INTERMESO

Indonesia Memilih

Mereka yang Setia kepada Petahana

Mereka tetap memilih Jokowi-Ma’ruf karena telah membangun banyak infrastruktur. Lainnya karena tak simpatik kepada Prabowo.

Foto: Jokowi nyoblos di TPS 008 Gambir, Jakarta (Rengga Sancaya)

Rabu, 17 April 2019

Dari data Komisi Pemilihan Umum (KPU), tercatat sekitar 192.866.254 orang terdaftar sebagai pemilih di 809.699 tempat pemungutan suara (TPS). Hari ini, Rabu 17 April 2019, akan ditentukan apakah calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo-Ma’ruf Amin atau Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang bakal memenangkan kontestasi Pilpres 2019.

Hasil survei dari sejumlah lembaga hingga hari tenang menjelang pada 14 April 2019 menunjukkan Jokowi-Ma’ruf yang merupakan calon petahana, masih unggul atas Prabowo-Sandi. PARA Syndicate yang memantau tren hasil survei dari berbagai lembaga menyebut Jokowi-Maruf mendapat dukungan 52% dan Prabowo-Sandi 35%.

Boleh dikatakan bahwa masih lebih banyak masyarakat yang menginginkan agar Jokowi melanjutkan kepemimpinannya untuk periode kedua. DetikX pun mencoba bertanya langsung kepada mereka yang masih menjatuhkan pilihan politiknya kepada calon petahana Jokowi-Ma’ruf.

Alasan yang warga kemukakan bermacam-macam. Namun, yang paling umum adalah keberhasilan dan kerja nyata Jokowi dalam membangun infrastruktur yang berkembang pesat di sejumlah daerah. Infrastruktur itu mulai dari tol, jalan Trans Papua, bandara, pelabuhan, dan bendungan di wilayah-wilayah terpencil di tanah air.

Salah satu ruas jalan Trans Papua
Foto : Dirjen Bina Marga

Jokowi dianggap berhasil memeratakan pembangunan infrastruktur hingga ke Indonesia timur dan telah dirasakan dampaknya oleh masyarakat yang tinggal di sana. “Untuk masa pemerintahan sekarang lebih transparan kerjanya. Banyak kemajuan yang dilakukan pemerintah untuk Indonesia khususnya daerah-daerah terpencil,” kata Goretti Das Neves Moniz, warga Fontein, Nusa Tenggara Timur, pemilih Jokowi-Ma’ruf.

Masa kuli-kuli juga dari China? Orang kita kan banyak yang menganggur."

Salah satu hasil pemerintahan Jokowi di NTT adalah bendungan Raknamo di Kabupaten Kupang pada tahun 2014. Sarana itu itu telah membantu rakyat di Kupang dan warga sekitar yang profesinya petani selain juga menjadi salah satu tempat wisata yang banyak dikunjungi.

Goretti berharap apabila Jokowi terpilih kembali dapat melanjutkan perubahan yang terjadi di masyarakat, khususnya di Indonesia bagian timur. “Semoga apa yang direncanakan ke depan semuanya dapat terealisasi. Semoga negara ini lebih baik lagi,” harap Goretti.

Selama masa kampanye dan debat Pilpres 2019 berlangsung, Jokowi-Ma’ruf juga berulangkali menggaungkan keberhasilan pembangunan infrastruktur itu. Dalam debat kelima pada Sabtu 13 April 2019, Jokowi kembali mengatakan, pembangunan Indonesia kini tidak lagi Jawa sentris, melainkan Indonesia sentris.

"Oleh sebab itu, kami membangun infrastruktur tidak di Jawa saja, tidak Jawa-sentris, tapi Indonesia-sentris. Dengan infrastruktur itu, kami ingin ada titik pertumbuhan ekonomi di luar Jawa. Baik berupa kawasan industri kecil, baik kawasan ekonomi khusus, kawasan ekonomi khusus pariwisata, dan berefek pada barang kerajinan desa dan juga kami ingin terus memperjuangkan kemandirian ekonomi desa," papar Jokowi.

Suasana kampanye akbar Jokowi-Ma'ruf di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, 13 April 2019
Foto : Ari Saputra/detikcom

Berdasarkan data Kantor Staf Presiden (KSP), sudah ada 3.432 kilometer jalan dibangun di masa Jokowi, 947 kilometer jalan tol, jembatan sepanjang 39,8 kilometer dan 134 unit jembatan gantung. Jalur kereta api juga dibangun dengan membuat jalur ganda dan mereaktivasi jalur kereta api yang mati sepanjang 754 Km.

Di Ibu Kota Jakarta, dibangunnya Light Rail Transit (LRT) di Cibubur dan Bekasi mendapat apresiasi masyarakat. Termasuk Mass Rapid Transit (MRT) yang telah rampung dan beroperasi pada 2019 ini. “Saya lebih cocok dengan Jokowi. Dampaknya walaupun tidak terlalu pesat saya juga merasakan, tapi Jakarta sudah lebih tertata. Yang sekarang lebih enak dibanding sebelumnya,” kata Rudi Ardiansyah, seorang karyawan di Jakarta, pemilih Jokowi-Ma’ruf lainnya.

Namun, tidak semua warga setia kepada petahana karena pencapaian infrastruktur itu. Eka Roesdiyanti, 46 tahun, asal Bogor, Jawa Barat, misalnya memilih Jokowi karena pelayanan publik sekarang sudah cepat dan sederhana. Selain itu, sosok Jokowi sendiri yang cukup bersahaja dan simple tak membuat hatinya berpaling.

Meski dalam beberapa survei menunjukkan sosok Ma’ruf kurang menjadi daya dorong bagi elektabilitas Jokowi, namun Eka mengaku keberadaan ulama menjadi salah satu pertimbangannya dalam memilih 01. Mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia itu dinilainya merupakan tokoh Nahdatul Ulama (NU) yang punya paham tidak konservatif.

“Kalau dukung Pak Kiyai (KH Ma’ruf Amin), jelas dong, beliau dari PBNU yang pemahaman agamanya tidak konservatif, tetap menjunjung kebhinekaan. Di Indonesia ada lima agama, bukan hanya Islam saja. Jelas saya mendukung Jokowi dan Kiai Ma’ruf,” kata Eka, warga Cilebut Barat, Sukaraja, Bogor, ini.

Namun, ada juga pemilih yang memilih Jokowi karena faktor sosok pesaingnya, Prabowo. Meskipun mantan Ketua Umum Partai Gerindra itu dinilai punya wibawa dalam memimpin, namun sosoknya kurang menimbulkan rasa simpatik. Begitu menurut Satya, 50 tahun, seorang warga DKI Jakarta.

Meski kembali mendukung Jokowi, namun Satya juga punya kritik terhadap mantan Gubernur DKI Jakarta. Selama ini Jokowi dianggapnya kurang tegas dalam soal ketenagakerjaan. Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China membanjiri Indonesia dan bahkan mereka bekerja di semua lini. “Masa kuli-kuli juga dari China? Orang kita kan banyak yang menganggur,” katanya.


Reporter:Gresnia Arela F
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Irwan Nugroho

[Widget:Baca Juga]
SHARE