INTERMESO

Mendulang Peluang dari Tol Trans Jawa

“Kami memiliki gagasan supaya investor dari dalam negeri maupun luar negeri itu melihat Indonesia dari framework yang berbeda.”

Foto: Pemandangan Tol Trans Jawa ruas Pemalang-Batang (Agung Pambudhi/detikcom)

Rabu, 06 Maret 2019

Jalan mulus dan lebar terbentang sepanjang hampir 200 kilometer dari Brebes hingga Semarang, Jawa Tengah. Kendaraan dari Jakarta maupun Jawa Tengah dan Jawa Timur melaju tanpa hambatan di tol yang telah dioperasikan secara penuh pada akhir Desember 2018 itu.

Ruas Brebes-Semarang merupakan bagian dari Tol Trans Jawa. Tol ini panjangnya 759 kilometer dari Jakarta-Surabaya dan kini telah tersambung seluruhnya. Saat ini memang ada fasilitas yang masih dalam proses pemasangan atau pembangunan di tol anyar itu, seperti lampu penerangan dan rest area. Belakangan, ada pula usulan agar tarif tol untuk para pelintas di Tol Trans Jawa dihitung ulang oleh regulator agar lebih terjangkau, khususnya oleh angkutan logistik.

Meski demikian, ada sebagian pelintas Tol Trans Jawa yang menilai tol tersebut membuat perjalanan makin cepat dan efisien. Untuk kendaraan truk berkecepatan rata-rata 80 km per jam, misalnya, perjalanan Jakarta-Surabaya yang dulu mesti ditempuh sekitar 28 jam, kini hanya memerlukan lebih kurang 15 jam.

Hadirnya Tol Trans Jawa juga dinilai bermanfaat bagi dunia usaha, persisnya membuka investasi baru di daerah-daerah yang dilalui jalan tol. Presiden RI Joko Widodo pada akhir Desember 2018 mengatakan sudah banyak investor yang melirik investasi di daerah sekitar tol.

Industri perbankan sendiri kini mulai menawarkan geliat infrastruktur itu sebagai kerangka kerja baru dalam berinvestasi. Salah satunya PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. melalui Mandiri Investment Forum (MIF) pada akhir Januari 2019 di Jakarta. Acara ini dihadiri lebih dari 700 investor, termasuk 90 investor asing, serta sekitar 200 nasabah korporasi Bank Mandiri.

Acara Mandiri Invesment Forum dihadiri oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani
Foto : Dok Bank Mandiri

“Memang pada awal tahun kami memiliki gagasan supaya investor dari dalam negeri maupun luar negeri itu melihat Indonesia dari framework yang berbeda,” ujar Direktur Keuangan Bank Mandiri Panji Irawan dalam wawancara khusus dengan CNBC Indonesia, Rabu, 30 Januari 2019.

Tak tanggung-tanggung, untuk mengundang daya tarik investor, Direktur Keuangan Bank Mandiri Panji Irawan mengajak para investor melihat langsung Tol Trans Jawa. “Di press conference, kami mengundang para investor untuk melihat langsung dan merasakan bagaimana jalan tol yang selesai dibangun di Jawa Tengah, di Yogyakarta, Solo, dan juga mengunjungi Jakarta,” katanya.

Panji menjelaskan dukungan Bank Mandiri dalam meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi di antaranya dengan membiayai pembangunan infrastruktur di Indonesia. Hingga akhir tahun lalu, Bank Mandiri telah menyalurkan kredit ke sektor infrastruktur sebesar Rp 182,3 triliun dari total komitmen Rp 285,4 triliun. Kredit itu disalurkan untuk membangun pelabuhan laut, bandar udara, pembangkit listrik, serta tol.

Walau demikian, Panji menyebut investor dari dalam dan luar negeri perlu melihat bahwa Indonesia di masa depan tidak hanya potensial bukan hanya karena agresif dalam pembangunan infrastruktur, tapi juga karena ada human capital development. Indonesia punya generasi milenial yang tumbuh berkembang dan memiliki banyak kebutuhan, meningkat konsumsinya, dan membaik tingkat pendapatannya.

Menurutnya, ada potensi bisnis di segmen retail dan kalangan anak muda untuk para investor. “Setelah melihat jalan tol dan menikmatinya bersama, kita juga bisa mengunjungi lokasi hang out di hotel atau kafe, di mana di situ anak-anak muda malah bekerja. Juga kita tunjukkan bahwa ada industri digital yang juga sedang berkembang di Indonesia. Misalnya Go-Jek, Bukalapak, Traveloka, di mana isinya anak milenial. Betapa Indonesia dalam wide spectrum tidak hanya punya infrastruktur, tapi juga kami melihat potensi lain yang besar bagi para investor untuk masuk,” ujar dia.

Adapun, Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Sulaiman Arif Arianto mengatakan, lewat acara Mandiri Investment Forum, Bank Mandiri ingin mengisyaratkan agar para investor, baik institusional maupun retail,  tidak kehilangan momentum dalam memanfaatkan peluang investasi di Indonesia. Untuk itu, investor pun diajak mendengarkan paparan terkait kebijakan dan regulasi dari beberapa tokoh, seperti Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dan Menteri BUMN Rini Soemarno.

Sulaiman menjelaskan, sektor perbankan nasional saat ini berada dalam salah satu performa terbaik, dengan rasio pertumbuhan kredit tahunan yang berada di kisaran 12 persen dan rasio NPL yang stabil di bawah 3 persen hingga November tahun lalu. “Meski menghadapi tantangan dari pengaruh Revolusi Industri 4.0, kami meyakini perbankan akan terus berkontribusi optimal dan menjadi motor pertumbuhan ekonomi karena didukung oleh terjaganya kualitas aset, rasio permodalan yang kuat, dan efisiensi biaya operasional seiring inovasi pada digital banking dan instrumen keuangan serta kuatnya konsumsi domestik,” katanya.

Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Sulaiman Arif Arianto saat berbicara di MIF 2019
Foto : Dok Bank Mandiri

Dalam kajian terkininya, tim ekonom Mandiri Group memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh 5,22 persen pada 2019 dibandingkan dengan prognosis pertumbuhan PDB 2018 5,16 persen. Untuk itu, Indonesia perlu mendorong sektor manufaktur berkembang pesat untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi agar lebih merata dan stabil serta menyerap tenaga kerja yang lebih besar.

Adapun tantangan eksternal pada upaya peningkatan investasi di Indonesia pada 2019 adalah adanya kemungkinan trade war yang dapat berdampak signifikan, juga kemungkinan naiknya suku bunga Fed Fund Rate satu atau dua kali. Hal tersebut diyakini akan berdampak juga pada suku bunga maupun likuiditas di pasar.


Reporter: Robi Setiawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE