INTERMESO

Persahabatan
Sukarno-Roosseno dan Masjid Istiqlal

"Pernikahan Raden Roosseno dan Raden Ayu Oentari adalah persatuan antara merah dan putih, lambang keberanian dan kesucian bangsa kita."

Masjid Istiqlal dari arah Monumen Nasional

Foto: dok. F. Silaban lewat ArsitekturIndonesia

Senin, 25 Februari 2019

Belum genap dua tahun dilepaskan dari Penjara Sukamiskin, pada awal Agustus 1933 Sukarno kembali diciduk polisi Belanda sepulang dari pertemuan politik di rumah Muhammad Husni Thamrin di Jakarta. Ia kembali djebloskan ke Penjara Sukamiskin di Bandung. Baru pada akhir tahun itu Gubernur Jenderal Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, De Jonge, mengeluarkan surat keputusan pengasingan terhadap Sukarno, yang saat itu berusia 32 tahun, ke Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Sebelum dibawa ke pengasingan, Bung Karno merasa perlu memohon izin untuk menemui beberapa kerabatnya di Bandung. Termasuk ke rumah pasangan Raden Roosseno Soerjohadikusumo-RA Oentari di Jalan Lengkong. Toeti Heraty, putri sulung Roosseno, menuturkan kembali kisah yang diceritakan ibunya, Oentari. Saat itu Sukarno masuk ke rumah Roosseno diapit dua intel polisi Belanda. Bung Karno kemudian pamit akan berangkat ke Ende. Ketika itu Oentari baru saja melahirkan anak pertama. "Bu Oentari memberikan karpet untuk dibawa sebagai alas tidur. Boleh dibilang Bung Karno itu orang pertama yang saya lihat dalam hidup. Karena waktu saya lahir pas beliau pamit," ujar Toeti, kini 85 tahun, kepada detikX, di kediamannya.

Toeti menggambarkan hubungan Roosseno dan Bung Karno sangat dekat. Sukarno adalah makcomblang kedua orang tuanya. Saat Roosseno dan Oentari memutuskan menikah pada 30 Juli 1932, Bung Karno meminta izin kepada Muginah, ibu mempelai perempuan, untuk memberikan pidato sambutan keluarga. "Eyang Putri bilang tentu boleh karena kamu (Sukarno) memang masih keluarga," ujar Toeti. Meski sebenarnya Muginah sedikit khawatir Bung Karno akan berpidato macam-macam.

Benar saja, Bung Karno mengubah hajatan itu jadi panggung agitasi politik. Muginah gusar, tapi terlambat. Sukarno dengan berapi-api mengatakan, "Pernikahan Raden Roosseno dan Raden Ayu Oentari adalah persatuan antara merah dan putih, lambang keberanian dan kesucian bangsa kita. Berkibarlah Roosseno dan Oentari. Tunjukkan cinta kalian pada bangsa dan tanah air Indonesia. Ingatlah, kalian menikah bukan untuk enak-enak sendiri, tapi untuk masa depan masyarakat yang merdeka"

Bagi Bung Karno, Roosseno, yang lahir di Madiun, Jawa Timur, pada 2 Agustus 1908, bukan hanya kerabat dekat. Mereka berasal dari almamater yang sama, Technisch Hoschool (THS) di Bandung. THS kelak berubah nama menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB). Keduanya pun mengambil jurusan yang sama: teknik sipil. Hanya, Bung Karno lebih senior tujuh tahun. Roosseno baru masuk THS pada 1928. Saat itu tak banyak mahasiswa pribumi, apalagi dari Jawa Timur, yang mampu masuk THS. Dari angkatannya, hanya ada tiga orang Indonesia. Dan hanya Roosseno yang lulus.

Maket rencana Masjid Istiqlal
Foto: dok. F. Silaban lewat ArsitekturIndonesia

Faktor itulah yang membuat Sukarno tak ragu menggandeng Roosseno sebagai rekan bisnis. "Bung Karno menunggu Roosseno kapan selesai kuliah," kata Toeti. Roosseno kondang sebagai salah satu mahasiswa teknik sipil yang cemerlang dan cakap. Tiga bulan setelah Roosseno lulus pada Mei 1932, berdirilah Biro Insinyur Soekarno & Roosseno di Jalan Banceuy 18, Bandung. Mereka kemudian menyewa sebuah ruangan di gedung depan Kantor Pos Bandung seharga 10 ribu gulden.

Sebelumnya, Bung Karno pernah mendirikan biro teknik pada 26 Juli 1926 bekerja sama dengan kawan sekelasnya di THS bernama Anwari. Mereka berkantor di kamar tengah rumah kontrakan Sukarno di Jalan Dewi Sartika 22, Bandung. Biro ini tak bertahan lama karena waktu Bung Karno habis tersita untuk berpolitik. Ia sibuk menggagas Partai Nasional Indonesia, yang kemudian didirikannya pada 4 Juli 1927. Kemudian, dua tahun kemudian, ia ditangkap, kemudian dijebloskan di Penjara Sukamiskin.

Oleh karena kantongnya (Roosseno) selalu lebih penuh daripada kami, kebanyakan pengeluaran kami terpaksa bergantung kepadanya."

Bung Karno mengakui biro arsitek yang mereka didirikan menemui kesulitan. "Orang lebih menyukai arsitek Tionghoa atau Belanda," ujar Bung Karno dalam biografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Pendapatan biro sering kali tak mencukupi untuk menutupi kegiatan operasional kantor. Untungnya, kata Bung Karno, Roosseno punya penghasilan tambahan sebagai asisten Profesor Scheepers, guru besar geodesi di THS. "Oleh karena kantongnya (Roosseno) selalu lebih penuh daripada kami, kebanyakan pengeluaran kami terpaksa bergantung kepadanya."

Sukarno menyebut dirinya dalam biro tersebut hanya dapat mencurahkan ide, cipta, dan imajinasi. "Hal perhitungan dan penghitungan, calculation, berekeningen, apalagi beton berekeningen, saya serahkan pada Saudara Roosseno, yang memang sejak masa mudanya adalah seorang ahli di dalam hal calculation besi," ujar Sukarno. "Rooseno menjadi insinyur kalkulatornya. Dia mengerjakan soal-soal detail. Dialah yang membuat perhitungan dan kalkulasi dan mengerjakan perhitungan ilmu pasti yang sukar itu."

Soal pembagian kerja ini, Toeti mengatakan Roosseno selalu berkisah kepada mahasiswa-mahasiswanya, "Yang cari uang ialah saya. Bung Karno sibuk dengan pidato sini pidato sana. Itu job description-nya. Namun, menjelang akhir bulan, gaji tetap dibagi dua." Tak banyak bangunan yang digarap biro ini. Hanya tercatat beberapa rumah di daerah Papandayan dan sebuah masjid. Kongsi bisnis keduanya akhirnya terhenti ketika Sukarno kembali ditangkap karena aktivitas politiknya dan kemudian diasingkan ke Ende.

Proyek pembangunan Masjid Istiqlal
Foto: dok. F. Silaban lewat ArsitekturIndonesia

Ketertarikan Apong--panggilan sayang keluarga kepada Roosseno--pada bidang konstruksi hadir pada masa kecilnya di Madiun. Putra keenam Roostamhadji, patih Kabupaten Madiun, itu begitu terkesan setiap kali melihat kereta api ekspres Betawi-Surabaya yang melintasi jembatan rangka Kali Madiun. Keheranannya tertuju pada sebuah jembatan panjang yang tidak ambruk ketika dilewati lokomotif dan gerbong-gerbong kereta. "Apakah saya bisa bikin jembatan dan kuda besi?" pikir Roosseno waktu itu.

Ketika Roosseno remaja, ayahnya pindah tugas ke Yogyakarta. Waktu bersekolah di AMS (Algemeene Middelbare School)/B, yang setingkat sekolah menengah, di Yogyakarta, ia diajar seorang guru ilmu alam berkebangsaan Belanda bernama Zwaan. Guru inilah yang mendorong Roosseno menjadi insinyur melihat kelebihan Roosseno dalam hitung-menghitung. "Saya ini memang lahir untuk teknik. Saya brilian untuk hitung. Bakat saya hitung. Saya selalu disenangi guru karena cepat berhitung," ujar Roosseno.

Begitu biro yang didirikan bersama Bung Karno bubar, Roosseno bekerja sebagai pegawai Departemen Jalan dan Pengairan di Bandung. Ia juga tergoda masuk partai, tapi tidak tertarik bergabung dengan PNI yang didirikan Sukarno. Bahkan kemudian terpilih masuk jadi Dewan Kota Bandung mewakili Partai Indonesia Raya dan menjadi ketua fraksi. Ketika zaman Jepang, Roosseno kembali ke THS, yang berganti nama menjadi Bandung Kogyo Daigaku, sebagai guru besar.

Menjelang akhir kekuasaan Jepang, Roosseno diangkat menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, yang beranggotakan 62 orang. Ia anggota nomor 24. Saat Bung Karno mengucapkan pidato "Lahirnya Pancasila" pada 1 Juni 1945, Roosseno hadir sebagai saksi sejarah. Lalu kemudian diminta oleh Sultan Hamengku Buwono IX membantu mempersiapkan pendirian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada 1946.

Dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo I pada 1953, Roosseno dipercaya menduduki jabatan Menteri Pekerjaan Umum, kemudian merangkap Menteri Perhubungan dan Menteri Perekonomian. Masa inilah Roosseno ditunjuk menjadi anggota tim juri sayembara pembangunan masjid dan monumen nasional. Saat pembangunan dimulai pada awal 1961, Roosseno pun dipercaya jadi pengawasnya. Ayah enam anak ini kemudian memanggil anak-anak didiknya di ITB untuk membantu merealisasikan proyek-proyek besar di Jakarta itu. Salah satunya adalah Hasiholan Reguel Sidjabat alias HR Sidjabat.

Anak-anak Roosseno (Dari kiri) Damiyanti, Toeti Heraty, dan Hannyoto Roosseno
Foto: dok. pribadi keluarga Roosseno

Sidjabat diminta Roosseno membantunya mengerjakan proyek pembangunan Masjid istiqlal. Seperti Roosseno, yang jago ilmu beton, Sidjabat pintar menghitung kekuatan beton. Menurut Sidjabat, Roosseno mengerjakan pembangunan Masjid Istiqlal dengan sangat disiplin. "Ia (Roosseno) juga tak pernah membeda-bedakan suku. Yang penting pintar," katanya. Sidjabat, yang berada di proyek Istiqlal dari 1962 hingga 1972,  selalu memberikan hasil perhitungan konstruksi kepada Roosseno untuk diperiksa. "Beliau lihat, kalau beliau suka, berarti sudah oke."

Ia (Roosseno) juga tak pernah membeda-bedakan suku. Yang penting pintar."

Roosseno pun tiap hari Minggu rutin memeriksa perkembangan pembangunan. Biasanya ia datang dengan motor besarnya. Hobi naik motor besar ini di kemudian hari ketika berusia 80 tahun membuatnya harus dirawat di ICCU Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo karena terjatuh. Kepada Sidjabat pula Roosseno pernah mengungkapkan kecintaannya pada dunia konstruksi. "Kalau misalnya saya hidup dua kali, saya mau jadi insinyur sipil lagi," ujar Roosseno. Hubungan keduanya memang sangat erat hingga akhir hayat. Menurut Sonya Sidjabat, putri kedua Reguel Sidjabat, bagi ayahnya, Roosseno sudah seperti orang tua sendiri. "Saat Bapak menikahkan putrinya, Pak Roosseno adalah tamu yang pertama datang dan pulang terakhir," kata Sonya pekan lalu.

Roosseno tak hanya terlibat dalam pembangunan Masjid Istiqlal dan Monumen Nasional. Saat mencanangkan proyek bangunan-bangunan ikonik, Presiden Sukarno juga meminta Roosseno mengambil peran. Berbekal dana dari hasil pampasan perang dibangunlah Hotel Indonesia di Jakarta, Hotel Ambarukmo di Yogyakarta, Samudera Beach Hotel di Pelabuhan Ratu, dan Bali Beach Hotel di Sanur, Bali. Begitu juga dengan pembangunan Gelanggang Olahraga Senayan. "Jejak Roosseno ada di hampir semua proyek besar pada masa itu," kata Setiadi Sopandi, penulis biografi Friedrich Silaban, arsitek Masjid Istiqlal dan Monumen Nasional.

Saat rezim berganti, Roosseno tak ikut terkena imbasnya meski ia dikenal sangat dekat dengan Bung Karno. "Saya kira karena Soeharto membutuhkan tenaga dan pikiran Roosseno untuk membangun," ujar Toeti. Saat itu memang masih sangat jarang insinyur yang memiliki keahlian seperti Roosseno. Ia masih dipercaya memimpin tim pemugaran Candi Borobudur. Toeti juga melontarkan kemungkinan lain. Oentari pada masa itu terkenal sebagai pengusaha katering di kalangan pejabat dan istri. "Ibu (Oentari) juga akrab dengan bu Tien Soeharto," katanya.


Redaktur/Penulis: Pasti Liberti
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE