INTERMESO


PERJALANAN 'DIAM-DIAM' PRESIDEN SBY

"Perahu kami nyaris terbalik karena debit air sedang tinggi.Saya bisa cerita karena saya ada di perahu itu juga. Kami sempat kehilangan kontak dengan pengawal."

Pasukan Pengamanan Presiden

Foto : Agung Pambudhy/Detik.com

Minggu, 3 Maret 2019

Ketika tanggul Kanal Banjir Barat di Jl. Latuharhary, Jakarta Pusat, jebol pada pertengahan Januari 2013 silam, Istana yang terletak di Jalan Merdeka turut kena dampaknya. Air setinggi lutut orang dewasa menggenangi sebagian kompleks istana. Sambil menggulung kaki celana, ditemani Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memeriksa beberapa bagian kompleks Istana yang terendam air.

Melihat genangan air di beberapa titik di ibukota Jakarta yang tak kunjung surut, Presiden SBY berinisiatif meninjau debit air di Kali Ciliwung. Namun ia khawatir jika kedatangannya bersama pasukan pengaman malah akan menimbulkan kegaduhan. SBY lantas menyampaikan kepada Julian Aldrin Pasha yang kala itu menjabat sebagai Juru Bicara Kepresidenan untuk melakukan kunjungan incognito.

Kegiatan incognito ini berbeda dengan kunjungan kepresidenan yang terjadwal dalam agenda resmi. Jika patuh pada protokoler kepresidenan, mestinya persiapan acara dan pengamanan sudah dilakukan di lokasi beberapa hari sebelum kedatangan Presiden. Kunjungan incognito dilakukan secara mendadak dan tanpa persiapan. Tapi bukan berarti tanpa pengawalan dari Pasukan Pengamanan Presiden alias Paspampres. Sebelum berangkat, Presiden SBY berpesan agar jumlah peserta rombongan yang akan ikut serta dibatasi.

Ditemani Ibu Negara Ani Yudhoyono, rombongan berangkat menuju salah satu titik banjir di Rawajati, Kalibata, Jakarta Selatan. “Presiden memutuskan incognito sekarang juga untuk melihat kondisi warga yang terdampak. Ini termasuk kunjungan yang berisiko karena ternyata arus airnya sangat tidak bersahabat,” kata Julian yang kerap menemani kunjungan incognito SBY, saat ditemui detikX di Universitas Indonesia, Depok, beberapa waktu lalu.

Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jawa Timur pada 2016
Foto : Elza Astari/Detik.com

Julian menggambarkan suasana saat berada di perahu karet milik Marinir itu layaknya sedang arum jeram. Dua perahu karet diturunkan ke Sungai Ciliwung. Satu perahu karet yang ditumpangi SBY bersama Julian dan beberapa orang lain. Di belakangnya satu perahu memuat sejumlah prajurit dari Korps Marinir membuntuti rombongan Presiden SBY. Tak berapa lama setelah mengarungi Kali Ciliwung, mesin di perahu karet yang ditumpangi Presiden SBY mulai ngadat dan akhirnya benar-benar mati.

Lantaran arus air yang begitu deras, perahu yang ditumpangi Presiden SBY jadi makin sulit dikendalikan. “Perahu kami nyaris terbalik karena debit air sedang tinggi. Itu terjadi dan tidak terekspos. Saya bisa cerita karena saya ada di perahu itu juga. Kami sempat kehilangan kontak dengan pengawal. Kacau lah itu. Kalau Paspampres tahu kondisi membahayakan seperti itu pasti tidak akan diizinkan. Kami yang di atas perahu deg-degan sekali,” Julian menuturkan pengalaman menegangkan bersama Presiden Yudhoyono. Perahu itu baru berhenti setelah tersangkut ranting dan akar pohon yang menjulur ke sungai di daerah Jalan Dewi Sartika. Setelah turun dari perahu, rombongan Presiden SBY masih harus berjalan kaki  melewati beberapa rumah warga yang tembus ke jalan besar sebelum akhirnya dijemput oleh pengawal.

Keputusan itu dibuat dalam waktu singkat. Menteri pun tidak tahu'

Selama Julian menemani kegiatan Presiden Yudhoyono di Kabinet Indonesia Bersatu II, bukan barang sekali dua kali SBY melakukan kunjungan mendadak seperti itu. Kegiatan diam-diam itu biasanya dilakukan Presiden SBY di sela-sela kunjungan daerah atau jika ada isu yang ingin dia dengar langsung dari sumber di lapangan. Karena sifatnya yang 'rahasia', biasanya tak semua orang di Istana mengetahui rencana ini. Bahkan tidak semua staf kepresidenan mengetahui kunjungan diam-diam SBY. “Keputusan itu dibuat dalam waktu singkat. Menteri pun tidak tahu. Biasanya dipersiapkan oleh yang namanya Sekretaris Militer Presiden dan Kepala Rumah Tangga Kepresidenan,” ujar Julian, peraih gelar master dan doktor dari Universitas Hosei, Tokyo, Jepang, ini.

Rombongan yang dibawa SBY, termasuk prajurit Paspampres, biasanya hanya sekitar sepuluh orang. Sesampainya di lokasi, Julian bersama Paspampres akan mengikuti ke mana pun Presiden SBY melangkahkan kaki. Kemungkinan, Julian menduga, secara diam-diam intel juga diikutsertakan untuk berjaga-jaga di lokasi. Seperti ketika SBY mendadak berniat mengunjungi nelayan di Pasar Ikan, Jakarta Utara. Rombongan berangkat dari Istana saat Jakarta masih lengang dan hari masih gelap gulita. Saat itu ada isu yang sampai ke telinga Presiden Yudhoyono soal kecurangan para tengkulak dalam jual beli ikan sehingga banyak nelayan merugi.

Para nelayan yang tengah bersiap menjual hasil tangkapannya kaget bukan kepalang ketika melihat kedatangan Presiden. Mereka seakan tak percaya orang nomor satu di negeri ini ada di tengah-tengah mereka pada pagi itu. Mereka pun tak menyia-nyiakan kesempatan langka itu untuk curhat kepada Presiden SBY. Dari proses 'wawancara' antara SBY dan nelayan, ditemukan informasi baru mengenai mahalnya harga bahan bakar solar yang menyebabkan nelayan makin tercekik.

“Dalam kunjungan Presiden umumnya sudah dikondisikan dulu. Misalkan, setelah Presiden bicara, akan ada pertanyaan-pertanyaan. Apa saja pertanyaan-pertanyaan itu harus kami ketahui dulu, atau jawaban mereka akan dikondisikan. Itu hal yang biasa dalam protokoler negara," kata Julian. Saat kunjungan diam-diam tanpa rencana, 'pengkondisian' itu tak mungkin dilakukan. "Dalam kunjungan incognito tidak bisa, mengalir saja apa adanya. Tergantung kemauan presiden mau tanya atau hanya observasi saja.” Kunjungan Incognito ini biasanya berlangsung hanya beberapa jam sehingga Presiden SBY tidak perlu repot mempersiapkan bekal khusus.

Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Nagreg, Jawa Barat, pada 2016.
Foto : Elza Astari/Detik.com

SBY menikmati betul perjalanan diam-diam itu karena ia bisa mendengar langsung keluhan warga. Kegiatan itu pun terus menerus dilakukan sampai akhir masa jabatannya pada tahun 2014. “Yang terjadi saat perjalanan incognito sepertinya memuaskan beliau. Mereka menyampaikan yang selama ini disimpan. Pernyataan itu yang diharapkan Pak SBY. Makanya dilakukan berulang-ulang kali,” ujar Julian. Kunjungan Incognito yang dilakukan SBY termasuk ketika meninjau daerah wisata Raja Ampat di Papua.

Hasil dari tinjauan secara incognito itu tidak hanya dianggap angin lalu saja. Biasanya keluhan yang SBY catat dari warga dibahas kembali dalam rapat kabinet. “Kunjungan itu bukan hanya sekadar nggak ada kerjaan atau sekonyong-konyong asal iseng. Ketika ada kunjungan incognito, Presiden pasti ada sesuatu yang konkrit berubah. Yang bisa jadi bahan membuat kebijakan sebagai solusi atas permasalahan yang terjadi di sana,” tutur Julian.

Arti incognito, menurut kamus Oxford Living Dictionaries, kurang lebih adalah orang yang menyembunyikan atau menyamarkan identitas sebenarnya. Pada 2 Februari lalu, Presiden Joko Widodo tiba-tiba muncul di kampung nelayan Tambaklorok, Semarang. Presiden datang tanpa konvoi pengawalan Paspampres seperti biasa. Dia mengaku datang malam-malam berdua dengan sopirnya.

Kunjungan Presiden tanpa konvoi pengawalan ini juga dilakukan Presiden Soeharto bertahun-tahun silam. Try Sutrisno, mantan Wakil Presiden, berkali-kali ikut kunjungan mendadak Presiden Soeharto saat dia masih jadi ajudan pada 1974 hingga 1978. "Siapkan kendaraan, sangat terbatas. Alat radio dan pengamanan seperlunya saja dan tidak usah memberitahu siapa pun," Presiden Soeharto memberi perintah kepada ajudannya, Kolonel Try Sutrisno, pada suatu hari.

Bahkan Panglima TNI (saat itu masih Panglima ABRI) pun, menurut Try, tak diberitahu soal perjalanan Presiden. Hanya segelintir pejabat kunci seperti Mayor Jenderal Benny Moerdani, Ketua G-I/S Intel Hankam, yang diberitahu. "Saya juga sempat khawatir," kata Try dikutip dalam buku Pak Harto, The Untold Stories. Selain ajudan Kolonel Try Sutrisno, hanya Kolonel CPM Moenawar, Komandan Pasukan Pengawal Presiden (Paswalpres), dokter Mardjono dan mekanik Biyanto, yang menyertai perjalanan Presiden Soeharto selama beberapa hari.

"Kami tidak pernah makan di restoran dan menginap di rumah kepala desa atau rumah penduduk," ujar Try. Untuk urusan makanan, Presiden Soeharto juga tak mau repot."Selain membawa beras dari Jakarta, Ibu Tien Soeharto juga membekali sambal teri dan kering tempe...Saya melihat Pak Harto sangat menikmati perjalanan keluar masuk desa itu."

Mantan Presiden SBY saat berbelanja bersama Ani Yudhoyono
Foto : Grandyos Zafna/Detik.com

Sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, Presiden RI tak bisa asal nyelonong atau sembarang keluyuran tanpa pengawalan Paspampres. Menurut Peraturan Pemerintah nomor 59 tahun 2013 tentang Pengamanan Presiden dan Wakil Presiden, mantan Presiden dan mantan Wakil Presiden beserta keluarganya, diatur soal pengawalan itu. Pada pasal 5 peraturan itu dituliskan bahwa pengamanan dilakukan oleh Paspampres secara melekat dan terus menerus di manapun berada.

Selama sepuluh tahun Heru Lelono menjadi pembantu Presiden Yudhoyono, dia tidak pernah mencatat perjalanan incognito yang dilakukan 'bosnya' betul-betul rahasia alias tanpa ditemani pengawal satu orang pun. “Kalau presiden selamat itu memang tugas Paspampres. Kalau sampai presiden terkilir saja, mereka bisa dihukum oleh atasannya. Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Presiden, mereka bisa dipecat. Jadi kamu nggak bisa memerintahkan Paspampres untuk diam, walaupun yang bicara itu seorang presiden. Incognito itu hampir tidak mungkin dilakukan oleh seorang presiden,” kata Heru,  Staf Khusus Bidang Informasi dan Hubungan Masyarakat pada masa Presiden SBY.

Kalau sampai presiden terkilir saja, mereka bisa dihukum oleh atasannya. Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Presiden, mereka bisa dipecat

Ke manapun SBY pergi, urusan negara, urusan pribadi atau urusan partai,  selalu diawasi  dan dikawal Paspampres. Bahkan saat Presiden Yudhoyono sedang pulas atau ke kamar mandi sekalipun. Hal ini pula yang menjadi pertimbangan SBY hanya pulang ke kediaman pribadi di Cikeas pada hari Sabtu dan Minggu. Alasannya, agar rombongan pengawalannya tidak menambah kemacetan jalan.

Kunjungan mendadak dan diam-diam yang kadang dilakukan SBY membuat Paspampres harus bekerja ekstra keras. “Tugasnya menjadi lebih berat karena mereka harus mengkondisikan sesuatu yang tidak disimulasikan sebelumnya. Karena pengamanannya menjadi lepas dan mengalir saja. Memang itu risikonya. Sejauh ini syukur tidak terjadi apa-apa,” kata Julian.

Heru justru mempertanyakan kunjungan Presiden Joko Widodo ke Tambaklorok beberapa waktu silam. Jokowi mengungkapkan kunjungan incognito ke Semarang, Jawa Tengah itu saat menjawab pertanyaan dari Prabowo Subianto pada debat kedua calon presiden beberapa pekan lalu. Heru menduga, yang dimaksud Jokowi bukan lah perjalanan incognito melainkan perjalanan yang tidak direncanakan.

“Saya khawatir mungkin Pak Jokowi tidak bisa membedakan apa itu kunjungan tidak direncanakan dan kunjungan incognito. Kalau beliau mengatakan incognito, saya yakin beliau melanggar Undang-undang Keprotokolan. Ini artinya ajudan nggak tahu dong, bagaimana caranya beliau bisa keluar sampai Tambak Lorok,” kata Heru. Sayang, beberapa juru bicara di lingkungan Istana tak menanggapi pertanyaan dan permintaan untuk wawancara soal 'incognito' Presiden Joko Widodo.


Penulis: MELISA MAILOA
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE