INTERMESO


MENGACA PADA PEMILU INDIA

"Kita tak akan membiarkan konspirasi gereja maupun masjid berhasil di tanah Bharat"

Pendukung Perdana Menteri India Narendra Modi

Foto : Getty Images

Jumat, 19 April 2019

Lima tahun lalu...

Di muka puluhan orang yang menyimak dengan takzim di kota Hasayan, sekitar 140 kilometer arah selatan kota New Delhi, Rajeshwar Singh berorasi dengan berapi-api, dengan kata-kata yang membakar.

“Kita akan membersihkan seluruh masyarakat Hindu. Kita tak akan membiarkan konspirasi gereja maupun masjid berhasil di tanah Bharat (sebutan lain India),” kata Rajeshwar, dikutip Hindustan Times, saat itu. “Gelombang Hindu baru saja dimulai. Dalam sepuluh tahun, kita akan menjadikan semua muslim dan umat Kristen di India sebagai pemeluk Hindu.”

Di seberang jalan, berdiri gereja Kristen Protestan, kemana pidato Rajehwar ditujukan. Dengan penuh semangat, aktivis Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS), organisasi Hindu yang berafiliasi dengan Partai Bharatiya Janata itu, mendesak para pemeluk agama Kristen untuk meninggalkan agamanya dan beralih keyakinan.

Kemenangan Partai Bharatiya dalam Pemilihan Umum India pada 2014 mengantarkan partai nasionalis Hindu tersebut dan Narendra Modi ke tampuk kekuasaan di New Delhi. Memainkan sentimen agama terbukti menjadi resep mujarab bagi Partai Bharatiya untuk meraup dukungan. Pengaruh RSS, organisasi yang membesarkan Perdana Menteri Narendra Modi, otomatis turut terkerek. Sejumlah tokoh senior RSS duduk dalam Kabinet Narendra Modi.

Para aktivis RSS pun makin percaya diri dengan misinya menjadikan India sebagai negara Hindu, sekali pun sekitar seperlima penduduk negeri Bollywood itu memeluk keyakinan lain. Di Desa Asroi, Aligarh, Negara Bagian Uttar Pradesh, Rajeshwar telah berhasil membelokkan keyakinan 72 umat Kristiani. “Seperti halnya mereka yang tinggal di Inggris adalah orang Inggris, mereka yang tinggal di Jerman adalah orang Jerman, maka mereka yang tinggal di Hindustan adalah orang-orang Hindus,” kata Mohan Bhagwat, Ketua RSS, di muka para aktivis organisasi itu.

Perdana Menteri India Narendra Modi saat berkampanye beberapa waktu lalu
Foto : Getty Images

Mohan Bhagwat dan anak buahnya bak menyulut api ke tumpukan daun kering. Sejak India merdeka 67 tahun silam, warga muslim di Bharat Ganrajya atau Republik India sudah melewati pahit getir hubungan dengan mayoritas Hindu. Saudara-saudara mereka sudah memisahkan diri menjadi dua negara di timur dan barat : Bangladesh dan Pakistan. Mereka yang bertahan menjadi bagian dari India sudah berulangkali terlibat konflik berdarah dengan warga mayoritas Hindu.

Pada September 2013 lalu, ratusan warga muslim terpaksa mengungsi setelah kampung mereka di Muzaffarnagar, Negara Bagian Uttar Pradesh, diamuk sekelompok pemuda Hindu. “Rumah kami dibakar dan delapan orang terbunuh,” kata Rahisha Begum, kala itu. Dia dan keluarganya terpaksa mengungsi ke kota Shapar. Selama beberapa pekan, Muzaffarnagar 'membara', 49 orang dari kedua kelompok tewas dan ratusan orang terluka.

Tensi hubungan komunitas muslim dan Hindu kembali tinggi dan semakin panas dengan isu “Love Jihad” yang digembar-gemborkan organisasi sayap kanan Hindu seperti RSS. Di satu desa di Aurangabad, negara bagian Maharashtra, aktivis Hindu, Chetna Sharma, memberi peringatan kepada 40 perempuan supaya berhati-hati dengan rupa-rupa 'tipu daya' laki-laki muslim.

Ini kasus pernikahan dengan cinta, bukan 'jihad cinta''

Dengan pelbagai cara, menurut Chetna, laki-laki muslim akan merayu, menikahi dan memaksa para perempuan Hindu memeluk Islam. “Jika diberi kesempatan, mereka akan memaksa kalian memiliki dua atau tiga anak dan kemudian meninggalkan kalian. Atau menyiram kalian dengan larutan asam seandainya kalian menolak,” Chetna membakar hati para perempuan itu, dikutip Wall Street Journal. “Jadi bayangkan jika kalian tak melindungi diri kalian dari love jihad.”

Untuk mengelabui gadis-gadis Hindu, menurut anggota RSS, Rajeshwar Singh, laki-laki muslim dengan tampang menawan akan direkrut. Untuk melapangkan “operasinya”, para laki-laki muslim yang tengah dalam misi “jihad cinta” tersebut sengaja menyandang nama yang lazim dipakai pria Hindu seperti Choudhary, Chouhan, atau Tyagi.

Vinay Soni, anggota organisasi sayap pemuda Partai Bharatiya, Yuva Manch, menuturkan pengalamannya di kota Kanpur. “Aku bertemu dengan seorang laki-laki muslim berpendidikan yang mengenakan kalawa seperti pemuda Hindu untuk menjebak gadis Hindu. Saat aku hendak bertanya kepadanya, dia pergi menghindar. Biasanya, mereka akan mengajak gadis Hindu untuk minum teh,” Soni mengklaim.

Beberapa kasus penipuan terhadap beberapa gadis, menurut Kepala Polisi Uttar Pradesh, A.L. Banerjee, bukan merupakan bukti bahwa ada konspirasi besar untuk menjebak gadis-gadis Hindu. Dalam tiga bulan terakhir, ada enam kasus “jihad cinta” yang dilaporkan ke Kepolisian Uttar Pradesh, namun tak satu pun yang terbukti. “Pada sebagian besar kasus, kami menemukan gadis Hindu dan laki-laki muslim sama-sama jatuh cinta dan menikah tanpa restu orang tua,” kata Banerjee dikutip NDTV, saat itu. “Ini kasus pernikahan dengan cinta, bukan 'jihad cinta'”.

Warga muslim India memberikan suara dalam Pemilihan Umum 2019 yang dimulai pekan lalu
Foto : Getty Images

Beberapa hari lalu...

Di satu penggal jalan di kawasan Delhi Lama, ada berderet-deret kios dan toko menjual rupa-rupa perkakas. Di jalan itu, sebagian besar toko dimiliki oleh warga muslim India. Pada siang hari, daerah itu begitu padat oleh pengunjung. Namun sebaliknya di malam hari.

Abdul Adnan, salah satu pedagang perkakas di jalan itu, mengaku takut berjalan-jalan di sepanjang kawasan tersebut saat hari sudah gelap."Aku bisa mati dibunuh dan tak akan ada yang peduli," ujar Adnan kepada New York Times. Menurut Adnan, dia tak bisa juga berharap banyak pada perlindungan dari polisi atau pemerintah.

"Bahkan pemerintah mungkin tak menganggapku sebagai seorang warga India. Bagaimana itu bisa terjadi padahal nenek moyangku sudah hidup di negara ini beratus-ratus tahun?" kata Adnan, tak habis pikir. Dia dan keluarganya, kini selalu hidup dalam kecemasan dan ketakutan. Semua ketakutan itu berhulu pada satu hal saja yakni dia beragama Islam.

Ketika terpilih sebagai Perdana Menteri India lima tahun lalu, Narendra Modi menjanjikan pertumbuhan ekonomi dan banyak lapangan kerja baru. Sebagian janji itu sudah dia penuhi. Tapi ada bayangan gelap yang selalu mengikuti pemerintahan Modi yakni isu sektarianisme. Ada sebagian tokoh di tubuh Partai Bharatiya Janata yang tak pernah berhenti memimpikan India sebagai negara Hindu. Orang-orang ini lah yang terus menghembuskan sentimen keagamaan.

Sebagian pengurus Partai Bharatiya terang-terangan menunjukkan sikap tak suka kepada warga muslim dan Kristiani. "Kita akan menyapu bersih para penyusup di negeri ini kecuali umat Buddha, Hindu dan Sikh," Amit Shah, Presiden Partai Bharatiya, berpidato di Bengala Barat pekan lalu, dikutip CNN. Dia menunjuk para pendatang di daerah-daerah perbatasan dengan Bangladesh.

Jika di Indonesia, 'Islam' diperebutkan oleh banyak kelompok dalam Pemilu 2019 lalu, maka di India, 'Hindu' menjadi 'jualan' Partai Bharatiya dalam setiap kampanye, termasuk dalam Pemilihan Umum India yang sudah dimulai sejak sepekan lalu. "Situasi ini sudah diramalkan oleh Jawaharlal Nehru....Nehru berkata, jika fasisme sampai datang ke India, maka itu akan berupa gerakan komunalisme Hindu," sejarawan Aditya Mukherjee mengutip kata-kata Bapak Bangsa India itu. Dulu, kata Aditya, walaupun lebih dari 80 persen warga India beragama Hindu, dua Bapak Bangsa India, Nehru dan Mahatma Gandhi, menolak menjadikan India sebagai Negara Hindu. Tapi sekarang, di bawah Narendra Modi yang disokong Partai Bharatiya Janata, entah apa yang akan terjadi.

Kampanye Partai Bharatiya Janata dalam Pemilihan Umum 2019
Foto : Getty Images

Salah satu perkara yang membuat hubungan pendukung fanatik Partai Bharatiya dengan warga muslim India sulit akur adalah urusan sapi. Di India, urusan sapi merupakan masalah yang sangat serius. Bagi umat Hindu, sapi adalah binatang yang dimuliakan. Sementara, banyak warga muslim India menggantungkan hidupnya dari berjualan daging sapi.

Bagi Partai Bharatiya Janata, melindungi dan memberikan tempat terhormat bagi sapi merupakan salah satu prioritas utama partai. “Penyembelihan sapi merupakan satu kejahatan nasional,” Mayankeshwar Singh, aktivis Partai Bharatiya, meyakini. Ada banyak janji yang ditebar Partai Bharatiya untuk memuliakan sapi.

Selain melarang penjagalan sapi dan penjualan dagingnya, Singh dan kawan-kawannya juga menjanjikan “penginapan” untuk sapi di kawasan perkotaan. “Kami juga mengusulkan dana pensiun sapi supaya sapi yang telah tua tak dikirim ke rumah jagal,” ujar Singh. Partai Bharatiya juga mengusulkan semacam garda penyelamat sapi-sapi yang telantar. “Kami juga bermimpi mendirikan semacam universitas sapi untuk mendidik sapi-sapi asli India.”

Penyembelihan sapi merupakan satu kejahatan nasional

Selama beberapa tahun terakhir, ada lumayan banyak kasus penganiayaan, bahkan pembunuhan di India, yang bersumber dari urusan sapi. Factchecker.in mencatat, ada 168 kasus penyerangan oleh kelompok fanatik Hindu terhadap warga muslim dan kelompok minoritas lantaran silang sengketa perkara daging sapi. Ada 46 orang mati gara-gara daging sapi ini.

Keluarga Irshad Khan celaka lantaran urusan daging sapi ini. Pada awal April 2017, Irshad bersama ayahnya, Pehlu, dan adiknya, Arif, mengangkut dua ekor sapi dari Jaipur ke kampungnya di Jaishingpur. Lantaran sudah mengantongi surat izin berdagang sapi, keluarga Khan tak membayangkan dua ekor sapi itu akan membuat mereka celaka. "Kami sama sekali tak takut," Irshad menuturkan kepada majalah Newyorker beberapa hari lalu.

Di tengah jalan, mobil Irshad dicegat oleh sekelompok pemuda yang tergabung dalam Bajrang Dal, organisasi militan Hindu yang dekat dengan RSS.Irshad menyodorkan surat izin berdagang sapi dari pemerintah. "Kami dari Bajrang Dal dan tak peduli dengan semua kertas ini," kata salah seorang pemuda sembari mencabik-cabik surat tersebut. Irshad, Arif, dan ayah mereka diseret turun dari mobil dan dihajar habis-habisan.

Polisi akhirnya datang dan membawa mereka bertiga ke rumah sakit. Irshad dan Arif bisa pulih kembali, tapi nyawa ayah mereka tak terselamatkan. Setelah penyerangan itu, hidup Irshad dan Arif berantakan. Usaha ternak milik keluarga terpaksa ditutup dan mereka harus meninggalkan kampungnya demi menyelamatkan nyawa.


Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE