INTERMESO


TERGILA-GILA OPPA DAN NOONA

Demi sang idola, keluar duit berapa pun tak jadi soal. Ada yang menyewa komputer satu warnet, ada yang memborong ratusan, bahkan ribuan album.

Penyanyi Korea Selatan, G-Dragon, saat konser di New York pada 2017

Foto : Getty Images

Minggu, 13 Januari 2019

Andi Septiadi mungkin belum segila Oli London. Selama lima tahun terakhir, Oli, pemuda asal Inggris itu, menghabiskan £75.000, hampir Rp 1,4 miliar, untuk memermak wajahnya agar mirip dengan Park Ji-min alias Jimin, anggota grup k-pop, BTS. Dia tergila-gila Jimin setengah mampus.

“Aku ingin seluruh penampilanku mirip Jimin....Bagiku, dia sebuah kesempurnaan,” kata Oli, dikutip AsiaOne, pertengahan Oktober lalu.Oli sebenarnya juga bukan lagi ‘anak baru gede’. Dia sudah 28 tahun. Begitu terobsesinya Oli agar mirip Jimin, membuat teman-temannya di Inggris cemas.

Andi belum sampai mengikuti jejak Oli operasi plastik meski dia tergila-gila pula kepada grup asal Korea Selatan, EXO, tapi dia sudah menghabiskan duit lumayan banyak demi grup pujaannya itu. Padahal dulu Andi sama sekali tak melirik para oppa dan noona, panggilan para penggemar kepada anggota-anggota grup K-Pop. Dia tidak mau terbawa arus meski setiap hari teman sekolahnya rajin memutar lagu Mr. Simple yang dibawakan Super Junior, salah satu boyband dari Negeri Ginseng.

“Aku heran kenapa sih mereka dengerin k-pop, kayak ngerti bahasa Korea aja. Terus mana muka anggota-anggotanya kelihatan sama semua lagi,” Andi menggerutu dalam hati. Namun sekuat apa pun Andi menolak pada akhirnya hatinya meleleh juga setelah telinganya terus mendengar lagu-lagu k-pop. Tanpa sadar kepala dan bahunya suka goyang-goyang sendiri setiap kali mendengar lagu-lagu Super Junior, Big Bang, EXO, dan sebagainya.

Apalagi setelah melihat aksi Siwon cs di video musik alias MV. Kaki mulai menghentak mengikuti irama. Untung Andi masih bisa mengontrol diri dan tidak ikutan menggelepar bersama teman-temannya di lantai kelas. Dari mulai sekedar menjadi fans yang puas hanya dengan menikmati musik, Andi semakin terperosok ke dalam dunia para penggila, dunia fandom k-pop.

Grup k-pop EXO
Foto : Getty Images

Tahu-tahu Andi sudah berada di tengah kerumunan fans EXO. Tangan kanannya sibuk mengayunkan official lightstick berwarna putih yang cahayanya bisa gonta ganti. Tongkat bercahaya itu merupakan salah satu benda wajib dibawa saat konser k-pop. “Oh, she wants me! Oh, she's got me! Oh, she hurts me! Joha, deoeug galmanghadu isseo,” bibir Andi lincah melantunkan fanchant atau semacam yel-yel saat menyanyikan lagu berjudul Overdose pada konser bertajuk The Lost Planet 2 The EXO'Luxion yang diadakan di Jakarta 2016 silam.

Malam itu Andi merasa jadi fans paling beruntung. Di saat sesi ramah tamah antara EXO-L dengan member EXO, penampilan Andi menarik perhatian bias Baekhyun. Bias merupakan sebutan untuk idol paling favorit di antara semua anggota boyband. Di setiap konser, fans K-pop juga membawa berbagai jenis hadiah dengan harapan dapat diberikan kepada bias mereka. Andi sengaja menyiapkan sebuah topeng wajah wajah konyol Baekhyun yang sedang melotot.

Setelah kejadian itu aku nggak bisa move on parah. Selama satu bulan setiap hari aku nontonin fan came Baekhyun'

Di antara lautan penggemar EXO-L Andi tidak berharap banyak meski dia berada di barisan terdepan. Demi bisa berada di posisi terdepan, Andi rela membayar harga tiket yang dijual di atas Rp 2 juta. Tanpa disangka salah satu member, Chanyeol, berjalan ke arah Andi dan meminta dia memberikan topengnya. Sejurus kemudian topengnya sudah berpindah tangan kepada empunya. Tak cukup sampai di situ, Baekhyun juga membacakan kalimat berbahasa Korea yang sengaja Andi tuliskan di belakangnya. Kurang lebih artinya 'Aku harap kamu menyukainya'.

“Setelah kejadian itu aku nggak bisa move on parah. Selama satu bulan setiap hari aku nontonin fan came Baekhyun. Waktu dia menerima topengku. Aku senang banget ngeliatin ekspresi Baekhyun waktu baca suratku. Tapi nyesel juga sih kenapa nggak nulis namaku di topeng itu,” kata lulusan sebuah universitas di Sumedang, Jawa Barat ini. Andi tak pernah absen dari konser EXO di Indonesia. Sudah empat kali Andi dia ada di tengah kerumunan penonton konser EXO. Bahkan tahun lalu, dia terbang ke Singapura karena sang idola tidak mampir ke Indonesia.

Jika sedang tidak ada konser, fans K-Pop seperti Andi punya seribu satu cara untuk lebih dekat dengan idola mereka. Termasuk mengikuti kegiatan sehari-hari para idol dan mengetahui sisi lain hidup mereka dari berbagai macam jenis acara hiburan. Mulai dari game show sampai variety show. Dari sini lah para fans K-Pop tahu kalau bias-nya ternyata ahli sulap atau bahkan jago membungkus kimbab.

Saking cintanya kepada EXO, Andi pernah membeli album foto tahunan yang dibuat khusus oleh fansite. Dalam dunia K-Pop, pemilik fansite punya satu pekerjaan. Mereka mengikuti jadwal idolanya ke mana pun mereka pergi, termasuk ketika para idol mengadakan konser di luar negeri. Tujuan mereka hanya satu yakni mengabadikan setiap momen sang idola menggunakan kamera profesional. Hasil jepretannya secara rutin dibagikan di situs mereka. Hasil membuntuti sang bias itu juga dibukukan atau dijadikan bingkisan seperti kartu, poster, kalender dan sebagainya. Jangan dikira barang-barang ini murah harganya. Seperti album foto EXO yang dibeli Andi, harganya lebih dari Rp 1 juta.


Grup k-pop, BTS
Foto : Getty Images

Dunia per-oppa-an ini memang tak cuma membutuhkan tenaga tapi juga uang. Mereka yang mengaku fans sejati harus banyak menabung untuk membeli album. Andi yang kala itu masih mahasiswa sampai kewalahan mengatur isi dompetnya. “Kenapa duitku habis-habisan untuk oppa oppa-an ini?. Sementara teman-temanku udah berkali-kali ganti ponsel dan jalan-jalan. Dari situ aku mikir, kenapa aku nggak menghasilkan uang dari mereka. Ya udah, aku memutuskan jual album aja,” kata Andi.

Bisnis jual album ini rupanya bisa jadi ladang emas yang sangat menguntungkan. Para penggila k-pop tak sayang-sayang dengan duitnya untuk memborong cakram album BlackPink, BTS, dan sebagainya. Jangan kan cuma satu, dua puluh album pun, kalau ada, akan mereka sikat semua. Album K-Pop dipasarkan sedemikian rupa dengan konsep dan kemasan unik sehingga layak dikoleksi. Meski isi albumnya sama-sama saja, fans K-Pop justru memburu berbagai macam pernak-pernik yang menyertai album. Seperti album EXO berjudul 'The War : The Power of Music'. Di dalam masing-masing bungkus album tersebar 10 lembar komik yang diberikan secara acak. Mau tak mau para fans akan berlomba-lomba mengumpulkan kesepuluh lembar komik itu.

Selain sebagai penjual, Andi juga ikut mengoleksi album. Meski mengaku sebagai EXO-L, tapi rekor pembelian album terbanyak bukan berasal dari lagu EXO. Ketika EXO memasuki masa vakum, perhatian Andi sempat teralih kepada boyband bernama Neo Culture Technology alias NCT. Boyband NCT dikeluarkan oleh agensi SM Entertainment yang juga menaungi EXO. Total lebih dari 300 keping album yang berhasil Andi kumpulkan. Karena masih tergolong grup yang masih kinyis-kinyis, albumnya masih dijual dengan harga 'manusiawi', sekitar Rp 100 ribu. Sementara untuk grup k-pop papan atas, satu album bisa dijual dengan harga lebih dari  Rp 400 ribu.

Namnya sudah cinta, Andi rela menguras isi dompet demi memenangkan undian fansign di Korea Selatan. Jadi para fans NCT diperbolehkan bertemu, bertatap muka, bercengkrama dan ngobrol lebih akrab bersama anggota-anggota NCT dengan syarat membeli album sebanyak-banyaknya. “Kenapa dengan EXO nggak kayak gitu? Karena agar bisa ikutan fansign, beli albumnya bisa sampai 1000 keping. Aku nggak sanggup. Makanya selama NCT belum naik banget akan aku kejar dulu. Dari tiga kali ikut acara fansign akhirnya ada satu yang berhasil. Senang banget tapi duit yang dikeluarkan juga lumayan,” kata Andi, satu-satunya orang Indonesia yang berhasil hadir dalam fansign. Selain uang untuk beli album, Andi juga harus mengeluarkan tambahan biaya untuk akomodasi selama mengikuti fansign di Korea Selatan.

Sejak bisa mendapatkan duit dengan berjualan album-album k-pop melalui toko daring @idoudokstore , Andi tak terlalu pusing soal uang yang dikeluarkan untuk oppa Baekhyun dan kawan-kawannya Ratusan album yang ia beli untuk mengikuti fansign pun bisa dijual lagi meski tak sepenuhnya balik modal. Andi juga meninggalkan pekerjaan utamanya sebagai konsultan dan memutuskan fokus berwirausaha di bidang k-pop.

“Bisnis ini juga ada naik turunnya. Kalau banyak grup band yang tampil kembali setelah vakum, dapat untungnya jadi banyak. Tapi dalam tiga bulan ke depan belum tentu ada grup band yang comeback sebanyak itu. Jadi kita harus pintar menyimpan uang. Kalau lagi ramai, keuntungan bersihnya bisa sampai 3 digit, tapi kalau lagi sepi cuma 1 digit,” tutur Andi. Dia mengaku pernah menjual 3000 album Super Junior hanya dalam waktu seminggu.

Andi Septiadi, penggemar grup k-pop EXO
Foto : dok.pribadi

Sebagai mahasiswa yang belum punya banyak duit, Awal Ahmad Aulia punya cara lain mendukung pujaannya. Streaming merupakan cara yang paling murah dan sering diikuti fans. Modalnya hanya kuota internet. Saat ada grup band k-pop tampil lagi setelah  sekian lama menghilang, para penggemarnya biasanya membuat semacam 'proyek' berisi ajakan menonton video musik alias MV sang idola. Tujuannya untuk meningkatkan jumlah view di YouTube dalam kurun waktu tertentu.

Fandom ARMY pernah memasang target 20 juta views dalam 24 jam untuk MV DNA BTS. Target itu akhirnya tercapai dalam waktu kurang dari 21 jam saja. MV DNA bahkan memecahkan rekor sebagai MV K-Pop yang berhasil meraih 20 juta views di YouTube dalam waktu tercepat. Maka tidak heran jika MV K-Pop di YouTube dapat memperoleh views sampai ratusan juta. Angka yang cukup besar meskipun belum bisa membalap total views lagu Baby milik Justin Bieber yang tembus 2 miliar. Jumlah views ini penting karena menjadi bahan pertimbangan program musik untuk menyusun tangga lagu. Fans K-Pop mana yang rela jika grup idol kesayangan mereka berada di posisi bontot.

Memang kenapa kalau cowok suka sama girlband atau boyband, namanya juga selera. Cowok nggak harus suka sama band metal

“Bahkan aku sempat nemu ada salah satu grup yang dia streamingnya adalah wikipedia pages. Dia pengin terkenal di situ juga. Ya ampun padahal nggak pengaruhke tangga lagu musiknya. Karena yang jadi intinya ya video musiknya. Itu lah bentuk dedikasi kami,” kata lulusan Universitas Padjajaran yang mengaku sebagai seorang multi fandom, sebutan untuk fans yang menyukai lebih dari satu grup band k-pop.

Meski berat untuk memilih, saat ini Awal memutuskan fokus kepada dua grup perempuan, Blackpink dan EXID. Demi kedua grup band ini Awal rela mencurahkan waktu dan tenaga untuk streaming. 24 jam pertama setelah MV diluncurkan merupakan saat-saat genting bagi Awal dan fans K-Pop. Di sela-sela kesibukannya sebagai mahasiswa, Awal tidak berhenti memutar ulang klip video di YouTube melalui ponsel dan laptop. Jika dirasa kurang cukup, Awal memanfaatkan penjaga warnet untuk memutarkan MV kesayangannya.

“Aku sewa 10 komputer di warnet waktu EXID tampil lagi pada 2016 kemarin. Aku juga minta tolong abang warnetnya buat memutar ulang videonya. Kemarin waktu Blackpink ngeluarin lagu Du Du Du, aku juga sewa dua komputer sampai empat jam cuma buat muterin MV. Setiap aku ke warnet abangnya sampai kenal, 'Oh, orang ini lagi',” ujar Awal terbahak-bahak.

Awal tak peduli apa kata orang dengan kegilaannya. Sebagai penggemar k-pop, dia tak mau setengah-setengah mendukung idolanya. Fans K-Pop bisa jadi sasaran empuk untuk bahan olokan terutama dari kalangan non k-popers. “Ada juga yang pikirannya negatif. Memang kenapa kalau cowok suka sama girlband atau boyband, namanya juga selera. Cowok nggak harus suka sama band metal,” kata Awal.


Reporter/Penulis: MELISA MAILOA
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE