friendster lagi booming kami dapat efeknya. Pengguna sudah familiar dengan konsep tersebut," kata pria kelahiran Bekasi 38 tahun lalu itu. Karena tergoda semangat lokalitas Fupei sekitar 80 ribu pengguna internet berduyun-duyun bergabung menjadi anggota. "Fupei memang berkembang tapi nggak punya bisnis modelnya. Saya juga tak tahu mau bawa kemana."

Merasa Fupei sudah sangat besar dengan puluhan ribu anggota, Sagad berupaya menjaring pengiklan. Ia mendekati sebuah perusahaan susu bayi. Pimpinan perusahaan itu enggan memasang iklan karena pengguna Fupei bukan target pemasaran mereka. Meski pengguna Fupei terbilang banyak tapi mereka tidak spesifik. "Ketika saya ditanya berapa banyak ibu yang punya anak kecil, saya tidak ngerti. Dari situ saya baru belajar kalau bikin aplikasi harus tahu target dan segmentasi pasar," ujar salah satu pendiri komunitas #StartupLokal itu.

Belajar dari pengalaman itu, pada 2008 Sagad membuat jejaring sosial khusus ibu-ibu bernama bundagaul. Aplikasi ini ditujukan bagi para ibu muda untuk bertukar pikiran, informasi dan gaya hidup. Sekitar 5000 ibu bergabung dengan jejaring sosial itu. Meski jumlahnya lebih rendah, tetapi pengiklan justru lebih banyak ketimbang Fupei. "Tapi saya bukan ibu-ibu. Walaupun aplikasi ini jalan tapi secara pembicaraan saya terputus dengan para member saya. Nggak nyambung," katanya. Sagad akhirnya menyadari untuk membangun sebuah startup diperlukan mitra untuk mengisi kekurangan.

Ilustrasi
Foto : dok. Kolega

Saat itu lah ia dipertemukan dengan Denny Santoso, seorang ahli diet, nutrisi, dan fitnes. Denny mengajaknya membangun Sixreaps, sebuah jejaring sosial untuk penggemar fitnes dan kemudian Beautiplan bagi para beauty enthusiast di Indonesia seperti make-up artist, nail artist dan hair stylist. Karena Sagad dan Denny bukan pemakai riasan, mereka mencari partner yang bisa memberi masukan dari sisi tersebut. Putri Indonesia 2008, Zivanna Letisha, akhirnya setuju untuk bergabung bersama Romeo Reijman, seorang social media specialist.

Lewat seorang teman, Sagad diperkenalkan dengan agronomis asal Prancis Mathieu Le Bras yang kala itu sudah 10 tahun berada di Indonesia untuk pemberdayaan petani. Mathieu memiliki ide mengembangkan sebuah teknologi untuk membantu petani dari sisi informasi. Ide mulia itu menyentil sisi sentimental Sagad. "Ibu saya seorang bidan yang memilih tinggal di perkampungan. Tempat tinggal kami di Bekasi dulu masih banyak sawah. Sawah itu masa kecil saya," kata Sagad. "Semua alasan yang diterangin Mathieu ada di pikiran saya, tapi selama ini saya abaikan."

San, kamu harus pilih. Ini untuk kepentingan kamu sendiri. Kalau mau 8villages jadi sesuatu

Sagad diajak karena memiliki reputasi dalam mengembangkan sejumlah jejaring sosial. Ia pun setuju untuk bergabung untuk mendirikan 8Villages. Karena keterbatasan teknologi telepon, Sagad mengembangkan jaringan sosial bernama Layanan Informasi Desa (LISA) menggunakan layanan pesan singkat (SMS), pada Desember 2012."

Memegang beberapa platform membuat Sagad tak fokus. Sementara Mathieu menuntut dirinya lebih banyak mengurus 8Villages. "Saya tidak terlalu gubris. Karena saya tetap berkeyakinan bisa atur jadwal," ujarnya. "Apalagi Fupei dan BundaGaul masih memberi pemasukan. Rasanya berat untuk mematikan karena masih berpotensi." Semua berubah ketika Ziv Ragowsky menggantikan Mathieu yang harus kembali ke London. Ziv lebih tegas menuntut keseriusannya. "San, kamu harus pilih. Ini untuk kepentingan kamu sendiri. Kalau mau 8villages jadi sesuatu," ujar Sagad menirukan permintaan partnernya itu.

Akhirnya Sagad memilih 8Villages. Satu per satu aplikasi lainnya dilepas dan kemudian mati dengan sendirinya."Daripada punya banyak tapi medioker lebih baik satu dan dibuat bernilai," katanya. Setelah lebih fokus, Sagad kemudian mengembangkan sistem informasi berbasis android. 8Villages pun meraih dua penghargaan kategori special award dan inclusive & empowerment di World Summit Award 2016. Setahun kemudian, mereka kembali dapat penghargaan dari World Summit on the Information Society (WSIS) Prizes 2017 yang digelar International Telecommunication Union. "Kami juga membuat aplikasi Regopantes untuk menghubungkan petani dengan konsumen, agar tak perlu lewat tengkulak," katanya.


Redaktur/Penulis: PASTI LIBERTI
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE