INTERMESO


MENGAWAL SUARA DI JANTUNG TALIBAN

"Ada beberapa orang asing diculik sebelum saya datang. Motifnya minta tebusan uang atau alasan ideologis"

Warga mengantre memberikan suara pada Pemilu Afghanistan 2004

Foto : Getty Images

Rabu, 17 April 2019

Ledakan bom yang diletakkan di dalam sebuah mobil itu meluluhlantakkan bangunan-bangunan di sekitar pasar di Kandahar, kota terbesar kedua di Afghanistan. Hanya sekitar 200 meter dari pusat ledakan tersebut, Jojo Rohi seorang anak muda asal Surabaya, Indonesia tinggal di sebuah wisma.

Hari itu, awal Oktober 2004, adalah masa-masa gawat bagi Afghanistan. Setelah sekitar lima tahun ada di bawah kekuasaan kelompok Taliban, Afghanistan akan menyelenggarakan Pemilihan Presiden. "Kaget juga karena ledakan bom itu terdengar sangat dekat tapi kami memilih tak dievakuasi dari Kandahar," ujar Jojo kepada detikX di Jakarta beberapa waktu lalu.

Jojo saat itu berada di Provinsi Kandahar untuk menjalankan misi pemantauan pemilihan presiden Afghanistan. Wilayah yang terletak di bagian selatan Afghanisan tersebut merupakan benteng pertahanan terakhir Taliban menghadapi pasukan Amerika Serikat dan sekutunya. "Itu merupakan Pemilihan Presiden pertama sejak tumbangnya rezim Taliban," kata Jojo. Pilpres yang dibayang-bayangi ancaman dari mantan pemimpin tertinggi Taliban Mullah Omar. Mullah Omar menyerukan agar warga memboikot pemilu tersebut atau menghadapi serangan di tempat pemungutan suara.

Penugasan di Afghanistan merupakan misi internasional pertama Jojo Rohi sebagai pemantau pemilu. Jojo yang memiliki nama lengkap Engelbert Johanes Rohi sebelumnya bergabung dengan Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Jawa Timur pada 1996. Ia kemudian ditunjuk menjadi Sekretaris Jenderal Presidium KIPP di Jawa Timur mendampingi Ketua Presidium, Herman Hendrawan. Belakangan Herman, mahasiswa Universitas Airlangga, Surabaya yang juga aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) hilang diculik dan sampai saat ini belum kembali.

Dalam sejarahnya, KIPP yang didirikan sejumlah organisasi masyarakat sipil dan individu pada 15 Maret 1996 bergabung dengan sejumlah lembaga pemantau di kawasan Asia membentuk Asian Network for Free Elcetions (ANFREL). "Melalui Anfrel, KIPP terlibat dalam beberapa pemantauan pemilu di kawasan Asia," kata Jojo. Lewat lembaga ANFREL ini, Jojo berangkat menuju Afghanistan. "Pemilu itu difasilitasi PBB. Karena itu mereka berkepentingan mengundang dunia internasional berkontribusi mengawasi atau memantau prosesnya."

Staf PBB mengirimkan material Pemilu ke daerah terpencil Afghanistan pada Oktober 2004
Foto : Getty Images

Jojo tiba di Afghanistan beberapa minggu sebelum pelaksanaan pemilu. Sebelum disebar ke seluruh Afghanistan, ia dan para pemantau internasional lainnya disuguhi data-data kondisi keamanan seluruh wilayah Afghanistan. "Ada wilayah yang warnanya hijau, kuning, dan merah. Kami ditawarkan mau ke daerah yang mana," ujarnya. Rupanya tak ada yang berminat masuk ke Provinsi Kandahar yang dikategorikan kawasan merah. "Karena tak ada yang mau akhirnya saya pilih Kandahar. Hitung-hitung ada kenikmatan tersendiri kalau adrenalin naik."

Pilot asal Rusia susah payah menghindari kejaran badai. Benar-benar ngeri sekali waktu itu'

Tingkat kerawanan Kandahar yang masih tinggi membuat PBB serius menjaga keselamatan tamunya. Seorang pengawal bersenjata direkrut menemani Jojo. Jojo masih ingat pengawalnya itu bekas tentara Inggris yang juga veteran Perang Malvinas. "Ia juga mantan pengawal pribadi Sting, vokalis band The Police," kata Jojo. Pengawal ini bahkan menginap di wisma yang sama dengan Jojo. "Di pinggiran Kandahar masih sangat rawan terhadap penculikan. Ada beberapa orang asing diculik sebelum saya datang. Motifnya minta tebusan uang atau alasan ideologis. Ngeri-ngeri sedap lah."

Prosedur-prosedur keamanan yang ketat juga harus diikuti Jojo untuk meminimalkan ancaman penculikan. "Mobil kami harus selalu ngebut, minimal kecepatan 70 kilometer per jam," ujar Wakil Sekjen KIPP bidang Internasional itu. Ia bahkan harus berpakaian lengkap ketika akan tidur malam. Ransel khusus juga sudah disiapkan di pinggir tempat tidur. "Kalau ada situasi chaos, evakuasi bisa cepat. Tinggal loncat dan segera angkat tas."

Namun dalam tugas pemantauannya tersebut bukan penculik saja yang bisa menghadang dan memberi ancaman, tapi juga faktor alam. Jojo bercerita turut mengantarkan logistik pemilu ke wilayah perbatasan Provinsi Kandahar dengan Pakistan. Helikopter Rusia yang ditumpanginya harus berhadapan dengan ganasnya badai gurun. "Pilot asal Rusia susah payah menghindari kejaran badai. Benar-benar ngeri sekali waktu itu," ujar pria berdarah Nusa Tenggara Timur yang lahir di Surabaya itu.

Warga Afghanistan mengantre memberikan suara pada Pemilu 2004
Foto : Getty Images

Tiga bulan lamanya Jojo bertugas melakukan pemantauan Pemilihan Presiden di Afghanistan. Setahun kemudian ia kembali ke tempat yang sama dalam misi internasional keduanya. Kali ini memantau jalannya pemilihan anggota parlemen negara di kawasan Asia Selatan itu yang digelar pada akhir September 2005. "Kondisi keamanannya nyaris tak berubah," kata Jojo.

Pemilihan Presiden Afghanistan pertama setelah rezim Taliban digusur pasukan Amerika dan sekutunya itu dimenangkan oleh Hamid Karzai. Hamid, pejabat Presiden Afghanistan sejak 2001, meraup 55,4 persen suara. Politikus asal suku Pashtun ini unggul jauh dari lawan-lawannya seperti Yunus Qanuni, Mohammed Mohaqiq,Ahmad Shah Ahmadzai, dan Abdul Rashid Dostum.

Beberapa lawan politik Karzai menudingnya berbuat lancung untuk mempertahankan kursi kekuasaan di Kabul. "Pemungutan suara untuk Pemilihan Presiden ini curang. Harus dihentikan. Kami tak akan mengakui hasilnya," ujar Abdul Satar Sirat, Calon Presiden dari suku Uzbek, kepada Guardian, kala itu. Namun komisi pemilihan yang disokong oleh Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) menolak tuntutan Sirat dan teman-temannya.Hamid Karzai tetap dilantik sebagai Presiden Afghanistan dan berkuasa hingga 2014.

Setelah misi di Afghanistan, Jojo hampir tak pernah absen jadi pemantau internasional pada pemilu di negara-negara kawasan Asia. Terakhir Jojo baru saja kembali dari Thailand memantau jalannya pemilihan umum pada 24 Maret lalu. Seperti biasa, ia kembali memilih wilayah konflik sebagai wilayah kerjanya.

"Saya dikirim ke Pattani, wilayah Thailand bagian selatan," katanya. Sebelumnya, Jojo dijadwalkan mengikuti misi pemantauan untuk pemilu Bangladesh pada 30 Desember 2018 lalu. Namun ANFREL dipaksa untuk membatalkan misi tersebut karena Komisi Pemilihan Bangladesh tak kunjung memberi akreditasi untuk sebagian besar pemantau.

Prajurit Amerika Serikat berpatroli di kota Kabul menjelang Pemilu Afghanistan pada 2004
Foto : Getty Images

Kalau Jojo Rohi bisa digolongkan veteran pemantau pemilu, maka Mulki Shader baru saja memulai debutnya sebagai pemantau internasional dalam Pemilihan Umum di Thailand sebulan lalu. Peneliti pada Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK) itu berangkat ke Thailand mewakili Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) sebuah organisasi masyarakat sipil bidang kepemiluan yang juga anggota jaringan ANFREL. "Kalau Jojo veteran, saya generasi barunya," ujar Mulki.

Jangan menutup diri karena justru akan menimbulkan kecurigaan

Mulki tiba di Bangkok, Thailand dua hari sebelum pemilu pendahuluan 17 Maret 2019 bagi para pemilih yang berpindah daerah pemilihan. Ia kemudian ditempatkan di Provinsi Surat Thani di bagian selatan Thailand. "Setelah advance voting, seminggu saya keliling wawancara masyarakat, kandidat, penyelenggara pemilu. Saya habiskan sehari bisa wawancara 6 sampai 7 orang," ujar pengajar di Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera itu. "Malam langsung buat laporannya kemudian dikirim ke kantor pusat. Kami laporkan perkembangan harian."

Saat hari pemilihan, Mulki berkeliling di 9 tempat pemungutan suara di tiga daerah pemilihan. Namun tugas sebagai pemantau internasional tak bisa cawe-cawe. "Kami hanya nonton dan mengisi form checklist yang sudah disusun sesuai standar internasional pemantauan pemilu," ujar Mulki. Pemilihan Umum pada 24 Maret 2019 lalu merupakan Pemilu pertama di Thailand setelah junta militer yang dipimpin Jenderal Prayuth Chan-ocha berkuasa pada 2014 silam. Ada banyak kritik soal penyelenggaraan Pemilu, tapi pemantau seperti Mulki tak bisa berbuat banyak. "Kalau terjadi pelanggaran pun kami tak bisa intervensi atau melaporkan langsung ke pengawas."

Data-data yang dikumpulkan kemudian dikirim ke kantor pusat ANFREL untuk diolah bersama-sama dengan data dari daerah lain. "Kantor pusat yang mengeluarkan pernyataan bagaimana dunia internasional melihat pelaksaan pemilu." Bagi pemantau internasional seperti dirinya, Mulki berharap semua negara bisa membuka ruang pada siapapun yang mau datang, baik itu peneliti atau pemantau untuk bisa melihat pemilu yang berlangsung. "Jangan menutup diri karena justru akan menimbulkan kecurigaan."


Redaktur/Penulis: PASTI LIBERTI
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE