INTERMESO


YANG BERHARAP KEPADA PRABOWO

"Saya nyoblos 02, karena saya mau perubahan. Biar nggak banyak pengangguran"

Calon Presiden Prabowo Subianto saat berkampanye

Foto: Ed Wray (Getty Images)

Rabu, 17 April 2019

Bagi Ayuningtyas, tak perlu mikir berbelit dan alasan yang rumit untuk menentukan siapa Calon Presiden yang dicoblosnya di bilik suara. Ayuningtyas, 46 tahun, sudah jauh-jauh hari menjatuhkan pilihan siapa orang yang diharapkannya menjadi orang nomor satu di negeri ini.

Ukuran yang dipakai warga Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur, ini tak jauh dari urusan kebutuhan sehari-hari. Dia terpikat dengan kampanye pasangan Calon Presiden Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno yang menjanjikan akan menurunkan harga bahan-bahan pokok, menurunkan tarif dasar listrik, tak akan membuka keran impor, dan membuka lapangan kerja dengan membangun ratusan pabrik.

“Semoga apa yang dikampanyekannya dapat terwujud, terutama emak-emak seperti saya yang ingin agar harga sembilan bahan pokok stabil, dapat kami beli. Yang paling utama menjadikan negara kita adil dan makmur,” Ayuningtyas berharap. Sebagai ‘manajer rumah tangga’ dengan dua anak, menurut Ayuningtyas, dia merasakan sendiri dampak kenaikan harga bahan pokok dan tarif listrik. Dia juga cemas mendengar kabar soal serbuan tenaga kerja asing. “Alasan-alasan itu lah yang menyebabkan saya memilih 02.”


Galih Herlambang
Foto : dok.pribadi

Semua janji yang diumbar oleh pasangan Prabowo-Sandiaga, juga oleh pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin, masih berupa janji. Apakah janji itu terpenuhi atau tak pernah terwujud, baru akan bisa dibuktikan lima tahun lagi. Kurang lebih lima tahun lalu, Galih Herlambang, warga kota Medan, Sumatera Utara, menusuk pasangan Jokowi-Jusuf Kalla di kertas suara. Dia berharap banyak kepada Jokowi yang akhirnya memenangkan Pemilihan Presiden.

Harapan dan janji-janji yang dulu direncanakan tak kunjung terlaksana dan berujung kecewa'

Namun hari ini, dia berpindah ke lain hati. “Harapan dan janji-janji yang dulu direncanakan tak kunjung terlaksana dan berujung kecewa. Sehingga saya merasa tertipu dengan janji kampanye lima tahun lalu,” kata Galih, 32 tahun. Galih yang bekerja sebagai wartawan kini memutuskan mendukung lawan Jokowi-Ma'ruf Amin yakni pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Galih melihat sejumlah kegagalan Jokowi, di antaranya soal proyek mobil Esemka yang dijanjikan sebagai mobil nasional yang wujudnya tak kunjung tampak. Gagalnya pemerintahan Jokowi dalam menangani kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan dan sejumlah anggota Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), membuat dia makin kecewa.

Ia berharap, seandainya Prabowo – Sandiaga terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden, Indonesia bisa bangkit kembali dan disegani negara-negara lain. Perekonomian semakin membaik, masyarakat kembali bersatu dan tidak terpecah belah, serta para petani bisa hidup sejahtera. “Saya rasakan di pemerintahan sekarang, negara kita makin melemah karena banyak tergantung pada negara lain,” ujar Galih.

Andri Saputra
Foto : Gresnia Arela/Detik.com

Urusan perut sepertinya jadi pertimbangan utama banyak orang dalam menentukan siapa pemimpin yang didukungnya. Presiden Soeharto yang begitu kokoh berkuasa selama lebih dari 30 tahun pun tumbang setelah perekonomian Indonesia babak belur dihantam krisis. Demikian pula Presiden Sukarno yang tergusur dari kursinya di tengah kondisi perekonomian yang morat-marit.

Maka tak heran jika seorang Andri Saputra mengharapkan ada pemimpin baru di negeri ini setelah Pemilihan Umum 17 April 2019. Andri, 23 tahun, menyandang gelar sarjana. Tapi sekarang dia terpaksa mengambil pekerjaan yang jauh benar dari mimpi dan harapannya. Sehari-hari pemuda itu kini berjualan siomay dan batagor di depan Perumahan Villa Bogor Indah, Ciparigi, Bogor Utara, Kota Bogor.

Dia mengeluh, meski punya ijazah sarjana, susah benar mendapatkan pekerjaan sesuai gelar yang dia sandang. Sementara dia mendengar kabar, ada banyak sekali tenaga kerja asing yang datang dan bekerja di Indonesia. “Saya nyoblos 02, karena saya mau perubahan. Biar nggak banyak pengangguran,” kata Andri. Apakah pasangan Prabowo bisa dan mendapat kesempatan mewujudkan harapan Andri, tentu masih harus menunggu hasil perhitungan suara oleh Komisi Pemilihan Umum. Tapi Andri menitipkan harapan kepada Prabowo. “Saya harapkan nanti ada lapangan kerja lebih banyak.”

Masa kampanye kemarin memang masanya orang mengumbar janji-janji 'surga'. Apakah janji itu lebay atau masak akal, pendukungnya kadang tutup mata saja. Salah satu janji 'besar' Prabowo adalah menggenjot pertumbuhan ekonomi, dus menciptakan banyak sekali lapangan pekerjaan baru. Pertumbuhan ekonomi yang hanya berkisar 5 persen yang dicapai oleh Presiden Jokowi, di mata Prabowo jauh dari cukup. "Mereka mungkin puas dengan pertumbuhan 5 persen. Kami tidak puas," katanya beberapa waktu lalu. "Kami mau pertumbuhan double digit."

Janji menurunkan harga bahan pokok, tarif listrik dan menciptakan lapangan kerja saja, belum cukup meyakinkan Dede Wardani, pemilik usaha di Karadenan, Bogor. "Kalau saya ikut ulama saja," kata Dede. Dukungan yang diberikan Habib Rizieq Shihab, Ustadz Abdul Somad, dan Ustadz Adi Hidayat, kepada Prabowo membuatnya makin mantap mencoblos pasangan nomor 02."Kalau dia tidak beres bisa dijatuhin lagi, betul nggak?"


Reporter: Gresnia Arela
Redaktur/Penulis: M. Rizal

[Widget:Baca Juga]
SHARE