INTERMESO


'AIR KEBAJIKAN' DARI BARUS

Makin sulit mendapatkan pohon kapur tua di Barus, Sumatera Utara. Harga kristalnya bisa ratusan juta rupiah.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Selasa, 21 Mei 2019

Sauli Simatupang bergegas mengambil parang pendeknya ketika kami minta tolong ditunjukkan pohon kapur barus. Dari jalan raya yang menghubungkan Barus, Tapanuli Tengah, dengan Pakkat, Humbang Hasundutan, ia menuntun kami turun ke lembah. Mendapati sebuah pondok kecil sekitar 100 meter dari jalan raya, pria berusia sekitar 40 tahun itu meminta semua alas kaki dilepas. "Kita naik ke atas," katanya. Tak terbayang bagi kami seperti apa perjalanan naik itu.

Setelah menyeberangi sebuah kali kecil berair jernih yang disebutnya Sungai Simarapak, barulah kami temui jalan setapak kecil yang becek dan licin. Hujan memang jadi tamu tetap setiap sore kawasan hutan milik negara yang terletak di Bukit Simarapak itu. Hutan yang kami masuki berada di Desa Bonandolo, Kecamatan Andam Dewi. Kira-kira 20 kilometer perjalanan dari Kota Barus. Letaknya tak begitu jauh dari gerbang yang membatasi Kabupaten Tapanuli Tengah dengan Humbang Hasundutan.

Di ujung jalan yang masih rata, Sauli berhenti sejenak. Ia memotongkan batang pohon kecil yang kuat buat kami untuk dijadikan tongkat. Ternyata jalan naik ke atas begitu menantang. Kemiringannya yang mencapai 60 derajat sangat menyulitkan. Untungnya tongkat kayu yang diberikan Sauli cukup membantu. Sesekali akar pohon yang menjuntai jadi penolong ketika kaki terpeleset akibat menginjak tanah yang licin.

Baru mendaki 10 menit, suara napas kami yang berat sudah beradu kuat dengan suara siamang dari kejauhan. Saya hanya membatin, menuruni kaki Bukit Simarapak ini pasti membutuhkan perjuangan lebih berat. Butuh 30 menit dari bawah untuk sampai ke pohon kapur barus yang dituju. Diameternya kira-kira hampir 30 sentimeter. Sekelilingnya tumbuh menjulang pohon-pohon karet hutan yang hampir serupa besarnya.

Sauli langsung mengambil benda bening seperti kristal yang menempel pada kulit pohon. "Inilah getah pohon kapur barus," ujarnya seraya memasukkan benda kenyal seukuran kacang tanah itu dalam mulut. Sambil mengunyah, Sauli bicara khasiat getah itu. "Ini obat. Orang kampung sini, kalau sakit perut, makan getah ini langsung sembuh atau dicampurkan dengan air panas lalu diminum."

Kristal getah pohon kapur
Foto: dok. Forestry Research Institute of Aek Nauli FORDA

Pohon kapur atau Dryobalanops aromatica yang ditunjukkan Sauli masih terbilang muda. Borneol atau minyak umbil dalam masyarakat lokal yang berada dalam rongga batangnya masih sedikit. Menurut pengalaman Sauli, pohon yang sudah tua bisa dikenali dengan munculnya benjolan-benjolan pada batang. Tapi menemukan pohon dengan ciri-ciri tersebut yang tumbuh liar di hutan sangat sulit. "Bisa dibilang nasib-nasiban (untung-untungan)," katanya.

Kalau kebetulan pohon itu bisa ditemukan, mengeluarkan minyaknya tak terlampau sulit. Proses memanennya hampir mirip dengan cara menyadap pohon karet. "Batang ini ditembus pakai gergaji mesin, dalamnya kira-kira 15 cm," kata Sauli. Minyak umbil yang mengalir dari lubang irisan gergaji mesin ditampung dengan jeriken. Satu pohon bisa menghasilkan minyak umbil sebanyak tiga jeriken berukuran 30 liter.

Saudagar yang beli itu jual lagi hampir dua kali lipat. Kadang katanya dikirim ke Arab."

Jarangnya pohon kapur yang berusia tua membuat harga minyak umbil asli terbilang luar biasa. Sauli bisa menjual satu botol minyak umbil ukuran 600 mililiter sampai Rp 300 ribu. Tak sulit mencari pembelinya. Ada saudagar dari daerah Pakkat yang sudah siap menampung. Kalau dihitung-hitung, sekali panen Sauli bisa dapat hampir Rp 50 juta. "Saudagar yang beli itu jual lagi hampir dua kali lipat. Kadang katanya dikirim ke Arab juga," katanya.

Sayangnya, pohon kapur itu minyaknya tidak bisa dipanen berkali-kali. "Panennya tidak diprediksi kapan lagi. Kurasa harus sembuh dulu luka pohonnya," kata Sauli. Ia tidak bisa menggantungkan hidupnya dari pohon kapur. Sauli lebih banyak beraktivitas menyadap pohon karet. Sesekali ia mendapat pesanan mencari burung murai di dalam hutan. "Atau menunggu musim durian hutan berbuah untuk dijual di kota."

Kristal dan minyak dari pohon kapur itu jadi komoditas yang paling banyak dicari sejak ribuan tahun lalu. Sejarawan Inggris Oliver William Wolters, yang meneliti jalur perdagangan Kerajaan Sriwijaya, menyebut pohon kapur barus merupakan tanaman hutan rimba Nusantara bagian barat. Berdasarkan analisis sumber-sumber dari China, Wolters juga menyimpulkan sejak abad ke-6 Masehi, betul-betul terdapat sebuah daerah di sebelah barat laut Sumatera yang mengekspor kapur atau kamper.

Pohon kapur berumur 25 tahun di Aek Nauli
Foto: dok. Forestry Research Institute of Aek Nauli FORDA

Guru besar antropologi kesehatan dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Rusmin Tumanggor, menuturkan kapur barus pun disebut dalam kitab suci Alquran surat Al-Insan ayat 5. "Sungguh, orang-orang yang berbuat kebajikan akan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur, (yaitu) mata air (dalam surga) yang diminum oleh hamba-hamba Allah dan mereka dapat memancarkannya dengan sebaik-baiknya."

Kafur, kata Rusmin, bisa diartikan dengan kapur barus. Kosakata itu terserap ke dalam bahasa Arab dan sejumlah bahasa lain di dunia melalui hubungan dan percampuran budaya. Rusmin memperkirakan pada masa Nabi Muhammad SAW menyiarkan Islam di Mekah dan Madinah, kapur barus telah dikenal di dunia Arab. Bahkan mungkin bukan barang baru lagi di pasar Arab. “Tidak mustahil jika sebagian pedagang Arab sendiri yang mengambilnya ke Barus dan membawanya ke Arab,” ujar Rusmin kepada detikX.

Peneliti farmasi dari Prancis Nouha Stephan dalam artikel "Kamper dalam Sumber Arab dan Persia" yang menyebut istilah kafur juga terdapat dalam syair-syair yang dipercayai ditulis sebelum munculnya agama Islam. Di sini kafur dibandingkan dengan minyak kasturi untuk melambangan kontras warna putih dan hitam.

Arkeolog Prancis Claude Guillot dalam buku Barus Seribu Tahun yang Lalu memaparkan sudah ada hubungan Barus dengan Persia kuno zaman Kekaisaran Sassanid pada abad ke-4 Masehi. Kamper, yang sangat mungkin berasal dari bagian utara Sumatera, sudah dikenal zaman itu. "Anehnya, kamper dari Nusantara sampai ke China melalui wilayah itu," tulis Guillot. Hal itu diketahui dari dokumen lama berupa surat yang mencatat kamper dijual di China oleh pedagang dari Sogdiane, Persia.

Kamper pun masuk dalam daftar obat-obatan peradaban Sassanid pada abad ke-6 M. Tercatat dalam buku tertua ilmu kedokteran yang ditulis dalam bahasa Persia abad ke-10 M, kamper digunakan untuk menghentikan mimisan dengan dicampur dengan air kurma hijau dan kemangi. Begitu juga dengan buku-buku kedokteran berbahasa Arab menunjukkan kamper dipakai dokter-dokter terkenal dalam abad ke-9 dan 10 M.

Karena itu, pada masa-masa tersebut terbit semacam buku panduan bagi para pedagang muslim dari Timur Tengah. Salah satu isinya menujukkan kamper merupakan satu di antara bahan perdagangan yang paling dicari di Timur Tengah. Masuknya kamper ke kawasan itu melalui pelabuhan Siraf di Persia. "Siraf satu di antara pelabuhan terkemuka, bahkan yang utama dalam hal mengimpor kamper," Guillot menulis.

Minyak kapur
Foto: dok. Forestry Research Institute of Aek Nauli FORDA

Selama berabad-abad kamper jadi komoditas yang melegenda di dunia. Marco Polo dalam buku petualangannya bahkan menyebut kamper dari Barus merupakan yang terbaik di dunia. Menurut Marco Polo, saat itu harga jualnya setara dengan logam mulia. Namun kini pohon barus yang menghasilkan kamper sangat jarang ditemui. Tak banyak orang yang tahu keberadaannya. "Sekarang yang masih ada itu sisa-sisa banyak yang habis karena pembalakan dan alih fungsi hutan," ujar peneliti dari Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli, Aswandi.

Pantai barat Sumatera, dari Barus sampai Singkil dan Sabulussalam di Aceh, merupakan daerah vegetasi asli bagi pohon kapur barus. Dulu daerah ini masih satu kesatuan hutan. "Mungkin sejak awal terbentuknya hutan (pohon kapur) sudah ada di situ," kata Aswandi. Menurut Aswandi, pohon ini bisa tumbuh di daerah dataran rendah yang berbatu sampai ketinggian 600 meter. "Namun pernah juga ditemukan bisa tumbuh sampai ketinggian 900 meter," katanya.

Menurut peneliti China yang datang ke Aek Nauli, kapur Sumatera kualitasnya lebih baik dan aromanya lebih kuat."

Di Indonesia, pohon kapur juga bisa ditemukan di daerah Kalimantan dari jenis Dryobalanops lanceolata. Jenis ini berbeda dengan yang tumbuh di Barus dan sekitarnya. Sayangnya, sampai kini potensi borneol tak tergarap dengan baik. Padahal pasarnya sangat besar. "Sekarang orang tertarik dengan pengobatan herbal dan organik. Borneol ini bisa dimanfaatkan," kata doktor kehutanan lulusan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, itu.

Aswandi mendapat informasi, di Singapura satu botol kecil berisi 6 mililiter cairan aroma terapi dengan kandungan kamper atau comphor bisa dijual sampai Rp 500 ribu. Sementara itu, di pasar internasional harga pasaran borneol dalam bentuk kristal dengan konsentrasi 98 persen mencapai Rp 100 juta. "Ini kan luar biasa. Sayang memang belum digali dengan optimal," katanya.

Selama ini baru China yang serius menggarap potensi borneol dan menjadi produsen borneol terbesar di dunia. China punya pohon kapur namun dari jenis Cinnamomum camphora. "Tapi, menurut peneliti China yang datang ke Aek Nauli, kapur Sumatera kualitasnya lebih baik dan aromanya lebih kuat," kata Aswandi.

Klaim kamper Barus lebih baik dibanding kamper China itu disokong data dari duo sejarawan Prancis, Isidore Hedde dan Natalis Rondot. Rondor dan Hedde dalam Etude pratique du Commerce d'Exportation de la Chine menyebut harga rata-rata kamper Barus diestimasi 100 kali lipat harga kamper lokal China. China sepanjang tahun 1839 sampai 1844 tercatat setiap tahunnya mengimpor kurang dari 400 kilogram kamper dari Sumatera.

Persoalan sulitnya mendapat pohon kapur berusia tua yang mengandung minyak, kata Aswandi, dapat diatasi dengan mengekstrak minyak dari daun. "Tidak perlu pohonnya ditebang. Kalau bisa dihasilkan dari daun yang bisa bertumbuh sepanjang tahun, panennya bisa berkelanjutan," kata Aswandi. Selain itu, panen minyak dari daun juga bisa lebih cepat dilakukan. Daun-daun bisa didapatkan dari pohon yang sudah berusia 5 tahun.


Redaktur/Penulis: Pasti Liberti
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE