INTERMESO

Cinta Terakhir
Sang Maestro

"Aku mencintai dia (Rose), tapi aku pun tetap mencintaimu, Jeng."

S. Sudjonono  (Foto : repro buku Sudjojono dan Aku)

Selasa, 29 Januari 2019

Tedjabayu masih ingat saat pahit itu. "Saat itu aku duduk di bangku kelas VI Sekolah Rakyat," kata Tedjabayu. Ketika dia dipanggil ayah dan ibunya, seniman kondang S. Sudjojono dan Mia Bustam, Tedjabayu sebenarnya sudah menduga apa yang akan dibicarakan orang tuanya. Ayahnya menyampaikan bahwa hubungannya dengan sang ibu tak lagi harmonis. Dan ada perempuan lain yang dia cintai. Tedjabayu menatap wajah ibunya. "Wajah Ibu, terutama matanya, meskipun tak menunjukkan kemarahan, menggambarkan kekerasan hati yang membaja." Sikap Mia sudah bulat, dia mending bercerai ketimbang dimadu.

Hari-hari itu Sudjojono memang sedang mabuk kepayang pada Rose. Saat itu Sudjojono sudah beristri, demikian pula Rose sudah bersuami. "Mas Djon tjinta Rose, dari udjung kaki ke udjung rambut, dari lidah sampai ke hati, dari pagi sampai ke pagi lagi, dari Amsterdam sampai kini ke kemudian hari. Batas kubur tak ada, riwajat akan membuktikannja, fitnahan hanja menjemerbakkan hidup djinta saja"

Begitu bunyi bagian akhir surat cinta Sindoedarsono Soedjojono bertanggal 1 dan 2 November 1957 kepada kekasihnya, Rosaline Wilhelmina Poppeck, seorang penyanyi seriosa yang kemudian lebih dikenal dengan nama Rose Pandanwangi. Rose punya darah 'gado-gado' dalam tubuhnya. Ayahnya seorang Jerman, sementara ibunya keturunan Spanyol dan Manado. Sementara Sudjojono merupakan salah satu pelukis yang karya-karyanya dikagumi dan dikoleksi Presiden Sukarno. Di kemudian hari, Sudjojono ini dianggap sebagai Bapak Seni Rupa Modern Indonesia.

Hingga 1965, setidaknya ada 16 karya Sudjojono yang dikoleksi Bung Karno, seperti Kawan-kawan Revolusi, Pelopor Gerilya, Di Kampung, dan Mengungsi. Dari jumlah itu, sepuluh karya di antaranya masuk dalam buku Koleksi Presiden Sukarno Edisi Dullah (1956) dan enam karya yang dimuat dalam buku Koleksi Presiden Sukarno Edisi Lee Man-fong (1964).

Pertemuan pertama Sudjojono dan Rose terjadi pada 1951. Djon waktu itu terpilih menjadi anggota delegasi Indonesia untuk Festival Pemuda ke Jerman Timur. Ia berangkat ke Eropa bersama Henk Ngantung, seorang seniman yang kemudian jadi Gubernur DKI Jakarta, dan Hendra Gunawan. Tak hanya ke Berlin, rombongan ini juga berkeliling ke beberapa negara di Eropa.

Rombongan ini sempat mampir di Amsterdam, Belanda. Mendengar kedatangan Djon dkk, ada orang Indonesia yang sudah lama menetap di sana bernama Soenito yang menjamu mereka di rumahnya. Soenito dan istrinya sangat dikenal di kalangan orang Indonesia di Belanda. Pasangan ini ringan tangan memberikan bantuan kepada orang-orang Indonesia yang membutuhkan bantuan.

Djon berkisah, ketika sedang duduk di ruang tamu Soenito, datang seorang perempuan berpakaian hitam-hitam. Perempuan yang kemudian duduk di sampingnya itu ingin bertemu dengan istri Soenito. "Saya hanya punya satu pikiran: ini wanita Indonesia cantik, macam wanita ningrat di istana-istana Kesultanan Deli dan Serdang yang pernah saya lihat semasa kecil saya di Sumatera Utara," kenang Djon seperti ditulis dalam autobiografinya S. Sudjojono: Cerita tentang Saya dan Orang-orang Sekitar Saya. 

Mia Bustam, istri pertama Sudjojono
Foto: repro buku Sudjojono dan Aku

Perempuan itu kemudian dikenalkan oleh tuan rumah kepada Djon sebagai Rose Poppeck. Namun Rose enggan berbasa-basi dengan Djon. Sikap dingin Rose membuat Djon merasa panas hatinya. Ia merasa dianggap sepele oleh perempuan itu. "Sepintas lalu saya lihat paras muka dia cocok dengan namanya: Rose. Suatu bunga mawar hitam yang angkuh berdiri kokoh di kebun istana Ratu Sima," kata Djon. "Kehadiran saya buat dia macam air lalu di daun keladi. Tapi bagi saya sebaliknya, raut mukanya tak hilang dari bulu mata."

Rose waktu itu sudah menetap di Negeri Kincir Angin. Putri pasangan Gustav Poppeck dan Sara Elizabeth Font itu meninggalkan Makassar pada 1947 untuk belajar di Belanda. Awalnya ia masuk Fakultas Hukum Rijks Universiteit di Utrecht. Namun ia kemudian memilih keluar dan belajar vokal kepada Mevrouw Maas Geesteranus. Karena aktif di perkumpulan Rukun Pelajar Indonesia, Rose akhirnya berkenalan dengan sejumlah mahasiswa Indonesia, termasuk Yahya Sumabrata, yang berkuliah di Fakultas Kedokteran Rijks Universiteit.

Sepintas lalu saya lihat paras muka dia cocok dengan namanya: Rose. Suatu bunga mawar hitam yang angkuh berdiri kokoh di kebun istana Ratu Sima."

Yahya dan Rose akhirnya menikah pada 1949. Setahun kemudian, keduanya dikaruniai anak perempuan yang diberi nama Sara Sri Hasbiah. Sama seperti Rose, Djon tidak berstatus lajang. Djon kala itu sudah memiliki empat anak hasil pernikahannya dengan Mia Bustam. Djon tak mengira perkenalan dengan Rose itu akan berlanjut. Setelah Djon berada di Berlin, Rose dan sejumlah kecil pelajar Indonesia di Belanda menyusul mengikuti festival itu.

Tak seperti pertemuan sebelumnya, kali ini Rose menyapanya. Rose lalu menyodorkan pulpen dan buku kecil untuk ditandatangani. Namun pulpen dengan tinta hitam itu tak dimintanya kembali. "Tak pernah saya sadarkan diri bahwa ada benih cinta padanya yang tumbuh dalam hati," tulis Djon. Mia ingat dirinya menerima surat saat Djon berada di Eropa. Dalam surat, Djon bercerita perkenalan di rumah Soenito. "Ia cantik, Jeng," ujar Djon menggambarkan Rose kepada Mia seperti yang dituliskan Mia dalam autobiografinya, Sudjojono dan Aku

Mia mengakui Djon disukai kalangan perempuan. "Mas Djon memang tak tampan. Namun mempunyai karisma. Apalagi jika bicara soal hubungan lelaki-perempuan," tulis Mia. Djon, menurut Mia, selalu tampil sebagai pembela gigih hak-hak perempuan. Sebaliknya, ia selalu melempar kritik keras kepada suami yang suka menyeleweng. "Mas Djon disenangi banyak istri teman-teman. Ia selalu menasihati para suami mereka agar menghargai dan setia kepada istri."

Rose Pandanwangi, istri kedua S. Sudjojono
Foto: Tia Agnes/detikcom

Persoalan keuangan membuat Rose dan suaminya, Yahya, memutuskan kembali ke Indonesia pada 1952. Sayang, kuliah Yahya belum selesai. Rose pun memintanya melanjutkan sekolahnya di Universitah Gadjah Mada, Yogyakarta. Kala itu pasangan ini sudah memiliki dua anak. Tapi Rose memilih tinggal di Jakarta dan mengontrak sebuah paviliun di Jalan Madura, Menteng. Awalnya ia bekerja di perusahaan Coca-Cola atas referensi kawan lamanya di Belanda. Lalu kemudian pindah ke perusahaan importir cengkeh dari Madagaskar dan Zanzibar.

Sementara itu, hubungan Rose dan Djon tak berlanjut semenjak pertemuan mereka terakhir di Berlin. Sampai suatu ketika pada 1953, Rose mendapat undangan menghadiri Konferensi Perdamaian yang digelar di Jakarta. Kebetulan Djon, yang menetap di Yogyakarta, datang ke pertemuan itu. Saat Rose memasuki ruangan, Djon melihat kemudian memanggilnya duduk di sampingnya. Pertemuan itu membuat keduanya menjadi lebih dekat.

Sampai pada saat Djon terpilih menjadi anggota parlemen pada Pemilu 1955 mewakii Partai Komunis Indonesia. Ia pindah ke Jakarta tanpa didampingi keluarganya. Djon menumpang di rumah Soerjono di Jalan Cilosari, Cikini, yang tak seberapa jauh dari kontrakan Rose. Kebetulan Soerjono juga mengenal Rose, maka sesekali keduanya mengunjungi Rose di rumahnya. "Sesekali ini kemudian berubah jadi kerap kali. Mula-mula selalu bersama Soerjono, lama-lama saya datang tanpa dia," tulis Djon.

Menjelang akhir 1956, Djon pulang ke Yogyakarta ketika DPR sedang reses. Mia Bustam mengisahkan Djon membawa oleh-oleh kue yang katanya dari Rose Sumabrata. Rose mengundangnya merayakan Natal di rumahnya di Jalan Madura. Ketika hendak cuci pakaian suaminya, Mia menemukan sehelai saputangan kecil di saku jas. Saputangan perempuan. Djon kembali beralasan, saat di rumah Rose itu, dirinya tiba-tiba terserang pilek dan Rose meminjamkan saputangan itu.

Kejutan tak sampai di situ. Di dalam saku yang satunya lagi, Mia menemukan secarik kertas dengan baris-baris not dan lirik sebuah lagu. Tulisannnya bukan tulisan tangan Djon.

"Once I had a secret love,

That lives within the heart of me.

All too soon my secret love,

Became impassioned to be free."

Lirik lagu A Secret Love yang dipopulerkan Doris Day untuk film musikal Calamity Jane pada 1953. Mia mengaku membaca itu dirinya tak tertawa dan menggoda suaminya lagi. "Aku menatap mata Mas Djon dan bertanya, 'Ini apa, Mas?' Dengan tenang, terdengar jawaban Djon. 'O... aku suka lagu itu, diputar ketika Natalan di rumah Rose. Lalu dia kuminta menuliskannya. Lagunya bagus.'"

Mia mengaku lagu itu memang bagus. Tapi 'a secret love'? Mengapa Mas Djon justru tertarik pada lirik lagu ini? Apakah ia punya a secret love? Lalu apa hubungannya dengan Rose? Mengapa ia diundang ke rumahnya, sedangkan suaminya ada di kota ini? Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk di benak Mia, yang kala itu sudah memiliki delapan anak. Tapi dia akhirnya memilih diam. Jawaban suaminya begitu lancar dan meyakinkan diucapkan. Seolah-olah tak ada kebohongan di baliknya.

Karya S. Sudjojono, Kawan-kawan Revolusi
Foto: dok. detikcom

Masa reses DPR selanjutnya kembali muncul kejutan. Rumah keluarga Djon dan Mia di Pakuningratan, Yogyakarta, mendapat kunjungan tamu, Rose dan suaminya, Yahya Sumabrata. "Ketika itu aku belum tahu benar hubungan Mas Djon dan Rose. Tapi ada sesuatu yang aneh," tulis Mia. Beberapa hari kemudian, Mia, yang berada dalam sebuah becak, berpapasan dengan Djon dan Rose yang berada di satu becak yang lain. Dari situlah Mia mulai mendengar adanya hubungan khusus antara Djon dan Rose dari sejumlah orang.

Pengakuan dari mulut Djon baru datang beberapa minggu kemudian. "Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku.... Aku mencintai dia (Rose), tapi aku pun tetap mencintaimu, Jeng," ujar Djon sambil meremas-remas tangan Mia. "Ah, seandainya kita wayang dan engkau Subadra." Mia langsung memotong kata-kata suaminya. "Dan Rose jadi Srikandi? Tidak. Aku tidak mau menjadi Subadra yang bisa membagi cinta Arjuna dengan berlusin-lusin perempuan lain." Menurut Mia, ia berulang kali minta cerai karena tak ingin dimadu. Namun Djon memintanya bersabar. Surat talak dari Kantor Urusan Agama Sawah Besar, Jakarta, akhirnya datang pada Mei 1959.

Ia saya larang pakai nama Rose Sudjojono. Ia tak boleh membonceng pada nama saya."

"Ia (Djon) menceraikan aku dengan menjatuhkan talak satu," tulis Mia. "Sebenarnya proses perceraian yang kubayangkan tak demikian caranya. Kubayangkan jika setidaknya Mas Djon menyurati aku lebih dahulu sebagai pengantar surat talak itu. Ini akan terasa lebih simpatik, sopan, dan manusiawi."

Sedangkan di sisi lain, Rose merasakan hubungannya dengan Yahya Sumabrata semakin hambar. Menurutnya, Yahya tak mendukung kariernya sebagai penyanyi. "Rose merasa hubungan seperti ini tidak dapat dipertahankan," seperti yang ditulis dalam biografi Kisah Mawar Pandanwangi. Ketika Rose menerima telegram dari suaminya mengabarkan telah lulus jadi dokter, dibalasnya dengan ucapan selamat dan sekaligus permintaan cerai.

Dua pasang kekasih yang memutuskan bercerai dari pasangannya masing-masing itu kemudian akhirnya menikah pada 15 Juli 1959. Djon kemudian memberi nama Pandanwangi di belakang nama Rose sebagai nama panggung saat ikut Bintang Radio. Rose Pandanwangi kemudian dikenal menjadi ratu di dunia tarik suara dan menjuarai panggung Pemilihan Bintang Radio selama bertahun-tahun. "Ia saya larang pakai nama Rose Sudjojono. Ia tak boleh membonceng pada nama saya," tulis Djon. Tiga hari lalu, pada 26 Januari 2019, Rose genap berusia 90 tahun. Sementara Sudjojono dan Mia sudah berpulang bertahun-tahun lalu.


Redaktur/Penulis: PASTI LIBERTI
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE