INTERMESO

Milenial Galau,
Milenial Cuek

"Yang golput itu menurutku milenial labil. Kita mau buat perubahan di Indonesia, tapi kita nggak mau aksi."

Ilustrasi: Edi Wahyono

Senin, 25 Maret 2019

Sejak dinyatakan lulus dari SMA tahun lalu, Muhamad Mufid jadi punya banyak waktu luang. Mufid belum bekerja ataupun kuliah. Ia sedang menunggu pengumuman beasiswa ke salah satu universitas favoritnya di Turki. Selama menunggu pengumuman beasiswa itu, Mufid jadi penonton setia debat calon presiden-calon wakil presiden.

Laki-laki berusia 18 tahun ini awalnya rutin menyaksikan debat bukan karena tertarik pada pasangan nomor urut 01 maupun 02. Mufid memang punya hobi berdebat. Mufid tak ragu mendebat guru SD-nya jika dirasa ada informasi yang menurut dia kurang pas. “Aku memang senang debat, suka lihat debat. Sejak SD suka banget mendebat guru pas mereka lagi ngajar. Misalnya kalau ada yang salah atau nggak sesuai materi, ya dibenerin,” ujar Mufid.

Sudah tiga kali debat capres-cawapres dilaksanakan, tapi sebagai pemilih pemula, Mufid masih merasa belum puas dengan jawaban kubu Jokowi maupun lawannya, Prabowo Subianto. “Aku malah geregetan nonton debat, terutama yang debat cawapres kemarin. Gemes banget, sama-sama nggak bisa saling serang, kayak nggak tuntas,” tutur laki-laki yang berdomisili di Solo, Jawa Tengah, ini.

Mufid merasa debat pemilihan Presiden Amerika Serikat yang ia tonton beberapa tahun silam lebih kompleks dan seru. Debat di Negeri Paman Sam memang menggunakan format yang berbeda dengan Indonesia. Salah satunya format debat town hall, di mana peserta debat akan menyampaikan gagasan kepada masyarakat dan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh mereka. Dengan format debat ini, moderator bisa lebih menggali jawaban setiap calon.

Jokowi saat mengikuti tur ke Sukabumi
Foto: dok. Kementerian PUPR

Pemilihan presiden tinggal beberapa hari lagi, tapi Mufid masih 'galau' menentukan pilihan yang akan dia coblos di bilik suara. Bagi Mufid, jawaban capres dan cawapres belum bisa memuaskan harapannya, terutama di bidang pendidikan, isu yang menjadi perhatiannya. “Aku sebetulnya masih sama-sama kurang cocok dengan kedua capres. Selera milenial mungkin beda kali, ya,” gurau Mufid.

Ketika SMA, Mufid pernah mendapat kesempatan menjadi Ketua Konsulat Forum Musyawarah Anak Islam Se-Jawa Tengah. Lembaga itu awalnya dibentuk berkat kerja sama antarsekolah agar mereka bisa saling mendukung dalam berbagai bidang kesiswaan. Selama setahun Mufid bersama temannya banyak melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah. Mufid melihat banyak kondisi sekolah yang masih memprihatinkan.

Aku sebetulnya masih sama-sama kurang cocok dengan kedua capres. Selera milenial mungkin beda kali ya."

“Banyak sekolah yang nggak terurus oleh pemerintah, padahal sekolah negeri. Gurunya ngajar walaupun beberapa kali nggak dibayar, saat ujian nasional harus datang ke sekolah lain karena nggak ada fasilitas komputer,” tutur Mufid, yang selama SMA aktif ikut kegiatan organisasi sekolah. Ia pernah menjabat anggota OSIS dan Wakil Ketua Pramuka di sekolahnya.

Mufid jadi ragu memilih pasangan nomor urut 01 karena, menurut pengamatannya, banyak janji memajukan bidang pendidikan tak kunjung direalisasikan. “Saya kecewa karena banyak janji yang nggak ditunaikan,” kata Mufid.

Dia juga masih ragu memilih pasangan calon nomor urut 02 karena ia melihat Prabowo banyak terlibat skandal, terutama saat ia masih aktif di dinas militer. “Pak Prabowo memang pernah memimpin pasukan yang keras. Tapi sewaktu beliau menjadi jenderal, rekam jejaknya jelek. Nggak tahu itu fitnah atau bukan. Kalau itu fitnah, mungkin aku akan pilih nomor 02. Tapi sampai sekarang masih kurang cocok, harus digali lagi informasinya,” ujarnya.

Calon residen Prabowo Subianto
Foto: dok. Prabowo-Sandi Media Center

Sama seperti Mufid, Devia Yustri Rusmayanti masih galau menentukan pilihan. Sementara Mufid khawatir perihal pendidikan, Devia justru lebih pusing mengenai masalah lapangan pekerjaan. Tak lama lagi, mahasiswi semester VI di Universitas Negeri Jakarta akan menamatkan masa kuliahnya. Devia tidak bermimpi punya pemimpin yang dapat membuat Indonesia menjadi negara dengan ekonomi terkuat mengalahkan Amerika Serikat dan China. Ia hanya menginginkan pemimpin yang dapat membuka banyak lapangan pekerjaan. Apalagi di tahun 2020, Indonesia akan dihadapkan pada bonus demografi. Mencari pekerjaan yang katanya kini sudah susah bakal tambah sulit.

Sampai debat kedua dilaksanakan, saking bingungnya, Devia sempat kepikiran tidak memilih alias golput, golongan putih. “Tapi lama-lama aku berubah karena nyoblos kan cuma lima tahun sekali, jadi harus benar-benar mantapin hati buat milih pasangan calon nomor 01 atau 02 karena satu suara berharga banget,” tutur Devia, yang akan nyoblos pertama kali di pilpres mendatang.

Setelah debat cawapres kemarin, Devia sempat kepincut dengan gaya berdebat Sandiaga Uno. “Pak Sandi kan pengusaha juga, siapa tahu dia bisa buka lowongan pekerjaan buat kami, apalagi yang nyoblos ini kan banyak generasi milenialnya. Ditambah lagi Pak Sandi kan masih muda, ganteng juga lagi,” kata perempuan berusia 21 tahun ini. Devia justru menyangsikan keputusan capres nomor urut 1, Joko Widodo, memilih wakil yang usianya terpaut jauh. “Aku jadi bingung, sebetulnya untuk mencalonkan jadi cawapres ada batas usianya nggak sih? Soalnya kan Pak Ma'ruf sudah tua.”

Tapi pasangan Prabowo-Sandi pun, menurut dia, punya kekurangan. Perempuan asal Bogor ini melihat Prabowo Subianto terlihat amat ambisius karena tetap mencalonkan diri meski gagal pada Pemilu 2014. “Dia juga punya kelemahan. Dia itu bawahnya banyak orang militer. Kata bunda, dia bakal kuat banget kalau bawahannya militer. Tapi aku suka sama sikap tegasnya,” kata mahasiswi jurusan manajemen pendidikan ini.

Semenjak debat ketiga, sementara ini Devia memutuskan memilih pasangan nomor 02. “Baru kepikiran nomor 02, tapi belum matang-matang banget. Mungkin aku bisa ganti jadi Jokowi,” kata dia.

Festival SatuIndonesia mendukung Jokowi
Foto: Rengga Sancaya/detikcom

Ada anak muda seperti Mufid dan Devia yang masih galau, ada pula milenial cuek seperti Kevin Harianto. Laki-laki asal Semarang ini justru terlihat masa bodoh dengan pilpres tahun ini. Sikapnya itu bertolak belakang dengan ayahnya, yang menjadi penggemar setia Indonesia Lawyers Club, program di salah satu stasiun televisi yang membahas rupa-rupa isu politik dan hukum terkini. Pada saat ayahnya serius menonton Karni Ilyas, Kevin, yang baru berusia 21 tahun, memilih ngendon di kamarnya membaca berita soal otomotif. Toh, ayahnya juga tidak menuntut anak sulungnya itu ikut memilih.

Mahasiswa semester akhir yang hobinya main skateboard di kawasan Simpang Lima ini juga tidak gemar membahas perihal pilpres bersama teman-temannya. Cuma Kevin sempat kepikiran memilih paslon nomor 01. Alasannya, ia pernah sekali mengikuti pemberitaan mengenai kasus Ratna Sarumpaet. “Aku nonton waktu Pak Prabowo klarifikasi soal Ratna Sarumpaet, di situ aku lihat Prabowo blunder. Tapi sejujurnya aku juga nggak tahu, kayaknya aku golput saja,” kata Kevin dengan enteng.

Aku nonton waktu Pak Prabowo klarifikasi soal Ratna Sarumpaet, di situ aku lihat Prabowo blunder. Tapi sejujurnya aku juga nggak tahu, kayaknya aku golput saja."

Kevin mengutip ucapan Pandji Pragiwaksono, komika yang pernah mengunggah video opininya mengenai golput di akun YouTube. Video berjudul Golput Adalah Hak itu diunggah Pandji pada November 2018. “Golput bisa benar kalau dia punya alasan yang kuat, orang yang memilih bisa salah kalau dia memilih karena ikut-ikutan,” kata Pandji. Namun golput bukan berarti tidak datang ke tempat pemilihan suara (TPS). “Kalau mau golput, bukan tidak berangkat ke TPS. Tetap berangkat, kemudian rusak kertas suara supaya tidak sah. Kalau nggak, kertas suara lu dipakai orang.”

Pandangan ini justru berbeda dengan pendapat Mufid meengapa milenial mesti memilih. Walaupun masih bingung, ia tetap keukeuh akan memilih. “Yang golput itu menurutku milenial labil. Kita mau buat perubahan di Indonesia tapi kita nggak mau aksi. Pemerintah sudah kasih regulasi di mana kita mau mengubah sesuatu dengan pemilu, tapi kita malah gelap mata dan nggak mau memilih keduanya," ujar Mufid.


Reporter/Penulis: MELISA MAILOA
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE