INTERMESO


KHOTBAH GAUL USTAZ GAES

"Saya ajak teman-teman, ayolah agama itu dipakai untuk membahagiakan orang lain seperti yang dulu dilakukan Nabi"

Ilustrasi : Edi Wahyono

Selasa, 4 Juni 2019

"Wassup gaes," teriak Muhammad Ibnu Sahroji menyapa anak-anak muda dalam sebuah kajian bulan ramadan di bilangan Jakarta Selatan beberapa pekan lalu. Ibnu bukan pembawa acara gaul di televisi, tapi seorang juru dakwah, seorang ustaz muda.

Usai menyapa hadirin, Ibnu melanjutkan dengan mengisahkan pengalaman Nabi Muhammad SAW. Kala itu praktik perbudakan belum dihapuskan. Alkisah, saat melihat seorang sahabat sedang duduk di pasar, Rasulullah langsung memeluknya dari belakang dan kemudian berteriak. "Budak dijual, budak dijual murah," kata Rasulullah.

Sahabat itu merasa dilecehkan dengan suara tersebut. Ia lalu berontak melepaskan pelukan itu dan menengok ke belakang.Begitu tahu ternyata Rasulullah yang memeluknya, sahabat itu reda amarahnya. Ia mengatakan, "Ya Rasulullah, saya adalah budak. Abdullah, budaknya Allah, hambanya Allah yang paling hina dina. Siapa yang mau membeli saya?" ujar sahabat itu. Nabi Muhammad menjawabnya, "Justru kamu adalah budak Allah yang paling berharga di mata saya."

Ilustrasi pengajian
Foto : Grandyos Zafna/Detik.com

Ibnu atau yang sering disapa Kang Ibnu menyebut inti cerita itu menunjukkan Rasulullah merupakan figur dengan pribadi yang jenaka. "Kata anak-anak sekarang gokil," ujar Ibnu yang kini sedang menempuh pendidikan doktor bidang Hukum Islam di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta. Ibnu memang sering memakai kata-kata atau istilah yang tren dan populer di kalangan anak muda dalam ceramah-ceramahnya seperti "wassup", "gaes", "gokil", dan beberapa lainnya.

Saya mengikuti maunya anak muda saja. Secara gaya atau style. Dengan syarat tidak melanggar syariat dan substansi dari dakwah itu sendiri"

"Ya agar menarik kaum muda saja," ujar Ibnu kepada detikX. Ibnu mengaku tertarik untuk berdakwah pada anak-anak muda karena semangat belajar agama mereka yang besar. Karena itu generasi muda yang punya niat mendalami agama itu perlu mendapat perhatian dari para pendakwah. "Saya mengikuti maunya anak muda saja. Secara gaya atau style. Menggunakan istilah-istilah yang dekat dengan mereka," katanya. "Dengan syarat tidak melanggar syariat dan substansi dari dakwah itu sendiri."

Kira-kira dua tahun yang lalu Ibnu memperhatikan para youtuber yang sering menyapa penontonnya dengan panggilan "Gaes". "Aku jadinya ikut-ikutan agar menarik," katanya. Lewat kanal Youtube, al-Bukhari Institute, dalam video "Respon Kang Ibnu terhadap Poster Sambutan Habib Rizieq", Ibnu yang menelaah poster itu dari segi keilmuan tata bahasa Arab mulai memakai sapaan "OK gaes". Sejak itu Ibnu mendapat nama panggung baru yakni Ustaz Gaes. "Tapi sebenarnya saya lebih suka dipanggil Kang Ibnu saja. Karena kang itu panggilan sayang dari Kiai dan Nyai untuk santri-santrinya."

Menyapa anak-anak muda milenial, kini tak cukup lagi hanya lewat mimbar di masjid atau pengajian. YouTube, Instagram, Facebook, dan media sosial lain, sekarang menjadi 'medan dakwah' baru bagi para ustaz untuk mendekatkan diri kepada anak-anak muda yang kemana-mana tak pernah lepas dari ponselnya. Ibnu 'Ustaz Gaes' Sahroji hanya salah satunya. Ada pula Ustaz Abdul Somad, Hanan Attaki, Habib Husein Ja'far al Hadar, dan sebagainya.

'Ustaz Gaes'Muhammad Ibnu Sahroji
Foto : dok. pribadi

Ustaz Gaes lahir di Subang, Jawa Barat 37 tahun yang lalu. Masa kecil sampai remaja dihabiskannya di kabupaten yang terletak di pantai utara Pulau Jawa itu. Untuk memperdalam ilmu agama, Ibnu kemudian mondok di Madrasah Hidayatul Mubtadiin Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Namun sebenarnya sejak lahir Ibnu sudah berada dalam lingkungan pesantren. Ayahnya mendirikan pesantren di Subang. "Sebuah pesantren kecil yang spesialisasinya tasrif," katanya.

Selesai dari Lirboyo, Ibnu melanjutkan sekolah ke Yogyakarta lalu mengambil gelar master di Ma’had Ali Salafiyyah Syafiiyyah, Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur. Ia lalu mempersunting putri KH Agus Salim ZH, pengasuh Pondok Pesantren Al-Istiqomah, Kebondanas, Pusakajaya, Subang. KH Agus Salim saat ini menjabat sebagai Rais Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Subang. "Jadi sampai menikah pun saya ada di pesantren," ujar Ibnu.

Kedekatannya dengan dakwah untuk anak-anak muda dimulai saat nongkrong dengan komunitas el-Bukhori Institute. El Bukhori dibentuk sejumlah mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah yang pernah mondok di Ponpes Darus-Sunnah Ciputat. Ponpes ini didirikan KH Ali Mustofa Yaqub, Imam Besar Masjid Istiqlal, yang telah tiada. "Saya sebenarnya bukan anggota. Cuma sering nongkrong dan berbagi ilmu dengan mereka. Kalau ada kajian ikut. Kadang-kadang isi kajian, kadang juga mendengarkan," ujar Ibnu.

Berdakwah di kalangan muda memang mengasyikkan sekaligus menantang. Menurut Ibnu ada dua kelompok ekstrim anak muda. Satu sisi yang sama sekali tidak mau belajar agama. Sisi lain belajar agama tapi menyalah-nyalahkan orang lain. "Karena saya dari pesantren saya pakai gaya pesantren. Ayo bareng-bareng belajar agama tanpa salah menyalahkan," katanya. "Saya mencoba berada di tengah. Saya diajari beragama itu artinya memperbaiki diri sendiri. Tidak dalam rangka untuk menghakimi orang lain."

Fenomena beragama saat ini, kata Ibnu, memang memprihatinkan. "Agama ditampilkan menjadi sesuatu yang kurang mengasyikkan. Jadi alat untuk nyinyir," katanya. Ia menunjukkan beberapa komedian yang tersandung masalah karena mencoba menggunakan gurauan yang menyerempet persoalan agama. "Padahal sebenarnya Rasulullah itu figur yang cukup jenaka," ujarnya. "Saya ajak teman-teman, ayolah agama itu dipakai untuk membahagiakan orang lain seperti yang dulu dilakukan Nabi, untuk memperbaiki diri, muhasabah, dan mensejahterakan umat."


Redaktur/Penulis: PASTI LIBERTI

[Widget:Baca Juga]
SHARE