INTERMESO

Dan Kata-kata
Belum Binasa

"Karena terlalu pendek kadang Instapoet suka dipandang sebelah mata, dianggap nggak bisa nulis, cuma asal bikin kutipan"

Instapoet karya Dika Agustin

Foto : dok. Dika Agustin

Sabtu, 25 Mei 2019

Pada tahun 2014 silam, Rupi Kaur sempat membuat staf Instagram menyetip foto yang dia pasang di akunnya. Asal muasalnya adalah foto yang diunggah perempuan kelahiran India ini. Rupi sengaja memajang foto dirinya tengah berbaring menghadap dinding. Dia mengenakan baju tidur lengkap dan tertutup. Namun yang jadi masalah buat Instagram adalah terdapat bercak darah menstruasi pada ranjang dan piyama Rupi.

Instagram akhirnya memutuskan menghapus unggahan itu. Alasannya, foto itu dianggap tidak sesuai dengan aturan komunitas layanan Instagram. Rupi yang menyandang status warga negara Kanada ini bukannya sengaja ingin mencari sensasi. Tapi foto menstruasi yang akhirnya menuai banyak perdebatan itu merupakan bagian dari agenda proyek seni 'Period Photo' yang sedang ia kerjakan.

"Semua perempuan mengalami masa menstruasi dan menyakitkan. Ada pesan yang ingin saya sampaikan di sini," katanya dalam sebuah wawancara kepada Huffington Post, pada 2015 lalu. Rupi yang dikenal sebagai penyair feminis ini tak mau menyerah begitu saja. Rupi menunjukkan perlawanan dengan kembali mengunggah foto serupa berisi puisi. Ia mengkritik Instagram karena telah menerapkan standar ganda. Darah menstruasi dianggap tidak layak, sementara banyak akun memampang foto-foto perempuan berbaju ala kadarnya memamerkan lekuk tubuh.

Their patriarchy is leaking

Their misogyny is leaking

We will not be censored


Foto : dok. Dika Agustin


Foto : dok. Dika Agustin


Foto : dok. Dika Agustin


Foto : dok. Dika Agustin


Foto : dok. Dika Agustin

Kejadian ini membuat nama perempuan berusia 26 tahun ini makin ngehits. Memang bukan sekali dua kali Rupi membuat puisi bertemakan isu kontroversial seperti kekerasan, pelecehan maupun feminitas. Tapi Rupi bukan penyair seperti Pablo Neruda, T.S. Eliot, Rabindranath Tagore, atau Maya Angelou, yang buku kumpulan puisi-puisinya mendunia sejak puluhan tahun lalu.

Dengan menulis aku bisa jujur apa adanya, kalau curhat sama teman masih ada yang ditutup-tutupi'

Di zaman YouTube dan Instagram ini, siapa bilang puisi sudah mati? Nama Rupi tidak lahir dan banyak dikenal lewat rak buku best seller melainkan Instagram. Dia dikenal sebagai seorang Instapoet atau Instagram Poets karena unggahan puisi dengan kata-kata yang sederhana, memikat, menyentuh pembaca, dan memiliki makna mendalam, di dinding Instagram.

Rupi memanfaatkan Instagram - dia punya pengikut sebanyak 3,8 juta orang - sebagai media utama menerbitkan puisi. Baru di tahun berikutnya, Rupi turut menerbitkan karya dalam bentuk buku, salah satunya adalah Milk and Honey, yang bertengger di daftar buku terlaris New York Times selama 77 minggu dan terjual lebih dari 2,5 juta kopi.

Bisa dibilang Rupi merupakan pionir sekaligus sosok yang membangkitkan fenomena Instapoet. Setelah Rupi, banyak penulis muda yang terinspirasi dan menelurkan karya serupa. Ciri-cirinya adalah akun dengan format tulisan pendek berbau puisi juga disertai ilustrasi. Jika melongok pada kolom pencarian Instagram dengan kata kunci Instapoet, akun semacam itu akan dengan mudah ditemukan. Beberapa tahun belakangan ini mereka tumbuh bak jamur di musim hujan.

Dika Agustin
Foto : dok. Dika Agustin

Dika Agustin, perempuan muda asal Solo merupakan salah satu sosok muda yang juga terinspirasi oleh Rupi. Ia memulai debutnya sebagai Instapoet sejak tahun 2015. “Rupi Kaur merupakan salah satu sosok yang menjadi alasan mengapa aku membuat akun Instapoet. Tapi sebetulnya kebiasaan menulis justru sudah berawal dari kebiasaan aku menulis catatan harian sejak masih SD,” tutur Dika kepada detikX beberapa hari lalu.

Dika memang bukan seorang Instapoet yang akunnya sehari jadi. Selayaknya anak kecil pada umumnya, perempuan kelahiran tahun 1995 ini suka mencurahkan keluh kesah mengenai tingkah laku teman bermainnya lewat buku diari. Namun karena sang ibu sering mengintip isi buku hariannya itu, Dika kemudian mencoba menuliskannya dalam bahasa Inggris. Meskipun Dika akui saat itu kemampuan bahasa asingnya masih sangat terbatas. Karena terbiasa, Dika juga menuliskan puisi di Instagram menggunakan bahasa Inggris.

Melalui puisi, Dika merasa bisa menuangkan isi hatinya dengan lebih leluasa. Terutama untuk seorang introvert yang tertutup seperti dirinya. Dulu Dika pernah punya pengalaman pahit saat berbagi curahan hati kepada seorang teman. Ternyata teman yang ia percaya itu justru menusuknya dari belakang. “Dengan menulis aku bisa jujur apa adanya, kalau curhat sama teman masih ada yang ditutup-tutupi,” kata mahasiswi asal Solo ini.

Dika mulai rajin menulis puisi di situs jejaring sosial dan mikroblog tumblr. Rupi dan sosok Instapoet kenamaan lainnya banyak juga memulai karir dari tumblr. Dika sengaja membuat akun tumblr dengan menggunakan nama samaran. “Saat aku pindah ke Instagram di tahun 2016 juga masih pakai nama samaran karena aku belum pede. Aku takut teman mengira aku galau melulu. Tapi sejak mulai banyak yang encourage, terutama dari pembaca, aku mulai ganti pakai nama asli,” ujar Dika, pemilik akun @dikaagustin di Instagram.

Konten yang Dika buat bukan hanya soal kisah sedih percintaan yang tidak jauh-jauh dari cinta bertepuk sebelah tangan atau patah hati karena ditolak gebetan. Mahasiswi jurusan pariwisata di Universitas Islam Batik ini juga kerap menuliskan tentang kisah persahabatan. Salah satunya berasal dari pengalaman pribadi saat Dika dikhianati oleh temannya sendiri.

Foto : dok. Dika Agustin

Ide tidak datang setiap hari. Oleh karena itu Dika selalu menulis inspirasi yang mendadak lewat di aplikasi memo handphone. Setelah meramu kata-kata yang tepat, Dika mengolah tulisannya dalam sebuah aplikasi untuk menyatukan tulisan dengan ilustrasi kecil. Gambar memang selalu melengkapi setiap unggahan puisi Dika. Puisi yang Dika buat tak perlu panjang-panjang, cukup hanya satu kalimat. Yang terpenting isinya dapat menyuarakan perasaan dan pikiran pembacanya.

Puisi panjang di Instagram menurut pengalaman Dika justru kurang mendapat sambutan dari pengikutnya. “Justru karena terlalu pendek kadang Instapoet suka dipandang sebelah mata, dianggap nggak bisa nulis, cuma asal bikin kutipan, padahal proses idenya muncul nggak segampang itu. Biasanya kalau lagi datang hari buruk, aku lagi nge-down banget, di situ aku baru dapat feel-nya untuk nulis. Jadi satu sisi menulis itu juga jadi terapi buat aku,” kata Dika yang kini memiliki hampir 86 ribu followers, dengan pengikut perempuan berusia 18-24 tahun sebanyak 75 persen.

Biasanya kalau lagi datang hari buruk, aku lagi nge-down banget, di situ aku baru dapat feel-nya untuk nulis

Setelah mendapatkan panggung dan pengikut setia di Instagram, tanpa disangka Dika, dia mendapatkan tawaran dari salah satu penerbit besar di Jakarta untuk membuat buku. Kesempatan yang tidak semua penulis bisa dengan mudah mendapatkannya. Setelah melalui proses selama 8 bulan jadilah buku berjudul 'Deep Wounds: word left unsaid' yang terbit awal Februari ini. Buku ini juga dijual melalui Amazon karena banyak pengikut Dika berasal dari luar negeri. Maret lalu, buku Dika juga pernah terpajang di ajang The London Book Fair.

Fitri Ayu merupakan salah satu dari sekian banyak followers Dika yang rajin repost alias mengunggah ulang puisi di Instastory. Terutama sejak Fitri putus dengan mantan pacar karena hadirnya orang ketiga. Kejadiannya sudah enam bulan lalu, tapi move on selalu jadi  wacana yang entah sudah berapa kali ia janjikan untuk dirinya. Bermodalkan fitur screencapture Fitri menjepret salah satu unggahan Dika yang mendapatkan lebih dari 10 ribu likes. Bunyinya, 'With or Without you, I bloom'.

Setelah itu yang dilakukan Fitri seharian adalah melihat daftar orang yang mengintip instastory-nya. Berharap diantara sekian banyak yang melihat, terselip akun mantannya di sana. “Aku ngerasa dengan repost jadi bisa menyuarakan kegalauan. Kalimatnya sederhana tapi pesannya sangat mengena buat aku,” katanya.

Membajak sepenggal puisi Wiji Thukul, puisi masih jauh dari mati ‘dan kata-kata belum binasa’.


Reporter/Penulis: MELISA MAILOA
Editor: Sapto Pradityo

[Widget:Baca Juga]
SHARE