INTERMESO


PANDAWA LIMA PENGAWAL SUARA

"Kami khawatir bangsa Indonesia pecah karena misalnya ada pihak yang tidak terima atau merasa dicurangi"

Simulasi Pemilu 2019

Foto : Pradita Utama/Detik.com

Selasa, 16 April 2019

Masyarakat setanah air rasanya tak akan lupa dengan kejadian heboh pada Pemilihan Umum 2014 silam. Hanya beberapa jam setelah waktu pencoblosan usai, kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden saling klaim kemenangan. Konferensi pers dari masing-masing kubu diwarnai berbagai aksi selebrasi, sedangkan masyarakat yang menonton dibuat bengong dan bingung.

Di tengah situasi serba tak menentu, nama situs KawalPemilu tiba-tiba melejit. KawalPemilu berhasil mencuri panggung berkat hasil perhitungan suara yang dikeluarkan tiga hari setelah pencoblosan. Meski bekerja serba cepat, terbukti KawalPemilu bukanlah situs abal-abal yang asal melakukan tabulasi suara.

Hasil data rekapitulasi suara KawalPemilu rupanya hanya berbeda tipis dari perhitungan manual Komisi Pemilihan Umum (KPU). “Saat itu cuma beda 0,14 persen, suara yang didapat Prabowo sedikit lebih tinggi dari pada versi KPU,” Ainun Najib, salah satu pendiri KawalPemilu, menuturkan kepada detikX pekan lalu.

Tidak heran jika awalnya ada pula pihak yang meragukan kredibilitas KawalPemilu. Otak dibalik situs pengawas pemilu ini sebelumnya tidak pernah kelihatan batang hidungnya. Mereka tidak punya markas maupun kantor. Mereka hanya bekerja di balik layar komputer.

Dari lima orang pendiri KawalPemilu yang dijuluki Pandawa Lima, tokoh kisah Mahabharata, hanya Ainun yang sering tampil di depan publik. Sedangkan pendiri lainnya tersebar di berbagai negara. Ada yang bekerja di Belanda, Jerman, sampai Amerika Serikat. Ainun sendiri sekarang punya pekerjaan tetap sebagai Head of Business Data Platform Grab di Singapura.

Kotak suara untuk Pemilu 2019 di Jakarta Utara
Foto : Pradita Utama/Detik.com

Pandawa Lima tergerak setelah melihat kisruh di hari pencoblosan. Tanpa berpanjang-panjang, Ainun dan teman-temannya yang paham teknologi informasi segera membuat situs independen untuk tabulasi suara.

“Kami khawatir bangsa Indonesia pecah karena misalnya ada pihak yang tidak terima atau merasa dicurangi. Makanya kami mau kawal supaya tidak ada kecurangan. Kami juga mau tunjukkan hasil yang terang benderang dan tidak terbantahkan lagi karena perhitungan bisa dilihat secara terbuka dan real time,” pria asal Balongpanggang, Gresik, Jawa Timur, itu menjelaskan.

Ternyata modus kecurangan banyak terjadi di situ. Ketika total suara dipindahkan ke rekap salinan, hasil perhitungannya bisa diubah oleh oknum'

Meski berhasil mengawal pemilu 2014, Ainun sempat ragu dan tidak ingin kembali turun gunung pada pemilu yang empat hari lagi akan diselenggarakan. Terutama karena kemajuan sistem yang akan diterapkan KPU pada rekapitulasi mendatang. Tak seperti 2014 silam ketika KPU hanya menampilan unggahan foto formulir C1. Kali ini KPU juga akan merekapitulasi semua angka yang tercantum di unggahan C1 plano.

“Awalnya saya rasa nggak perlu dilanjutkan. Yang dilakukan KawalPemilu saat itu cuma mengubah pemindaian formulir C1 jadi angka. Nah sekarang KPU juga akan merilis pemindaian dan angka. Pilihannya sekarang cuma ada dua, antara kami bikin hal yang sama seperti KPU tapi jadi percuma atau bikin yang berbeda tapi jadi 1000 kali lebih sulit ketimbang 2014,” tutur Ainun.

Di tengah kegundahannya, Ainun diyakinkan oleh Hadar Nafis Gumay, mantan komisioner KPU. “ Pak Hadar meyakinkan bahwa kami masih perlu turun tangan. Terutama mengawal titik paling awal yaitu formulir C1 plano. Karena ternyata modus kecurangan banyak terjadi di situ. Ketika total suara dipindahkan ke rekap salinan, hasil perhitungannya bisa diubah oleh oknum.”

Kotak suara untuk Pemilu 2019
Foto : Grandyos Zafna

Tugas KawalPemilu kali ini memang lebih berat. Dulu KawalPemilu hanya dibantu oleh sekitar 700 relawan yang dikumpulkan secara daring untuk merekapitulasi suara yang sumbernya berasal dari unggahan scan formulir C1 KPU. Kini KawalPemilu harus mengumpulkan lebih banyak relawan untuk diturunkan di setiap TPS.“Sekarang kami perlu lebih dari 800 ribuan relawan karena harus mengambil foto C1 plano di masing-masing TPS di seluruh pelosok Indonesia,” ujar lulusan Nanyang Technology University (NTU), Singapura, ini. Dalam rapat pleno terbuka Rekapitulasi Daftar Pemilih Paska Putusan Mahkamah Konstitusi di KPU, TPS dalam Pemilu 2019 berjumlah  810.329 TPS. “Kadang saya suka guyon, waduh kok berat amat ya saya masih bisa mundur nggak nih.”

Tawaran untuk menjadi relawan KawalPemilu terbuka bagi siapa saja. Cara pendaftarannya pun dibuat semudah mungkin. Dengan menggunakan akun Facebook lantas login ke situs upload.kawalpemilu.org . Selanjutnya tugas para relawan adalah memotret hasil pemungutan suara di TPS yang tersedia dalam bentuk formulir C1 plano. Sementara relawan terpilih yang disebut sebagai moderator akan merekapitulasi angka yang tercantum di unggahan C1 plano. “Setelah mendaftar dari sekarang pun bisa latihan upload foto di situsnya supaya hari H sudah nggak bingung. Kami juga bisa melihat TPS mana saja yang sudah dijaga relawan. Dan menjadi relawan terbuka untuk siapa pun, mau memilih nomor 1, 2 atau 10, ya boleh,” kata Ainun.

Dalam pemilu serentak kali ini, KawalPemilu ikut mengawasi suara Presiden Wakil Presiden serta DPR RI. Namun untuk suara DPR RI, KawalPemilu tidak menghitung suara Caleg melainkan hanya suara partai saja. Sejauh ini, jumlah relawan yang berhasil dikumpulkan masih amat jauh dari target. Relawan yang bergabung via referral misalnya, terhitung sejak Rabu (10/4), KawalPemilu baru berhasil mengumpulkan 6895 relawan. KawalPemilu tentu tidak tinggal diam. KawalPemilu menjalin kerjasama dengan berbagai pihak untuk menjaring relawan. Salah satunya bersama Network for Democracy and Electoral Integrity (Netgrit) dengan meluncurkan gerakan Kawal Pemilu Jaga Suara (KPJS) 2019. KawalPemilu juga berusaha merangkul pasangan Calon Presiden nomor urut 1 dan 2 namun belum membuahkan hasil.

“Timses kedua kubu  sedang kami dekati, karena mereka lah yang punya jaringan di setiap TPS. Kalau mereka mau beres sudah, kami tinggal fokus di sistem. Tapi ini susah sekali, yang satu menganggap ini punya yang lain, yang satu lagi juga begitu, kalau saling curiga repot,” tutur Ainun. Selain itu KawalPemilu juga telah bekerjasama dengan Banser NU dan Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI).

Tantangannya tak hanya sampai di situ saja. Semakin mendekati hari pencoblosan, KawalPemilu kerap diterpa isu negatif yang tidak terbukti kebenarannya. “Ada pihak yang tidak suka dengan kehadiran kami. Mereka tidak suka dengan kami yang ingin memastikan pemilu itu jujur. Pihak-pihak ini sudah mulai menyebar fitnah di media sosial. Seolah-olah kami hacker lah atau mau memalsukan hasil pemilu. Ada yang coba masuk ke sistemnya lah. Aneh-aneh itu ada,” kata Ainun.


Video : KawalPemilu

Menurut Ruly Achdiat, salah satu penggagas KawalPemilu, semua tuduhan itu bisa dibantah. Terutama kepada pihak-pihak yang menuduh KawalPemilu berafiliasi dengan salah satu pasangan Calon Presiden. Sebagai Warga Negara Indonesia yang memiliki hak memilih, kata dia, tentu wajar bagi para pendiri KawalPemilu untuk memiliki pilihan politik tertentu.

“Saya dari awal sudah berpesan kepada teman-teman bahwa ini adalah sebuah keniscayaan. It's too good to be true bahwa ada sekelompok orang yang mau melakukan hal ini dan dampaknya dihubungkan dengan berbagai macam isu. Insya Allah teman-teman sudah siap,” tutur Ruly yang saat ini bekerja di salah satu perusahaan perangkat lunak di Inggris. “Preferensi politik itu hak masing-masing, tidak bisa dicabut, tapi saat kami melakukan tugas seperti ini saya tahu persis teman-teman di KawalPemilu adalah kawan-kawan yang profesional dan berintegritas.”

Soal biaya operasional pun, situs KawalPemilu masih bisa menanggungnya secara mandiri. Sedangkan para relawan bergerak secara sukarela. Tahun 2014 silam, KawalPemilu hanya membutuhkan modal sebesar Rp 600 ribu untuk menyewa host dan domain. Sedangkan Ruly memperkirakan biayanya kali ini tidak sampai US$ 10 ribu, kurang dari Rp 150 juta. Para pendiri KawalPemilu telah berencana untuk patungan menggunakan kartu kredit masing-masing. Jika ongkosnya melebihi perkiraan, mereka akan membuka penggalangan dana melalui situs KitaBisa.

Mereka tidak suka dengan kami yang ingin memastikan pemilu itu jujur. Pihak-pihak ini sudah mulai menyebar fitnah di media sosial

“Dengan kondisi seperti ini siapa yang bisa membuktikan kalau kami disetir orang. Biayanya saja kami sanggup bayar sendiri. Ada yang menyebut ongkos kami sampai miliaran. Mungkin kalau kami harus dibayar waktunya betul begitu, tapi kami sudah punya pekerjaan utama bukan pengangguran yang mencari pekerjaan. Kami sudah aman, tentram.... alhamdulillah,” kata Ruly. KawalPemilu diciptakan justru sebagai bentuk kontribusi dari para diaspora yang telah lama meninggalkan tanah air. “Kami ini adalah orang-orang yang tinggal di luar negeri. Tidak banyak yang bisa kami lakukan karena kami tidak berada di Indonesia, ini salah satu bentuk pengabdian lah kalau mau dibilang agak lebay.”

Meski pemilu tinggal menghitung hari, KawalPemilu optimis jumlah relawan yang dibutuhkan akan segera tercukupi. Kebiasaan foto di TPS ini sebetulnya sudah sering dilakukan. Seperti di saat berfoto dengan jari telunjuk ungu atau swafoto di belakang formulir plano C1. Masyarakat Indonesia hanya perlu mengubahnya menjadi gerakan terukur.

“Saya yakin hampir semua orang punya ponsel. Saya optimistis pasti orang akan memfoto di TPS. Pertanyaannya, maukah mereka mengunggahnya dan tahukah mereka tentang KawalPemilu. Itu yang penting,” kata dia. Jika relawan sudah terkumpul, maka hasil perhitungan suara akan selesai semakin cepat. “Kepada para pendukung militan, nggak mau kan jagoannya kalah karena dicurangi. Makanya kawal dong, dan kepada mereka yang tidak militan, semakin banyak data yang masuk ke KawalPemilu, semakin cepat pula kita akan dapat kepastian siapa yang menang.”


Reporter/Penulis: MELISA MAILOA
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE