INTERMESO

Ketika Milenial 'Gemas' Kepada Prabowo

"Aku seperti ngobrol sama papaku. Ada rasa dia bisa melindungi kita,
itu vibe yang aku dapat."


Ilustrasi: Edi Wahyono

Minggu, 24 Maret 2019

Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto baru saja terlibat dalam perbincangan hangat dengan sekelompok pemuda. Mereka tergabung dalam Gerakan Milenial Indonesia (GMI). Kelompok ini memang sering mengadakan dikusi, membahas berbagai keresahan anak milenial dengan mengundang sejumlah pembicara. Ketika mengetahui Prabowo akan ikut dalam diskusi, mereka menjadi semakin tidak sabaran.

Baru saja Prabowo meletakkan mikrofon di atas meja, anak milenial yang usianya tidak lebih dari 35 tahun itu segera menyerbu. Mereka tak ingin menyia-nyiakan kesempatan berfoto bersama dengan sang idola. GMI memang telah mendeklarasikan dukungannya terhadap pasangan calon presiden-calon wakil presiden nomor urut 02, Prabowo dan Sandiaga Uno, pada Pemilihan Presiden 17 April nanti.

Sebelum kamera ponsel mengambil gambar, mereka kompak berpose dengan jari telunjuk dan jempol membentuk hati ala Korea. Gaya foto yang paling digemari fans K-Pop maupun pencinta drakor alias drama Korea. Prabowo, yang kala itu diapit anak-anak muda, pun tak mau kalah gaya.

“Aduh, Pak Prabowo gemes banget sih bisa ngikutin kita bikin simbol Saranghae. Lucu aja. Soalnya, selama ini kita lihat dia seolah sosok yang keras, ternyata pas aku ketemu langsung nggak juga tuh,” kata Noor Andaru Dianpranaya, mengungkapkan kesannya saat bertemu dengan Prabowo beberapa waktu lalu.

Andaru saat itu merasa makin dekat dengan sosok Prabowo. Terutama ketika Prabowo melawak dan bercerita mengenai hobinya yang menyukai film sejarah. Juga soal bagaimana dirinya sanggup bicara semalam suntuk jika sudah disuguhi kopi. “Aku seperti ngobrol sama papaku. Ada rasa dia bisa melindungi kita, itu vibe yang aku dapat,” tutur Andaru kepada detikX.

Prabowo Subianto bersama Sandiaga Uno di hadapan pendukungnya
Foto : Rifkianto Nugroho/Detik.com

Meski pemilu pada April mendatang merupakan yang pertama bagi Andaru, perempuan berusia 20 tahun ini telah mantap menjatuhkan pilihannya pada pasangan nomor 02. Padahal enam bulan lalu Andaru masih acuh tidak acuh terhadap kondisi politik di Indonesia. Jangan berharap Andaru tahu soal visi-misi calon presiden dan wakil presidennya. Ia bahkan tidak tahu mengapa harus memilih calon legislatif yang batang hidungnya bahkan tidak pernah dia tahu.

Seumur-umur Andaru belum pernah mengikuti perkembangan politik. Daripada membaca berita mengenai kelakuan anggota DPR, Andaru memilih streaming YouTube, menonton music video BTS, boyband K-Pop kesukaannya. Andaru berada jauh dari bisingnya berita karut-marut politik karena ia menghabiskan masa SMP dan SMA di Singapura. Saat berkuliah pun, Andaru menempuh pendidikan di Northumbria University, Newcastle upon Tyne, Inggris.

“Karena aku pikir politik di Indonesia very dirty, tidak jujur, banyak caci maki dari sana-sini, aku nggak mau ada di dalamnya. Ngapain mikirin politik kalau nggak membawa dampak positif buat aku,” ucap Andaru, yang kembali ke Indonesia pada pertengahan 2017. Meski memegang KTP DKI Jakarta, Andaru juga tidak mengikuti pemilihan kepala daerah karena kondisinya tidak memungkinkan untuk ikutan nyoblos.

Aku pikir politik di Indonesia very dirty, tidak jujur, banyak caci maki dari sana-sini, aku nggak mau ada di dalamnya."

Semakin mendekati pilpres, Andaru belum juga bisa menentukan sikap. Sampai akhirnya Andaru berkenalan dengan Media Center Prabowo Sandi. Bersama teman-temannya belakangan, Andaru, yang mengambil jurusan komunikasi massa dan bisnis, lantas ambil bagian dalam GMI.

“Aku mulai menemukan sesuatu yang menarik dari pasangan nomor 02 ini. Aku juga nggak mau lagi untuk tidak peduli karena aku baru disadarkan dampak keputusan pemerintah terhadap nasib negara. Kalau aku memilih yang tidak tepat, nasib negara ini bagaimana dengan kebijakan yang mereka buat,” kata Andaru, ia kini menjabat sebagai Wakil Koordinator Bidang Media dan Hubungan Eksternal GMI.

Sebagai anak milenial, Andaru khawatir dengan bonus demografi di tahun 2020 hingga 2030. Apalagi ia sering mendengar curhat susahnya mendapat lapangan pekerjaan setelah menamatkan SMA atau kuliah dari teman-temannya. Kalaupun ada, pekerjaannya tidak sesuai dengan minat sehingga jadi sering gonta-ganti tempat bekerja. Teman Andaru yang kebanyakan kuliah di luar negeri juga memutuskan tidak kembali ke Indonesia karena prospek bekerja di luar negeri lebih menjanjikan.

Saat masih kuliah di Northumbria University, Andaru merasakan mudahnya terhubung dengan perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja. Ketika menginjak semester akhir, perusahaan menjemput bola dengan menawarkan mahasiswa yang akan lulus untuk wawancara kerja. Ada semacam bank data berisi informasi prestasi dan pencapaian akademik yang dapat diakses oleh perusahaan. Berkat bank data ini, Andaru sudah mendapat dua tawaran pekerjaan. Namun tawaran itu ia tolak mentah-mentah karena ingin pulang ke Indonesia.

“Pak Sandi selalu bilang peran anak muda amat penting untuk kemajuan negara ini, makanya pasangan calon nomor 02 menyediakan program Rumah Siap Kerja. Lewat sistem ini cara mencari lapangan pekerjaan akan dirombak. Ini terobosan yang bagus. Dengan adanya sistem itu, aku merasa lebih aman aja sih,” kata Andaru.

Suara Milenial untuk Prabowo

Inilah hasil survei dukungan milenial terhadap pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno: 

 1. Roy Morgan : 45,5 persen (usia 17-24 tahun) pada Januari 2019. 

2. LSI Denny JA : 34,5 persen (usia 17-39 tahun) pada Februari 2019 

3. Populi Center : 38,1 persen (usia 17-34 tahun) pada Februari 2019



Belakangan, Hanny Adella Hafiz memilih menjaga jarak dengan kedua orang tuanya. Bukan karena ada masalah yang amat serius, tapi hanya karena soal perbedaan pilihan politik di antara mereka. Ketika seluruh anggota keluarga sedang berkumpul sambil menonton televisi, Hanny memilih streaming YouTube di kamar. Hanny sengaja menjaga jarak, apalagi kalau yang jadi topik obrolannya mengenai pilihan politik. Sementara kedua orang tuanya mendukung pasangan capres-cawapres Joko Widodo dan Ma'ruf Amin, Hanny menjatuhkan pilihan kepada pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

“Waktu mereka tahu kalau aku mau pilih nomor 02, orang tuaku komentarnya, 'Kamu mau kayak 1998 lagi?' Seharusnya cara memberitahukannya nggak seperti itu. Tapi anak itu kan harus mengalah, jadi saya mengalah saja demi menghindari konflik keluarga. Ada pertentangan batin, tapi di hati saja dipendem. Terserah Mama-Papa deh. Mereka keekeuh banget,” tutur perempuan berusia 20 tahun ini.

Begitu tahu Hanny akan diwawancarai detikX, orang tuanya sempat mewanti-wanti agar tidak sembarang berbicara. Hanny sempat menduga orang tuanya khawatir karena mereke berbeda pilihan. “Orang tuaku agak otoriter. Kalau bisa, anaknya ikutin orang tua, Namanya kita sudah dewasa dan bisa berpikir sendiri, jadi saya tetap dengan pilihan saya. Lagian itu pemikiran kuno karena tugas mahasiswa menjadi penyeimbang pemerintah, selama kritiknya membangun, nggak ada masalah,” ujar anak pertama dari dua bersaudara ini.

Hanny jadi terasah untuk berpikir kritis dan tidak apatis semenjak sering bergabung dalam kegiatan kampus di Universitas Indonesia, Depok. Selama satu periode jabatan, ia pernah menjabat sebagai salah satu anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa atau DPM. Tugasnya mengawasi kinerja Badan Eksekutif Mahasiswa atau BEM. Sama seperti pilpres, kampusnya juga mengadakan Pemilihan Raya untuk menentukan ketua BEM.

“Di organisasi itu, aku juga jadi mempelajari miniatur politik dari universitas. Mirip-miriplah dengan politik yang ada di Indonesia. Kalau temanku yang nggak ikut organisasi seperti ini, mereka partisipasinya kurang. Dan mereka cenderung hanya memikirkan urusan akademis saja,” kata Hanny, yang sedang menempuh semester akhir di jurusan administrasi kantor dan sekretaris.

sandiaga Uno, tengah, berlari bersama Agus Harimurti Yudhoyono
Foto : dok. Prabowo Sandi Media Center

Karena tak ingin salah pilih, Hanny rutin mengikuti perkembangan pemberitaan mengenai Pemilihan Presiden dari media massa. Hanny juga rajin mencari tahu  visi misi kedua pasangan. Awalnya Hanny juga sepakat dengan orang tuanya untuk kembali memilih Jokowi. Apalagi mahasiswa Universitas Indonesia, Depok, ini melihat banyak kemajuan terutama dalam bidang infrastruktur.

Tapi setelah melihat performa debat Jokowi dan Kiai Ma'ruf, Hanny justru berbalik arah. “Beliau saat debat sangat timpang dengan pasangan 2. Kalau pasangan 2 saya lihat murni keluar dari otak, nggak pakai baca, berani menatap audiens. Kalau pasangan 1 kok baca terus, kenapa ya?” kata Hanny bertanya-tanya.

Setahu saya paslon 2 ada masa lalu yang kurang bagus, tapi saya baca di internet,Pak Prabowo menguasai 8 bahasa

Semenjak rutin mengikuti debat Pilpres, perempuan asal Bogor ini jadi aktif menelusuri segala informasi mengenai Prabowo dan Sandi. Termasuk ketika ia menemukan video mengenai perbandingan kemampuan bahasa Inggris Jokowi dan Prabowo. Hanny menilai kemampuan berbahasa asing Prabowo lebih baik ketimbang Jokowi. Itulah yang menjadi nilai plus di mata Hanny. Hanny semakin kepincut setelah mengetahui bahwa Sandiaga lulus dari Wichita State University, Amerika Serikat, dengan predikat summa cum laude.

”Setahu saya paslon 2 ada masa lalu yang kurang bagus, tapi saya baca di internet, Pak Prabowo menguasai 8 bahasa. Sandi juga lulusan luar negeri, saya merasa ini sosok presiden yang benar-benar dibutuhkan Indonesia, smart dan berwawasan internasional,” kata Hanny yang bisa berbicara dalam bahasa Inggris, Mandarin dan Jepang ini. “Tapi ya balik lagi semua orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mungkin Pak Jokowi bahasa Inggrisnya kurang tapi kerjanya masif.” 

Sebagai generasi milenial yang mendukung paslon nomor dua, Hanny berharap agar Prabowo dan Sandi bisa menaikan derajat Indonesia di mata dunia. “Saya ingin punya presiden yang bisa membawa Indonesia di mata internasional. Karena presiden wajahnya indonesia,” tuturnya.


Reporter/Penulis: MELISA MAILOA
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE