INTERMESO


APA SALAH MATEMATIKA KITA?

"Di tingkat pendidikan dasar banyak guru yang tidak suka matematika dan tidak punya konsep matematika yang benar"

Ilustrasi matematika

Foto : Getty Images

Minggu, 5 Mei 2019

Tak lama usai Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) SMP untuk mata pelajaran matematika pada 23 April 2019 lalu, lini masa instagram maupun twitter segera ramai dengan rupa-rupa komentar. Banyak yang mengeluh, tak sedikit pula yang menulis komentar-komentar menggelikan.

Satu murid menulis seperti ini, “Untuk adek kelas, tahun depan gak usah ngapalin rumus dek ngapalin kalender bae”. Peserta UNBK lain menulis, “Saya begadang buat lihat video pembahasan soal sampe dikira asik sama yang lain sama gebetan. Eh, yang keluar malah 2 Mei hari jadian saya sama mantan saya, Pak. Tanggung jawab loh, Pak, gebetan saya ngambek.”

Dalam ujian matematika pada UNBK 2019 memang ada satu soal yang terkait dengan kalendar. Bunyi soal matematika itu kurang lebih seperti ini, “Jika tanggal 17 Agustus adalah hari Rabu, maka Hari Pendidikan Nasional pada tanggal 2 Mei di tahun yang sama, jatuh pada hari...?” Coba, apa jawabannya?

Tak cuma murid SMP yang terkaget-kaget dengan model soal matematika pada Ujian Nasional tahun ini. Tak sedikit murid SMA yang berkeluh kesah dengan soal matematika dalam Ujian Nasional pada awal April lalu. Satu soal yang ramai di sosial media adalah soal password email untuk Zaki dan Safira. Peserta ujian diminta menghitung berapa banyak kemungkinan password yang bisa dibuat Safira dan Zaky dengan mengkombinasikan nama dan angka.

“Kemarin niat saya pas UNBK pengen ngerjain soal mtk.. Ehh tiba nya di sekolah kok soal mtk yang ngerjain saya ya? Intinya, tahun depan soal nya harus lebih sulit lagi ya pak !!” seorang murid menulis tanggapan di linimasa Instagram Kementerian Pendidikan dan kebudayaan. Sepertinya sang murid benar-benar kesal.

Model soal seperti ini sebenarnya bukan hal baru dalam Ujian Nasional. Tahun lalu, Kementerian Pendidikan sudah mulai menyisipkan soal-soal matematika high order thinking skills (HOTS) yang menuntut penalaran ketimbang hanya hafalan rumus saat mengerjakan. Tapi tetap saja banyak murid terkaget-kaget dan tak siap. “Saya kira tadi ujian matematika pak, ternyata ujian hidup,” salah seorang murid menulis.

Ilustrasi
Foto : Getty Images

Apakah soal-soal matematika HOTS pada Ujian Nasional tingkat SMP maupun SMA kali ini kelewat sulit dan di luar kemampuan mereka, tentu masih sulit disimpulkan. Tahun lalu, reaksi peserta Ujian Nasional terhadap soal-soal model HOTS ini bahkan lebih heboh lagi. Padahal porsi soal seperti ini tak seberapa, kurang dari seperlima jumlah seluruh soal.

Bandingkan dengan soal matematika ujian akhir Sekolah Dasar di Singapura, yakni Primary School Leaving Examination (PSLE). Salah satu soal ujian matematika PSLE tiga tahun lalu seperti ini, "Suyin baked some pies. She gave 1/5 of them to her relatives and 30 of them to her friends. She was left with 2/3 of the pies. Then she packed these into 18 boxes. Some boxes contained 6 pies while the rest contained 12. How many pies were packed into the 18 boxes? How many boxes contained 6 pies?"

Tingkat kesukaran Ujian Nasional tahun ini, kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Totok Suprayitno, sebenarnya tak berubah dari tahun lalu. "Tidak ada perubahan distribusi tingkat kesukaran soal dari tahun sebelumnya. Komposisi soal berdasarkan level kognitifnya, 10-15 persen untuk penalaran, 50-60 persen untuk aplikasi, serta 25-30 persen untuk pengetahuan dan pemahaman," ujar Totok, beberapa pekan lalu.

Kemampuan matematika anak di Indonesia memang seperti segitig piramida. Yang pintar ada tapi sedikit, dan mayoritas kurang pintar'

Namun tetap saja, jika komentar-komentar di sosial media bisa jadi ukuran, banyak peserta Ujian Nasional yang puyeng saat mencari jawaban dari soal-soal model HOTS. “Untuk pertama kalinya pak, saya liat soal matematika ketawa. Masalahnya bukan lucu, Pak. Tapi saya nggak ngerti apa yang saya kerjain,” seorang peserta Ujian Nasional menulis.

Apa boleh buat, dengan semua tolok ukur dan data yang ada di luar sana, kita memang mesti mengakui bahwa rata-rata kemampuan matematika anak sekolah di Indonesia masih jeblok. Banyaknya prestasi dan gelar yang direbut anak-anak Indonesia dalam pelbagai ajang olimpiade sains dan matematika sama sekali bukan ukuran yang akurat untuk menilai penguasaan matematika anak Indonesia.

"Kemampuan matematika anak di Indonesia memang seperti segitiga piramida. Yang pintar ada, tapi sedikit, dan mayoritas kurang pintar," kata Ridwan Hasan Saputra, Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA, pekan lalu. Dia sangat paham soal satu ini karena dia juga merupakan pelatih nasional tim olimpiade matematika di Kementerian Pendidikan.

Ilustrasi
Foto : Getty Images

Bagi sebagian peneliti, kondisi pemahaman dan penguasaan matematika anak-anak sekolah di Indonesia sudah sampai tahap 'lampu merah' alias berada pada stadium 'gawat dan darurat'. Padahal kata orang, matematika merupakan induk dan 'ibunya' sains. Tanpa pondasi matematika, sulit untuk memecahkan rupa-rupa persoalan fisika, kimia, biologi, atau ekonomi sekalipun.

Repotnya, menurut sejumlah survei dan penelitian, posisi anak Indonesia dalam penguasaan matematika masih jauh dari tingkat yang membuat kita gembira, apalagi bangga. Laporan Trends in International Mathematics and Science Study (TIMMS) oleh International Association for the Evaluation of Educational Achievement(IEA) dan Lynch School of Education di Boston College pada 2015, menempatkan Indonesia pada urutan ke-45 dari 50 negara yang dikaji.

Penguasaan matematika anak kelas 4 SD di Indonesia, hanya ada di atas Yordania, Arab Saudi, Maroko, Afrika Selatan, dan Kuwait. Skor yang diperoleh murid-murid kelas 4 SD di Indonesia hanya 397, jauh di bawah Singapura 618, Korea Selatan 608, dan Jepang, 593. Salah satu contoh soal matematika dalam TIMMS 2015 yang diberikan adalah 512 x 3. Hanya separuh murid sekolah kelas 4 di Indonesia yang bisa menjawab soal itu dengan benar.

Padahal, jika ditilik dari total jam pelajaran dalam setahun, rata-rata murid sekolah di Indonesia menghabiskan waktu jauh lebih lama dari anak sekolah di Korea Selatan maupun Jepang. Anak Indonesia rata-rata menghabiskan 1095 jam pelajaran per tahun. Bandingkan dengan anak sekolah di Korea Selatan yang hanya belajar 712 jam per tahun dan Jepang 903 jam dalam setahun. Artinya, lama belajar bukan segalanya.

Hasil tes Programme for International Student Assessment (PISA) oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2015 menunjukkan hasil yang kurang lebih sama. Sama-sama kurang menggembirakan. Berdasar tes PISA (mengukur penguasaan matematika, sains dan membaca) pada anak sekolah Indonesia berusia 15 tahun pada 2015, kita hanya mendapat angka 386 untuk matematika dan berada pada urutan ke-63 dari 70 negara yang mengikuti tes PISA.

Murid Indonesia tertinggal jauh dari murid Singapura yang mendapat skor 564, juga Thailand yang meraih 415, bahkan Vietnam yang mendapat skor 495 dan berada di urutan ke-22. Skor yang dicapai murid sekolah Indonesia pada 2015, tak jauh beranjak dari angka yang didapat pada tes PISA untuk matematika pada sepuluh tahun dan 15 tahun silam. Apa yang salah dengan matematika di Indonesia?

Ilustrasi
Foto : Getty Images

Kementerian Pendidikan tentu saja sangat paham dengan semua data itu. "Kita dari dulu sudah tahu kalau matematika parah. Jadi ini bukan isu baru," kata Muhadjir Effendy, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, beberapa waktu lalu. Tinggal apa yang akan dilakukan agar kemampuan matematika anak Indonesia tak makin jauh tertinggal. Sebab, tanpa dasar matematika yang kuat, bagaimana kita bisa menjadi negara maju dalam sains dan ilmu pengetahuan lain.

Sejak dari 'hulu', menurut Ridwan Hasan, memang ada masalah dalam pengajaran matematika di Indonesia."Guru-guru SD, kebanyakan disebut guru kelas. Mereka mempelajari semua pelajaran. Matematika, bahasa Indonesia, Keterampilan, IPS, sehingga tidak fokus. Banyak juga latar belakangnya yang bukan matematika," kata dia.

Guru kelas ini seringkali mengajar banyak pelajaran, dari matematika sampai bahasa. "Dari pengalaman saya mengajar guru-guru SD. Di tingkat pendidikan dasar banyak guru yang tidak suka matematika dan tidak punya konsep matematika yang benar. Karena pengajarnya juga tidak suka matematika. Mereka tidak menikmati mengajar matematika dan menimbulkan kesan matematika itu susah," Ridwan menjelaskan. Walhasil, kesan itu menular pada anak-anak didiknya. Belum juga belajar banyak hal, anak-anak sudah merasa 'seram' dengan angka dan matematika.

Gurunya harus dilatih konsep pengajaran matematika yang baru, mudah, dan menyenangkan

Agar anak-anak sekolah di Indonesia, tak makin jauh tertinggal dari murid sekolah di Vietnam, Singapura, Malaysia, Korea Selatan dan Tiongkok, perlu perubahan besar dalam pengajaran matematika, dan barangkali juga untuk ilmu-ilmu dasar lain. "Cara pembelajaran matematikanya harus diubah," kata Ridwan. Kesan bahwa angka-angka dan rumus itu rumit dan sulit harus dikikis sehingga tak ada lagi momok bernama matematika.

Mengubah metode pengajaran matematika dan sains bukan pekerjaan kecil. Ini pekerjaan sangat besar dan butuh waktu panjang. "Pertama, gurunya harus dilatih konsep pengajaran matematika yang baru, mudah, dan menyenangkan. Ini untuk mengubah kesan mereka pada matematika. Dari tidak suka menjadi suka," kata Ridwan. Alternatif kedua, untuk pelajaran matematika harus ada guru khusus. Kalau ada pelajaran matematika, guru ini yang berkeliling dari kelas ke kelas. "Cuma ini agak berat. Kalau tiap sekolah harus ada guru khusus matematika, sarjana matematika apakah mencukupi untuk menutupi kebutuhan tersebut. Lalu apakah para sarjana matematika mau jadi guru SD?"


Redaktur: PASTI LIBERTI
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE