INTERMESO

"Aku Sangat Benci Tubuhku"

“Badan kamu nggak ada bentuknya, nggak pantas pakai baju begini.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Senin, 31 Desember 2018

Ghita Ayu sudah lupa kapan terakhir kali ia mengaca. Cermin tak pernah menjadi ‘sahabat'-nya. Sejak lama Ghita memang sengaja menjauhkan diri dari kontak dengan kaca di kamarnya. Biasanya begitu, urusan mandi dua kali sehari, dia selalu melewatkan ritual becermin. Dia tak peduli meski belahan poni rambutnya masih melenceng sebelah atau rambutnya berantakan.

Pokoknya Ghita sangat anti-becermin. Kalaupun ia terpaksa menghadap kaca, itu pun hanya ala kadarnya. Sungguh bukan hal yang biasa. Padahal, bagi kebanyakan perempuan, cermin merupakan salah satu ‘senjata’ yang harus ada ke mana pun mereka pergi. Mereka bahkan sanggup menghabiskan waktu berjam-jam di depan kaca hanya untuk memulas dandanan.

Tapi Ghita tak suka dengan bayangannya di kaca. “Aku nggak suka becermin karena aku sangat benci tubuh sendiri. Aku merasa nggak nyaman setiap kali becermin. Aku juga malas ke kamar ganti karena ada kaca yang memperlihatkan tubuhku dengan jelas,” Ghita Ayu menuturkan alasan di balik kebiasaannya itu.Ghita sempat melewati masa-masa minder kronis. Mau pakai baju sebagus apa pun, ia merasa tak ada satu pun yang cocok di tubuh.

Perasaan tak nyaman, tak percaya diri, dengan tubuhnya ini tak terjadi hanya dalam sehari. Sejak ia masih kecil, orang-orang terdekat di sekeliling Ghita kerap melontarkan berbagai macam olokan terhadap segala hal yang dianggap tak ideal di tubuhnya, dari ujung kepala sampai jari kaki. Kulit kurang putihlah, pinggang dan paha kurang kecil-lah, dan segala macam.

Namun justru komentar yang paling mempengaruhi kepercayaan diri Ghita datang dari ibu sendiri. Selama tinggal satu atap dengan sang ibu, dari baru lahir hingga duduk di bangku kuliah, selama itu pula Ghita kenyang menerima segala bentuk celaan. Entah mengapa, ibunya kerap sekali mengecilkan hati anaknya sendiri dengan terus-menerus berkomentar seperti ini, 'Kamu itu nggak tinggi', 'Kamu nggak punya pinggang', 'Badan kamu nggak ada bentuknya, nggak pantas pakai baju begini'.

Ghita Ayu
Foto: dok. pribadi lewat Instagram

Semakin Ghita beranjak dewasa, komentar ibunya justru tambah menjatuhkan kepercayaan dirinya. Sampai ukuran payudara pun tak luput dari perhatiannya. “Payudara kamu kecil ya, nggak seperti mama," suatu kali ibunya mengomentari tubuh Ghita saat memergokinya berganti baju.

“Aku pikir di dalam keluarga, kita bisa diterima apa adanya, dengan segala kekurangan kita. Terutama oleh seorang ibu yang seharusnya menjaga kita dan bikin percaya diri. Ini malah aku sendiri yang harus berjuang bagaimana caranya supaya nggak down oleh komentar-komentar mamaku,” kata Ghita, anak sulung dari tiga bersaudara ini. Hubungan Ghita dengan sang ibu sebetulnya baik-baik saja. Ghita hanya tak paham mengapa ibunya sangat usil mengomentari bentuk tubuhnya. “Pernah, karena udah muak, aku sampai bilang, 'Kecuali Mama mau bayarin operasi plastik, nggak masalah sih, Ma'.”

Mama ternyata nggak suka dengan bentuk tubuhku. Aku dianggap terlalu kurus sehingga kelihatan tua."

Kalau dari segi penampilan fisik, Ghita memang seperti bertolak belakang dengan ibunya. Ibunya, menurut Ghita, memang punya tubuh layaknya perempuan-perempuan di majalah-majalah gaya hidup. Tinggi, langsing dengan kulit terang, dagu lancip, dan hidung mancung. Ibunya juga selalu tampil modis dan licin. Kalau waktu masih muda sang ibu melamar jadi model, kemungkinan besar akan diterima.

Postur Ghita memang tak menjulang seperti Kendall Jenner, tubuhnya tak seseksi Irina Shayk. Tinggi tubuhnya kurang dari 160 meter. Tapi porsi tinggi dan berat tubuhnya sebenarnya masih terhitung ideal, tak kelebihan berat, tapi juga tak kelewat kurus. Tapi, di mata ibunya, selalu saja ada yang kurang pada putri sulungnya ini.Ibunya masih saja mencemoohnya dengan kata gendut. Ghita sempat mengambil jalan pintas. Karena bosan dibilang gemuk, ia pernah nekat membeli pil peluruh berat badan yang dijual secara online. Selama enam bulan, Ghita seolah ketagihan dengan obat itu. Sampai berat badannya sempat menyentuh angka 38 kilogram.

Sayangnya, bukan pujian yang diterima. Lagi-lagi ibunya mencela tubuhnya. “Mama ternyata nggak suka dengan bentuk tubuhku. Aku dianggap terlalu kurus sehingga kelihatan tua,” tutur Ghita. Celaan demi celaan itu membuat dia terluka dan frustrasi. “Aku ngerasa jadi paket komplet. Fat shaming sudah pernah ngerasain, skinny shaming juga udah.”

Ghita Ayu
Foto: dok. pribadi lewat Instagram

Bertahun-tahun menyimpan luka, sakit hati itu mengendap dalam benaknya. Ditambah lagi dengan komentar-komentar menyakitkan dari orang-orang lain di sekitarnya, membuat Ghita bak bom waktu yang siap meledak kapan saja. Dia jadi makin membenci tubuhnya, juga gampang sekali berang jika ada yang menyinggung soal tubuhnya.

“Kalau ada teman yang komentar, 'kok kamu gemukan ya', aku nggak segan ngomelin mereka. Aku nggak suka orang bercanda tentang berat badan atau apa pun soal tubuh. Aku sudah terdoktrin kalau gendut itu jelek, aku nggak mau dipanggil gendut,” ujar Ghita kesal.

Emosi yang tidak stabil memang merupakan salah satu dari sekian banyak dampak negatif yang mesti ditanggung para korban body shaming. Bahkan kadang, dampak pelecehan tubuh ini bisa jauh lebih serius. Menurut satu riset di Journal of Adolescent Health, kepercayaan diri yang buruk terhadap tubuh akibat olok-olok bentuk tubuh ini bisa berujung pada niat bunuh diri.

Seperti dikutip laman Psychology Today, banyak orang beranggapan body shaming sebagai tindakan yang tidak berbahaya. Namun kenyataannya tidak untuk sebagian orang lainnya. Ingatan tentang olok-olok ini masih akan terus melekat bahkan sampai 20 tahun kemudian. Apa yang terjadi pada Angelina Green lima tahun lalu membuktikan bahwa olok-olok terhadap tubuh orang lain ini bisa berakibat buruk sekali.

Angelina, gadis 14 tahun asal Kota Lafayette, Amerika Serikat, mengakhiri hidupnya sendiri. “It’s bullying that killed me. Please get justice,” Angelina menutup surat terakhirnya untuk sang ibu, Danielle Green. Menurut Danielle, putrinya yang malang itu terus diolok-olok oleh teman-temannya soal berat tubuh, rambutnya yang kemerahan, sampai bintik-bintik di mukanya.

Ghita Ayu
Foto: dok. pribadi lewat Instagram

Mungkin di antara mereka yang gemar mengomentari bentuk tubuh orang lain, ada pula yang punya tujuan mulia. Misalnya memberikan semangat kepada orang berkelebihan berat badan agar mau mengurangi lemak di tubuhnya. Kenyataannya, kata-kata negatif sebagai penyemangat itu, menurut satu penelitian di jurnal National Center for Biotechnology Information (NCBI), malah bisa jadi pedang bermata dua. Alih-alih jadi termotivasi, mereka malah makin depresi dan tidak sanggup mengontrol nafsu makannya.

Walaupun pada sebagian kasus ada pula yang membuat seseorang berubah, fat shaming juga dapat berujung gangguan makan serius, seperti eating disorder atau bulimia. Mereka dapat makan banyak, lantas kembali memuntahkannya. “Kalau memang niat mau bantu orang lain, jangan ngomong saja. Kamu coba dong ajak mereka olahraga atau ajari cara diet yang baik. Kalau cuma ngomong tanpa ada tindakan, mending sekalian nggak usah,” kata Ghita.

Kalau memang niat mau bantu orang lain jangan ngomong aja. Kamu coba dong ajak mereka olahraga."

Korban olok-olok bentuk tubuh ini tak melulu perempuan, tapi juga laki-laki. Penyanyi Tulus merupakan salah satu korban olok-olok sejak kecil. Karena bentuk tubuh yang agak tambun, penyanyi bernama lengkap Muhammad Tulus ini mendapat julukan gajah. Pengalaman buruk masa kecil itu dia tuangkan dalam lirik lagunya.

Waktu kecil dulu

Mereka menertawakan

Mereka panggilku gajah

(Ku marah) ku marah

Sosok sempurna itu barangkali memang hanya ada dalam angan-angan para pengolok. Bahkan model kondang seperti Kendall Jenner pun juga masih dicela tubuhnya. Kendall pernah dirundung setelah beredar gambar telanjangnya saat berlari di pantai beredar di internet. Foto ini dijadikan bahan olokan karena tubuhnya dianggap kelewat kurus sehingga tidak sedap dipandang mata.

Kini agaknya Ghita bisa bernapas lebih lega. Sejak dua tahun lalu ia tinggal ribuan kilometer jauhnya dari sang ibu. Ghita tinggal di Australia bersama pasangannya. Di negeri orang ia bisa merasakan atmosfer yang jauh berbeda. Tak ada lagi teman-teman terdekatnya yang suka nyeletuk 'kok kamu gemukan'. Meskipun tidak dimungkiri ada juga segelintir orang di luar sana yang mulutnya ‘minta dilem’.

“Lingkungan di Indonesia dan di sini berbeda. Mereka lebih menghargai bentuk tubuh seseorang. Bosku di tempat kerja pernah bilang, ‘Selama kamu bisa mengerjakan apa yang bisa kamu kerjakan, nggak ada yang salah dengan bentuk tubuh atau warna kulit kamu,’” kata Ghita. Kini dia mengerti mengapa orang-orang asing lebih suka basa-basi tentang cuaca ketimbang bergosip soal berat badan seseorang, yang ujungnya malah bikin sakit hati.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE