INTERMESO


MENGEJAR DOLAR AUSTRALIA KE KANDANG BUAYA

"Kalau gigitannya nggak dilepas, nggak tahu lagi nasib saya gimana"

Angga Priyambodo di Australia

Foto : dok. pribadi Angga Priyambodo

Sabtu, 08 Juni 2019

Dulu, Angga Priyambodo pasti tak pernah membayangkan suatu hari nanti bakal hidup dikelilingi buaya. Namun setelah beberapa minggu jadi salah satu 'penunggu' kandang buaya di Australia, Angga mulai terbiasa juga. Beberapa waktu lalu, dia sempat bekerja di peternakan buaya Porosus, tak jauh dari Darwin, ibukota Wilayah Utara, Australia.

Selama beberapa bulan, Angga berbagi tempat tinggal bersama buaya dari berbagai macam ukuran. Mulai dari buaya mungil yang baru menetas dari telur, hingga buaya monster berukuran lebih dari tiga meter. Salah satu tugas utama Angga di Porosus adalah memberi makan ribuan buaya.

Angga tidak sendiri, ia ditemani pekerja lain dari berbagai negara di Asia, seperti Jepang dan Korea Selatan. Bekerja dikelilingi ribuan buaya, para karyawan di peternakan itu tentu saja bukan lah para penakut yang nyalinya cepat ciut. Kebanyakan teman Angga merupakan petualang yang haus akan tantangan. Sementara sisanya para perantau bermodal nekat seperti Angga.

Tak sedikit pula narapidana dari penjara lokal yang dipekerjakan di Porosus. Mereka terpaksa menjalankan sebagian masa tahanannya di sana. “Teman-teman saya di sana banyak napi Australia. Kalau sudah sore mereka balik lagi ke penjara,” tutur pria asal Semarang, Jawa Tengah, ini kepada detikX.

Bisa dibilang memberi makan buaya adalah pekerjaan tergila yang pernah Angga lakukan. Rutinitas memberi pakan dimulai sejak pukul 7 pagi. Masing-masing membawa ember atau feeding bag, beratnya bisa mencapai 35 kilogram. Kepala ayam menjadi santapan utama reptil berdarah dingin ini. Di lahan seluas 500 hektare itu, ada sekitar 70 ribu predator kelaparan telah menunggu kedatangan Angga dan kawan-kawan. Mereka menghuni kolam-kolam, masing-masing berisi puluhan hingga ratusan buaya.

Angga bersama teman-temannya di Australia
Foto : dok.pribadi via Instagram

Memberi makan buaya ternyata tidak semudah menebarkan pelet ikan ke kolam. Kepala ayam tidak boleh dicemplungkan ke dalam air melainkan disebar di pinggir kolam. Di situ terdapat pijakan seluas dua meter yang biasa digunakan buaya untuk berjemur. Jika sedang tidak berjemur, mereka menghabiskan waktu dengan berendam di dalam kolam. Masalahnya, setiap kali Angga datang memberi makan, hewan-hewan melata ini bak kesetanan.

Ratusan buaya-buaya itu serentak berebut merangkak naik, mencari posisi terbaik di pinggir kolam. “Kalau pakan dituang ke dalam air, buaya justru nggak mau makan. Nalurinya memang begitu, mereka memangsa harus di daratan. Jadi waktu mau kasih makan mereka udah pada nangkring. Biasanya kami usirin dulu, ditendang atau digebrak,” kata Angga dengan logat Jawa yang kental.

Begitu diletakkan makanannya, buaya itu mulai naik lagi ke atas. Mereka juga ikutan lari sambil mengejar kita'

Setelah para predator kembali ke tengah kolam dan tampak tenang, Angga harus buru-buru menuangkan kepala ayam. Proses penebaran kepala ayam ini pun harus ia lakukan sambil berlari dari ujung ke ujung kolam lainnya. “Begitu diletakkan makanannya, buaya itu mulai naik lagi ke atas. Mereka juga ikutan lari sambil mengejar kita. Kalau tidak mau tergigit ya kita harus ikutan lari,” Angga menuturkan.

Pekerjaan yang dilakoni Angga memang harus ekstra hati-hati. Karena konsekuensinya tak main-main. Lengah atau teledor sedikit bisa berakibat fatal. Pernah suatu kali Angga lengah. Saat itu Angga melangkahi seekor buaya dengan kaki telanjang. Seharusnya ia menggunakan sepatu boots setinggi lutut, tapi karena menganggap enteng, Angga hanya mengenakan sandal. Apesnya buaya itu langsung mencaplok salah satu kakinya.

Beruntung buaya itu tak lama menancapkan giginya di kaki dan segera melepas gigitannya. Angga pun buru-buru kabur. “Buaya itu kalau sudah menggigit, mereka akan berputar untuk menciptakan gigitan yang lebih dalam untuk membunuh mangsa. Kalau gigitannya nggak dilepas, nggak tahu lagi nasib saya gimana,“ ujar pria berusia 29 tahun ini.

Angga di Australia
Foto :  dok.pribadi via Instagram

Kalau tahu akan berhadapan dengan gigitan buaya, mungkin Angga akan berpikir dua kali untuk menerima tawaran kerja ini. Sebetulnya Angga pun mengambil pekerjaan di peternakan buaya karena tidak punya pilihan. Setelah satu minggu tinggal di Australia, Angga mulai cemas. Dia belum juga dapat pekerjaan. Entah berapa banyak pintu ia ketuk untuk meminta lowongan kerja, tapi hasilnya belum berbuah manis.

Angga pergi ke Negara Kanguru itu menggunakan visa Working Holiday (WHV) pada Februari 2017 lalu. Visa ini dikeluarkan pemerintah Australia untuk mengijinkan penggunanya bekerja sambil berlibur selama satu tahun. Pada April 2019 lalu, pemerintah Australia menambah kuota WHV untuk warga Indonesia menjadi 2500 visa pada tahun ini, dari semula hanya 1000 visa. Sejak lama, Angga memang menyimpan impian untuk berpetualang sambil merasakan hidup di luar negeri. Angga terinspirasi film Into The Wild yang diangkat dari kisah nyata. Film ini menceritakan petualangan Christopher McCandless yang meninggalkan kemapanan untuk menjalani perjalanan ekstrem  hingga meninggal di Alaska.

Begitu pula dengan Angga. Dia memilih meninggalkan pekerjaan sebagai konsultan konstruksi kapal yang telah ia jalani sejak sebelum lulus dari Universitas Diponegoro. Sebelum berangkat ke Australia, alumnus jurusan Teknik Sipil ini belajar bahasa Inggris secara intensif selama enam bulan di Kampung Pare. Sertifikasi bahasa Inggris merupakan salah satu dokumen yang mesti dipersiapkan untuk mendapatkan visa WHV.

Di samping itu Angga juga harus mempersiapkan deposit sebesar AUD 5000 atau sekitar Rp 50 juta. “Tapi menurut saya yang sulit itu bukan menyiapkan berkas persyaratan untuk diserahkan ke kedutaan. Yang paling susah justru dapat pekerjaan pertama kali di Australia, karena kita harus cari kerja sendiri,” tutur Angga.

Ketimbang teman seperjuangan WHV lainnya, Angga boleh dibilang lebih beruntung. Dia hanya perlu waktu satu minggu untuk mendapatkan pekerjaan pertama. Sedangkan ada orang lain yang harus terlunta-lunta hidupnya selama berminggu-minggu sebelum mendapatkan pekerjaan. Tawaran kerja di peternakan buaya pun dia dapatkan tanpa sengaja. Seharusnya teman kos Angga yang bekerja di peternakan itu.

Tapi setelah mendengar penjelasan mengenai sulitnya bekerja di sana, temannya ini ciut  nyalinya dan akhirnya kabur. “Dia belum sempat kerja, pas subuh dia melarikan diri dari sana. Karena posisi saya nganggur ya sudah, dari pada nggak ada pekerjaan saya gantiin posisinya,” kata Angga, tanpa pikir panjang lagi. Apalagi tabungan Rp 15 juta yang yang jadi bekal bertahan hidup mulai menipis.

Selain bekerja sebagai pemberi makan buaya, Angga juga kebagian dalam proses eksekusi. Peternakan ini memasok kulit buaya untuk dikirim ke perusahaan-perusahaan fashion ternama di Prancis. Setiap hari, buaya berukuran besar diletakkan di kandang. Tinggi kandangnya satu meter, sedangkan lebarnya sekitar tiga meter. Buaya itu kemudian disetrum menggunakan tongkat kejut listrik untuk membuatnya pingsan.

Tugas Angga memindahkan buaya yang pingsan itu ke tempat eksekusi. “Jarak ke tempat penembakan sekitar 20 meter. Saya cuma punya waktu 3 menit untuk memindahkan sebelum buayanya sadar,” kata dia. Dalam sehari peternakan ini bisa menghabisi lebih dari 90 ekor buaya.

Angga Priyambodo
Foto :  dok.pribadi via Instagram

Menyaksikan eksekusi dan buaya yang dikuliti merupakan proses mengerikan. Tapi bagi Angga lebih mengerikan jika harus menyaksikan buaya cacat dihabisi. Suatu kali buaya yang baru lahir terserang penyakit. Ratusan buaya mungil itu kemudian dikumpulkan ke dalam ember yang ditutup rapat. Agar lebih efesien, mereka dibunuh secara perlahan dengan dimasukan ke dalam lemari pendingin. “Pekerjaan ini sebetulnya batin saya juga nggak setuju, tapi mau bagaimana lagi namanya juga industri.”

Dengan risiko dan tekanan pekerjaan seberat itu, Angga mendapatkan bayaran AUD 22,8 atau hampir Rp 230 ribu per jam tanpa uang lembur. Upah itu tak seberapa. Dengan jumlah bayaran itu, Angga seharusnya bisa memilih pekerjaan yang lebih mudah. Menjadi penjaga toko kelontong atau pemetik buah di kebun misalnya. Belum lagi Angga harus tinggal di sebuah mess antah berantah yang letaknya sangat jauh dari pusat kota. Tempat tinggal khusus pekerja ini berdiri di tengah hutan dan rawa-rawa.

Kalau begitu terus jadi nggak berkembang, makanya saya memutuskan untuk balik

“Saya maksa kerja di sini juga karena mau mengejar tahun kedua. Makanya setelah 16 minggu saya langsung keluar,” kata Angga. Sejak akhir tahun 2016, pemerintah Australia mengeluarkan peraturan baru dan mengijinkan pemegang visa ini untuk memperpanjang masa kerja hingga dua tahun. Syaratnya mereka harus bekerja selama 88 hari di Australia bagian utara.

Pemegang visa WHV seperti Angga kebanyakan mendapatkan pekerjaan kasar yang tidak butuh kemampuan khusus. Sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan sesuai keahlian. Kebanyakan pemberi kerja lebih membutuhkan pengalaman kerja di Australia ketimbang ijazah pendidikan di Indonesia. Begitu keluar dari peternakan buaya, Angga beberapa kali ganti kerja. Kebanyakan Angga bekerja di perusahaan pertanian atau perkebunan. Pekerjaannya mengoperasikan alat dan mesin untuk kebutuhan produksi. Angga lagi-lagi beruntung masih bisa bekerja yang punya benang merah dengan ilmu Teknik Sipil yang ia pelajari semasa kuliah.

Bersama pasangannya, Elisabeth Octiana Satiti, yang juga memegang visa WHV, Angga sempat bertualang keliling Australia. Bermodalkan mobil bekas, Angga mengemudi lebih dari 50 ribu kilometer, mengelilingi enam negara bagian yang ada di Negeri Kanguru ini. Perjalanan ini ia lakukan di sela-sela pekerjaannya. Setelah masa berlaku visanya berakhir, Angga kembali ke Semarang akhir Januari lalu.

“Sebetulnya banyak yang lanjut tinggal di Australia dengan visa pelajar. Tapi bukannya buat belajar malah dipakai cari duit dan pekerjaanya non skill. Tapi kalau begitu terus jadi nggak berkembang, makanya saya memutuskan untuk balik,” kata dia. Angga memutuskan pulang kampung ke Semarang.

Di Semarang, Angga dan pacarnya memulai hidup baru dengan merintis bisnis di bidang 3D Printing. Bermodalkan uang patungan sebesar Rp 50 juta dari hasil kerja keras selama di Australia. Angga berjualan melalui akun Instagram bernama @extrudestudios.id . Dengan ilmu yang ia dapatkan selama mengoperasikan mesin di perusahaan manufaktur itu, ia bercita-cita mengembangkan industri kreatif di Semarang. “Selama di Australia saya banyak mengoperasikan mesin berbasis JMC seperti laser. Kebetulan 3D Printing ini juga konsepnya sama. Saya ingin mengedukasi industri kreatif di Semarang supaya kita sama-sama jadi bisa tambah pintar,” katanya.


Reporter/Penulis: MELISA MAILOA
Editor: sapto

[Widget:Baca Juga]
SHARE