INTERMESO


'GORDON RAMSAY' DI DAPUR KAMI

"Sebagai chef, kami agak tegang juga saat diminta masak bahan-bahan yang harganya sekian puluh juta. Kami masak salah sedikit saja sudah merusak bahan"

Chef Josua Sugiarto

Foto : dok. pribadi

Minggu, 17 Februari 2019

Sebuah meja makan panjang berkapasitas dua puluh orang sudah tertata rapi dan licin. Piring, sendok dan garpu disusun di setiap kursi mengikuti aturan makan ala fine dining. Sementara di tengah meja, terpajang lilin dan vas berisi bunga. Ibu-ibu arisan yang duduk mengelilingi meja sudah tak sabar menanti makanan utama dihidangkan.

“Untuk kali ini kita akan menyajikan salah satu Indonesian Food Signature yang merupakan hidangan berkuah,” ujar seorang chef menjelaskan kepada mereka. Satu demi satu mangkuk ditaruh di atas meja. Ibu-ibu ini tak berhenti mengamati potongan daging dan soun yang digoreng dengan teknik deep fried. Dari tampilan fisiknya, mereka kesulitan menerka makanan jenis apa yang saat itu sedang disajikan.

Belum sempat bertanya kepada pengolah masakan, mereka dibuat kebingungan saat pelayan menuangkan wajan berisi 'kuah' ke dalam wadah vas bunga. Tiba-tiba asap putih menyembur dari dalam vas bunga. Rupanya di dalamnya terdapat biang es yang menjadi asal muasal terciptanya asap putih itu.

Tapi asap ini bukanlah asap biasa. Perlahan dari tengah asap itu meruap aroma kaldu ayam. Ketika mencium aroma itu, barulah ibu-ibu ini paham jika makanan yang disajikan adalah soto ayam. Setelah berhasil menebak, baru lah kuah sesungguhnya di tuang ke mangkuk masing-masing.

Sang juru masak bukan sedang iseng atau berniat mengerjai pelanggannya dengan permainan tebak-tebakan. Ia memang sengaja memberikan kejutan kepada mereka. “Ini bukan jenis soto ayam yang kita kenal. Aku bikin gastronomic style. Ini untuk bersenang-senang dan menciptakan momen tak gampang dilupakan. Mereka akan terus ingat dan mereka akan kembali lagi,” kata Yosua Sugiarto, juru masak yang menjadi otak di balik penyajian makanan yang tak biasa itu.

Chef Yosua Sugiarto 

Foto : dok.pribadi

Dalam acara kumpul bulanan itu, ibu-ibu arisan ini sengaja tak bertemu di restoran. Mereka ingin merasakan pengalaman berbeda dengan mengundang Yosua untuk menyajikan makanan layaknya restoran berbintang di rumahnya. Saat itu Yosua dipanggil sebagai private chef.

Berbeda dengan restoran berbintang di mana pelanggannya biasa datang dengan pakaian formal. Namun dengan menggunakan jasa juru masak pribadi di rumah, kliennya tak perlu repot-repot dandan. Biasanya pemakai jasa juru masak ini berpenampilan rapi di rumah ketika mengadakan acara tertentu seperti ulang tahun, anniversary, baby shower maupun acara spesial lainnya.

Mau pakai kaos, celana pendek kek, kami nggak peduli, tapi kami pergi ke rumah mereka layaknya kami berangkat ke restoran'

“Mau pakai kaos, celana pendek kek, kami nggak peduli, tapi kami pergi ke rumah mereka layaknya kami berangkat ke restoran,” kata pria yang pernah bekerja di JW Marriott Phuket, Thailand ini. Bersama timnya yang terdiri dari juru masak dan pelayan, Yosua berpenampilan layaknya chef di restoran dengan mengenakan chef jacket.

Mulanya anak bungsu dari lima bersaudara ini mendapatkan inspirasi membuka jasa juru masak pribadi ketika masih kuliah di jurusan Hospitality Management, Universitas Pelita Harapan. Saat itu Yosua sempat mendapatkan kesempatan bekerja di salah satu restoran di daerah Sudirman Central Business District (SCBD), Jakarta.

Yosua memperhatikan hampir semua tamu yang melakukan reservasi selalu datang terlambat. Jarang ada pelanggan yang datang tepat waktu. Salah satu alasannya karena mereka terjebak horornya kemacetan di ibu kota. “Aku pikir dari pada mereka buang waktu di jalan, why don’t you guys just stay at home. Mereka ini rata-rata kan high class person, rumahnya bagus-bagus, kalau aku tawarin private dining mereka nggak akan keberatan,” tutur Yosua yang memiliki spesialisasi western food ini.

Yosua yang terinspirasi oleh Gordon Ramsay setelah menonton acara Hell's Kitchen ini menjadikan kerabat dan keluarganya sebagai kelinci percobaan. Awalnya Yosua harus keluar modal dengan menyediakan dan mempersiapkan bahan. Sementara kerabatnya tinggal duduk manis dan menikmati hidangan.

Yosua Sugiarto
Foto : dok. pribadi

Pekerjaan sebagai private chef ternyata sangat berbeda dengan bekerja di dapur restoran. Karena belum terbiasa, sesekali tuan rumah jadi kehilangan kesabaran karena makanan terlambat disajikan. Barulah ketika Yosua mulai terbiasa, ia memberanikan diri untuk menawarkan jasanya.

Pemasaran dilakukan dari mulut ke mulut. Pelanggan yang puas biasanya akan merekomendasikan Yosua ke temannya yang lain, begitu seterusnya. Dulu, saat baru mulai merintis usaha juru masak pribadi ini, dia mengalami juga susahnya merintis usaha. Pernah dalam sebulan dia tidak mendapatkan satu pun pelanggan. Namun kini di saat akhir tahun tiba misalnya, Yosua pernah mendapatkan sampai 10 panggilan menjadi juru masak pribadi.

Tantangan terbesar yang ia rasakan yaitu karena setiap saat Yosua harus menghadapi berbagai jenis dapur. Meski banyak kliennya berasal dari kalangan berlimpah duit, banyak hal tak terduga terjadi. Misalnya ada rumah mewah yang memiliki dapur besar, tapi hanya mempunyai dua kompor. Jika Yosua tidak membawa kompor tambahan, ia tentu akan kelimpungan. Untuk itu ia wajib memastikan kondisi dapur klien setidaknya seminggu sebelum hari H tiba.

Waktu jeda itu juga ia manfaatkan untuk mempersiapkan bahan masakan. Terutama karena Yosua juga harus meladeni permintaan klien yang menginginkan bahan-bahan masakan mahal yang tak gampang diperoleh. “Bahan-bahan seperti Japanese Beef Kobe, lobster atau kaviar....Semakin high profile, semakin high ingredients yang mereka cari. Kalau bisa cari bahan sampai orang lain nggak bisa bayar,” ujar Yosua yang saat ini juga bekerja sebagai konsultan untuk sebuah restoran di Solo, Jawa Tengah.

Yosua tidak bisa asal-asalan meracik bahan mahal itu, apalagi kliennya rata-rata sudah biasa keliling dunia sehingga lidah mereka kenal betul dengan rasa masakan yang mereka minta. “Sebagai chef, kami agak tegang juga saat diminta masak bahan-bahan masakan yang harganya sekian puluh juta. Kami masak salah sedikit saja sudah merusak bahan. Dan mereka tahu betul masakan dari negara asalnya. Mereka sudah ke Jepang dan langsung makan Kobe beef di sana,” kata Yosua.

Meski jasa juru masak pribadi ini lumayan mahal, klien Yosua tak melulu kalangan atas. Kadang ada pula yang berasal dari kalangan menengah. Mereka umumnya tinggal di apartemen atau perumahan. Namun Yosua memang kerap terkendala dengan kondisi dapur yang kurang memadai, baik dari segi ukuran atau kelengkapan alat masak. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, ia pun membuat surat perjanjian di muka.

“Aku sebetulnya nggak masalah masak di rumah kecil, yang penting kami bisa buat momen istimewa. Cuma karena tempat terbatas, kami buat semacam surat kontrak. Karena kondisi tidak memungkinkan, harus ada toleransi jika makanannya jadi terlambat dihidangkan” ungkapnya. Yosua menyediakan paket standar lima courses seharga Rp 950 ribu per orang. Harga ini bisa disesuaikan dengan kantong klien. “Aku lebih happy untuk menyesuaikan dengan anggaran pelanggan. Jadi aku akan berusaha yang terbaik untuk memasak sesuai anggaran yang diberikan,” Yosua menuturkan.

Yosua Sugiarto
Foto : dok. pribadi

Di indonesia, orang juga bisa menyewa jasa juru masak pribadi lewat situs Take a Chef. Calon klien tinggal mengisi data pribadi, menjawab pertanyaan seputar informasi jenis pelayanan yang dibutuhkan, apakah itu one time service atau multiple services. Selanjutnya klien tinggal memilih jenis makanan yang diinginkan. Di antaranya terdapat opsi hidangan Jepang, Italia, Prancis, sampai hidangan Mediterania. Harga per orang berkisar antara Rp 200 sampai 400 ribu.

Meski jasa juru masak pribadi ini belum terlalu populer di Indonesia, makin banyak chef menyambi jadi private chef. Salah satu yang sudah lumayan lama menekuni usaha ini adalah Adhika Maxi. Sebelum banting setir jadi juru masak, Adhika sebenarnya sudah punya gelar sarjana bisnis dari salah satu kampus di Australia. Tapi hobinya memang meracik rupa-rupa bahan di dapur dan berada di dekat kompor. Dia terbang ke New York, Amerika Serikat, dan belajar lagi di French Culinary Institute. Tuntas belajar, dia sempat bekerja di restoran Asiate dan Maze, restoran bintang 2 Michelin milik chef kondang Gordon Ramsay.

Itu sebuah pengalaman yang tak bisa dibeli dengan uang dan masa paling sulit dalam hidup saya

Di tempat ini lah semua ‘ilmu dapur’ yang diperoleh Maxi di sekolah benar-benar diuji dan dipoles. Semua pegawai Maze dituntut kerja keras dan mengejar kesempurnaan. Kepala Chef, Josh Emmet, selalu mengulang-ulang kata-katanya bahwa pelanggan sudah membayar mahal untuk makan di Maze, karena itu tak boleh ada kesalahan sekecil apapun. “Itu sebuah pengalaman yang tak bisa dibeli dengan uang dan masa paling sulit dalam hidup saya,” kata Maxi dikutip buku Angle and Demon, 30 Kisah Inspiratif Sang Pemenang.

Pengalaman itu lah yang jadi bekal Maxi pulang kampung ke Indonesia. Ingin punya restoran tapi belum punya uang dan sempat bingung mau kerja di mana, kesempatan itu datang dari kenalan. “Saya mendapat kesempatan memasak untuk sebuah keluarga di rumahnya di bilangan Sunter. Pekerjaan saya yang pertama untuk menyediakan private dining untuk keluarga yang sangat mengapresiasi makanan dan ingin menikmati menu sajian Gordon Ramsay di rumah mereka,” kata Maxi.

Maxi yang banyak menghabiskan waktu tinggal di luar negeri ini kerap kali menemukan orang biasa maupun selebritas menggunakan jasa private chef. Maxi tidak menyangka, saat ia memulai karir sebagai juru masak pribadi, banyak yang menyambutnya dengan antusias.“Saya menjadi private chef dan menyajikan 6 menu makan malam kepada siapa saja yang ingin entertainment di rumah pribadi mereka. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa orang-orang Jakarta memiliki selera yang tinggi dan sangat menikmati wine and dine,” kata Maxi. Kini selain menyambi sebagai juru masak pribadi, bersama istrinya yang juga jago urusan dapur, Maxi mendirikan restoran Union di daerah Pondok Indah.


Penulis: MELISA MAILOA
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE