INTERMESO

Caleg Milenial Terpilih

Milenial, Jomblo, dan Kini Jadi Legislator

Tiga anak milenilal ini terpilih menjadi anggota dewan. Hebatnya, mereka rata-rata baru setahun berkiprah di politik.

Ilustrasi : Luthfy Syahban

Rabu, 15 Mei 2019

Anak muda alias milenial masuk parlemen di Pemilihan Umum 2019 tentu memberi warna politik yang berbeda. Tapi siapa sangka, kesuksesan mereka masuk ke gelanggang politik menjadi calon anggota legislatif awalnya hanya untuk memenuhi kuota caleg suatu partai politik. Juga untuk memenuhi kuota keterwakilan gender caleg di parpol.

Hal itu juga yang dialami Ismail Bachtiar, caleg milenial Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Selatan dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Laki-laki kelahiran Bone, 3 Juli 1993, itu, mencalonkan diri sebagai caleg untuk Daerah Pemilihan (Dapil) Sulawesi Selatan 7, yang mencakup seluruh Kabupaten Bone.

Dalam Pileg yang berlangsung pada 17 April yang lalu, Ismail berhasil menyabet kurang lebih 16.000 suara di dapilnya. Padahal, di daerah itu ada sejumlah politikus senior yang menjadi petahana. Mereka pun berasal dari parpol-parpol besar seperti Golkar, Demokrat, PAN, dan Gerindra.

“Awalnya bagaimana saya terlibat politik itu, saya sebenarnya hanya untuk memenuhi kuota saja. Terus akhirnya keseriusan dijalani. Termasuk baru tahun kemarin (2018) itu pas mau pendaftaran. Awalnya nggak tertarik sebenarnya,” ungkap Ismail yang dihubungi detikX, Jumat, 10 Mei 2019.

Ismail Bachtiar bersama Sandiaga Uno
Foto : Dok. Pribadi


Karena sebetulnya ketika saya menjadi caleg pun yakin banyak suara, karena basic keluarga saya yang sudah punya nama berkat rumah makan milik keluarga.”

Ismail terjun ke dunia politik karena sering mengikuti pengajian bersama teman-temannya. Saat itu, sekitar bulan Agustus 2018, ustadz dan sejumlah temannya tiba-tiba mengajak Ismail untuk mendaftarkan diri sebagai caleg PKS. “Mau ikut nyaleg nggak? Saya masukin namamu, ya? Oh iya, masukin saja ustadz!” kata Ismail sambil menirukan kembali ajakan sang ustadz.

Saat itu, di Dapil Kabupaten Bone baru ada tujuh caleg PKS. Karena itu, Ismail diminta untuk mengajak teman-temannya untuk menjadi calon legislator. Proses itu memakan waktu satu minggu lebih. Dan, tiba-tiba namanya sudah muncul di daftar calon tetap di Komisi Pemilihan Umum.

“Makanya awal mulanya saya nggak serius-serius banget. Karena saya nggak kepikiran bakal kepilih,” ujar pria berusia 26 tahun jebolan Fakultas Kesehatan Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, ini.

Orangtua Ismail pun tak tahu dirinya nyaleg. Mereka baru tahu ketika Sandiaga Uno datang berkunjung ke Bone pada 27 Desember 2018. Dalam kunjungannya itu, Sandi menyambangi keluarga Ismail. Keluarga besar Ismail pun terkejut dengan kedatangan calon wakil presiden itu. “Kita senang nih ada anak muda ikutan nyaleg. Salah satunya, Ismail, caleg muda dari PKS,” kata Sandiaga.

Sontak orangtua Ismail terkejut, karena selama ini anaknya tak pernah bilang ingin nyaleg. Warga pun tak pernah tahu lantaran tak pernah ada baliho atau spanduk Ismail. Setelah acara, Ismail baru memberi penjelasan kepada orangtua dan mereka mendukung penuh. “Setelah itu, ibu ikutan jalan berkampanye juga,” ucap Ismail sambil tertawa.

Begitu juga dengan Rara Agustin, caleg terpilih di DPRD Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Perempuan kelahiran Ciamis, 20 Agustus 1990 itu awalnya diminta menjadi caleg oleh utusan Ketua Dewan Pengurus Cabang PDI Perjuangan Pangandaran, yang sekaligus Bupati Pangandaran, Jeje Wiradinata.

Rara Agustin (baju putih) bersama warga Pangandaran
Foto : Dok. Pribadi

Utusan itu menemui ayah Rara, Haji Alan Dahlan, yang cukup terkenal sebagai pengusaha kuliner di Pangandaran dan meminta bantuan Haji Alan untuk mencari orang yang berminat menjadi anggota legislatif dari PDI Perjuangan. Apalagi kuota keterwakilan caleg perempuan di PDI Perjuangan masih kurang dari 30 persen.

Tak banyak berkata-kata, utusan Bupati Pangandaran itu pun langsung meminang salah satu anak Haji Alan untuk menjadi caleg, yaitu Rara. Haji Alan dan keluarga, termasuk Rara sendiri, sempat tak begitu tertarik dengan tawaran tersebut, sebab mereka tak punya pengalaman politik kecuali berdagang.

“Cuma setelah dipikir-pikir lagi, karena saya orangnya itu mau belajar. Kemudian saya mau mencoba sesuatu hal yang baru, saya juga ingin tahu sejauh mana sih politik itu? Kalau jadi wakil rakyat menjadi pelayan masyarakat. Setelah dua minggu, saya memutuskan untuk okey, saya bersedia,” terang Rara, perempuan lulusan Komunikasi Bisnis, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran itu.

Akhirnya Rara bergabung dengan PDI Perjuangan dan mendaftar sebagai caleg DPRD Pangandaran untuk Dapil 2, yang meliputi Kecamatan Padaherang dan Mangunjaya. Popularitas keluarga Haji Alan Dahlan sebagai pemilik Rumah Makan "Cobek Beti" dimanfaatkan PDI Perjuangan untuk mendulang suara banyak di Pangandaran.

Dan buktinya, dalam pemungutan suara, Rara Agustin meraih 2.605 suara dan mengantarkannya ke kursi dewan. “Karena sebetulnya ketika saya menjadi caleg pun yakin banyak suara, karena basic keluarga saya yang sudah punya nama berkat rumah makan milik keluarga,” terang lajang yang sempat menjadi karyawan bank swasta itu.

Agak berbeda dengan caleg milenial terpilih untuk DPRD Kota Prabumulih, Sumatera Selatan, Alfa Sujatmiko. Pria kelahiran Palembang, 6 Juni 1996 ini berhasil mendulang 1.746 suara di Dapil Prabumulih 3, yaitu di Kecamatan Prabumulih Timur. Walau usianya baru menginjak 23 tahun, Alfa saat ini menjabat sebagai Ketua DPC Banteng Muda Indonesia (BMI) Palembang.

Alfa Sujatmiko saat menyalami pendukungnya
Foto : Dok. Pribadi

Sejak lulus SMA tahun 2014, Alfa sudah terjun ke dunia politik di organisasi kepemudaan sayap PDI Perjuangan itu. Bahkan sejak kuliah Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Palembang, Alfa sudah aktif di Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI). “Karena berpolitik ini aku dari hati, dan saya suka bertemu dengan orang, banyak kerja di luar. Sejak SMP berorganisasi OSIS dan SMA kepengen terjun ke politik,” ujar Alfa.

Menurut Alfa, ayahnya HM Ali Sya’ban yang kini menjabat sebagai Ketua Komisi III DPRD Kota Palembang memang tak secara langsung ikut capur pencalegan dan kampanyenya. Tapi pengaruh dan dukungan sang ayah begitu besar. “Ayah men-support saja. Ayah berpesan, ketika menjadi wakil masyarakat benar-benar kerja. Lebih baik jadi pengusaha saja kalau mengejar uang,” ucap Alfa.

Bagaimana soal dirinya yang masih lajang kini menjadi anggota dewan? Apakah sudah banyak perempuan muda yang mulai mendekatinya? “Ya, pasti banyak. Tapi saya serahkan ke ibu saya, karena kan kebahagiaan aku ya kebahagiaan orangtuaku juga. Kalau lagi jomblo ini enak ha-ha-ha…” jawabnya sambil tertawa.


Reporter: Gresnia Arela F
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE