INTERMESO

Aku Gendut,
SO WHAT?

“Kalau masih gendut gini, kayaknya lo nggak akan punya pacar deh, nggak akan ada yang mau sama lo.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Sabtu, 29 Desember 2018

There's a hope that's waiting for you in the dark

You should know you're beautiful just the way you are

And you don't have to change a thing, the world could change its heart

No scars to your beautiful, we're stars and we're beautiful

(Scars to your Beautiful, Alessia Cara)

Dulu, malam Minggu selalu menjadi saat menakutkan buat Maria Juliana, dan mungkin pula bagi semua penyandang status jomblo. Itulah hari ketika menurut komedian Raditya Dika, para jomblo kompak berdoa. Berharap malam itu turun hujan sangat deras supaya mereka yang mengaku punya pacar tidak bisa berkeliaran dan memamerkan foto-foto kencan yang bikin iri.

Perasaan cemas tidak punya gandengan ini mulai merasuki pikiran Mayu, panggilan akrab Maria Juliana, sejak umurnya memasuki kepala dua. Ditambah lagi teman dekatnya satu per satu menikah. Mayu sebetulnya punya banyak teman cowok. Bahkan tidak sedikit yang nyambung dan malah jadi teman dekat. Tapi belum ada satu pun laki-laki yang menyatakan perasaan cinta sambil membawa bunga mawar ala sinetron ABG masa kini.

Mayu menerka, tubuhnya yang kelewat beratlah yang jadi penghalang mendapat pasangan. Kata orang-orang, ‘love is blind’, cinta itu buta tak memandang berat badan, tampang, atau isi duit di rekening. Tapi kenyataan tak seindah telenovela atau sinetron-sinetron di televisi. Di dunia nyata, para laki-laki, tak peduli dia seganteng Ben Affleck, sangat kurus atau sangat gendut, tajir atau fakir, semua bermimpi punya pasangan berbadan bak model Victoria's Secret atau tinggi langsing seperti Kendall Jenner. Bagi Mayu, kisah cewek gemuk berakhir di pelukan pria semacam Lee Min Ho cuma ada di drakor alias drama Korea.

Suatu kali pernah ada cowok yang dekat dengannya. Entah serius atau bercanda, bak sayembara, cowok ini malah memberikan syarat. Jika Mayu berhasil meluruhkan 30 kilogram berat badannya, dia baru mau menjadikannya pacar. Untuk omongan semacam ini, biasanya Mayu tidak pernah mau ambil hati. Dia memang tak pernah baper alias bawa perasaan jika orang bercanda mengenai ukuran tubuhnya.

Tapi lain cerita kalau omongan menyakitkan ini justru datang dari sahabat terdekatnya sendiri. “Sahabat cowokku bilang, 'Kalau masih gendut gini kayaknya lo nggak akan punya pacar deh, nggak akan ada yang mau sama lo'. Di situ aku kesel banget. Aku sampai nangis,” Mayu menuturkan pengalamannya saat ditemui di rumahnya beberapa hari lalu.

Maria Juliana
Foto: dok. pribadi lewat Instagram

Dulu, berat tubuh Mayu tak beda dengan anak-anak perempuan lain. Namun, sejak kelas IV sekolah dasar, tubuhnya makin melar. Nafsu makannya tambah sulit dikendalikan. Kadang dia sampai rela ngumpet makan di garasi mobil karena keluarganya melarang Mayu makan berlebihan. Selain itu, perempuan lulusan Universitas Bina Nusantara Jurusan Desain Komunikasi Visual ini memiliki kecenderungan stress eating atau emotional eating. Saat hati dan pikirannya sedang kacau, Mayu menenangkan diri dengan makan, makan, dan makan seolah tak pernah kenyang .

Keluargaku nggak pernah berhenti menyuruh aku kurus. Salah satunya tanteku. Aku sampai dipaksa untuk operasi sedot lemak."

Saat masih di bangku SMA, ibunya meninggal, membuatnya stres berat. Tubuhnya tambah melar tak keruan. Sebenarnya Mayu tak hanya pasrah melihat hasil timbangan badannya bertambah. Terus disemangati oleh seorang tantenya, Mayu sudah mencoba segala cara untuk mengikis lemak-lemak di tubuhnya. Dia pernah mengkonsumsi obat diet yang bikin dia kuat tidak makan empat hari. Pijat yang konon bisa bikin tubuh langsing seperti Sophia Latjuba juga pernah ia coba.

Mayu memang pernah berhasil memangkas berat badan hingga 25 kilogram. Tapi hal itu tak tahan lama. Nafsu makannya kembali mengalahkan dietnya. Lemak yang sudah hilang kembali datang. “Keluargaku nggak pernah berhenti menyuruh aku kurus. Salah satunya tanteku. Aku sampai dipaksa untuk operasi sedot lemak,” kata Mayu. “Mereka maksudnya baik. Tanteku takut aku nggak punya pacar karena gendut. Akhirnya aku setuju untuk operasi. Dan aku nggak akan pernah mau lakuin itu lagi. Sakitnya minta ampun.”

Kampanye Maria Juliana lewat @thistemporary
Foto: dok. pribadi lewat Instagram

Mayu sadar, tidak ada program diet yang menjamin pengikutnya akan langsing selamanya. Beauty is pain, kata orang-orang. Demikian pula agar bisa terus langsing dan bugar butuh perjuangan panjang. Perjalanan menuju berat badan ideal ini justru sering diabaikan orang. Mayu memutuskan membuat akun Instagram @thistemporary sebagai catatan perjuangannya untuk hidup sehat.

Target utamanya memang bukan angka di timbangan. Tapi, jika dengan menjalankan hidup sehat, berat badan paling tidak mendekati ideal, maka itu jadi bonus. “Thistemporary merupakan panduan buat cewek chubby yang ingin lebih sehat. Paling tidak kita sadar bahwa gemuk itu tidak sehat. Sampai kapan pun nggak akan ditemukan bahwa gemuk itu baik. Makanya aku membuat Thistemporary sebagai suatu perjalanan, bukan pendidikan,” kata perempuan yang punya hobi masak ini.

Namanya juga perjalanan, ada masa ketika Mayu rehat diet, semua hal itu ia ungkapkan secara blak-blakan. Fase cheating merupakan bagian dari proses menuju sehat yang tidak bisa dipisahkan. Mayu juga aktif menyuarakan kritik terhadap body shaming, ejekan kepada orang-orang yang kegendutan atau sebaliknya kelewat kurus, atau hanya lantaran urusan jerawat di muka sekalipun. Mayu ingin agar followers-nya tampil lebih percaya diri dan dapat lebih mencintai tubuh sendiri.

“Kalau kita selalu menganggap diri sebagai korban, kita nggak akan pernah berubah. Kita hidup di bumi nggak sendiri, ada lingkungan yang bisa berpendapat. Cuma kita yang bisa melakukan sesuatu untuk diri kita, sehingga ketika orang berpendapat kita bisa menjaga perasaan dan orang itu bisa berpendapat positif tentang kita,” tutur pengusaha kuliner online masakan Manado ini.

Ketika berhasil menghargai diri sendiri, tidak ada hal mustahil yang tidak bisa dilakukan atau didapatkan perempuan gemuk, termasuk untuk urusan jodoh sekalipun. “Ternyata banyak banget orang gendut di luar sana yang merasa mereka nggak punya harapan akan dipilih oleh orang. Pikirannya sama seperti aku dulu. Makanya, ketika aku punya pacar, followers-ku bilang, 'Kak, aku jadi senang banget karena aku jadi punya harapan',” katanya.

Kampanye Kamu Cantik
Foto: dok. pribadi lewat Instagram

Melihat linimasa di media sosial, kolom komentar memang merupakan bagian paling seru untuk dilihat. Di situ segala ucapan warganet tertuang seolah tanpa filter. Kolom komentar sekaligus menjadi bukti betapa kejamnya netizen Indonesia, terutama dalam hal mengomentari bagian tubuh seseorang. Tidak peduli tinggi, kurus, gemuk, putih, hitam, rambut kriwil, atau lurus, semua tak luput dari komentar. 'Lu sadar nggak sih, lu kayak Nutrijell hidup'. 'Itu jidat apa lapangan golf bet'. Beraneka komentar netizen semacam ini dengan mudah dapat ditemui di media sosial.

Bagi sebagian orang, mungkin hal ini dianggap sepele, padahal kritik atau komentar nyinyir terkait bentuk, ukuran, hingga penampilan tubuh ini masuk dalam kategori body shaming. Ketika korban body shaming marah atau tidak terima, pelakunya biasanya malah membalas dengan kata-kata 'Gitu aja kok baper'.

Ada juga anggota Paskibra tingkat kabupaten yang secara fisik ideal, tapi masih saja jadi korban body shaming."

Setiap hari Naya Defisa menerima keluhan dari para korban body shaming yang tidak berdaya dan tidak terima dirinya dibilang baper. Melalui Instagram, ada puluhan bahkan ratusan orang mengirimkan pesan langsung mengeluhkan hal yang kurang-lebih sama. Mereka berkeluh kesah soal pengalaman betapa sakitnya jadi korban body shaming.

“Banyak orang yang kirim pesan kok kelihatannya butuh banget dimotivasi. Pas dilihat akun Instagram mereka, kelihatan baik-baik saja. Tapi ternyata mereka menyimpan derita yang semenyakitkan itu. Ada yang penari modis berprestasi. Ada juga anggota Paskibra tingkat kabupaten yang secara fisik ideal tapi masih saja jadi korban body shaming,” kata Naya Defisa, salah satu perintis kampanye Kamu Cantik yang aktif menyuarakan isu anti-body shaming. Naya menyadari banyak korban body shaming yang memerlukan wadah untuk bertukar cerita dan saling menguatkan.

Awalnya kampanye Kamu Cantik ini ia buat untuk memenuhi tugas salah satu mata kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Kesejahteraan Sosial, Universitas Padjajaran. “Kami nggak berharap bakal sebaik ini responsnya. Kami bergerak lewat Instagram @Kamucantikproject. Dan kami nggak menargetkan punya berapa ratus followers. Kami ingin mengubah perilaku dan cara pandang orang terhadap body shaming melalui kampanye,” kata Naya. Selain Naya, ada empat perempuan lain yang tergabung dalam kampanye Kamu Cantik, yakni Monica Kristiani, Mutia Rahmi, Nadhira Nur Amalina, dan Vidi Asmara.

Ide ini bermula ketika para perempuan ini sadar, ketika berkumpul, mereka juga sering jadi pelaku body shaming. “Kita berlima dan perempuan tanpa disadari, kalau lagi ngumpul, kita pun jadi korban sekaligus pelaku body shaming. Misalnya udah lama nggak ketemu pasti ngomong 'Eh kok lu gendutan'. Karena kita nggak teredukasi bahwa body shaming bukan hal yang harus kita lakukan, kita jadi nggak merasa bersalah,” ungkap salah satu pendiri, Monica Kristiani.

Dalam kehidupan sehari-hari, tak jarang Risti, begitu ia disapa, menerima komentar nyinyir soal bagian pinggang yang dianggap kelewat lebar. Begitu pula dengan bintik-bintik atau freckles di wajah. Tapi ketika tren makeup freckles mulai digemari, orang-orang yang dulunya mencaci Risti malah berbalik arah dan melontarkan pujian.

Meski terlihat sepele, body shaming rupanya juga sangat berdampak bagi kesehatan. Sebuah studi berjudul 'The Relationship between Body Shame, Self-Esteem, and Depression' pada 2017 mengungkap body shaming dapat menyebabkan depresi pada korbannya. Tak mengherankan jika banyak korban body shaming yang memiliki pandangan buruk terhadap diri sendiri.

“Dengan adanya kampanye sosial ini, kami ingin mengedukasi, paling nggak kita nggak jadi pelaku untuk diri sendiri. Misalkan pas lagi ngaca, kita sering membuat stigma buruk terhadap diri sendiri,” kata Naya. Melalui Kamu Cantik, mereka kerap membuat konten mengenai permasalahan yang dihadapi korban body shaming serta bagaimana cara positif untuk menanggapinya.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE