INTERMESO


CINTA PERTAMA SANDIAGA

Latar belakang keduanya jauh beda. Tak banyak kesamaan sifat pula di antara mereka. Apa yang menyatukan?

Sandiaga Uno bersama istrinya, Nur Asia

Foto : dok. pribadi lewat Instagram

Minggu, 17 Maret 2019

Hari itu, awal Desember 1998, Sandiaga pusing bukan kepalang. Istrinya, Nur Asia, baru saja melahirkan putri kedua mereka, Amyra Atheefa Uno, di Rumah Sakit Medistra, Jakarta. Sandi saat itu bukanlah Sandiaga Salahuddin Uno hari ini, pengusaha kaya raya yang tak akan berkedip membayar tagihan biaya melahirkan di rumah sakit paling mahal sekalipun .Untunglah, ada sahabat yang mengulurkan bantuan sehingga istri dan bayinya bisa keluar dari rumah sakit.

Sudah lebih dari setahun Sandi merintis usaha bersama sahabatnya sejak Sekolah Menengah Atas (SMA), Rosan Perkasa Roeslani. Selama itu pula, isi kantong mereka benar-benar tipis. Kadang, lantaran tahu anaknya tak punya uang, ibunya, Mien Uno, suka menyelipkan duit di saku baju Sandi.

Saat benar-benar kepepet, ketika isi dompet Sandi benar-benar tandas, siapa lagi teman yang dimintai bantuan jika bukan Rosan. Tapi apesnya, Rosan pun tak selalu punya duit. Sahabat Sandi sejak masih bersekolah di SMA Pangudi Luhur, Jakarta, itu tetap ingat masa-masa itu. Suatu kali pada tahun 1997, dia dan Sandi masuk lift untuk makan siang. Tanpa basa-basi lagi, sahabatnya itu mengutarakan maksudnya meminjam uang.

"Uang itu mau dia pakai untuk membeli susu Atheera (anak pertama Sandiaga) yang belum berumur satu tahun. Buru-buru saya mengeluarkan uang 50 ribu dari celana. Itu lah kekayaan saya yang tersisa," kata Rosan. Tapi ada satu masalah lagi. "Sayangnya, uang 50 ribu itu sangat kami perlukan juga untuk membayar ongkos makan siang."

Sandiaga Uno, kanan, bersama Yuki Hidayat, tengah
Foto : dok. pribadi Yuki Hidayat

Jika ada orang yang sangat kenal dengan Sandiaga Salahudin Uno, maka salah satunya adalah Yuki Hidayat. Yuki kenal dekat keluarga Sandi, bahkan akrab pula dengan keluarga Nur Asia. Wajar saja jika mereka berdua sangat akrab karena Yuki dan Sandi sudah kenal dan bersahabat sejak Taman Kanak-kanak (TK) dan bertahan hingga hari ini.

Dia dan Sandi, kata Yuki, satu sekolah sejak TK PSKD, SD PSKD hingga SMP Negeri 12 Jakarta. "Rumah kami juga berdekatan, bisa ditempuh dengan berjalan kaki," kata Yuki. Rumah orang tua Sandi di Jl. Lamandau, sementara Yuki tinggal di Melawai. Keduanya di daerah Jakarta Selatan.

Tak cuma lantaran rumah yang berdekatan mereka bisa cocok, tapi hobi main bola basket lah yang makin merekatkan keduanya. Kedua anak ini tergila-gila main basket sejak kecil. "Dulu, dari SD, hampir setiap pulang sekolah kami pasti main basket," Yuki menuturkan. Melihat begitu seriusnya Sandi dan Yuki main basket, orang tua mereka memasukkannya ke klub Cirastita (belakangan jadi Citra Satria).

Dari bermain di Divisi II, klub Sandi dan Yuki terus merayap hingga Divisi I, Pra-Kobatama bahkan masuk tingkat nasional Kobatama, Kompetisi Bola Basket Utama. "Karena sudah sangat sering bermain bersama, seperti ada ikatan batin antara saya dengan Sandi. Saya bisa passing bola ke Sandi tanpa perlu melihat dia ada di mana," kata Yuki.

Persahabatan di lapangan basket ini berlanjut ke luar arena. Dia, kata Yuki, sering sekali nongkrong di rumah Sandi. Bahkan tak jarang menginap di rumahnya. "Sandi memang lebih suka ngumpulin teman-teman di rumahnya," kata Yuki. Ibu Sandi, Rachmini Rachman, yang dikenal sebagai Mien Uno, sepertinya memang lebih suka anak laki-lakinya itu lebih sering main di rumah sehingga gampang mengawasi.

Sandi pun anak yang penurut dan patuh kepada orang tuanya. "Dia memang anak mami. Dia respek banget kepada ibunya. Saya nggak pernah lihat dia membantah ibunya," kata Yuki soal sahabatnya itu. Mien Uno yang dia kenal, menurut Yuki, memang tipe seorang ibu pendidik. Mien yang lulus dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) di Bandung itu memang sangat disiplin. Hal itu lah yang diajarkan kepada kedua anaknya, Indra Cahya Uno dan Sandiaga.

Dari kecil Sandi sudah terbiasa dibatasi menonton televisi. Seperti Sandiaga menuturkan dalam bukunya, Kerja Tuntas, Kerja Ikhlas, saat masih kecil, dia dan kakaknya sudah terbiasa dengan kata 'tidak boleh' dan 'lakukan ini sebelum itu'. Beda dengan ibunya, Mien Uno, yang amat 'tertib' dan disiplin, sang ayah, Razif Halik 'Henk' Uno, lebih rileks. "Pak Henk orangnya cuek, sangat santai. Dengan kami biasa ngomong lu-gua," kata Yuki, beberapa hari lalu. Dalam banyak hal, menurut Yuki, sahabatnya itu memang lebih mirip dengan sang ibu, Mien Uno.

Nur malu setengah mati karena naik mobil itu di depan teman-temannya. Dia sampai tiarap saat kami berpapasan dengan seorang cowok yang suka kepadanya

Sandiaga Uno

Sandiaga Uno bersama Yuki Hidayat
Foto : dok.pribadi Yuki Hidayat

Namanya anak remaja, tentu tak seru jika tak ada cerita romansanya. Kisah itu bermula di SMP Negeri 12. Saat itu, teman-teman bermain Sandi sudah banyak kenal yang namanya pacaran. Sandi yang cenderung kurang agresif dalam urusan dengan lawan jenis masih santai-santai saja meski belum punya pacar.

Yuki dan teman-temannya lah yang sibuk memanas-manasi Sandi agar mulai mencari pacar. "Saya juga ikut nyomblangin," kata Yuki. Kebetulan dia dan Sandi punya teman SMP bernama Ali Marzuki. Ali ini anak keluarga kaya raya. Ayahnya, Abdul Aziz Marzuki, merupakan tuan tanah besar di kawasan Jakarta Selatan. Ali punya tujuh saudara, dua kakak perempuan dan lima adik. Salah satu adiknya adalah Nur Asia.

Ayah Nur, kata Yuki, kabarnya sangat galak. Biasanya, Yuki dan beberapa teman menemani Sandi saat hendak 'apel' ke rumah Nur. "Kami pura-pura main dengan kakaknya padahal yang diincar sebenarnya adiknya," ujar Yuki. Saat itu Nur juga bersekolah di SMP Negeri 12 Jakarta. "Dia anak orang kaya dan suka dandan. Jadi sudah seperti sosialita."

Ada satu kisah lucu Sandi saat berpacaran dengan Nur Asia. Suatu kali Sandi meminjam mobil ibunya untuk menjemput pacar itu. Ini mobil bukan yang biasa dikendarai ibunya, melainkan mobil untuk usaha jasa kebersihan. Di bak belakang mobil Mitsubishi L-300 itu masih penuh dengan rupa-rupa alat bersih-bersih. "Nur malu setengah mati karena naik mobil itu di depan teman-temannya. Dia sampai tiarap saat kami berpapasan dengan seorang cowok yang suka kepadanya," Sandi menuturkan di bukunya. Sandi sendiri sebenarnya tak ambil pusing. "Tapi karena Nur, saya tidak bisa untuk tidak peduli."

Nur menjadi cinta dan kisah asmara Sandi yang pertama. Sandi dan Nur sebenarnya dua orang dengan banyak beda sifat. Nur tipe gadis yang ceplas-ceplos, tidak hobi membaca, suka belanja, dan tak terlalu ambisius di sekolah. Sementara Sandi cenderung menahan bicara, hobi membaca buku dan mengejar kesempurnaan nilai di sekolah. Nur tumbuh di keluarga muslim Betawi yang amat taat, sementara Sandi besar di keluarga muslim yang jauh lebih longgar.

Namun rupanya, justru dengan Nur yang beda sifat, Sandiaga menemukan kecocokan. Menurut Yuki, selama 13 tahun, hubungan Sandi dan Nur sempat putus-sambung. Sandi juga sempat berpacaran dengan orang lain. Walaupun akhirnya selalu kembali lagi kepada Nur Asia, cinta pertamanya. Hingga akhirnya Sandi memutuskan menikahi Nur di Masjid Al-Falah, Orchard Road, Singapura, pada 28 Juli 1996. Resepsi pernikahan mereka digelar di Hotel Four Seasons, Jakarta.

Sandiaga Uno, kedua dari kiri, Nur Asia, ketiga dari kiri, dan Yuki Hidayat, ujung kanan
Foto : dok. pribadi Yuki Hidayat

Pesta usai, Sandi dan Nur berbulan madu keliling Eropa sebagai hadiah dari Edwin Soeryadjaya, putra William Soeryadjaya, pendiri konglomerasi Astra International. Masa-masa indah itu amat singkat. Hari kelahiran putri pertama yang mestinya jadi sumber kebahagian itu justru menjadi awal datangnya mendung dan badai dalam kehidupan Sandiaga Salahuddin Uno. Anneesha Atheera Uno lahir di Rumah Sakit Hoag, Newport Beach, California, pada 25 Juli 1997.

Dulu teman-teman suka meledek dia sebagai anak mami. Sekarang siapa yang menyangka dia jadi seperti itu

"Saat itu krisis ekonomi di Asia sudah dimulai dan perusahaan tempat saya bekerja mulai kena dampaknya.....Sejak pertengahan tahun itu saya tidak lagi menerima gaji," Sandi menuturkan kisahnya dikutip dalam buku, Kerja Tuntas, Kerja Ikhlas. Padahal belum lama Sandiaga yang saat itu baru 28 tahun, punya karir yang amat menjanjikan dengan gaji besar di luar negeri.

Setelah lulus master dari George Washington University, Sandi diajak bergabung dengan Sea Power Asia Investment Limited, perusahaan investasi milik Edward Soeryadjaya, kakak Edwin Soeryadjaya. Perusahaan itu berkantor di Singapura. Dari Sea Power, dia pindah ke MP Holding Limited, sebelum terbang lagi ke Calgary, Kanada, untuk bergabung dengan NTI Resources. Jabatannya Vice President. Dia masih sangat muda dan punya gaji besar.

Tapi bak panas setahun dihapus hujan sehari, itu lah yang terjadi dengan hidup Sandi kala itu. Perusahaannya ambruk. Dia dipecat dari pekerjaan. Tabungannya, bahkan sebagian rumah milik mertua, amblas lantaran investasinya ikut tandas dilibas krisis. Sandi yang masih pengantin muda mati-matian dengan segala cara berusaha bertahan hidup di Singapura.

Untung lah, dia punya istri Nur Asia yang tetap setia kendati suaminya tak lagi bekerja. "Nur terpaksa mulai menjual perhiasannya," kata Sandi. Namun uang hasil penjualan perhiasan itu hanya bisa menyambung nafas selama beberapa hari atau pekan saja di negeri orang. Apa boleh buat, meski sangat berat, Sandi terpaksa memboyong istri dan bayinya pulang ke rumah orang tuanya.

Pengangguran dan tak punya uang, Sandi benar-benar mulai lagi dari nol di Jakarta. Tak dikira, beberapa tahun kemudian, dia telah menjadi pengusaha muda yang kaya raya. Dan kini, Sandiaga maju bertarung memperebutkan kursi Wakil Presiden mendampingi Prabowo Subianto. "Dulu teman-teman suka meledek dia sebagai anak mami. Sekarang siapa yang menyangka dia jadi seperti itu," kata Yuki, sobatnya sejak kecil, beberapa hari lalu.


Reporter: MELISA MAILOA
Redaktur: PASTI LIBERTI
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE