INTERMESO

Dulu, Presiden Soeharto Pun Jadi Pelanggan Kopi Boplo

Sekarang, hanya tersisa satu toko kopi lama di Pasar Boplo, Jakarta. Kembang-kempis di tengah menjamurnya kafe dan warung kopi.

Foto: dok. Getty Images

Sabtu, 5 Januari 2019

Gedoran keras di pintu toko serta teriakan 'api' menyadarkan Lunardi Valanchie, yang sedang bersantai dengan buku-bukunya suatu malam di akhir Januari, hanya seminggu setelah perayaan Imlek 2012. Ia segera berlari menyambar koper berisi surat-surat penting. Pakaian-pakaian di lemari dan sejumlah barang tak dihiraukannya lagi.

"Satu lagi barang berharga yang paling saya ingat mesin giling kopi peninggalan ayah saya," ujar Lunardi kepada detikX di tokonya di kawasan Pasar Boplo, Gondangdia, Jakarta, akhir tahun lalu. Ternyata mesin giling tersebut dan beberapa stoples besar biji-biji kopi beragam jenis sudah diangkut warga, lalu diletakkan di emperan Stasiun Gondangdia yang berada persis di seberang tokonya.

Di mata Lunardi, mesin giling kopi tua itu begitu berharga. Mesin yang kini digerakkan dengan motor berbahan bakar bensin itu jadi saksi berdirinya toko kopi dengan merek Burung Kenari yang dirintis ayahnya, Tjhie Tay Sen, sekitar setengah abad silam.

Kisah bisnis Tay Sen, yang menetap di kawasan Boplo sejak 1930, sebenarnya tak dimulai dari kopi. Awalnya, pria keturunan Hakka atau Khek dari wilayah selatan China itu membuka toko obat, kemudian beralih menjual bahan-bahan kebutuhan pokok. Namun, karena makin sepi pembeli, Tay Sen banting setir, memutuskan mengganti barang dagangannya dengan kopi. Kebetulan ada tetangga yang sudah memulai usaha kopi terlebih dulu. Tay Sen membeli biji kopi, menggilingnya dan menjualnya dalam bentuk bubuk.

Tay Sen kebetulan punya hobi memelihara dan membiakkan burung jenis kenari. "Jadilah tokonya dinamakan Burung Kenari," ujar Nelli Lawijo, istri Tay Sen, yang kini berusia 80 tahun. Tay Sen tidak menyangrai sendiri biji-biji kopi yang dijualnya. Semua biji kopi yang didapatkan dari pemasok sudah dalam kondisi siap digiling. "Pelanggan yang datang tinggal memilih kopi Lampung jenis apa. Mau robusta atau arabika atau campuran keduanya. Nanti tinggal digilingkan," kata Nelli.

Lunardi di toko kopinya di Gondangdia, Jakarta
Foto: Pasti Liberti/detikcom

Kopi yang sudah digiling tinggal dimasukkan dalam kantong terbuat dari kertas tipis berwarna cokelat yang kini dikenal dengan kertas kopi. "Kertas pembungkusnya lalu kami beri cap Burung Kenari," ujar Nelli. Era tahun 1970-an hingga 1990-an, menurut dia, merupakan masa-masa keemasan toko kopi giling. Kala itu, kopi instan dan kopi dalam kemasan belum sepopuler hari ini. Di kawasan Pasar Boplo sendiri terdapat tiga toko kopi sejenis selain Burung Kenari. Uniknya, mereka juga memakai nama unggas, yakni Merpati Pos, Dua Merpati, dan Ayam.

Saya tidak tahu persis toko-toko lain, tapi sepertinya kondisinya sama saja."

Sebagian besar jenis kopi yang dijual toko-toko itu sama jenisnya. Pasalnya, mereka mendapatkan dari pabrik dan pemasok yang sama. Karena itu, mereka saling bersaing mempertahankan pelanggan dan mendapatkan pembeli baru. Beragam cara dilakukan, termasuk menawarkan hadiah-hadiah untuk promosi. "Beli sekilo dikasih piring atau setengah kilo dapat gelas," kata Nelli.

Kopi cap Merpati Pos salah satu yang paling tenar. Letak tokonya persis bersebelahan dengan toko milik Tay Sen. Kopi Merpati Pos ini pernah disinggung dalam milis komunitas boga Jalansutra yang didirikan Bondan 'Maknyus' Winarno. Bondan sendiri dalam milis tersebut mengaku pernah menjadi pembeli setia kopi Merpati Pos saat masih berkantor di kawasan Kebon Sirih. "Waktu itu kualitasnya bagus. Almarhum Presiden Soeharto pun melanggani kopi Merpati Pos dari Boplo ini," almarhum Bondan menulis.

Namun hari ini, saat kafe dan warung kopi menjamur di semua tempat, justru merek kopi lama dari Pasar Boplo malah nyaris tak terdengar lagi namanya. Masa keemasan itu mulai memudar saat pabrik-pabrik kopi modern mengeluarkan produk kopi instan dalam kemasan plastik. Kopi gilingan pabrik yang sudah dicampur dengan gula langsung merebut hati konsumen karena dinilai lebih praktis. Omzet kopi cap Burung Kenari pun terjun bebas, nyaris tinggal separuh dibanding tahun-tahun sebelumnya. "Saya tidak tahu persis toko-toko lain, tapi sepertinya kondisinya sama saja," ujar Lunardi yang mengambil alih pengelolaan toko saat ayahnya wafat pada awal 1990-an.

Biji kopi
Foto: dok. Getty Images

'Pukulan' kedua datang dalam kebakaran yang dipicu dari gudang elpiji di samping Pasar Boplo pada malam 31, Januari 2012. Tak ada satu pun toko kopi di kawasan itu yang selamat dari amukan api. Selepas kebakaran, sebagian besar pemilik toko-toko kopi di Pasar Boplo memilih menutup tokonya untuk selamanya. Masing-masing pemiliknya memutuskan ganti haluan. Pemilik kopi cap Merpati Pos, misalnya, memilih mengadu nasib jadi pengusaha bijih besi dan pasir bangunan.

Hanya Lunardi yang kemudian kembali membuka toko kopi dan menjadi satu-satunya toko kopi lama yang tersisa. Walau toko itu baru dibuka dua tahun setelah peristiwa kebakaran. Lunardi mengaku tak punya cukup modal untuk pindah bidang usaha. Dia mengubah nama toko menjadi Toko Luwak untuk mengganti peruntungan sesuai keyakinannya. "Kayaknya Burung Kenari sudah lewat masanya. Mungkin lebih hoki dengan ganti nama," kata Lunardi, kini berusia 57 tahun. "Nama Luwak untuk kopi juga lagi booming saat itu."

Hanya satu barang dari toko warisan ayahnya yang masih bertahan, yakni mesin giling tua dengan cat cokelat memudar peninggalan Tjhie Tay Sen, yang turut selamat dalam kebakaran. Ia juga mempertahankan prinsipnya tetap melayani pembeli di luar jam buka toko. "Kopi yang enak memang menyenangkan, tapi pelanggan adalah harta," kata dia.

Meredupnya merek-merek kopi giling lama ini juga dikisahkan Ay Ling, penjual kopi Cap Wayang di Pasar Senen, Jakarta. Keluarga Ay Ling sudah hampir 60 tahun hidup dari kopi. Cap Wayang memang tergolong merek kopi lawas di Jakarta, bahkan lebih tua dari kopi cap Burung Kenari. Toko kopi ini didirikan Ridwan Sarwoko, seorang pedagang es batu pada awal tahun 1960-an di Pasar Senen lama yang kumuh. Hobi Ridwan menonton wayang potehi yang jadi alasannya memberi nama kopinya  Cap Wayang. "Rumah kami sekaligus jadi toko kopi, sementara di depannya los-los tukang jahit Senen yang terkenal pada masa itu," kata Ay Ling.

Toko kopi Cap Wayang di Pasar Senen, Jakarta
Foto: Pasti Liberti/detikcom

Menurut sejarawan Betawi, Alwi Shahab, pada zaman itu toko-toko di Pasar Senen memiliki ciri khas bangunan bergaya Tionghoa. Sejak peristiwa pembantaian orang-orang keturunan Tionghoa yang menelan korban ribuan orang pada 1740, mereka yang selamat banyak yang hijrah ke daerah Senen dan Jatinegara dari kawasan Jakarta Kota. "Kekunoan Pasar Senen masih terasa kental, termasuk bangunan-bangunannya," Alwi menulis.

Dulu hanya rumah makan Padang yang ada kopinya. Sekarang penyajian kopi sudah lebih umum."

Ketika Ali Sadikin menjadi Gubernur DKI Jakarta pada 1966, proyek peremajaan kawasan Senen kembali dihidupkan setelah sempat mandek. Rumah Ridwan, yang posisinya kini berada di antara Blok 4 dan 5 Pasar Senen, turut tergusur. Mereka kemudian pindah ke Kramat Jaya, Johar. Setelah Proyek Senen yang dikerjakan PT Pembangunan Jaya selesai, Ridwan diberi kesempatan membeli satu petak los di Blok 3 Pasar Senen seharga Rp 8 juta.

Toko-toko kopi baru mulai bermunculan di Pasar Senen. Ay Ling mengingat paling tidak sempat ada delapan toko kopi yang menjadi pesaing toko milik ayahnya. Tapi membanjirnya kopi instan pelan-pelan menghancurkan satu per satu toko itu. Dari hampir sepuluh penjual kopi tua di Pasar Senen kini hanya tersisa tiga toko, termasuk Cap Wayang yang masih berusaha bertahan. "Dua lagi, Bintang Mas dan Naga Mas," ujar perempuan yang kini berusia 70 tahun itu.

Untungnya, beberapa tahun belakangan tren meningkatnya konsumsi kopi dan menjamurnya warung kopi turut membantu melewati masa-masa sulit. Muncul pelanggan-pelanggan baru terutama dari beberapa rumah makan yang mulai menyajikan kopi dalam menunya. "Dulu hanya rumah makan Padang yang ada kopinya. Sekarang penyajian kopi sudah lebih umum," katanya. Beli kopi bubuk kiloan ada untungnya juga. "Kalau suka pahit ya nggak pakai gula atau gulanya sedikit saja. Kopi kemasan nggak bisa seperti itu."


Redaktur/Penulis: Pasti Liberti
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE