INTERMESO

Tak akan Pindah
ke Lain Kopi

Umur toko dan warung kopi ini sudah puluhan tahun, bahkan ada yang lebih dari seabad. Bertahan hidup dan punya penggemar fanatik.

Foto: dok. Getty Images

Minggu, 6 Januari 2019

Bukan cuma kecap yang nomor satu, kopi pun demikian. Setidaknya itu yang diklaim Kopi Bis Kota pada bungkus kertas cokelatnya yang rapuh. "Kopi wahid nomor satu, pilihan dari Jawa yang paling baik terjual di mana-mana."

"Kalimat itu yang bikin kakek saya," ujar Wong Fiefie Widjaja, pemilik Toko Sedap Djaja di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, yang menguasai merek dagang kopi Bis Kota kepada detikX, Rabu lalu.

Merek kopi Bis Kota memang sudah dikelola tiga generasi. Wong Hin, kakek Fiefie, pertama kali merintisnya pada 1943. Sebenarnya empat tahun sebelumnya, Wong Hin memulai bisnis kopi dengan mengeluarkan merek kopi Terompet. "Terompet kemudian berubah nama jadi Bis Kota," ujar Fiefie di tengah kesibukannya melayani pembeli yang seolah tak pernah putus.

Ada tiga karyawan yang membantunya menimbang biji kopi, menggiling, dan kemudian mengepak bubuk kopi sesuai permintaan pembeli. "Mesin giling ini sudah ada sejak zaman Jepang," ujarnya setengah berteriak seraya menunjuk mesin giling yang sudah kusam warna catnya. Ada tiga mesin yang diletakkan di kedua ujung meja etalase. Suara mesin tua itu memang memekakkan teling, menelan suara-suara di sekitarnya. Sama seperti aroma kopi giling Bis Kota, mengalahkan bau khas pasar tradisional.

Toko kopi milik Wong Hin awalnya berada di Pasar Lama, yang tak berapa jauh dari kantor Polres Jakarta Timur. Belakangan, setelah Gubernur Ali Sadikin menggalakkan peremajaan pasar di akhir dekade 1960-an, Wong Hin memindahkan tokonya ke lokasi yang sekarang bernama Jalan Pintu Pasar Timur, Jatinegara, Jakarta Timur. "Ketika pasar selesai dibangun, ternyata dapat los yang lebih kecil dari sebelumnya," ujar Siauw Sumiati, anak Wong Hin.

Toko kopi Bis Kota di Jatinegara, Jakarta Timur
Foto: Pasti Liberti/detikcom

Sumiati dan suaminya, Martono Widjaja,-lah yang melanjutkan toko kopi itu setelah Wong Hin meninggal. Di tangan Martono dan Sumiati, kopi Bis Kota mencapai masa-masa keemasan. Terutama sekitar tahun 1970 hingga 1980-an. "Dalam sehari kami bisa jual sampai 2 ton," kata Sumiati, yang masih tampak segar dalam usianya yang telah menginjak 74 tahun. "Waktu itu toko buka jam 6 pagi dan pembeli sudah antre di depan pintu."

Nyaris tak ada jeda istirahat bagi Sumiati dan karyawannya pada masa jaya kopi Bis Kota. Sumiati mengenang para pelanggannya terus berdatangan tanpa henti sampai sore. "Mesin-mesin giling itu juga jadinya bekerja tanpa henti hingga harus didinginkan dengan kain basah," katanya. Kopi Bis Kota saat itu juga menjadi bintang penjualan kopi di beberapa pasar, mulai Jakarta sampai ke beberapa wilayah penyangga, seperti Depok dan Bekasi.

Satu lagi, bagi penggemar kopi, minum kopi kemasan bukan cara menikmati kopi sesungguhnya."

Ada tiga jenis kopi yang dijual toko ini. Mulai yang paling mahal jenis arabika, lalu WIB, dan kemudian robusta. "WIB biasanya disebut kuning hijau," ujat Sumiati. Dia sendiri tak tahu persis WIB ini kopi jenis apa. Kemungkinan besar, kata dia, kopi yang dipanen saat bijinya belum matang sempurna, masih berwana kuning atau hijau.

Serbuan kopi instan kemasan yang diproduksi perusahaan besar membuat bintang Bis Kota mulai meredup. Fiefie Widjaja, yang kini menggantikan ayahnya, Martono, menjalankan usaha, mengaku terjadi penurunan drastis penjualan. "Sekarang tak lebih dari 1 ton sehari," katanya. Mereka berupaya melakukan inovasi dengan mengeluarkan kopi Bis Kota kemasan kecil yang lebih mewah. Namun rupanya pelanggan setia justru lebih memilih membeli kemasan kertas cokelat.

Berdasarkan pengalaman itu, Fiefie mengatakan bakal tetap bertahan pada cara pemasaran yang sama. Ia meyakini kopi Bis Kota sudah punya pasar sendiri dan konsumen fanatiknya tak akan pindah ke lain kopi. “Kami mempertahankan apa yang diwariskan saja. Apalagi ini sudah masuk generasi ketiga, jadi sebisa mungkin ciri khas ini dipertahankan,” ujarnya. "Satu lagi, bagi penggemar kopi, minum kopi kemasan bukan cara menikmati kopi sesungguhnya."

Pelanggan kopi Bis Kota pun tak hanya para pedagang kopi eceran. Tak sedikit penggemar setia kopi ini berdomisili di luar kota, bahkan hingga luar negeri, seperti Arab Saudi. "Kami juga pernah mengirimkan kopi ini sampai ke Amerika Serikat. Jelas biaya kirimnya lebih mahal daripada harga kopinya," kata Fiefie.

Kopi-kopi tua dari pelbagai daerah
Foto: dok. detikcom

Ada lumayan banyak toko kopi dan warung kopi di pelbagai kota Indonesia yang bertahan melintasi generasi, melewati masa susah, dan sekarang, bertahan di masa minum kopi sudah jadi bagian dari gaya hidup. Di Semarang, Jawa Tengah, ada kopi Margoredjo, yang sudah seabad umurnya. Ke arah selatan Semarang, ada kopi Eva di Bedono, Ambarawa, yang kini dikelola generasi kedua, juga Kopi Banaran milik PT Perkebunan Nusantara IX.

Di Medan, Sumatera Utara, ada warung kopi Apek. Konon, kedai Kopi Apek ini sudah ada sejak 1923. Jika melawat ke Pematang Siantar, ada Kopi Kok Tong, yang umurnya hanya terpaut dua tahun dari Kopi Apek. Di Kepulauan Bangka Belitung, ada Waroeng Kopi Ake, Tung Tau, dan Kong Djie Coffee, yang umurnya sudah lebih dari 70 tahun.

Di daerah Priangan, Jawa Barat, salah satu daerah perkebunan kopi generasi pertama di Nusantara, ada beberapa merek kopi tua dan warung kopi lama yang terus bertahan sampai hari ini. Di antara yang paling kondang adalah toko kopi Aroma di Banceuy dan Warung Kopi Purnama di Jalan Alkateri, Kota Bandung. Tahun ini, umur Warung Kopi Purnama sudah hampir 90 tahun. Selain dua nama ini, sebenarnya ada beberapa merek kopi lain di Bandung yang juga sama tuanya, misalnya Kopi Javaco di Jalan Kebonjati dan Kopi Kapal Selam di Jalan Pasar Barat.

Ada sebagian toko dan warung kopi seperti Kopi Bis Kota yang bertahan dengan gaya lama, tapi ada pula pemilik usaha kopi yang merombak penampilannya. Salah satunya Koffie Warung Tinggi yang kini masuk mal. Ada dua gerai Koffie Warung Tinggi di dua mal besar di Jakarta, Senayan City dan Grand Indonesia. Dua ‘warung kopi’ modern ini punya sejarah sangat panjang.

Hampir satu setengah abad silam, pada 1878, Liauw Tek Soen, saudagar asal Kwantung, Tiongkok, membuka kedai kopi lumayan besar di Jalan Moolen Vliet Oost, kini Jalan Hayam Wuruk, Jakarta. Warung kopi yang diberi nama Tek Soen Ho itu berdiri di atas tanah seluas 500 meter persegi. Selain berjualan kopi, Tek Soen yang pintar menjahit, juga menerima jasa jahitan.

Warung kopi Tek Sun Ho di Jakarta pada 1942
Foto: repro. Warung Tinggi Coffee

Tek Soen membeli biji kopi mentah dan menyangrainya sendiri. Pada 1910, usaha kopi itu diwariskan kepada anak angkatnya, Liauw Tek Siong. Di tangan Tek Siong, usaha kopi itu makin berkibar. Dia juga melebarkan usahanya ke rupa-rupa bidang, di antaranya konfeksi dan ternak burung dara. Sejak 1978, bisnis kopi Warung Tinggi dikelola oleh generasi keempat keluarga Liauw. Saat itu, Tek Soen Ho sudah berganti nama menjadi Warung Tinggi, dan nama keluarga Liauw sudah bersalin menjadi Widjaja.

Tapi di antara anggota generasi keempat pemilik kopi Warung Tinggi, ternyata hanya Rudy Widjaja yang berminat meneruskan usaha kopi. Sejak 1994, praktis hanya Rudy yang mengelola kopi Warung Tinggi, sesuai pesan ibunya sebelum berpulang.

Akhirnya saya dapat meracik beberapa jenis kopi robusta hingga rasa dan aromanya sama dengan kopi arabika.

Berpuluh tahun hidup bersama kopi, Rudy sangat paham karakteristik pelbagai jenis kopi. “Dengan pengalaman dan ilmu meracik kopi yang sudah bertahun-tahun saya pelajari, akhirnya saya dapat meracik beberapa jenis kopi robusta hingga rasa dan aromanya sama dengan kopi arabika,” kata Rudy, dikutip dalam bukunya, Warung Tinggi Coffee, Kopi Legendaris Tertua di Indonesia, Sejak 1878.

Usaha kopi Warung Tinggi sempat nyaris bubar gara-gara kerusuhan di Jakarta pada Mei 1998. Rumah, toko, dan pabrik mereka ludes dijarah. “Kami sekeluarga berembuk, lalu memutuskan meninggalkan Indonesia secepatnya,” kata Rudy. Mereka sempat tinggal di Singapura selama tiga bulan. Tapi Rudy tak kapok dan kembali ke Indonesia untuk menghidupkan kembali bisnis kopi warisan kakek buyutnya itu.

Perlahan usaha kopi Warung Tinggi hidup kembali. Pada 2002, Rudy mendirikan pabrik pengolahan kopi di Tangerang. Selain melayani permintaan kopi dalam negeri, Warung Tinggi juga mengekspor kopi ke sejumlah negara seperti China, Amerika Serikat, dan Jepang. Kini Rudy telah mengalihkan sebagian tanggung jawab kepada generasi kelima keluarga Liauw, kepada putri bungsunya, Angelica Widjaja. “Putri saya juga belajar mencampur dan meracik kopi murni. Bahkan dia menyempurnakan dan memperbaiki kualitas racikan buatan saya,” ujar Rudy. Di tangan Angelica inilah, kopi Warung Tinggi masuk mal.


Redaktur/Penulis: Pasti Liberti
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE