INTERMESO

Jago PDKT, Bukan Playboy

"Masa PDKT jangan dipakai buat ngomong manis, memperdaya, menggoda 10 cewek sekaligus, ini yang salah."

Foto : Kegiatan seminar tentang teknik menjalin relasi yang digelar Kelas Cinta (Dok. Kelas Cinta)

Minggu 23 Juni 2019

Pandangan Yosua Omimaru tidak bisa beralih dari seorang perempuan yang berada tepat di seberangnya. Duduk di sebuah kafe, perempuan muda berambut panjang berwarna coklat pirang itu tenggelam dalam kesibukan dengan gawainya. Sesekali tangan kirinya mengaduk segelas teh yang ada di depannya. Tak begitu lama kemudian, Yosua yang akrab disapa Mikael beranjak dari tempat duduknya. Ia lalu berjalan ke arah meja di seberangnya itu.

Awalnya perempuan tersebut tampak terkejut dan keheranan dengan pria asing yang tiba-tiba berdiri di depan meja. Tapi sejurus kemudian, Mikael meraih bangku dan duduk berhadapan dengan kenalan barunya itu. Mereka bahkan terlibat dalam obrolan seru. Tawa canda sesekali terdengar di antara keduanya. Tak berhenti sampai di situ, Mikael pun pulang dengan mengantongi nomor telepon genggam si wanita itu.

Di luar lingkaran pertemanannya, Mikael mengaku sebetulnya bukanlah tipe orang yang mudah mencari teman baru. Ia menyebut dirinya sosok yang punya kepribadian introvert. Namun itu berubah sejak menjadi salah satu pengikut Hitman System, program edukasi percintaan khusus pria milik Kelas Cinta. Program ini digagas oleh para relationship coach: Kei Savourie, Lex dePraxis dan Jet Veetlev.

Sejak ikut beberapa pelatihan, Mikael mulai berani mengajak berkencan lawan jenisnya. Dalam seminggu, Mikael bahkan bisa beberapa kali berkencan dengan perempuan berbeda. “Disebut Hitman System karena ada istilahnya nge-hit alias kenalan sama cewek. Jadi kita ngajarin cowok buat nggak takut kenalan. Kalau ada ketemu yang lucu di kafe ajak kenalan dengan cara yang fun,” ungkap Kei Savourie, salah satu pendiri Kelas Cinta.

Seminar Kelar Cinta
Foto : Dok Kelas Cinta

Dalam pelatihan di Kelas Cinta, baik pria dan perempuan memang diajarkan teknik PDKT (pendekatan) pararel atau multi-gebetan. Teknik ini berbeda dengan PDKT pada umumnya. Di sini pencari cinta diajarkan untuk melakukan serangkaian pendekatan yang dilakukan sekaligus pada periode yang sama. Tujuannya untuk menemukan gebetan paling unggul dan berkualitas di antara sekian banyak gebetan.

“Orang anggap kita ngajarin pria jadi playboy. Padahal kita juga suruh cewek cari yang banyak supaya fair. Itu nggak salah karena kita kan masih single. Namanya juga memilih pasangan, berarti harus ada pembandingnya dong,” ujar Kei.

Nggak dapat pacar itu sebetulnya hanya the tip of the iceberg, di bawahnya ada masalah kekurangan percaya diri, kurang pergaulan, tidak ada niat meningkatkan kualitas diri."

Namun Kei memberi aturan main bagi siapa pun yang mau menerapkan teknik ini. “Masa PDKT jangan dipakai buat ngomong manis, memperdaya, menggoda 10 cewek sekaligus, ini yang salah. Jadi pas nge-date kita ketawa, having fun aja, kalau ditanya 'udah punya gebetan lain belum?' jangan dijawab bohong juga. Nggak masalah karena kan kita belum jadian.”

Awalnya Mikael ogah-ogahan mengikuti seminar pertama Hitman System pada 2010 silam. Saat itu, Mikael merasa sangat terpuruk dalam hal percintaan. Sudah dua kali ia gagal mempertahankan hubungan dengan kekasihnya. Pahitnya, untuk hubungan yang terakhir, ia harus menerima kenyataan diselingkuhi pacar.

“Selama ini kita pikir yang penting kerja yang benar, punya uang, nanti jodoh bisa datang sendiri. Makanya saya nggak terima bahwa percintaan yang saya pikir sepele ternyata tidak saya kuasai. Ego saya menolak untuk mau belajar tentang hal ini. Saya menolak mengakui bahwa saya bodoh di bagian cinta, memang orang sulit berdamai tentang itu. Tapi saat itu confidence saya sedang ambruk,“ tutur Mikael mengisahkan alasannya bergabung dengan Hitman System.

Kelas Cinta membagi materi coaching lewat media sosial
Foto : Instagram

Mikael pun mengajak seorang temannya yang bernasib sama dan mengikuti seminar pertama. Namun alangkah terkejutnya Mikael, ia tidak diberikan ratusan tips cara menaklukkan kaum hawa. Ia justru diajarkan cara mengembangkan diri. Peserta Hitman System secara garis besar memang diberikan pengajaran yang mengarah pada pembentukan perilaku. Pribadi baru itulah yang pada akhirnya bisa memukau perempuan.

“Nggak dapat pacar itu sebetulnya hanya the tip of the iceberg, di bawahnya ada masalah kekurangan percaya diri, kurang pergaulan, tidak ada niat meningkatkan kualitas diri, jadi di workshop saya terkejut, pengetahuan tentang cewek paling cuma bertambah 20 persen, tapi pengetahuan tentang apa yang harus saya lakukan pada diri saya itu berubah drastis,” katanya.

Mikael baru sadar bahwa ternyata selama ini ia mencari pasangan bukan dari pilihan yang terbaik namun hanya dari opsi yang tersedia. Dulu Mikael berpacaran dengan teman kuliahnya di Universitas Bina Nusantara. “Jadi hidup saya berkutat pada apa yang ada bukan yang terbaik, dan ini masalah orang kan, terutama cewek pasif nunggu siapa yang dapatin.”

Begitu pula dengan cara memperlakukan mantan. Dulu jika hubungan percintaannya putus di tengah jalan, Mikael tak segan meneror sang mantan dengan berbagai tulisan melankolis di sosial media, dengan harapan mantannya akan membaca. “Saya serang secara psikologi, saya blackmail, tulis di Friendster lah. Saya ahli yang begituan, it's my jam. Setelah dipikir-pikir, gila itu. Very stupid and something to laugh about,” tuturnya.

Kini Mikael sudah menemukan pasangan sehidup semati. Setelah melewati masa tujuh tahun berpacaran, Mikael menikah dengan sang istri, Novi Candra. Mengikuti pelatihan soal cinta juga membuat pria berusia 33 tahun ini juga mendapatkan banyak pelajaran dalam melanggengkan hubungan pernikahan.

Mikael dan sang Istri
Foto : Dok Pribadi

Untuk membangun kehidupan rumah tangga harmonis, Kelas Cinta menerapkan konsep pernikahan yang mengusung kesetaraan. Kelas Cinta menolak kehidupan rumah tangga konvensional di mana penganutnya menganggap pekerjaan dapur alias rumah tangga merupakan sepenuhnya tanggung jawab sang istri.

Padahal di dunia modern ini, istri tidak hanya menanggung beban rumah tangga tapi juga masih harus bekerja maupun menjalankan usaha. “Rumah bukan domain perempuan, kantor juga bukan domain laki-laki. Rumah itu domain laki-laki dan perempuan. Saat laki-laki pulang kerja, dia harus punya willing dan niat untuk tanya 'how can I help?' itu wajib," kata Lex dePraxis.

Suami yang menolak ikut dalam menanggung beban rumah tangga menurut Lex bukanlah sosok yang bertanggungjawab. "Maksud kita keras bukan cari gara-gara tapi karena nggak banyak yang menyuarakan ini. Kita lihat ini tidak sehat,” kata Lex.

Sebelum menikah, Mikael sudah menerapkan prinsip saling berbagi tugas. Bersama pasangannya, Mikael melatih diri dengan memelihara seekor anjing Corgi bernama Tero. Sehari-hari sang istri bertugas memberi makan, sedangkan Mikael yang mengajak jalan-jalan. Begitu pula dengan urusan dapur, mereka berdua berbagi peran yang adil. Mikael tak segan mencuci piring maupun pekerjaan rumah lainnya.

“Itu sebabnya begitu menikah seperti sekarang ini saya merasa tidak ada yang berubah drastis. Makanya saya rasa ketika masih pacaran, kita harus punya sesuatu yang dikerjakan bersama, dari pacaran harus sudah punya 'anak',“ ungkap Mikael yang belum genap setahun menikah.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Pasti Liberti Mappapa
Desainer: Irwan Nugroho

[Widget:Baca Juga]
SHARE