INTERMESO


BERGEMBIRA DENGAN MATEMATIKA

"Memang sudah bertahun-tahun, pembelajaran matematika di sekolah terasa garing, tidak bermakna"

Ilustrasi

Foto : Thinkstocks

Rabu, 8 Mei 2019

Barangkali, tak banyak anak sekolah seperti Meitha Hasni. Pelajar salah satu Sekolah Menengah Atas Negeri di Jakarta itu sangat suka angka dan matematika, pelajaran yang bagi sebagian orang bisa melenyapkan selera makan dalam seketika.

Sejak dulu, nilai matematikanya memang selalu bagus. "Waktu SMP saya dapat nilai 85 untuk matematika," kata Meitha beberapa hari lalu. Makanya, dia menghadapi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) untuk SMA pada akhir Maret lalu dengan relatif santai. Tak ada persiapan khusus untuk menghadapi soal-soal matematika. "Sama aja dengan pelajaran lain."

Meitha suka angka-angka dalam matematika lantaran 'jawabannya lebih pasti'. "Kalau soal Bahasa Indonesia misalnya, bisa ada kemungkinan beberapa jawaban alternatif yang mungkin juga benar," kata dia. Meski suka matematika, ada beberapa soal dia merasa kesulitan juga misalnya tentang gradien persamaan garis lurus dan persamaan garis singgung lingkaran.

Cara pengajaran matematika di sekolah, menurut Meitha, kadang memang kurang asyik. "Di sekolah tipe-tipe gurunya, masuk sebentar, jelasin dikit, terus ngasih soal. Materi yang diberikan tidak selengkap di tempat les," dia menuturkan. Di tempat bimbingan belajar, dia merasa lebih gampang memahami matematika. "Soalnya enakan guru di tempat les ketimbang di sekolah. Lebih dijelasin dan lebih detail. Benar-benar dikulik materi-materinya."

Ilustrasi
Foto : Getty Images

Sayangnya, tak banyak anak Indonesia seperti Meitha. Geometri, trigonometri, matriks, kalkulus, dan sebagainya, bagi banyak anak sekolah masih bikin mereka 'kehilangan selera'. "Todays test was hell. All of us didn't prepare for this difficulty ugh. What was the gov think? Does they think just bc they gave us hard test we suddenly became brilliant??" seorang pelajar mencuit di Twitter usai Ujian Nasional untuk SMA.

Ada anak tak suka matematika mestinya bukan persoalan besar. Tapi jika melihat skor hasil tes Programme for International Student Assessment (PISA) oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), laporan aporan Trends in International Mathematics and Science Study (TIMMS), maupun analisis SMERU Research Institute, kita harus mengakui, ada masalah dalam pemahaman matematika dan cara pengajarannya di sekolah. "Kita dari dulu sudah tahu kalau matematika parah. Jadi ini bukan isu baru," kata Muhadjir Effendy, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, beberapa waktu lalu.

Ternyata mereka yang kondisi ekonominya lebih baik dan berasal dari daerah perkotaan kemampuan matematikanya tak lebih bagus'

Kalau faktanya seperti berikut  ini, tak heran jika Niken Rarasati dan beberapa peneliti sampai pada kesimpulan bahwa negara ini sudah 'darurat matematika'. Menurut data dari Indonesia Family Life Survey (IFLS) yang dikutip Niken, peneliti dari SMERU, hanya 55,9 persen warga Indonesia berumur 28 tahun yang bisa menjawab dengan benar soal matematika sederhana seperti ini: 267 + 112 - 189 =.... Hanya 66 persen warga berumur 18 tahun yang memberikan jawaban 190. Persentase itu tak banyak beda dengan anak-anak berumur 8 tahun.

Saat diberikan soal matematika yang sedikit lebih sulit yakni 1/3 - 1/6 =, persentase yang memberikan jawaban dengan benar seketika terjun bebas. Hanya 8,9 persen responden berumur 18 tahun yang menjawab benar. Responden berumur 28 tahun yang menjawab dengan tepat hanya 6,8 persen. Berdasar data yang sama dari IFLS, hanya sekitar 55 persen responden lulusan SD yang bisa menjawab dengan benar soal pengurangan ini : 49-23 =....

Rendahnya kemampuan bermatematika ini, menurut Niken, hampir merata di semua provinsi - ada 13 provinsi - di Indonesia yang disurvei lewat IFLS. Faktor penduduk Pulau Jawa dan luar Jawa, maupun faktor tingkat ekonomi, ternyata juga tak banyak pengaruhnya pada kemampuan matematika. "Ternyata mereka yang kondisi ekonominya lebih baik dan berasal dari daerah perkotaan kemampuan matematikanya tak lebih bagus," kata Niken.

Ilustrasi
Foto : Getty Images

Apa sumber masalahnya, jawabannya bisa sangat kompleks. Di setiap daerah bisa beda persoalannya. Misalnya, mengapa pelajar di kota Yogyakarta rata-rata pemahaman matematika dan pelajaran lain lebih bagus ketimbang daerah-daerah lain. Apakah lantaran faktor budaya, sejarah atau ada faktor lain? Itu lah yang sedang diteliti oleh Niken dan teman-temannya. "Siapa tahu bisa ditiru daerah lain," kata dia.

Mengubah kurikulum saja, menurut Niken, tak cukup karena bagaimana kurikulum itu dijabarkan di kelas, sangat bergantung pada kemampuan guru sebagai ujung tombak. "Memang sudah bertahun-tahun, pembelajaran matematika di sekolah terasa garing, tidak bermakna, dan jauh dari kondisi kontekstual," kata Khairuddin, Ketua Umum Ikatan Guru Mata Pelajaran (IGMP) Matematika. "Pengajaran kita di sekolah cenderung hanya drill, menyelesaikan angka dan memperoleh nilai."

Di negara-negara yang punya peringkat PISA maupun TIMMS tinggi, menurut Khairuddin, pengajaran matematika dilakukan dengan aktivitas-aktivitas yang menstimulasi mathematical thinking, dengan mengaitkan ke kehidupan sehari-hari. Kurikulum matematika di Indonesia sebenarnya mulai mengarah ke sana. "Sayangnya, referensi pendukung dari Kementerian Pendidikan masih jauh dari relevansi kontekstual dan eksplorasi konsep."

Sistem pelatihan kepada guru, juga harus dirombak total. "Pelatihan sekarang relatif hanya menghabiskan uang negara. Tidak berdasarkan kebutuhan," kata dia. Walhasil, jadi mubazir. "Sepulang pelatihan, tetap saja guru masih pakai pola pengajaran lama karena tidak punya kesadaran perubahan atau tak ada pemantauan," kata Khairuddin.

Ilustrasi
Foto : Getty Images

Dulu, saat Muhammad Nur Rizal dapat beasiswa berkuliah di Monash University, putra sulungnya ikut pindah ke Australia. Lantaran waktu tinggal di Yogyakarta sang anak sudah masuk Sekolah Dasar, sekolahnya pun ikut pindah ke Negeri Kanguru.

Meski tak bisa berbahasa Inggris, ternyata anak itu justru sangat menikmati bersekolah di Australia. Beda jauh dengan saat bersekolah di Yogyakarta. Pengalaman anaknya yang begitu bahagia selama bersekolah di Australia itu lah yang menjadi sumber inspirasi Muhammad Nur Rizal dan istrinya, Novi Poespita Candra, keduanya dosen di Universitas Gadjah Mada, mengembangkan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM).

Menurut Rizal, bagaimana kita bicara soal pemahaman dan penguasaan materi pelajaran, jika anak tak senang dan tak menikmati berada di sekolah. Apalagi jika bicara soal matematika, pelajaran yang konon jadi momok banyak murid sekolah. "Kita kurang hands on learning sehingga penguasaan matematika hanya untuk menyelesaikan soal abstrak saja yakni sekadar menghafal atau sedikit memahami rumus-rumus, tapi kurang mampu menerapkan rumus-rumus dalam persoalan sehari-hari," kata Rizal, beberapa hari lalu.

Kita kurang hands on learning sehingga penguasaan matematika hanya untuk menyelesaikan soal abstrak saja yakni sekadar menghapal

Padahal, banyak sekali urusan sehari-hari di sekitar kita yang sebenarnya perlu matematika. Misalnya, saat seorang anak hendak beli kue yang harga per potong Rp 2200, sementara dia punya uang Rp 20 ribu. Berapa potong kue yang bisa dia beli? Berapa uang kembaliannya?

Pengajaran matematika di negeri ini, kata Rizal, masih kelewat jadoel, hanya mengejar penyelesaian soal dengan hafalan. Walhasil, nalar matematika anak untuk menyelesaikan persoalan dalam kehidupan kurang berkembang. Padahal soal-soal penalaran atau model high order thinking skills (HOTS) itu lah yang dipakai dalam tes PISA. "Pemerintah sadar kebutuhan meningkatkan skor PISA, tapi lupa meningkatkan kemampuan guru agar bisa mengajar dengan cara HOT sekaligus menciptakan ekosistem pembelajaran yang menyenangkan, memotivasi dan memberi ruang eksplorasi maupun ekspresi seluas-luasnya kepada siswa," Rizal menuturkan.

Paradigma pendidikan yang dirintis oleh GSM, menurut Rizal, menjadi counter narasi terhadap arah pendidikan di Indonesia yang terlalu berkiblat pada standarisasi dan pemberian materi pelajaran yang berlebihan sehingga menjadikan sekolah bukan lagi tempat belajar yang asyik dan menyenangkan. "Paradigma pendidikan GSM adalah memanusiakan manusia dan memerdekakan nalar," kata Rizal.


Redaktur: PASTI LIBERTI
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE