INTERMESO

#MariBerbagi


DARIPADA BERKELAHI, SEBAIKNYA BERBAGI

"Anaknya nggak pernah makan ikan. Agamanya Islam, tapi nggak pernah sholat, nggak tahu ngaji, wudhu dan nggak punya toilet"

Kegiatan komunitas SiGi Makassar

Foto : dok.SiGi Makassar

Selasa, 13 Mei 2019

Orang-orang miskin di jalan,

yang tinggal di dalam selokan,

yang kalah di dalam pergulatan,

yang diledek oleh impian,

janganlah mereka ditinggalkan

(W.S. Rendra, Orang-orang Miskin, 1978)

Seumur hidup Lu'Lu Yu'tikan Nabilah tidak pernah membayangkan akan berjalan menembus huta belantaran di tengah pekatnya malam. Bermodalkan lampu senter untuk menghalau gelap, Lulu menyusuri jalan setapak berbatu yang licin usai diguyur hujan. Malam itu Lulu bersama sekitar 20 orang lain membelah hutan menuju sebuah desa di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Mereka berjalan pelan sembari memanggul tas dan menenteng kantong plastik berisi buku dan papan kayu. “Dari tempat tinggal kami di Kota Makassar, kami nekat ke sana setelah mendengar ada sekolah di pedalaman yang dalam kondisi memprihatinkan,” kata Lulu yang tergabung dalam komunitas Sahabat Indonesia Berbagi (SIGi). Mereka berjalan kaki melewati hutan selama empat jam karena akses menuju sekolah itu tidak bisa dilalui kendaraan. Lulu dan rombongan akhirnya tiba di kampung itu pada pukul 2.00 dini hari.

"Warganya benar-benar terisolasi dari dunia luar. Anaknya nggak pernah makan ikan. AgamanyaIslam, tapi nggak pernah sholat, nggak tahu ngaji, wudhu dan nggak punya toilet," Lulu menuturkan. Awalnya, ada seorang kenalan relawan SIGi yang menemukan lokasi sekolah di Kampung Barayya, Dusun Tanete Bulu, Desa Bonto Manurung, Kabupaten Maros ini. Ia mendapat informasi dari warga bahwa ada sekolah yang hanya meminjam kolong rumah seorang warga dan menyulapnya menjadi tempat belajar bagi anak-anak Kampung Barayya.

Kondisi sekolah di Dusun Tanete Bulu ini memang sangat memprihatinkan. Selayaknya kolong di rumah panggung, sekolah itu beratapkan lantai rumah warga. Tak ada dinding, tanpa sekat. Karena itu pula tak ada foto simbol negara yang terpajang di depan kelas. Karena kelasnya terbuka, hewan ternak seperti ayam dan kambing pun kadang ikut 'belajar'.

Kegiatan komunitas SiGi Makassar
Foto : dok. SiGi Makassar

Di dalam kelas meja dan kursi kayu untuk belajar pun sangat minim. Beberapa siswa yang tak kebagian terpaksa berdiri. Meja itu pun sekaligus mereka gunakan untuk menulis. Di tengah kondisi serba prihatin seperti itu, jangan tanya soal kelengkapan buku pelajaran, alat tulis, dan materi pelajaran. Semuanya serba tertinggal. Guru yang mengajar jumlahnya sangat terbatas. Sehingga siswa harus gantian belajar sesuai dengan tingkat kelas masing-masing.

“Saat itu kami dengar dari warga kalau gurunya jarang datang. Mereka biasa datang cuma tiga minggu sekali,” kata Lulu. Anak-anak di sana memang tidak punya pilihan untuk tetap bersekolah. Jarak sekolah dasar terdekat mencapai 3 kilometer dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Sementara SD yang masuk wilayah Maros jaraknya mencapai 9 kilometer.

Kami dengar dari warga kalau gurunya jarang datang. Mereka biasa datang cuma tiga minggu sekali'

Setelah mendengar kabar itu, SIGi Makassar, komunitas yang bertujuan untuk berbagi terhadap sesama, rembukan dengan berbagai relawan dari komunitas lain untuk membangun sekolah baru. Gerakan yang telah dituntaskan tahun lalu ini dinamai Sekolah Kolong Project. SIGi ikut membantu membangun perpustakaan kecil.

Menyimak kisah Lulu dan para relawan SIGi yang rela bersusah payah untuk menolong anak-anak yang nyaris tak tersentuh sekolah, di tengah hiruk pikuk orang-orang yang terus 'berkelahi' soal suara di Jakarta, membuat kita percaya bahwa masih ada harapan di depan sana. Komunitas SIGi  Makassar berawal dari empat orang yang sama-sama peduli dengan derita orang di sekitar mereka. Proyek sosial pertama mereka adalah berbagi sepatu pada 2012 lalu. Berawal dari empat orang, kini relawan yang terdaftar di SIGi Makassar sudah lebih dari 150 orang. Komunitas ini tidak hanya ada di Makassar, semangat berbagi telah disebar di tingkat regional lainnya seperti Jabodetabek, Medan dan Palu.

Lulu yang merupakan mahasiswa jurusan pendidikan di salah satu universitas di Makassar ini kebetulan punya kegelisahan di bidang pendidikan. Selama ini ia hanya kebagian praktik mengajar di sekolah-sekolah 'enak dan nyaman'. Padahal dia juga ingin menyumbangkan ilmunya untuk mengajar anak-anak kurang mampu. Tiga tahun lalu Lulu pun bergabung dengan komunitas SIGi Makassar.

Kegiatan komunitas SiGi Makassar bersama anak-anak keluarga kurang mampu
Foto : dok. SiGi Makassar

Salah satu program rutin yang diikuti Lulu merupakan SIGi Carakde. Dalam program ini, Lulu bersama relawan lain setiap pekan rutin mengadakan program pembelajaran dalam bentuk sekolah lepas. Mata pelajaran berupa Matematika, Bahasa dan Agama ini menyasar anak pemulung putus sekolah di sekitar Makassar.

Sigi Carakde berlangsung selama minimal tiga bulan dan disesuaikan dengan kebutuhan anak. Program mengajar ini pernah diadakan di Pantai Losari, Asrama Dayung, Desa Nelayan Untia dan masih banyak tempat lain di Makassar. “Saya nggak pengin cuma ngajar di sekolah yang ber-AC, tapi juga ingin memberdayakan diri dengan anak-anak kurang beruntung,” kata Lulu yang pernah mengajar seorang anak korban bully yang berhenti sekolah karena diejek lantaran keluarganya mencari makan sebagai pemulung.

Sebagian besar relawan SIGi Makassar masih berstatus mahasiswa dari berbagai universitas di Makassar. Menurut Ratih Mutmanikkang Johor , salah satu pendiri SIGi Makassar, kegiatan berbagi ini tak cuma berdampak positif bagi penerima, tapi juga bagi para relawan yang terlibat. “Saya melihat kegiatan ini banyak mengubah hidup para relawan. Yang tadinya merasa kurang bersyukur dan banyak mengeluh, menjadi seperti tersentil,” ujar Ratih.

Selain program SIGi Carakde, Ratih menuturkan, SIGi Makassar juga punya kegiatan lain seperti Asiteru (Aksi Sahabat Indonesia Tebar Buku). Program Asiteru ini yang salah satunya dilaksanakan di Kabupaten Maros. Selain itu, relawan SIGi juga sering menyusuri pulau dan pedalaman di sekitar Makassar untuk mengadakan Telling, Teater Keliling. Acara yang diadakan tiga kali dalam setahun ini bertujuan untuk mengedukasi anak-anak di berbagai daerah lewat film.


Reporter/Penulis: MELISA MAILOA
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE