INTERMESO


AGAR MUDA BAHAGIA, TUA TAK SENGSARA

"Aku menjalani hidup penuh kebohongan, utangku terlampau banyak"

Safir Senduk, konsultan keuangan pribadi

Foto : dok. pribadi Safir Senduk

Minggu, 28 April 2019

Sudah beberapa tahun belakangan ini Vera mendapatkan posisi lumayan di salah satu perusahaan start up ternama di Indonesia. Wanita berusia 29 tahun yang masih lajang  ini hidup enak dengan gaji dua digit. Belum lagi tambahan bonus dan embel-embel lainnya. Mestinya dia bisa hidup nyaman di Jakarta. Tapi anehnya, setiap akhir bulan Vera masih ikutan berburu promo beli satu gratis satu di aplikasi online.

Meski pendapatannya  jauh di atas Upah Minimum Regional (UMR), tabungan Vera selalu ludes tak tersisa. Setelah ditelisik, pos pengeluaran paling besar yang dikeluarkan Vera adalah ongkos untuk jalan-jalan. Kalau sekadar jalan-jalan ke Bogor atau Bandung barangkali tak jadi soal. Repotnya, walaupun isi dompet sudah cekak di akhir bulan, ia rela makan mie instan asalkan bisa berfoto di kolam renang Marina Bay Sands, Singapura, di akhir pekan.

Sebetulnya Vera tidak selalu bepergian karena ia kepingin jalan-jalan, melainkan untuk mengisi konten di feeds Instagram. Meski bukan selebgram, media sosialnya itu rutin diisi dengan foto petualangannya ke berbagai penjuru dunia. Ketika tempat nongkrong anak gaul bernama Stylenanda Pink Hotel & Pink Pool Cafe di Korea Selatan sedang banyak dibicarakan orang, Vera pun tak mau ketinggalan. Berapa pun ongkosnya tak jadi masalah.

Ia sengaja menghabiskan waktu perjalanan dua hari hanya demi berfoto di dalam kafe bernuansa pink retro itu. “Karena aku udah keterusan upload foto soal jalan-jalan, jadi kalau nggak update rasanya ada yang kurang. Lagian banyak followers-ku yang suka tanyain,” kata Vera yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Ilustrasi
Foto : Getty Images

Vera sebetulnya tidak sendirian. Di luar sana, banyak orang-orang yang rela menghabiskan waktu dan menguras isi dompet, bahkan kalau perlu berutang demi panjat sosial. Salah satunya Lissette Calveiro, perempuan yang sempat ramai dibicarakan netizen ini. Sejak pindah ke New York pada tahun 2013, ia bercita-cita untuk menjadi selebgram. Lissette membeli barang-barang bermerek dan pakaian-pakaian mahal.

Ia juga tak ragu datang ke berbagai spot populer di dunia demi mendongkrak popularitasnya di Instagram. Karena gaya hidup boros di luar kemampuan rekening tabungannya ini, ia harus menanggung utang hingga ratusan juta rupiah. Lissette tercatat memiliki utang kartu kredit sebanyak Rp 137,4 juta atau setara dengan US$ 10 ribu. “Aku menjalani hidup penuh kebohongan, utangku terlampau banyak”, kata wanita asal Miami ini, seperti dikutip DailyMail.

Milenial sering diojok oleh lingkungan untuk membeli atau melakukan sesuatu yang sebetulnya mereka nggak butuh'

Baik Vera maupun Lissette merupakan kategori milenial. Perencana keuangan independen, Safir Senduk, sepakat jika milenial memang lebih boros ketimbang generasi lainnya. Setelah lebih dari 20 tahun malang melintang sebagai Financial Planner ini, Safir sering kali dihadapkan dengan klien muda dengan penghasilan berpuluh juta, namun kondisi keuangannya dalam keadaan 'sekarat'. Banyak diantara mereka yang menghabiskan uangnya untuk hal-hal di luar kebutuhan pokok seperti nongkrong sambil kopi, pakaian, jalan-jalan dan sebagainya.

“Milenial sering diojok oleh lingkungan untuk membeli atau melakukan sesuatu yang sebetulnya mereka nggak butuh,” kata Safir ketika ditemui detikX beberapa waktu lalu. Salah satu alasan mengapa milenial jaman now tak pikir panjang saat mengeluarkan uang karena godaan dari smartphone. “Sosial media membuat kita merasa rendah diri, kalau ngelihat teman jalan-jalan dia jadi kepengin. Dia udah pergi ke sana masa gua belum. Anak zaman sekarang mengejar kepuasan dari jumlah likes.”

Klien yang datang menemui Safir memang bukan cuma para milenial cekak, ada pula orang-orang berkantong tebal, tapi alasan mereka kurang lebih hampir sama. Mereka yang kini membutuhkan jasa konsultasi perencana keuangan menyadari ada yang salah dengan kondisi keuangannya dan cara dia membelanjakan duitnya. Mereka yang memiliki banyak dana membutuhkan nasihat untuk membeli produk investasi, sementara ada pula yang ingin dibantu lantaran sulit terlepas dari belitan utang.

Safir Senduk
Foto : dok. pribadi Safir Senduk

Kondisi ini berbeda jika dibandingkan ketika Safir memulai karirnya sebagai perencanaan keuangan independen pertama di Indonesia. Saat itu pada tahun 1998, ia mendirikan biro perencanaan keuangan Safir Senduk dan Rekan. Safir merasa saat itu pengetahuan masyarakat sangat minim mengenai literasi keuangan. Produk investasi semacam reksa dana saja jarang ada yang tahu. Justru Safir yang harus lebih dahulu menawarkan jasa kepada yang membutuhkan.

Pekerjaan perencana keuangan memang tidak mudah. Terlebih karena biro yang ia rintis masih baru dan belum punya nama. Pengguna jasa perencana keuangan ini biasa diawali dengan sesi konsultasi. Namun tak semua orang mau buka-bukaan soal jumlah penghasilan, utang, maupun mengaku dosa tentang aneka perilaku hidup boros.

“Saya diajak teman mengisi kolom mengenai keuangan di sebuah majalah. Ternyata saya dilirik penerbit Elex Media untuk menerbitkan buku keuangan. Sejak saat itu nama saya makin di kenal. Saya juga semakin aktif menjadi pembicara di media,” ujar Safir yang memiliki hobi sekaligus bisnis boardgame bernama Citra's Place ini.

Sampai saat ini pemegang Certified Financial Planner ini sudah menerbitkan 10 judul buku. Salah satunya yang paling laris berjudul 'Siapa Bilang Jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya?' Namun sudah lima tahun belakangan ini, Safir tidak lagi menerima konsultasi klien. Ia lebih banyak mengisi seminar, talkshow dan masih tampil di media. Hanya sesekali Safir masih menerima konsultasi keuangan dengan klien kenalannya.

Berdasarkan pengalaman Safir menangani bemacam-macam jenis klien, tingkat keberhasilannya tergantung pada komitmen klien untuk menjalankan perencanaan keuangan yang telah disepakati bersama. “Planning sebagus apa pun hanya bagus di atas kertas, tapi tergantung dari si klien ngejalaninnya bagaimana dan nggak semua orang bisa konsisten,” tutur Safir yang pernah diundang Kedutaan Indonesia di Amerika Serikat untuk memberikan seminar keuangan.

Besaran gaji seseorang, menurut Safir, tidak dapat dijadikan tolak ukur kekayaan. Begitu juga dengan klien Safir yang ngotot jika kekayaan bisa diukur dari kepemilikan harta berwujud seperti mobil, perhiasan atau rumah. “Banyak orang bilang, belum berhasil kalau belum punya mobil. Orang berhasil diukur bukan dari dia punya apa atau nggak. Itu hanya omong kosong,” katanya. Justru kekayaan seseorang diukur dari berapa besar tabungan dan investasi yang mereka miliki.

Safir menyarankan milenial yang memiliki dana terbatas untuk mulai berinvestasi dalam wujud saham. “Saham itu seperti kamu memiliki perusahaan sendiri tanpa kamu harus terlibat di manajemen dan tanpa kamu membangun dari awal,” ujar Safir. Opsi lain, Safir juga menyarankan anak muda memulai investasi di reksadana yang bisa dimasuki dengan modal hanya beberapa ratus ribu saja. Jangan lupa, Warren Buffet pun memulai investasi saat masih remaja hanya dengan modal beberapa dolar saja.


Reporter/Penulis: MELISA MAILOA
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE