INTERMESO

#MariBerbagi


DALAM SEBUNGKUS NASI KITA BERSAUDARA

"Setiap kali kami berbagi nasi, kami mendapati perasaan itu. Perasaan aneh yang nggak terbeli dan nggak tergambarkan"

Tukang becak penerima nasi dari Komunitas Sebung di Surabaya

Foto : dok. Sebung Surabaya

Minggu, 12 Mei 2019

Seandainya Bill Gates tak royal membagi-bagikan uangnya untuk rupa-rupa kegiatan sosial, mungkin dia masih menjadi orang paling tajir di planet ini. Tapi meski dia sudah menyumbangkan puluhan, bahkan mungkin ratusan triliun rupiah duitnya, tetap saja Bill Gates masih super kaya raya. Bisa dibilang, kekayaan milik pendiri Microsoft itu sama hebatnya dengan Infinity Stone. Dalam film serial Avengers, film garapan Marvel Studios, batu berkekuatan super itu digunakan Thanos untuk memusnahkan setengah dari populasi semesta.

Sementara Bill Gates menggunakan harta sebesar US$ 91 miliar atau setara Rp 1.292 triliun, yang tercatat pada tahun 2018, untuk melenyapkan berbagai permasalahan sosial di dunia. Tahun lalu pendiri Bill & Melinda Gates Foundation ini bahkan sanggup menghapus utang sebuah negara. Bill Gates telah sepakat melunasi utang Nigeria ke Jepang sebesar US$ 76 juta atau hampir Rp 1,1 triliun. Negara di Afrika Barat itu berutang ke Jepang untuk membiayai pemberantasan penyakit polio. Hingga beberapa tahun lalu, jumlah penyandang polio di Nigeria merupakan salah satu yang terbesar di dunia.

Jika dibandingkan timbunan dolar milik Bill Gates, harta I Made Arga Swasra, pemuda asal Surabaya, Jawa Timur, jelas bukan tandingannya. Duit di rekening Arga barangkali hanya seujung kuku kekayaan pendiri Microsoft itu. Tapi bagi Arga, tidak perlu jadi konglomerat seperti Bill Gates untuk membantu memadamkan masalah kelaparan di tempat kelahirannya. Berawal dari iseng, dia membagikan sebung alias sego bungkus untuk orang-orang yang hidup serba kekurangan.

Sebungkus nasi berisi aneka lauk pauk harganya tak lebih dari Rp 8 ribu. Berawal dari hanya beberapa bungkus nasi sekitar tujuh tahun lalu, tak terasa kini sudah lebih dari 60 ribu bungkus telah berpindah tangan kepada mereka yang membutuhkan. Arga tak menyangka, niat sederhana itu lambat laun berubah menjadi komunitas para relawan yang mengusung semangat untuk berbagi kepada sesama.

“Kalau aku tahu gerakannya akan jadi sebesar dan selama ini, nama komunitas kami bukan Sebung, tapi mungkin akan jadi Guardian of Surabaya kayak di Avengers, biar lebih Googleable,” canda Arga, pendiri komunitas Sebung saat dihubungi detikX beberapa waktu lalu.

Relawan Sebung Surabaya
Foto : dok. Sebung Surabaya

Sejak tahun 2012, sebanyak 321 minggu telah Arga lewati bersama para relawan Sebung yang didominasi oleh anak-anak muda. Sebagian di antara mereka masih berstatus mahasiswa. Tak sekali minggu pun Arga dan teman-temannya 'libur' membagikan nasi. Setiap Jumat malam pukul 21.00, sebanyak 20 hingga 40 relawan berkumpul di depan perpustakaan Universitas Airlangga.

Aktivitas berbagi nasi ini memang sengaja dilakukan pada malam hari. Mereka tak ingin gerakannya jadi pusat perhatian. Bisa-bisa nasi-nasi bungkus itu malah nyasar ke tangan orang-orang yang bukan sasaran komunitas Sebung. Sego bungkus biasanya disediakan oleh komunitas Sebung, meskipun terkadang ada relawan yang berinisiatif membawa bungkusan nasi sendiri.

Setiap minggu sebanyak 200 bungkus nasi dibeli dari hasil donasi. Sebung membeli sego bungkus dari warung-warung kecil. Terkadang ada pula warung yang ikutan memberikan nasi sebagai bentuk sumbangan. “Jadi teman-teman yang bergabung hanya tinggal menyiapkan waktu dan tenaga untuk ikutan aksi berbagi,” kata Muhammad Faisal Tanjung, Ketua Sebung Surabaya saat ini.

Ketika para relawan Sebung mulai 'turun ke jalan', wajah kota Surabaya yang mereka kenal di siang hari sudah berubah. Di emperan toko banyak tunawisma tergeletak tidur dengan hanya beralaskan kardus. Di antara mereka ada pula preman-preman bertampang sangar. Di tepi jalan, beberapa tukang becak yang tidak memiliki rumah, istirahat meringkuk di atas becak. Becak itu lah alatnya mencari makan sekaligus rumahnya.

Kalau aku tahu gerakannya akan jadi sebesar dan selama ini, nama komunitas kami bukan Sebung, tapi mungkin akan jadi Guardian of Surabaya kayak di Avengers

I Made Arga Swasra, pendiri Komunitas Sebung Surabaya


Foto : dok. Sebung Surabaya

Rute yang dilewati relawan sego bungkus ini setiap minggu bisa berubah. Namun para relawan Sebung ini sudah hafal lokasi mana saja tempat orang-orang yang hidup susah itu biasa melewatkan malam. Misalnya jalur dari Kenjeran, melewati Undaan, Jalan Pasar Besar hingga Tugu Pahlawan.

Malam itu, seorang Ibu berpakaian kaos dan celana selutut kebagian nasi dari komunitas Sebung. Ibu bernama Dewi itu menenteng karung lusuh berukuran besar dan pengait untuk memulung sampah. Tanpa sendok dan garpu, ia melahap nasi dengan lauk tempe orek, telur dan daging ayam suwir. Tanpa rasa sungkan Dewi menggigit kantong kerupuk dan dituangkan di atas nasi. “Ket wingi rung mangan (Dari kemarin belum makan),” ujar Dewi dalam bahasa Jawa sambil tersenyum tipis.

Padahal baru beberapa menit lalu, Dewi menangis sesenggukan. Dewi yang tengah hamil besar curhat kepada relawan Sebung mengenai susahnya bertahan hidup di Surabaya sebagai perantau. Sebagai pemulung, pendapatannya tak menentu. Begitu pula suaminya yang merupakan tukang sapu jalanan. Dewi tidak punya tempat tinggal, sementara sebentar lagi ia akan melahirkan. Ia berencana menumpang tinggal sementara di rumah saudaranya di Sukabumi, Jawa Barat.

Sesaat setelah nasi tandas, Dewi tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih. Raut wajahnya tampak lebih ceria dari sebelumnya. Mungkin Dewi tidak menyangka malam itu, ada sekelompok muda mudi yang mau mendengarkan keluh kesahnya. Meskipun udara malam saat itu dingin menusuk kulit, curhatan selama 15 menit itu cukup membuat hati mereka terasa hangat.

Para relawan komunitas Sebung bertahan sejauh ini tentu bukan hanya karena aksi berbagi nasi. Bukan pula karena acara bulanan yang memang kerap diadakan. Setiap minggu, para relawan ini selalu menemukan kisah berbeda. Cerita yang akan membangun empati dan mengajarkan mereka untuk selalu bersyukur atas semua yang mereka miliki.

“Setiap kali kami berbagi nasi, kami mendapati perasaan itu. Perasaan aneh yang nggak terbeli dan nggak tergambarkan,” tutur Arga. Lulusan Universitas Airlangga jurusan Administrasi Publik itu juga menuturkan, kelompok yang termajinalkan ini tak hanya butuh bantuan dalam bentuk fisik, tapi mereka juga butuh teman untuk mendengarkan.


Foto : dok. Sebung Surabaya

Tanpa disadari, komunitas Sebung turut membangun identitas penggeraknya. Dari hanya sekedar ikutan berbagi menjadi sosok gemar berbagi. Rupanya benar jika ada perkataan bahwa berbagi tidak akan membuat seseorang jatuh miskin. “Ternyata banyak teman yang punya potensi lebih dan memiliki kegelisahan lain. Mereka yang punya passion ke mental illness meneliti tentang penyakit mental. Ada yang terinspirasi dan membuat toilet di kampung halaman. Walaupun kendaraan kami berbeda, akan semakin banyak masalah sosial yang tereduksi. Sebung jadi seperti MLM sosial,” kata Arga.

Getaran berbagi nasi bungkus ini rupanya terasa pula sampai ke Bandung, Jawa Barat. Sudah lebih dari tiga tahun Khoirul Nurasiah Herningrum menggerakkan komunitas Sebung di Bandung. Perempuan yang dikenal dengan panggilan Teh Yung ini juga merupakan 'alumni' Sebung di Surabaya. Setelah lulus dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), harusnya Teh Yung lanjut mencari kerja. Namun saat itu Ibunya mendadak sakit sehingga ia membantu merawat sang ibu.

Poin dari kegiatan kami bukan jumlah nasinya, tapi visinya menebar semangat berbagi

Di antara waktu luangnya, Teh Yung yang tidak tahan lama-lama berdiam diri  ini terpikir membuat gerakan yang sama di kota asalnya. Kegiatan Sebung di Bandung tak jauh berbeda dengan Surabaya. Sebung Bandung sanggup membagikan 60 bungkus nasi per minggu. Perempuan yang bekerja di yayasan keluarga asuh, Family for Family yang digagas Gubernur Ridwan Kamil ini memang telah sepakat untuk membatasi jumlah nasi bungkus yang dibagikan.

“Pemerintah kan mau memberantas penyandang kesejahteraan sosial, kok kami kesannya seperti bikin mereka jadi ketergantungan. Karena itu poin dari kegiatan kami bukan jumlah nasinya, tapi visinya menebar semangat berbagi,” ujar Teh Yung. Ia justru lebih menekankan penggerak untuk banyak berinteraksi dengan target di lapangan. “Kalau cuma kasih doang nggak bisa. Kami biasakan ngobrol dengan mereka. Nasi ini yang jadi perantara untuk kami masuk ke kehidupan mereka. Setelah itu mereka mau terbuka curhat semua ceritanya. Kadang kami makan bareng juga.”


Reporter/Penulis: MELISA MAILOA
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE