INTERMESO

BANGKIT BERSAMA GRAB

"Saya optimistis sekali bahwa saya akan mampu membiayai anak saya sampai lulus S2 dengan full total di Grab ini."

Foto :  dok. Grab

Jumat, 26 April 2019

Barangkali seperti ini lah seharusnya seorang pengusaha. Dulu, Elva Masfufa sempat punya usaha jasa transportasi. Perusahaannya khusus menangani antar jemput awak pesawat beberapa maskapai.Usaha itu lancar jaya dan sempat memberikan tambahan penghasilan lumayan untuk keluarganya.

Seperti semua usaha, selalu muncul pesaing yang bisa mengancam usaha. Sayangnya, kali ini bisnis Elva jadi pihak yang 'kalah'. Lantaran terus merugi, dia terpaksa menutupnya. Tapi namanya bukan pengusaha jika sekali kalah bersaing terus berputus asa dan menyerah. Apalagi dia masih muda. Baru 28 tahun. Masih punya banyak serep semangat, tenaga, dan ide-ide segar.

Grab lah yang membukakan pintu peluang usaha baru. Saat Elva mulai merintis usaha baru, Salad Buah by Noel Kitchen Resto, setahun lalu, jaringan Grab beserta promo-promonya, melapangkan jalannya mengembangkan bisnis. Elva mulai berjualan salad buah dari rumahnya di kota Tangerang, Banten.

“Awalnya satu dua orang yang datang, tapi kok belakangan makin ramai, mungkin karena banyak promo dari Grab,” kata Elva. Dari satu tempat, usaha Elva terus melebar. Hanya dalam setahun, dia sudah buka cabang baru di Bekasi. “Pas saya buka cabang baru, nggak sampai sebulan, alhamdulillah juga ramai.”

Salad buah dari Noel Kitchen, mitra Grab

Foto : dok. Noel Kitchen

Ilustrasi

Foto : dok. Grab

EatGood di Pontianak

Foto : dok. Grab

Ilustrasi

Foto : dok.Grab

Ilustrasi

Foto : Damar Wicaksono/Detik.com

Ibarat hubungan bunga dan kawanan lebah, barangkali seperti itu pula lah relasi antara Grab dengan mitra-mitra usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Lebah mendapatkan nektar sebagai sumber makanan dari bunga, tapi juga membantu proses penyerbukan. Suatu hubungan saling memanfaatkan dan saling menguntungkan.

Grab, menurut Direktur Pemasaran Grab Indonesia Mediko Azwar, terus menambah mitra warung, kafe dan restoran di pelbagai kota di Indonesia. “Lebih 80 persen mitra kami adalah UMKM. Di mana mereka, setelah kami lihat, mengalami pertumbuhan pendapatan lebih dari 30 persen setelah bergabung dengan GrabFood,” kata Mediko, beberapa waktu lalu. Kini, layanan GrabFood sudah ada di 178 kota di seluruh Indonesia. Grab, menurut dia, fokus pada tiga hal yakni kualitas layanan, tingkat kecepatan dan menghadirkan pedagang lokal yang jadi favorit masyarakat Indonesia.

Lebih 80 persen mitra kami adalah UMKM. Di mana mereka, setelah kami lihat, mengalami pertumbuhan pendapatan lebih dari 30 persen setelah bergabung dengan GrabFood'

Willy Lauranto, pedagang martabak Alovit di Cipondoh, Tangerang, salah satu yang merasakan ‘efek Grab’itu. Dulu, dia hanya mengandalkan para pembeli yang datang langsung ke tokonya. Kalau pun ada pemesanan pengantaran, jumlahnya sangat kecil. Sejak beberapa waktu lalu, dia menjadi mitra GrabFood. Hasilnya segera terasa. “Bertahap sih tapi cepat kenaikannya. ... Mungkin bertambah sekitar 50 persen lah sejak pertama kali pakai Grab,” kata Willy. Sekarang dia rata-rata mendapat 25-35 pesanan martabak per hari lewat GrabFood.

Dalam suatu simbiosis mutualisme, hubungan saling memanfaatkan dan menguntungkan ala lebah dan bunga, kedua pihak tumbuh bersama. Demikian pula antara Grab dengan semua mitranya, para pengemudi maupun para pemilik usaha. Makin besar makin cepat mitranya bertumbuh dan berkembang, makin besar pula Grab. Makanya Grab membuat banyak sekali program untuk membantu mitra-mitranya mengembangkan bisnisnya.

Ilustrasi
Foto : Reuters

Banyaknya promo hanya salah satu di antaranya. Promo-promo dari Grab biasanya langsung terlihat efeknya dari melonjaknya penjualan para mitra Grab. Seperti yang dirasakan Elva. Dalam sehari, dia pernah mengantongi penjualan kotor sampai Rp 2 juta dari pesanan lewat aplikasi Grab. “Dari Grab diskonnya kan luar biasa.....Kami sih pemilik restoran nggak tahu ada promo atau nggak, biasanya driver yang ngomong. Kami terima bersihnya aja,” kata Elva. Satu hal lagi yang dia suka dari Grab. “Jadi promo itu nggak potong keuntungan saya. Enak sih, makanya kalau Grab saya suka.”

Sudah sekian lama bermitra, Elva sudah sangat percaya kepada Grab. Dia sudah membuktikannya seperti apa layanan Grab. “Saya nggak pernah kesel sama Grab.....Karena saya tahu promonya Grab luar biasa, nggak pernah nyusahin restorannya,” kata dia. Elva memang pernah punya pengalaman buruk dengan promo dari aplikasi lain. Dia diminta membayar ‘ongkos’ promo sampai Rp 4 juta.

Namun promo saja tak cukup. Grab berencana menyalurkan pinjaman kepada para mitra sebagai tambahan modal mengembangkan usaha. Besarnya pinjaman lumayan juga, hingga US$ 100 ribu untuk setiap usaha. Di Indonesia, bekerjasama dengan lembaga perbankan seperti BRI Syariah, Grab juga menyalurkan pinjaman kepada mitra-mitranya. Setelah promo dan fasilitas pinjaman, lalu apalagi?

Dari jutaan mitra Grab di Indonesia, dari ujung barat sampai timur sana, pemahaman soal bisnis digital tentu tak merata. Grab rajin menyambangi kota demi kota, menggelar lokakarya untuk para mitranya, bagaimana berjualan yang efektif lewat platform Grab. Pada pertengahan Februari lalu misalnya, Grab menggelar pelatihan pemasaran digital serta fotografi produk dengan tema “Usaha Lancar Bareng GrabExpress” di Lampung.

Sebulan sebelumnya mereka menggelar seminar pemasaran digital dengan tema “Resolusi Sukses Bareng GrabExpress” di Balikpapan. “Pelatihan ini mendukung komitmen berkelanjutan Grab yang terangkum dalam Masterplan 2020 Grab 4 Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia sebagai kekuatan Indonesia di masa depan melalui akselerasi pertumbuhan bisnis e-commerce,” kata Mediko Azwar.

Ilustrasi
Foto : Rifkianto Nugroho/Detik.com

Didirikan pada Juni 2012 oleh Anthony Tan dan Tan Hooi Ling, Grab kini telah menjadi decacorn pertama di Asia. Decacorn adalah perusahaan rintisan dengan nilai sepuluh kali Unicorn atau US$ 10 miliar, lebih dari Rp 142 triliun. Grab telah menerima total suntikan pendanaan senilai lebih dari US$ 4,5 miliar dari SoftBank Vision Fund bersama dengan investor lainnya seperti Toyota Motor Corporation, Oppenheimer Funds, Hyundai Motor Group, Booking Holdings, Microsoft Corporation, Ping An Capital, dan Yamaha Motor.

Saya optimistis sekali bahwa saya akan mampu membiayai anak saya sampai lulus S2 dengan full total di Grab ini

Guyuran investasi itu lah yang melumasi roda-roda bisnis Grab dan menggerakkan jutaan mitra yang tersebar di Indonesia, Singapura, Filipina, dan beberapa negara lain. Satu di antara jutaan mitra itu adalah Didik Suwanto, 47 tahun, dari Petemon, Surabaya. Sudah dua tahun Didik menjadi mitra pengendara mobil Grab.

Saat itu Didik baru pulang setelah sekian lama merantau ke Papua. Tapi dia pulang ke Surabaya tanpa membawa banyak uang lantaran gajinya di proyek sempat tak dibayarkan. Padahal saat itu anaknya baru semester 5 di satu kampus swasta di Yogyakarta. Dia pontang-panting mencari pekerjaan namun tak kunjung dapat. "Tanpa saya sadari dalam proses pencarian itu saya sudah menghabiskan tiga sepeda motor saya jual untuk biaya hidup," kata Didik. Dia tak mau anaknya sampai putus kuliah.

Akhirnya dia mendaftar menjadi pengendara mobil Grab. Tapi karena tak punya kendaraan, dia menyewa mobil. Biaya sewanya rata-rata Rp 4,5 juta per bulan. Dengan modal mobil sewaan itu lah, Didik kini menghidupi keluarganya. "Ya karena termotivasi mencukupi kebutuhan anak saya," kata dia.Biasanya, dia keluar rumah selepas subuh dan narik hingga pukul delapan malam.

Berkat rezeki dari nge-Grab ini, anaknya bisa lulus kuliah. "Alhamdulillah dengan predikat cum laude. Saya bangga sekali," dia menuturkan. Sekarang anaknya akan melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. "Saya optimistis sekali bahwa saya akan mampu membiayai anak saya sampai lulus S2 dengan full total di Grab ini."


Reporter/Penulis: TIM DETIK.COM

[Widget:Baca Juga]
SHARE