INTERMESO


KETIKA PRESIDEN SOEHARTO BERTEMU SOEHARTO

"Kami tidak pernah makan di restoran dan menginap di rumah kepala desa atau rumah penduduk"

Presiden Soeharto menikmati makan saat berkunjung ke Banyuwangi pada Juli 1970.

Foto : repro. buku Incognito Pak Harto

Senin, 4 Maret 2019

Noel Kinvig lahir dan tumbuh besar di Selandia Baru, negara kepulauan jauh di selatan sana. Dia lahir di Taihape, kota kecil di Pulau Utara. Orang tuanya seorang petani dan peternak.Tapi setelah dewasa, Noel memilih jalan hidup lain. Dia menjadi seorang pilot.

Pekerjaan sebagai pilot itu lah yang 'menerbangkan' Noel ke sejumlah kota di Indonesia pada akhir tahun 1968. Dia bekerja untuk Ciba-Pilatus Aircraft Company. Ciba-Pilatus disewa oleh perusahaan Swiss, Geigy Agrochemical Company, untuk mengerjakan penyemprotan lahan-lahan pertanian dari udara di beberapa daerah di Jawa, dari Jakarta hingga Surabaya. Ciba-Pilatus mengirimkan sembilan pesawatnya untuk proyek itu. Proyek besar itu rencananya dimulai pada awal 1969.

Pada awal 1970-an, Noel tengah mengerjakan penyemprotan hama di daerah Tegal, kawasan pantai utara Jawa Tengah. Suatu kali, pelayan yang bekerja di rumahnya datang dan berteriak kegirangan. "Presiden datang...Presiden datang," Noel menuturkan dalam bukunya, Beyond the Cabbage Tree.Tak berapa lama, muncul di depan pintu seorang laki-laki disertai dua pengawal dan seorang juru foto. Laki-laki itu memperkenalkan diri sebagai Presiden Soeharto.

Noel mengundang Presiden Soeharto untuk singgah sekadar mencicipi secangkir kopi. Kepada Noel, Presiden bercerita bahwa dia datang berkunjung 'diam-diam' untuk melihat sendiri kemajuan proyek penyemprotan hama. Soeharto yang baru sekitar dua tahun menjabat Presiden mengaku sangat menikmati perjalanan diam-diam itu.

Heran melihat seorang Presiden datang tanpa banyak pengawal, seorang teman Noel bertanya soal keamanan perjalanan incognito itu. "Tak ada yang lebih aman dari perjalanan incognito," kata Presiden Soeharto. Ketika mereka tengah berbincang, datang Olando Rissi, insinyur yang bekerja untuk Ciba-Pilatus. Dennis O'Connor, Manajer Proyek, segera memperkenalkan Olando kepada Presiden. "Olando, apakah kamu mau berjumpa dengan Presiden Soeharto?"

Olando terbahak. Dia tak percaya omongan Dennis, menyangka bosnya itu hanya bercanda. "Hahaha...Ceritakan hal lain saja. Masak Presiden bepergian dengan mobil seperti itu," katanya sembari berlalu. Presiden Soeharto hanya tertawa. "Dia tak percaya bahwa kunjungan incognito itu benar-benar bisa dilakukan," kata Presiden. Setelah beberapa saat berbincang, Presiden Soeharto berpamitan. Baru keesokan harinya Olando percaya bahwa tamunya kemarin benar Presiden Soeharto setelah melihat foto mereka di surat kabar.

Presiden Soeharto di Purwokerto pada April 1970
Foto : repro buku Incognito Pak Harto

Suatu hari pada awal April 1970, Solihin Gautama Purwanegara, Gubernur Jawa Barat, mendengar kabar dari teman-temannya di Jakarta bahwa Presiden Soeharto diam-diam akan mengunjungi sejumlah tempat di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Tak banyak orang tahu soal rencana perjalanan itu. Tak ada pejabat di daerah yang diberitahu. Dari teman-temannya, Solihin mendapat bocoran bahwa Presiden Soeharto akan mengendarai mobil Toyota Hi-Ace.

Pada hari keberangkatan Presiden Soeharto, Solihin sudah bersiap di pinggir jalur pantai utara Jawa Barat untuk menunggu lewatnya rombongan Presiden. Begitu melihat mobil yang ditumpangi Presiden hendak melintas, Solihin segera menghadang. "Lho, kok kamu tahu?" Presiden Soeharto terheran-heran melihat 'penguasa' Jawa Barat menghadang  jalan rombongannya. "Ya sudah, kamu ikut saja sekalian," kata Presiden kepada Solihin, dikutip dalam buku Incognito Pak Harto.

Hahaha...Ceritakan hal lain saja. Masak Presiden bepergian dengan mobil seperti itu'

Dua tahun setelah diangkat oleh Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada 27 Maret 1968 sebagai Presiden RI, Soeharto mulai 'blusukan' ke sejumlah daerah. Pada Senin, 6 April 1970, rombongan Presiden Soeharto berangkat dari Jakarta. Agar tak menarik banyak perhatian, dia menumpang mobil Toyota Hi-Ace bernomor polisi B 1314 M yang telah dimodifikasi. Tak ada pendingin udara di mobil itu. Hanya ada kipas angin kecil terpasang di mobil menghembuskan sedikit angin segar.

Dalam mobil itu, selain Soeharto dan sopir, ada pula Eddie Nalapraya, Komandan Kawal Pribadi Presiden, juga Bardosono, Sekretaris Pengendalian Operasi Pembangunan dan Tjokropranolo, Sekretaris Militer Presiden. Para pengawal dan beberapa wartawan ada di dua jip dan mobil Toyota Hi-Ace. Mereka diminta jaga jarak dengan mobil Presiden agar tak mengundang perhatian banyak orang.

Selama lima hari, dari 6 April hingga 10 April 1970, Presiden Soeharto mengunjungi Subang, Indramayu, Tegal, Purwokerto, Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Bandung, Cianjur, dan Sukabumi. Desa Binong, Kabupaten Subang, Jawa Barat, menjadi persinggahan pertama kunjungan incognito Presiden Soeharto. Di desa itu, Presiden berbincang dengan Otong Suraliak, seorang petani yang lumayan sukses di daerah itu, soal rupa-rupa persoalan yang dihadapi para petani. 

Lebih dari empat puluh tahun kemudian, Otong dan istrinya, Endeh Siti Kalsum, yang sudah sangat sepuh, masih bisa mengingat kunjungan Presiden Soeharto pada hari itu. Menurut Endeh, sehari sebelum kedatangan Presiden Soeharto, Gubernur Solihin sudah memberi kabar bahwa akan ada pejabat dari Jakarta datang berkunjung. "Tapi kami diminta tak membuat persiapan khusus," Endeh menuturkan. Saat yang muncul di rumah mereka Presiden Soeharto, Otong dan istrinya kaget bukan kepalang. Mereka hanya sempat menyuguhkan pecak lele dan sayur jantung pisang yang dipanen dari kebun sendiri.

Presiden Soeharto di Indramayu pada April 1970
Foto : repro buku Incognito Pak Harto

Menurut dokumentasi yang kini tersimpan di Museum Purna Bhakti Pertiwi, Presiden Soeharto melakukan perjalanan diam-diam empat kali selama periode 1970 hingga 1974. Tiga kunjungan ke sejumlah daerah di Pulau Jawa yang berjarak lumayan jauh dari Jakarta. Satu kunjungan incognito lagi ke daerah sekitar Jakarta.

Kadang, Soeharto berkunjung ke satu tempat untuk melihat persoalan. Saat menyambangi Desa Rambatan Wetan di Indramayu misalnya, Presiden Soeharto melihat sendiri bagaimana miskinnya warga kampung itu. "Kami jarang makan nasi. Kami sekarang makan gaplek," ujar seorang warga. Warga di Rambatan Wetan juga bercerita banyaknya anak yang tak bersekolah. Kadang Presiden datang ke satu tempat untuk meresmikan proyek pembangunan. Kali lain, ada kalanya Presiden Soeharto mengunjungi suatu wilayah, seperti Wuryantoro di Wonogiri, Jawa Tengah, sekadar untuk bernostalgia dengan teman-teman masa kecil.

Ada satu kejadian lucu saat Presiden Soeharto diam-diam berkunjung ke Desa Glonggong, Kecamatan Dolopo, Madiun, Jawa Timur. Kepala Desa menyambut dan memperkenalkan namanya. "Saya Soeharto," kata Sang Kepala Desa. Mendengar perkenalan itu, Presiden tersenyum. "Lho, kok sama ya," kata Presiden Soeharto.

Pada malam itu, 23 Juli 1970, Presiden Soeharto menginap di rumah Soeharto. "Ayah bersama Pak Harto berbincang semalaman di ruangan rumah kami," Yon Harsono, putra Kepala Desa Soeharto, menuturkan dikutip dalam buku Incognito Pak Harto. Keluarga mereka, kata Yon, masih terus mengingat kunjungan singkat Presiden hari itu. "Bahkan tempat tidur di mana Pak Harto istirahat waktu itu juga masih kami simpan. Kami gantung agar tak ada yang melangkahi."

Kunjungan singkat itu berbuah persahabatan antara kedua Soeharto. Saat istri Kepala Desa Soeharto sakit dan meninggal di Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta, Presiden Soeharto memerintahkan seorang pejabat untuk membantu pengurusan jenazah hingga dimakamkan di kampung halaman.

Presiden Soeharto menikmati air kelapa muda ditemani Gubernur Jawa Barat Solihin G.P.
Foto : repro buku Incognito Pak Harto

Try Sutrisno, mantan Wakil Presiden, berkali-kali ikut kunjungan mendadak Presiden Soeharto saat dia masih jadi ajudan pada 1974 hingga 1978. "Siapkan kendaraan, sangat terbatas. Alat radio dan pengamanan seperlunya saja dan tidak usah memberitahu siapa pun," Presiden Soeharto memberi perintah kepada ajudannya, Kolonel Try Sutrisno, pada suatu hari.

Bahkan Panglima TNI (saat itu masih Panglima ABRI) pun, menurut Try, tak diberitahu soal perjalanan Presiden. Hanya segelintir pejabat kunci seperti Mayor Jenderal Benny Moerdani, Ketua G-I/S Intel Hankam, yang diberitahu. "Saya juga sempat khawatir," kata Try dikutip dalam buku Pak Harto, The Untold Stories. Selain ajudan Kolonel Try Sutrisno, hanya Kolonel CPM Moenawar, Komandan Pasukan Pengawal Presiden (Paswalpres), dokter Mardjono, Mayor CPM Ucu Sapri, dan mekanik Subiyanto, yang menyertai perjalanan Presiden Soeharto selama beberapa hari. Kolonel Try menjadi sopir selama perjalanan itu.

Siapkan kendaraan, sangat terbatas. Alat radio dan pengamanan seperlunya saja dan tidak usah memberitahu siapa pun

Selama ditinggalkan, Presiden Soeharto telah membagikan tugas kepada para ajudan. Kolonel Laut Subagyo diminta menjaga rumah Presiden di Jalan Cendana.Kolonel penerbang Sumakno bertanggungjawab menyiapkan helikopter yang siap dipanggil kapan pun diperlukan. Kolonel Sumadi dari Kepolisian dapat tugas menjadi kepala tim pendahulu kunjungan Presiden.

"Kami tidak pernah makan di restoran dan menginap di rumah kepala desa atau rumah penduduk," ujar Try. Untuk urusan makanan, Presiden Soeharto juga tak mau repot."Selain membawa beras dari Jakarta, Ibu Tien Soeharto juga membekali sambal teri dan kering tempe...Saya melihat Pak Harto sangat menikmati perjalanan keluar masuk desa itu."


Reporter/Penulis: MELISA MAILOA
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE