INTERMESO

Mokha Di Yaman,
Cap Kupu-kupu
Di Banten

Dulu, kopi dari Indonesia pernah merajai dunia, menggantikan kopi Mokha dari Yaman.

Foto: dok. Getty Images

Senin, 7 Januari 2019

Dari pelabuhan inilah dunia mengenal istilah Arabika dan Mokha. Dari pelabuhan di Yaman ini pula dunia mengenal kopi. ‘Nenek moyang’ kopi memang datang dari dataran tinggi Ethiopia di Afrika, tapi Pelabuhan Mocha alias Mokha atau ada pula yang menyebutnya Pelabuhan Al-Mukha di Laut Merah inilah yang berjasa besar memperkenalkan kopi ke Eropa, Asia, hingga ke Indonesia, ratusan tahun silam.

“Dulu, semua perdagangan kopi dari Yaman dilakukan melalui Pelabuhan Mokha. Dan di seluruh dunia, kopi itu dikenal sebagai kopi mokha,” kata Anda Greeney, peneliti kopi dari Universitas Harvard, kepada Al-Arabiya. Menurut Greeney, kopi atau qahwa Mokha punya karakteristik yang jarang ada di kopi-kopi lain di dunia.

Jauh sebelum orang Eropa mengenal pahitnya kopi, lebih dari lima abad sebelum gerai pertama Starbucks di Kota Seattle, Amerika Serikat, dibuka, orang-orang di Yaman sudah membudidayakan kopi di dataran tinggi dan terbiasa menyeruput si hitam. Baru setelah Pieter van den Broecke mencicipi kopi di Yaman pada awal 1600-an, orang-orang Eropa kenal asyiknya minum kopi. Waktu itu Pieter bekerja untuk perusahaan dagang Hindia Timur (VOC).

Saat Pieter dan kapal VOC singgah, pedagang-pedagang kopi di Mokha hanya menjual kopi yang sudah diseduh, tak menjual kopi dalam bentuk biji. Mereka khawatir, kopi akan dibudidayakan di tempat lain dan jadi pesaing bagi kopi Mokha. Pedagang-pedagang kopi di Pelabuhan Mokha juga tak ingin orang-orang asing itu ikut-ikutan berdagang kopi.

Pieter mencuri sekarung biji kopi di Yaman, membawanya pulang ke Belanda dan mencoba menanamnya di sana. Namun iklim dan tanah di Belanda rupanya tak cocok untuk budi daya kopi. Belasan tahun setelah Pieter pulang dari Yaman, pedagang asal Jerman, Siegmund Wurffbain, mulai mendatangkan kopi Mokha ke Eropa.

Satu demi satu warung kopi bermunculan di Inggris, Belanda, hingga Prancis. Pasqua Rosee membuka warung kopi pertama di Inggris pada 1652. Sekitar 15 tahun kemudian, warung kopi pertama di Belanda dibuka di Den Haag. Salah satu ‘warung kopi’ tua yang masih bertahan sampai hari ini adalah Le Procope di Paris, Prancis. Kafe ini didirikan oleh Francesco Procopio dei Coltelli, juru masak keturunan Italia, pada 1686.

Mokhtar bersama petani kopi di Yaman
Foto: Port of Mokha

Selama berabad-abad jadi penguasa kopi, posisi Yaman sudah lama sekali tergusur oleh Brasil, Vietnam, Kolombia, dan Indonesia. Pelabuhan Mokha pun sudah tergantikan oleh Pelabuhan Aden di Yaman. Perang yang seolah tak ada jeda di Yaman membuat kopi Mokha makin terlupakan. Para petani kopi di Yaman juga sudah banyak yang beralih menanam khat. Hingga tiga tahun lalu.

Pada 2015, Mokhtar Alkhanshali kembali pulang ke kampung halaman orang tuanya di Yaman. Mokhtar sendiri tumbuh besar di Amerika Serikat. Mokhtar, kini 30 tahun, tak semata menjenguk kerabat, tapi juga berniat menghidupkan kembali kopi Mokha. Di San Francisco, tempat tinggalnya sekarang, dia sudah mengubek-ubek banyak toko kopi, tapi tak ada satu pun yang menjual kopi Mokha dari Yaman.

Inilah biji kopi paling bersih dari Yaman.... Tak ada yang rusak akibat serangga, tak ada jamur."

Sejak 2013, Mokhtar sudah beberapa kali pergi ke Yaman, mendatangi puluhan perkebunan kopi, dan mengajarkan cara bertanam yang benar. “Perkebunan kopi tertua di Yaman ada di kampung halaman orang tuaku,” kata Mokhtar. Tumbuh besar bersama kopi Mokha dari kampung orang tuanya, kini dia juga seorang Q Grader, pencicip kopi besertifikasi.

Tiga tahun lalu, dia kembali pulang ke Yaman. “Hanya beberapa hari sebelum aku kembali ke Amerika, perang kembali berkobar,” Mokhtar menuturkan kepada PRI. Orang-orang Houthi menyingkirkan pemerintah dan menguasai Ibu Kota Sanaa. Dengan dua tas penuh biji kopi, lewat Pelabuhan Mokha, Mokhtar berhasil menyelundup keluar dari Yaman dan kembali ke Amerika lewat Djibouti. “Inilah biji kopi paling bersih dari Yaman.... Tak ada yang rusak akibat serangga, tak ada jamur.”

Biji-biji kopi itulah modalnya untuk memperkenalkan kembali kopi Yaman yang legendaris dalam ajang konferensi ‘cicip’ kopi SCAA (Specialty Coffee Association of America) di Seattle, Amerika Serikat. Hasilnya, kopi yang dibawa Mokhtar mencatatkan skor paling tinggi. Kemenangan itulah yang membuatnya percaya diri mendirikan perusahaan pemasok kopi dari Yaman, Port of Mokha.

Kini secangkir kecil kopi dari Mokha ini dijual US$ 16 atau sekitar Rp 225 ribu di kafe Blue Bottle. Sangat mahal untuk rata-rata secangkir kopi. Kopi yang bagus, menurut Mokhtar, memang layak dihargai tinggi sama halnya dengan anggur yang bermutu.

Warung kopi di Banda Aceh
Foto: dok. Getty Images

Hanya berselang beberapa tahun sejak Pasqua Rosee membuka warung kopi pertama di Inggris pada 1652, kopi sudah jadi barang yang sangat populer di Eropa. Saat itu, awal abad ke-18, minum kopi sudah jadi hal biasa bagi banyak orang. “Minum kopi sudah jadi hal biasa di negara kami, sehingga jika para pelayan dan penjahit tak minum kopi di pagi hari, benang itu susah sekali masuk ke lubang jarum,” Francois Valentyn, menulis dalam bukunya, Oud en Nieuw Oost-Indiën, pada 1724.

Melihat permintaan kopi terus naik, Belanda terus berusaha membudidayakan sendiri tanaman kopi. Atas desakan dari Nicolaes Witsen, Wali Kota Amsterdam dan Administrator VOC, Adrian van Ommen, komandan VOC di Malabar, wilayah di pesisir barat daya India, mengirim bibit kopi ke Pulau Jawa pada 1696. Upaya pertama gagal lantaran bibit kopi rusak terendam air.

Tiga tahun kemudian, VOC kembali mengirim bibit kopi dari Malabar ke Pulau Jawa. Bibit inilah yang menjadi ‘nenek moyang’ perkebunan kopi di Indonesia. Setelah sempat diuji coba, bibit kopi itu mulai ditanam di sekitar Batavia (kini Jakarta). Pada 1706, hasil panen pertama kebun kopi di Hindia Belanda dikirim ke De Heeren Zeventien (17 komisaris  VOC) yang berkedudukan di Belanda. Lima tahun kemudian, seperti ditulis William Harrison Ukers dalam bukunya, All About Coffee, VOC berhasil mengekspor 894 pound, sekitar 400 kilogram, biji kopi dari Batavia ke Belanda. Dalam lelang di Amsterdam, satu pound biji kopi dihargai hampir 24 stuiver.

Untuk memenuhi permintaan kopi di Eropa yang terus bertambah, selain menanam kopi di sekitar Batavia, VOC membagi-bagikan bibit kopi kepada sejumlah kepala daerah di pesisir utara Pulau Jawa, mulai Batavia sampai Cirebon. Namun budi daya kopi di dataran rendah ini kurang sukses.

Akhirnya, VOC memindahkan perkebunan kopi ke wilayah dataran tinggi yang tersebar di 18 karesidenan, di antaranya Banten, Priangan, Tegal, Kedu, Semarang, dan Besuki. Perkebunan kopi di dataran tinggi ini, terutama di Priangan, sukses besar. Pada 1726, VOC sudah menguasai pasar kopi dunia. Lebih dari separuh kopi dunia dipasok oleh perusahaan dagang Hindia Timur ini. Dan sebagian besar kopi VOC, didatangkan dari wilayah Priangan. Dominasi VOC tamat bersama ambruknya perusahaan itu pada 1799.

Petani kopi di Bondowoso, Jawa Timur
Foto: dok. Getty Images

Namun tak berarti tamat pula budi daya kopi di Indonesia. Kesulitan keuangan gara-gara Perang Jawa dan Perang Padri memaksa penguasa kolonial Hindia Belanda memutar otak. Hasilnya adalah sistem tanam paksa. Di Banten, salah satu komoditas yang dikembangkan lewat sistem tanam paksa ini adalah kopi. Sistem tanam paksa menghasilkan untung sangat besar bagi Belanda, tapi juga menyebabkan penderitaan tak terperi bagi rakyat Hindia Belanda.

Bagaimana penindasan pemerintah kolonial yang disokong oleh antek-antek pemerintah setempat dalam tanam paksa kopi di Lebak, Banten, inilah yang dituangkan Eduard Douwes Dekker alias Multatuli dalam bukunya yang sangat kondang, Max Havelaar of de koffi-veilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappy. Multatuli menyaksikan sendiri seperti apa penindasan akibat tanam paksa itu. Sebab, sejak 1857, dia ditunjuk sebagai Wakil Residen Lebak.

Apakah Anda tahu, di sana ada lebih dari 30 juta orang yang dianiaya dan diperas atas nama Anda?"

“Untuk Anda saya mendedikasikan buku ini: William III, Raja, Grand Duke, dan Pangeran.... Apakah Anda tahu, di sana ada lebih dari 30 juta orang yang dianiaya dan diperas atas nama Anda?” Multatuli menulis di bagian akhir bukunya itu. Max Havelaar membuka mata rakyat Belanda bagaimana perlakuan pemerintahnya terhadap rakyat Hindia Belanda. Kritik Multatuli inilah yang ikut mengakhiri sistem tanam paksa.

Lebih dari satu setengah abad setelah kritik Multatuli terhadap sistem tanam paksa kopi di Lebak, reputasi kopi dari daerah itu sudah nyaris tak terdengar. Kalah kondang dari kopi Bajawa, Kintamani, Toraja, Sidikalang, Lampung, Malabar, dan sebagainya. Seorang peracik kopi di satu kafe hanya beberapa beberapa langkah dari Museum Multatuli di Rangkasbitung, ibu kota Kabupaten Lebak, mengaku tak memakai kopi lokal. Dia menunjuk beberapa kantong kopi dari pelbagai daerah di Indonesia.

“Kami ada rencana juga pakai kopi lokal,” kata dia. Masalahnya, kopi asli dari Lebak memang belum populer. Jika kita ke pasar Rangkasbitung, dan bertanya soal kopi lokal, beberapa pedagang merujuk satu nama: kopi Cap Kupu-Kupu. Kopi ini dijual dalam kantong-kantong kertas kecil ukuran 100 gram. Harganya Rp 7.500.

Ada di mana pabrik dan kebun kopinya tak terang benar. Seorang pedagang menunjuk Toko Laris di depan Pasar Rangkasbitung sebagai penyalur utama kopi Cap Kupu-Kupu di daerah itu. “Saya nggak tahu. Saya hanya jual saja dan meneruskan usaha orang tua,” kata pemilik Toko Laris saat ditanya di mana pabrik kopi Cap Kupu-Kupu ini.


Redaktur/Penulis: Pasti Liberti
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE