INTERMESO


BAGAIMANA VIETNAM KALAHKAN MATEMATIKA INDONESIA

"Semua murid di sini terobesesi mengejar nilai tinggi. Semua ingin masuk perguruan tinggi yang bagus"

Ilustrasi

Foto : Thinkstock

Senin, 6 Mei 2019

Tak biasanya pada hari itu, akhir Agustus 2015, ruang auditorium France Institute di Hanoi, Vietnam, penuh sesak. Orang-orang berjubel sampai ke luar ruangan. Mereka tak sedang mengantre menonton pertunjukan atau menyambut seorang bintang pop.

Bintang acara pada hari itu adalah seorang matematikawan. Seorang ahli angka. Namanya Ngo Bao Chau. Ngo lahir pada 28 Juni 1972 di Hanoi. Saat itu perang masih berkecamuk di Vietnam. Ayahnya seorang profesor fisika, sementara ibunya bekerja sebagai dokter di salah satu rumah sakit Hanoi. Ngo melewatkan masa kecil dan tumbuh besar di Vietnam.

Nama Ngo Bao Chau barangkali bukan nama yang banyak dikenal, bahkan di Vietnam sekalipun, hingga 19 Agustus 2010. Pada hari itu, International Congress of Mathematicians yang digelar di Hyderabad, India, memutuskan bahwa Bao Chau mendapatkan penghargaan Fields Medal. Di dunia matematika, Medali Fields ini dianggap setara dengan 'Hadiah Nobel'.

Bao Chau menjadi orang Asia Tenggara pertama yang mendapatkan Medali Fields. "Penghargaan ini menempatkan Vietnam sebagai negara Asia kedua yang mendapatkan Medali Fields," kata Perdana Menteri Nguyen Tan Dung dikutip VNANet beberapa tahun lalu. Vietnam menjadi negara kedua di Asia setelah Jepang yang mendapatkan penghargaan 'Nobel bidang Matematika'.

Bao Chau mendapatkan penghargaan itu berkat pembuktiannya atas lemma fundamental dalam teori bentuk automorfik. "Pembuktian Bao Chau sangat mencerahkan karena menggunakan ide geometri baru yang mendalam dan amat cantik," Vladimir Drinfeld, pemenang Medali Fields pada 1990, memuji. Ini bukan penghargaan prestisius pertama bagi matematikawan asal Vietnam itu. Pada 2004, dia mendapatkan Clay Research Award. Sepuluh tahun lalu, majalah Time menempatkan pembuktian lemma fundamental Langlands oleh Bao Chau dalam 10 penemuan sains paling top.

Ilustrasi
Foto : Getty Images

Republik Sosialis Vietnam yang bisa dibilang baru usai perang pada 1975 bukan lah negara yang makmur dan kaya raya. Namun hasil tes Programme for International Student Assessment (PISA) oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada tahun 2012 dan 2015 membuat banyak orang terheran-heran.

Pada 2012, Vietnam yang baru pertama kali ikut tes PISA untuk mengukur kemampuan matematika, sains, dan membaca pada anak usia 15 tahun, mendapatkan skor 511 untuk matematika dan menempati urutan ke-15. Tiga tahun kemudian, anak-anak sekolah Vietnam meraih skor 495 untuk matematika dan ada di urutan ke-22 dari 70 negara yang mengikuti uji PISA.

Peringkat Vietnam ada di atas negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Italia. Di antara negara-negara dengan kondisi ekonomi yang kurang lebih sama seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Brazil, Argentina, Kolombia, dan Afrika Selatan, anak-anak Vietnam unggul jauh dalam hal pemahaman matematika dan sains.

Indonesia hanya mendapat angka 386 untuk matematika dan berada pada urutan ke-63 dari 70 negara. Malaysia berada di peringkat 45, Thailand ke-56, sementara Brazil dan Argentina masing-masing di urutan ke-68 dan ke-43. Bagaimana anak-anak Vietnam bisa unggul jauh dari Indonesia dan negara-negara berkembang lain dalam hal matematika dan sains? Padahal Vietnam baru membuka diri dan mulai tancap gas membangun negaranya sekitar 30 tahun.

Artinya, orang tua punya banyak duit dan sekolah punya fasilitas serba bagus bukan jaminan akan mendapatkan nilai bagus dalam matematika dan sains. "Pencapaian Vietnam dan beberapa kota di China (Beijing, Shanghai, Jiangsu, dan Guangdong) merupakan bukti bahwa negara berpenghasilan rendah-menengah pun bisa menghasilkan murid-murid dengan nilai matematika dan sains bagus, bahkan lebih bagus dari negara-negara maju," kata Michael Crawford, salah satu penulis artikel Bank Dunia, Growing Smarter: Learning and Equitable Development in East Asia and the Pacific.

Pembuktian Bao Chau sangat mencerahkan karena menggunakan ide geometri baru yang mendalam dan amat cantik

Vladimir Drinfeld, pemenang Medali Fields pada 1990

Ilustrasi
Foto : Getty Images

Melihat bagaimana anak-anak sekolah di Vietnam belajar keras, bukan tak mungkin suatu kali nanti bakal lahir Ngo Bao Chau baru di negara komunis itu. Dalam artikel bertajuk Unraveling a Secret Vietnam’s Outstanding Performance on the PISA Test, dua peneliti dari Bank Dunia, Suhas D. Parandekar dan Elisabeth K. Sedmik, mengupas pelbagai faktor yang mungkin ada di balik keunggulan anak-anak Vietnam dalam matematika dan sains.

Salah satu hal terpenting, menurut Suhas dan Elisabeth, adalah faktor budaya. "Anak-anak sekolah di Vietnam bekerja lebih keras," Suhas dan Elisabeth menulis. Mereka jarang sekali datang terlambat masuk kelas, apalagi sampai membolos sekolah. Anak-anak sekolah Vietnam juga terbiasa menambah jam belajar usai sekolah. "Saat ada di sekolah, mereka juga lebih disiplin dan fokus pada pelajaran.

Faktor guru dan orang tua juga punya andil signifikan. Rata-rata orang tua di Vietnam menaruh harapan sangat besar pada pendidikan untuk melapangkan jalan masa depan bagi anak-anaknya. Makanya jika terkait dengan urusan sekolah, para orang tua selalu bersemangat terlibat dan tak ragu mengulurkan tangan. Sementara para guru di sekolah juga mendapatkan pengawasan ketat dari para atasannya.

Apa yang dituturkan para murid SMA Nguyen Hue di Hanoi ini barangkali bisa jadi gambaran bagaimana anak-anak sekolah di Vietnam. Nguyen Phuong Thao, 16 tahun, masih duduk di bangku kelas dua SMA Nguyen Hue. Tapi dia sudah merasakan tekanan berat menghadapi ujian masuk perguruan tinggi yang masih satu setengah tahun lagi.

"Semua anak di sini sangat pintar, membuatku merasa tertekan," kata Phuong Thao kepada Financial Times beberapa bulan lalu. Para orang tua menaruh harapan besar di pundak Phuong Thao, juga teman-temannya. Gadis itu suka matematika. Menurut Phuong Thao, orang tuanya sudah biasa menyuruhnya belajar keras sejak masih kecil. "Semua murid di sini terobesesi mengejar nilai tinggi. Semua ingin masuk perguruan tinggi yang bagus," kata Nguyen Tung Chi, teman Phuong Thao.

Kurikulum matematika dan sains yang bagus, ditambah kelas-kelas tambahan, menurut ahli pendidikan tinggi Pham Hiep, membuat anak-anak sekolah Vietnam punya kemampuan matematika dan sains lumayan bagus. Tapi yang tak kalah penting adalah ketatnya persaingan di antara murid. "Kami tak punya cukup kursi di perguruan tinggi," kata Pham. Untuk mendapatkan satu tempat di universitas, apalagi kampus favorit seperti Vietnam National University di Hanoi atau Ho Chi Minh City University of Technology di Ho Chi Minh City, satu orang harus berebut dengan puluhan anak lain.


Redaktur: PASTI LIBERTI

Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE