INTERMESO


PENJAGA BRANKAS MILENIAL

"Kalau kondisi sudah gawat, kami juga nggak bisa bantu. Financial planner bukan tukang sulap"

Aidil Akbar Madjid, perencana keuangan

Foto : dok. pribadi via Instagram

Sabtu, 27 April 2019

Bekerja sebagai public relation di sebuah perusahaan swasta, Rey dituntut selalu tampil menarik. Selain di kantor dan bertemu klien, Rey juga banyak menghabiskan waktu di gym. Supaya ototnya makin kencang dan berisi, Rey menyewa jasa instruktur gym. Sedangkan untuk mengatasi macet dan panasnya ibu kota, Rey tidak pernah membawa kendaraan pribadi. Ia mengandalkan taksi dan sopir online.

Tak terasa, semua pengeluarannya telah membuat tabungan Rey bocor. Di tambah lagi kebiasaannya nongkrong di kafe gaul bermodalkan laptop dan koneksi wifi gratis. Tabungan puluhan juta miliknya hampir tandas tak tersisa. Pernah Rey berusaha mengurangi frekuensi nongkrong dan mengerem jajan kopi, namun hal itu tak bertahan lama. Alhasil, angka di buku tabungannya tetap saja makin kurus.

Ketika sedang curhat tentang kebiasaan hidup hedon dengan seorang temannya, Rey diperkenalkan kepada Aidil Akbar Madjid, seorang perencana keuangan. Kebetulan teman Rey sudah terlebih dahulu menggunakan jasa Aidil Akbar Madjid and Associates, firma perencana keuangan yang didirikan Akbar.

Temannya maupun Rey yang berusia 28 tahun ini bukannya tak cukup dewasa untuk mengatur keuangannya sendiri. Tapi kenyataannya, mengerem kebiasaan boros lebih gampang diomongkan ketimbang diterapkan untuk diri sendiri. Itu lah mengapa Rey membutuhkan bantuan perencana keuangan. Bukan cuma membantu mengendalikan kebocoran di tabungan Rey, seorang perencana keuangan juga menyiapkan rencana keuangan jangka panjang. Seperti rencana pensiun, dana pendidikan, investasi, asuransi maupun dana darurat.

“Pendekatan kami, kalau klien kondisinya tidak terpuruk, sebisa mungkin kami tidak mengubah gaya hidup mereka secara drastis, karena kalau diubah secara drastis nggak akan tahan lama. Kami buat supaya mereka tetap bisa menikmati hidup tapi bisa nabung,” tutur Akbar yang menerima klien perseorangan, keluarga maupun perusahaan ini.

Aidil Akbar
Foto : dok. pribadi via Instagram

Namun jika klien yang ditangani sudah memasuki fase boros kronis, perencana keuangan akan memangkas habis-habisan pengeluaran. “Ada juga klien kami karyawan BUMN, hobi lomba maraton sampai ke luar negeri. Terakhir,  buat ngumpulin ongkos lari, dia sampai harus berutang. Kalau kondisinya sudah seperti itu, kami shutdown semua hal yang nggak penting,” kata Aidil.

Biasanya Akbar dibantu rekannya akan melakukan pembicaraan tatap muka dengan klien. Salah satu tujuannya untuk menganalisis dan mendapatkan informasi mengenai kondisi keuangan klien dan tujuan yang ingin dicapai. Termasuk pembagian harta warisan gono gini jika klien meninggal. Sesi ini bisa dilakukan dalam beberapa kali pertemuan.

Kalau kondisinya sudah seperti itu, kami shutdown semua hal yang nggak penting'

Selanjutnya rencana keuangan akan disusun berdasarkan kesepakatan. Kunci keberhasilan justru terletak pada implementasi rencana keuangan yang akan dilakukan klien. Sepanjang sesi ini perencana keuangan akan terus mengawasi dan melakukan peninjauan ulang. Pendampingan akan dihentikan jika klien sudah mandiri secara finansial atau jika tujuannya sudah tercapai.

“Setelah 2 sampai 4 tahun, biasanya kami sudah bisa lepas. Tapi lain soal kalau kasusnya orang itu terjerat banyak utang. Kalau ada pihak lain yang bisa membantu, misalkan orang tuanya bersedia jual aset untuk melunasi hutang. Tapi kalau kondisi sudah gawat, kami juga nggak bisa bantu. Financial planner bukan tukang sulap, we will work base on condition yang workable,” kata Akbar ketika ditemui detikX di kantornya di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Selatan.

Setelah lebih dari 10 tahun mendirikan konsultan perencanaan keuangan independen, tak terhitung lagi jumlah dana yang sudah Akbar bantu kelola. Mulai dari masyarakat biasa sampai dari kalangan artis dengan penghasilan bombastis. Ada seorang artis voice over, suaranya pengisi iklan dengan penghasilan lebih dari Rp 80 juta per bulan. Marcell Siahaan merupakan salah satu dari deretan artis yang merasa terbantu dengan jasa yang ditawarkan Aidil Akbar.

“Artis yang datang ke kami, walaupun penghasilannya juga besar tapi bukan boros, mereka konsultasi supaya dana mereka bisa dialihkan ke bentuk investasi yang lain. Mungkin mereka sudah belajar dari pengalaman artis lain yang sulit hidupnya ketika sudah hilang pamor,” tutur Aidil.Dia membantu orang-orang ini agar duit mereka tak amblas dan hilang percuma.

Aidil Akbar
Foto :dok. pribadi via Instagram

Kini kliennya juga banyak di dominasi oleh kalangan milenial. Terutama milenial yang usianya di atas 30 tahun. Milenial ini bila bekerja di korporasi dan karirnya lancar, kemungkinan sudah memiliki jabatan setingkat manajer dengan gaji dua digit. Karena mereka sudah bekerja dengan karir yang lumayan dan kemungkinan sudah berumah tangga, maka dana pensiun menjadi bagian penting dari perencanaan keuangan mereka.

Sementara milenial berusia di atas 20 sampai 26 tahun kemungkinan juga banyak yang memiliki masalah keuangan. Di antara mereka mungkin masih ada yang hidup dengan penghasilan pas-pasan. Apalagi, gaya hidup membuat mereka cenderung boros dan melulu memikirkan masa kini, abai dengan masa depan.

“Menurut saya prinsip YOLO (You Only Live Once) yang banyak dianut anak muda kurang tepat, harusnya you only live forever until you die and you only die once. Kalau uangnya dihabisin sekarang buat jalan-jalan, nanti ke depannya gimana?" kata Akbar. “Saat mereka sadar, biasanya sudah terlambat. Baru sadar saat mau nikah dan nggak punya duit. Mereka harus menabung tiga tahun dulu baru nikah. Nanti pacarnya malah keburu ditikung orang.”

Prinsip YOLO ini justru mirip dengan perilaku anak kecil ketika diberi uang jajan setiap hari oleh orang tuanya. Maka dari itu, Akbar menekankan pentingnya edukasi mengenai pengelolaan keuangan sejak dini. Bisa dimulai dengan memberikan uang jajan per periode, misalkan seminggu sekali. Tujuannya agar anak dapat belajar mengatur keuangannya secara mandiri.

Akbar juga merasa terbantu dengan didikan kedua orang tuanya sejak dini. Meski ayahnya bekerja di perusahaan negara ternama, mereka tak memberikan Akbar dan adik laki-lakinya keistimewaan. Sejak usia 14 tahun, Akbar sudah berusaha untuk bekerja. Ketika sang Ayah dipindah tugaskan ke Jepang, Akbar yang menempuh pendidikan tingkat SMP di Negeri Sakura itu tidak pernah diberikan uang jajan. Ia pun mengakalinya dengan bekerja sebagai pencuci piring di restoran Indonesia.

Begitu seterusnya sampai Akbar melanjutkan studi sarjana di Amerika Serikat. Di sana ia pun melakukan beberapa pekerjaan sekaligus. Selain bekerja di perusahaan keuangan, paginya Akbar masih menyempatkan diri untuk menjadi loper koran. “Secara tidak langsung orang tua mengkondisikan bahwa, 'Mama Papa ini bukan orang mampu loh'. Mungkin mereka mampu tapi mereka mengkondisikan seperti itu. Berarti kalau saya mau dapatin sesuatu saya harus usaha. Didikan orang tua itu juga yang bikin saya nggak kaget ketika masuk ke dunia investasi dan keuangan,” Aidil menuturkan.


Reporter/Penulis: MELISA MAILOA
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE