INTERMESO


SANDIAGA, ROSAN, DAN DAHLAN

"Saya juga tahu Sandi. Pengusaha itu jarang yang pandai bicara. Pandainya cari uang."

Rosan Roeslani (kedua dari kiri) bersama Sandiaga Uno (kanan) dan Erick Thohir (tengah)

Foto: Rengga Sancaya/detikcom

Selasa, 19 Maret 2019

Ada tiga murid SMA Pangudi Luhur (PL) Jakarta pada pertengahan 1980-an. Syahdan, mereka menjadi sahabat tak terpisahkan sejak saat itu. Ketiga murid SMA PL itu adalah Sandiaga Salahuddin Uno, Rosan Perkasa Roeslani, dan Panji Gurnadi Danuhusodo.

Mereka sebenarnya punya sifat dan gaya berbeda. Tapi mereka merasa nyambung dan cocok. "Kami biasa jalan-jalan keluar malam atau nonton bareng," Panji menuturkan persahabatannya dengan Sandi dan Rosan, beberapa hari lalu. Mereka bertiga bukan berasal dari keluarga yang kaya raya, tapi jelas jauh dari kekurangan. Ayah Sandi bekerja sebagai insinyur di perusahaan minyak Caltex, sementara ayah Rosan seorang dokter yang lumayan terkenal.

Rosan adalah anak gaul pada zamannya. Dia orang yang luwes dan beredar ke mana-mana. Teman laki-laki maupun teman perempuannya sama banyak. "Pernah suatu kali Rosan sampai bingung ingin mengajak siapa lagi untuk ke bioskop karena nyaris semua gadis-gadis populer pada masa itu sudah pernah dia ajak," kata Sandi soal sahabatnya itu, dikutip dalam bukunya, Kerja Tuntas, Kerja Ikhlas. Sandi merupakan remaja yang serba-'tertib'. Dia jago main bola basket dan pintar di sekolah. Sedangkan Panji orang yang kalem.

Setelah lulus dari SMA PL, ketiganya menempuh jalan berbeda. Sandi, yang mendapat beasiswa dari perusahaan tempat ayahnya kerja, berkuliah di Wichita State University, Amerika Serikat. Rosan pun terbang ke Amerika untuk kuliah di Oklahoma State University di Kota Stillwater. Sementara itu, Panji melanjutkan sekolah ke jurusan manajemen di Universitas Trisakti.

Tiga sahabat itu berkumpul lagi setelah beberapa tahun lulus kuliah. Sandi bersama Rosan merintis usaha dengan mendirikan Republik Indonesia Funding atau disingkat RIFAN (belakangan menjadi Recapital Advisors). Bertahun-tahun kemudian, perusahaan ini beranak pinak dan jadi perusahaan besar. Panji bergabung dengan salah satu perusahaan Sandi beberapa tahun kemudian.

Sekarang urusan politik membuat mereka kembali bersimpang jalan. Saat Sandi maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto, Rosan malah menjadi Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional untuk pasangan Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin. Tapi, menurut Panji, beda pilihan politik tak merenggangkan persahabatan mereka. "Tak ada yang berubah. Hubungan kami masih sama seperti dulu. Kami kalau bertemu masih ketawa-ketawa," ujar Panji. Dia dan Sandi, kata Panji, sangat paham alasan Rosan punya pilihan politik berbeda. Panji sendiri tetap menjadi orang kepercayaan Sandi selama kampanye. "Saya sudah mundur dari perusahaan sejak Pemilihan Gubernur DKI lalu. Sandi meminta saya membantu dia full time."

Rosan Perkasa Roeslani, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia, memberikan penghargaan kepada Presiden Joko Widodo
Foto: Rengga Sancaya/detikcom

Rosan sepertinya sungkan untuk banyak bicara soal sahabatnya Sandiaga. Tapi, dalam sejumlah kesempatan, Rosan berulang kali menekankan bahwa perbedaan politik tak merenggangkan persahabatannya dengan Sandiaga Uno. Mereka pun tetap berkongsi di Recapital. "Masih," jawab Rosan saat ditanya apakah Sandi masih punya saham di Recapital, beberapa hari lalu.

Dulu, siapa yang menyangka dua sahabat dari SMA PL ini bisa jadi seperti sekarang, menjadi dua pengusaha kaya raya, masuk daftar orang-orang terkaya Indonesia, dan menjadi calon wakil presiden. Sandi, misalnya, saat lulus kuliah tak punya bayangan bakal menjadi pengusaha. Lulus summa cum laude dari kampus di Amerika Serikat, dia hanya ingin menempuh karier seperti ayahnya. Menjadi karyawan yang sukses dengan gaji besar. Bayangan itu mulai pupus setelah dia dipecat dan jadi pengangguran pada 1997.

"Baik Rosan maupun saya memang tidak memiliki trah pengusaha sedikit pun di keluarga kami. Kami berdua juga sama sekali tak punya pengalaman membangun usaha," Sandi menuturkan dalam bukunya. Modal mereka, kata Sandi, hanya 'sok tahu' saja. Kebetulan, sebelum pulang ke Indonesia sebagai pengangguran, dia pernah bekerja di perusahaan investasi di luar negeri. Saat itu ekonomi Indonesia sedang tersungkur dihantam krisis dan banyak perusahaan 'pingsan', bahkan 'sekarat'. Sandi dan Rosan merasa mereka bisa membantu pemilik perusahaan membangkitkan lagi usahanya.

Berbulan-bulan menjajakan jasanya, tak ada perusahaan yang mau memakai jasa konsultan Sandi dan Rosan. Padahal duit di dompet makin tipis. Untuk kantor, mereka hanya mampu menyewa ruang sempit bekas salon di Gedung Tifa. Agar calon klien tak melihat kantor mereka yang butut, Sandi dan Rosan sebisa mungkin menghindarkan klien bertamu ke kantornya. "Kalau klien keberatan bertemu di kantor mereka, kami mencari tempat netral sejauh-jauhnya dari kantor merah muda kami," ujar Sandi.

Baik Rosan maupun saya memang tidak memiliki trah pengusaha sedikit pun di keluarga kami. Kami berdua juga sama sekali tak punya pengalaman membangun usaha."

Sandiaga Uno

Rosan Roeslani bersama Erick Thohir, Presiden Kehormatan Inter Milan Massimo Moratti, dan Handy Soetedjo
Foto: dok. Getty Images

Saat bertamu ke kantor Jawa Pos beberapa bulan lalu, Sandi banyak bercerita tentang perkenalannya dengan Dahlan Iskan, sekitar 20 tahun silam. Dahlan, yang kini mulai sakit-sakitan, merupakan orang yang membesarkan Jawa Pos, menyulapnya dari koran lokal Surabaya yang hampir mati menjadi konglomerasi yang punya media di mana-mana.

Kepada Hidayat Jati, bos grup Jawa Pos kini, Sandi bercerita soal 'bantuan' Dahlan pada saat dia masih 'pengusaha kemarin sore'. Menurut Sandi, Jawa Pos saat itu sedang mengalami kesulitan setelah membangun Gedung Graha Pena di Surabaya. Lewat keluarga Eric Samola, bos Grafiti Pers, pemilik saham terbesar Jawa Pos, diaturlah pertemuan Sandi dengan Dahlan.

Namun satu jam lebih menunggu Dahlan, Sandi tak kunjung dipanggil. Hingga akhirnya Dahlan keluar dari ruangan dan masuk lift. Dia buru-buru mengejar dan ikut masuk ke dalam lift. "Di dalam lift saya memperkenalkan diri. Saya menjelaskan apa yang saya ketahui mengenai masalah yang dihadapi anak perusahaan Jawa Pos," kata Sandi. Dia juga menjelaskan solusi yang dia tawarkan dan komitmen bahwa dia tak perlu dibayar jika tak berhasil mengatasi masalah Jawa Pos. Pintu lift terbuka dan mereka bersalaman tanda bersepakat.

Jawa Pos, kata Sandi, menjadi klien pertamanya sebagai pengusaha. Beberapa bulan setelah kesepakatan itu, Sandi menerima invoice senilai US$ 10 ribu dari Dahlan Iskan. Meski uang itu segera ludes untuk menyelesaikan rupa-rupa pembayaran, Sandi masih menyimpan nota pembayaran dari Jawa Pos itu sampai sekarang.

Dahlan Iskan tak menanggapi permintaan untuk wawancara soal Sandiaga. Namun lewat blognya--disway.id--Dahlan menyinggung soal Sandi beberapa kali. "Saya juga tahu Sandi. Pengusaha itu jarang yang pandai bicara. Pandainya cari uang. Atau memimpin perusahaan," Dahlan menulis. Soal mencari uang, Sandiaga sudah membuktikan bahwa dia memang ahlinya. Baik Recapital maupun Saratoga Investama Sedaya, dua induk perusahaan yang sahamnya sebagian dia miliki, sama-sama tumbuh menggurita.

Sandiaga Uno
Foto: Ari Saputra/detikcom

Pekerjaan dari Dahlan Iskan menjadi 'pijakan' pertama dalam perjalanan Sandi menjadi pengusaha. Bagaimana Sandi kemudian menjadi pengusaha besar, sedikit-banyak ada andil keluarga William Soeryadjaya, pendiri konglomerasi Astra International, di sana.

Sandi mengenal keluarga Soeryadjaya lewat perantaraan ibunya, Mien Uno. Astra merupakan pelanggan lama John Robert Powers, sekolah kepribadian yang dikelola ibunya. Setelah Sandi lulus kuliah dari Amerika, Edward Soeryadjaya, putra William, menawarinya bergabung dengan Bank Summa. Bank milik Edward ini pulalah yang memberinya beasiswa untuk kuliah master di George Washington University, Amerika Serikat.

Saya sungguh tidak nyaman jika dihadap-hadapkan dengan Sandi."

Belum juga tuntas kuliah Sandi di Amerika, Bank Summa kolaps lantaran terjerat kredit macet sangat besar dan akhirnya dilikuidasi oleh Bank Indonesia. Meski Bank Summa tamat riwayatnya dan William Soeryadjaya kehilangan Astra demi menyelamatkan Summa, hubungan Sandi dengan keluarga itu tak lantas putus. Sebelum akhirnya mendirikan Recapital dan bergabung dengan Edwin, adik Edward, di Saratoga Investama, Sandi sempat bekerja di Sea Power Asia Investment Limited, perusahaan investasi milik Edward.

Makanya Edward merasa dekat dengan Sandi. "Sandi itu anak saya," kata Edward kepada RMOL beberapa tahun lalu. Entah apa yang terjadi, belakangan hubungan keduanya memang 'tak enak' lagi. Semua itu bermula dari saling gugat perkara sertifikat tanah untuk Depo Balaraja di Tangerang. Melalui PT Siwani Makmur Tbk, Edward melaporkan PT Pandan Wangi Sekartaji, yang sempat dipimpin oleh Sandiaga, ke Polda Metro Jaya atas dugaan pemalsuan dan penggelapan dokumen. Namun gugatan Edward kandas di Mahkamah Agung. Menurut Edward, pihaknya sebenarnya sudah berusaha menempuh jalan damai lantaran tak ingin bersengketa dengan Sandi. "Saya sungguh tidak nyaman jika dihadap-hadapkan dengan Sandi."

Bagaimana hubungan Edward dan Sandi kemudian tak jelas benar. Dalam bukunya, Sandi tak bicara sedikit pun soal perkaranya melawan Edward. Dia juga tak menanggapi pertanyaan soal hubungannya dengan Edward sekarang. Sayangnya, Edward pun tak bisa dimintai tanggapan hingga akhir pekan lalu. Atilah Soeryadjaya, istrinya, mengatakan Edward baru masuk rumah sakit lantaran terkena demam berdarah.


Reporter: Melisa Mailoa
Redaktur: Pasti Liberti
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE