INTERMESO

Stop Body Shaming
atau Dipenjara

“Pelecehan bentuk tubuh bisa menghancurkan hidup seseorang.... Orang dipermalukan dan kadang mereka tak bisa pulih kembali.”

Ilustrasi: dok. ThisTemporary

Minggu, 30 Desember 2018

Belum juga memulai aktivitas di pagi hari, ponsel Maulina Pia Wulandari sudah diributkan oleh masuknya banyak notifikasi pesan. Karena penasaran, ia membuka salah satu pesan dari seorang temannya. Pia tak pernah menyangka, sebuah pesan lengkap dengan tautan foto itu isinya akan sangat sulit dilupakan.

Temannya mengabarkan salah satu foto yang diunggah Pia menjadi viral. Bukan cuma di media sosial, tapi beredar luas di antara grup WhatsApp maupun aplikasi chat lainnya. Kabar ini bukannya membuat ia senang, tapi justru membuat hati Pia seakan tersayat, tapi sekaligusnya membuatnya naik pitam. Ada satu fotonya di internet digunakan sebagai meme untuk bahan lelucon.

Sebetulnya tak ada yang aneh dengan foto itu. Pia berpose sambil menggunakan kebaya berwarna merah. Kebiasaan Pia mengunggah foto diri dengan kebaya atau baju lainnya juga bukan barang sekali dua kali. Apalagi sejak ia mendirikan clothing line Curvilinea tiga tahun silam. Fotonya itu memang sengaja dibuat untuk memamerkan desain baju buatannya. Baju khusus untuk wanita dengan ukuran besar.

Ternyata ada orang ‘iseng’ menggambil foto itu dan mengeditnya. Entah dari mana asal ilham itu, dia menyunting foto Pia dengan mengubah bentuk tubuhnya menjadi lebih kurus. Foto suntingan itu lantas disandingkan dengan foto sebelum disunting, seolah menunjukan hasil sebelum dan sesudah menjalani program penurunan berat badan. Tak sampai di situ, orang itu juga menambahkan keterangan foto yang berisi cibiran terhadap tubuh Pia sebelum disunting. Keterangan foto itu dibuat seolah Pia sedang bercakap dengan sang penyunting foto.

"Bu.. ini photonya dah selesai.."

"Oh udah ya.. berapa biayanya..?"

"Photonya 50 ribu, editannya 500 ribu

"Loh..!! Kok mahal editannya mas..?"

"Ya iya lah bu.. coba ibu beli obat pelangsing sampe bisa sekecil itu kira2 ibu habis biaya berapa.? Pasti jutaan kan?"

"Iya juga ya mas.. haddewww"

Maulina Pia Wulandari
Foto: dok. pribadi

Tentu saja Pia sangat terkejut dan tidak terima ‘tubuh'-nya semena-mena dijadikan lelucon. Dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, itu menuliskan protes lewat akun Facebooknya. Saat itu Pia belum tahu orang macam apa yang tega melecehkannya. Tak menunggu lama, lingkaran teman di Facebooknya berhasil menemukan pelaku. Belakangan, sang pelaku diketahui berprofesi sebagai pegawai negeri sipil di Bontang, Kalimantan Timur.

Pelaku berinisial SR ini sempat meminta maaf kepada Pia melalui pesan di Facebook. Tapi Pia sudah terluka. Netizen yang juga tidak terima Pia mendapat perlakuan tidak menyenangkan ikut mendorong Pia memproses kasus pada 26 Juli lalu ini ke ranah hukum.

Saya sebagai pribadi insyaallah sudah memaafkan. Tapi proses hukum harus ditegakkan. Kalau tidak ditegakkan, banyak perempuan plus size seperti saya yang mungkin lebih buruk kasusnya, akan merasa tidak punya harapan."

“Saya sebagai pribadi insyaallah sudah memaafkan. Tapi proses hukum harus ditegakkan. Kalau tidak ditegakkan, banyak perempuan plus size seperti saya yang mungkin lebih buruk kasusnya, akan merasa tidak punya harapan,” kata Pia, yang saat ini juga menjabat sebagai Staf Ahli Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerja Sama Universitas Brawijaya. Melalui kasus ini, Pia ingin memberikan pelajaran agar tidak sembarangan mencemooh orang. Apalagi urusan bentuk tubuh seseorang. “Saya sebagai akademisi ingin memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa kita tidak bisa menggunakan foto orang lain untuk bahan ejekan. Saya ingin ada efek jera di mana kalau kamu melakukan body shaming, ada hal yang harus kamu bayar, yaitu dipenjara.”

Memang ada beberapa pasal yang dapat menjerat pelaku body shaming. Perbuatan pidana ini baik yang dilakukan secara langsung kepada korban maupun disebarkan melalui transmisi narasi di media sosial. Pasal itu di antaranya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), dan Undang-Undang No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang telah diubah dengan Undang-Undang No 19 Tahun 2016.

Pasal 27 ayat 3 UU ITE menyebut bahwa setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik dapat dipidana paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 750 juta. Sementara apabila melecehkan tubuh orang secara verbal, langsung ditujukan kepada seseorang, dikenai Pasal 310 KUHP dengan ancaman hukuman 9 bulan.

Foto: dok. This Temporary

Meski banyak yang menghargai keberanian Pia, ada juga komentar nyinyir netizen menganggap reaksinya terlampau berlebihan. Namun Pia tak ambil pusing atas komentar miring itu. Tak semua orang bisa memahami dampak dari perbuatan mencemooh bentuk tubuh. Apalagi jika olokannya sampai membuat komedian Denny 'Cagur' ikutan menyebar foto ini melalui fitur Story di Instagram.

Bayangin, foto saya itu beredar tidak hanya di Indonesia, tapi juga ke luar negeri. Sampai ke Amerika sana lewat WhatsApp group orang Indonesia yang ada di sana, dibagikan dan jadi bahan olok-olokan. Teman saya yang tinggal di luar negeri jadi kaget, kok saya jadi bahan olok-olokan,” kata lulusan program pendidikan doktor di University of Newcastle, Australia, ini.

Berbeda dengan body shaming dalam bentuk verbal, ketika cemoohan itu beredar di media sosial atau situs tertentu, rekam jejaknya akan sulit dihapus. Bahkan menurut Alfons Tanujaya, pengamat keamanan internet sekaligus Information Technology Security Specialist Vaksinkom, segala bentuk tulisan atau gambar dan rekaman yang diunggah ke media sosial dan sebagainya, jejaknya dipastikan akan berada di internet selama-lamanya.

Beban akibat dirundung ini tak cukup hanya menimpa Pia. Kedua anaknya juga ikut kewalahan menjawab pertanyaan-pertanyaan orang soal sang ibu yang menjadi korban pelecehan. “Perasaan anak saya tidak bisa dia bayar. Dalam tiga bulan pertama anak saya ditanyain gurunya dan orang tua temannya, 'Mama kamu kenapa begini?' Apa anak saya nggak stres menghadapi seperti ini? Apalagi mereka terbiasa tinggal di luar negeri, tidak pernah berhadapan dengan hal seperti ini,” ucap Pia dengan suara bergetar. Saat ini kasusnya tengah ditangani oleh Polres Malang Kota dan telah memasuki tahap gelar perkara.

Ilustrasi
Foto: iStock

Pia juga menyoroti panggung hiburan yang menjadikan perempuan sebagai objek lelucon. Sejumlah artis bertubuh gemuk dijadikan bahan tertawaan. Secara tidak langsung, tontonan ini seolah melanggengkan anggapan bahwa mencemooh tubuh orang bukan persoalan serius. Celakanya, masyarakat Indonesia justru ikut terhibur oleh komedi semacam ini.

“Ada memang pembawa acara yang badannya besar, tapi bukan berarti mereka bisa diejek dan dijadikan bahan olokan demi kepentingan rating. Ini yang membuat orang Indonesia salah kaprah. Hal buruk dibenarkan seolah hal biasa dan dibungkus dalam bentuk hiburan, padahal tidak biasa dan tidak boleh. Makanya saya sedih banget kenapa orang Indonesia seperti ini,” tutur Pia.

Ada memang pembawa acara yang badannya besar, tapi bukan berarti mereka bisa diejek dan dijadikan bahan olokan demi kepentingan rating."

Orang yang melaporkan penghinaan terhadap bentuk tubuh memang masih minim. Selain Pia, baru ada satu kasus lain yang dilaporkan pada 2009. Seorang pria bernama Ujang Romansyah dilaporkan oleh Fely Fandini Juliastini ke Polresta Bogor. Ia diduga telah melakukan pencemaran nama baik Fely dan orang tuanya melalui Facebook lewat tulisannya.

Ujang diduga menulis seperti ini, “Hai...Lu ngga usah ikut campur. Gendut, kaye tante2, ngga bs gaya. Emang lu siapa. Urus aja diri lu kaya... So cantik, ga bs gaya. Belagu. Nyokap lu ngga sanggup beliin baju buat gaya ya, makanya lu punya gaya gendut, besar lu, kaya lu yg bagus aja. Emang lu siapanya UJ. Hai gendut.”

Kasus semacam ini tak hanya terjadi di Indonesia. Seorang model dari Los Angeles, Amerika Serikat, Dani Mathers, juga dilaporkan atas tuduhan melecehkan bentuk tubuh perempuan berusia 70 tahun. Mantan model majalah PlayBoy ini mengunggah foto perempuan itu saat berada di pusat kebugaran LA Fitness dengan keterangan foto mencemooh. “If I can't unsee this then you can't either,” Dani menulis seperti dikutip The Sun.

Namun bedanya, kasus ini sudah menemukan titik terang. Pengadilan Los Angeles akhirnya memberikan sanksi selama sebulan penuh untuk menghapus vandalisme di Los Angeles. Tak hanya itu, Mathers juga dilarang masuk ke semua pusat kebugaran LA Fitness di seluruh Amerika. Ia pun kehilangan kontrak kerjaan di stasiun radio KLOS, dan terancam enam bulan penjara serta denda hingga US$ 1.000 atau setara lebih dari Rp14,5 juta. “Pelecehan bentuk tubuh bisa menghancurkan hidup seseorang.... Orang dipermalukan dan kadang mereka tak bisa pulih kembali,” kata Mike Feuer, pengacara korban.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE