INTERMESO


INVASI BTS

"Kami paham, popularitas tak akan bertahan selamanya. Makanya kami nikmati saja rollercoaster ini, dan jika nanti ini berakhir, ya sudah"

Grup K-pop, BTS

Foto : Getty Images

Rabu, 16 Januari 2019

Sudah lama Samira jatuh cinta dengan Korea, tepatnya Korea Selatan. Gadis yang baru lulus dari salah satu universitas swasta di Arab Saudi kenal dengan drama Korea tak sengaja, saat dia tengah menjelajah dunia maya pada 2010. Begitu dia menonton satu seri Playful Kiss, Samira langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.

Drama cinta-cintaan ala anak baru gede dari Korea ini dibintangi oleh Kim Hyun-joong dan Jung So-min. Di negerinya sendiri, Playful Kiss yang ditayangkan stasiun televisi MBC tak banyak menarik penonton. Tapi di beberapa negara seperti Taiwan, Jepang, Filipina dan Singapura, drama Korea ini lumayan populer.

Seperti baru saja menemukan harta karun, Samira segera bercerita kepada teman-temannya soal Playful Kiss. Tentu saja tak sekadar bercerita, dia juga menyarankan teman-temannya menonton drama Korea itu. Dari teman menyebar ke teman, akhirnya demam drama Korea itu menyebar luas. Dari semula hanya menonton drama Korea seperti Jewel of the Palace, Samira dan teman-temannya mulai kenal asyiknya Korean pop alias K-pop.

BTS, grup K-pop yang beranggotakan tujuh cowok itu jadi idola Samira. “Mereka memiliki banyak lirik bahasa Inggris di lagu-lagu mereka dan itu sangat cocok untuk pendengar internasional,” kata Samira dikutip Arab News beberapa bulan lalu. Tema-tema lagu BTS pun tak jauh-jauh amat dari kehidupan remaja. “Band ini lebih nyata dari band lain. Musik mereka berbicara tentang masalah di kehidupan nyata seperti pergumulan di sekolah yang bisa segera aku pahami.”

Orang pertama yang kena tular ‘demam’ Korea dari Samira adalah Shaima, 19 tahun, adiknya sendiri. Beberapa waktu lalu, saat sedang jalan-jalan ke Paris, kebetulan pula ada grup K-pop sedang manggung. Shaima, dengan bantuan temannya, segera berburu tiket. Harga berapa pun tiketnya, dia tak peduli. Menonton grup K-pop di Paris seperti mimpi yang jadi kenyataan. “Saat itu hujan deras banget, tapi kami tak ada yang peduli,” kata Shaima.

Baca Juga : Demi BLACKPINK

Grup K-pop, BTS
Foto : Getty Images

Samira dan Shaiman tergila-gila dengan segala hal yang berbau Korea. Sejak beberapa tahun lalu, biar makin ‘dekat’ dengan Korea, dua gadis Saudi ini kursus bahasa Korea di Sekolah Internasional Korea di kota Jeddah. Lewat internet, mereka bisa bertemu dengan sesama penggila K-pop dari banyak negara. “Aku punya banyak teman dari pelbagai negara dan aku bicara dengan mereka pakai bahasa Korea,” ujar Shaima. Tak peduli tak paham bahasanya, tak peduli warna kulitnya, dalam K-pop mereka bersaudara.

Beberapa pekan lalu, sejumlah grup K-pop yang bernaung di bawah SM Management mampir ke Dubai, Uni Emirat Arab. Mereka, Super Junior, Red Velvet, dan sebagainya, bergantian tampil dan membuat histeris lebih dari 15 ribu penggila K-pop yang berjubel di Autism Rock Stage. “Aku pikir jumlah penggemar K-pop di Emirat makin besar dan terus membesar,” kata Zainab Shaikh, 14 tahun, kepada GulfNews.

Aku ingin seluruh penampilanku mirip Jimin....Bagiku, dia sebuah kesempurnaan'

Hallyu, gelombang ekspor kebudayaan dari Korea itu menggulung pelbagai negara dengan demam drama dan K-pop sejak 1990-an. Kini, hampir dua dekade kemudian, gelombang itu tak lantas reda. Dari Korea, merambat ke Jepang, Filipina, Singapura, Indonesia, India, sampai Timur Tengah, juga negara-negara Eropa hingga Meksiko dan negara-negara Amerika Latin, semua tak luput dari ‘infeksi virus’ K-pop dan drama Korea. "K-pop ini sangat menular," kata Matthieu Schwarzmann, 19 tahun, asal Dublin, Irlandia. Bahkan Kim Jong-un, pemimpin Korea Utara, pun tampak menikmati saat grup K-pop, Red Velvet, tampil di Pyongyang, beberapa bulan lalu.

BTS terbang ke London pada Oktober lalu dengan pesawat pribadi. Ini lah konser pertama RM, Jimin, dan lima temannya, di Inggris. Mereka akan naik panggung di O2 Arena selama dua malam berturutan. Seluruh tiket sudah tandas terjual. Setelah One Direction ‘cuti’ panjang, posisi itu kini digantikan oleh BTS.

Ke manapun Jimin dan teman-temannya pergi, ke toilet sekali pun, ada pengawal berbadan kekar yang selalu membuntuti. “Kami paham, popularitas tak akan bertahan selamanya,” kata Kim Nam-joon alias RM, anggota paling senior BTS, kepada Guardian, kalem. “Makanya kami nikmati saja rollercoaster ini, dan jika nanti ini berakhir, ya sudah. Kami naik jet dan manggung di stadium ini, tapi kami tak merasa itu semua milik kami. Kami hanya meminjam saja dari orang lain.”

Begitu tergila-gilanya, ada orang sampai operasi plastik agar mirip anggota BTS. Selama lima tahun terakhir, Oli London, pemuda asal Inggris itu, menghabiskan £75.000, hampir Rp 1,4 miliar, untuk memermak wajahnya agar mirip dengan Park Ji-min alias Jimin.

“Aku ingin seluruh penampilanku mirip Jimin....Bagiku, dia sebuah kesempurnaan,” kata Oli, dikutip AsiaOne, pertengahan Oktober lalu. Oli sebenarnya juga bukan lagi ‘anak baru gede’. Dia sudah 28 tahun. Begitu terobsesinya Oli agar mirip Jimin, membuat teman-temannya di Inggris cemas.

Penggemar grup K-pop, BTS, di Los Angeles, Amerika Serikat
Foto : Getty Images

Demam BTS menular kemana-mana. Pada pertengahan 2017, majalah Rolling Stones edisi India memuat hasil wawancara dengan RM. Hanya dalam hitungan menit, server Rolling Stones India tumbang, tak sanggup melayani banyaknya orang yang hendak mengakses situs itu. Hari itu pula, tagar #IndialovesBTS membanjiri Twitter dan menjadi topik paling populer nomor dua di seluruh dunia.

“K-pop sudah menjadi bagian dari hidupku sejak lima tahun lalu,” kata Samanya, gadis asal Hyderabad, India, kepada The Week. Dulu, K-pop hanya populer di Manipur, negara bagian India di ujung timur negara itu yang berbatasan dengan Myanmar. K-pop jadi pengganti musik dan film Bollywood setelah kelompok separatis mengharamkan segala hal yang berbahasa Hindi. Tapi kini, K-pop ada di mana-mana di India. “Aku suka bagaimana mencandunya melodi lagu-lagu K-pop....Sekali kamu tercemplung di sana, tak akan bisa keluar lagi.”

Mayan Sanchez, 19 tahun, gadis asal Kota Meksiko, Meksiko, menuturkan alasannya cinta mati dengan K-pop. "Aku sudah bosan menonton video penyanyi-penyanyi Amerika seperti Selena Gomez dan Miley Cyrus. Semuanya sama saja," kata Mayan dikutip NPR. Saat pertama menonton video K-pop, dia memang tak paham sama sekali dengan isi liriknya. Tapi itu tak jadi soal bagi Mayan, juga Samantha Alejandra, sesama pecinta K-pop di Meksiko. "Aku sudah kecanduan K-pop," ujar Samantha

K-pop bukan semata-mata lenggak-lenggok Jeannie BLACKPINK atau Irene ‘Red Velvet’, tapi juga bisnis yang sangat besar. Menurut Korean Foundation for International Cultural Exchange, ekspor K-pop, drama Korea dan produk-produk budaya Negeri Ginseng ini telah membantu mendatangkan fulus US$ 8,2 miliar, kurang lebih Rp 115 triliun, bagi perekonomian Korea Selatan pada 2017.

Ekspor K-pop ini barangkali memang punya efek berantai yang sangat panjang. Setelah kena ‘candu’ K-pop, orang mulai kenal bibimbap, kimchi, ramen Korea, merek kosmetik seperti FaceShop atau Innisfree, dan seterusnya. Innisfree membuka toko pertama di India pada 2013. Saat itu orang-orang India belum terkena ‘virus’ K-beauty, kecantikan ala perempuan dan laki-laki ala bintang-bintang K-pop. Lima tahun kemudian, gerai Innisfree sudah berkembang menjadi 15 toko.

K-pop, seperti kata Riya Cruze, mahasiswi asal Hyderabad, memang bukan semata musik, tapi juga gaya hidup. Di sana ada fashion, ada K-beauty. “Saat kalian mulai menikmati lagu-lagu K-pop, algoritma YouTube akan mengarahkan kalian pada apa yang namanya K-beauty,” kata Supriya Joshi, penggemar grup BTS, dikutip EconomicTimes, beberapa waktu lalu.


Reporter/Penulis: MELISA MAILOA
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE