INTERMESO

Geliat Pabrik Game Lokal

Pasar game Indonesia dikuasai game impor. Bagaimana pengembang game lokal menyiasatinya?

Ilustrasi : Edi Wahyono

Minggu, 14 Juli 2019

Sekitar 12 tahun yang lalu belasan pecinta game yang masih menyandang status mahasiswa meriung. Mereka sepakat mengikuti kontes pengembangan game yang digelar sebuah majalah teknologi. Namun akhirnya gagal. Game yang disiapkan untuk lomba itu terhenti sampai tahap desain di atas kertas. Kandas di kompetisi tersebut tak membuat mereka patah hati.

Setahun kemudian, anak-anak muda yang berkuliah di jurusan teknik informatika dan jurusan desain ini kembali ikut kompetisi. Kali ini yang digelar Microsoft, sebuah perusahaan pengembang software. Mereka merancang sebuah game untuk konsol XBox 360. Game berjudul PonPoron mendapat sambutan hangat. Meski tak berhasil menggondol gelar juara, mereka membawa pulang keyakinan. Passion untuk menjadi pengembang game.

"Kami sangat bahagia bermain game. Kami pengen buat game yang bikin hidup orang jadi lebih bahagia juga," ujar Chief Marketing Officer Agate, Shieny Aprilia pada detikX, Selasa (9/7) di kantor Agate, Bandung, Jawa Barat. Pada April 2009, mereka akhirnya memutuskan mendirikan sebuah perusahaan. "Seorang teman kami dipaksa orang tuanya bekerja di perusahaan, dan kami tidak ingin untuk dia kehilangan mimpinya yang terus ingin membuat game."

Berbekal uang tabungan, 18 anak muda ini mulai mengeksekusi mimpi-mimpi mereka. Game pertama yang mereka kembangkan diberi judul English Defender. Sebuah game tentang zombie berbasis flash di platform web. "Kami akui jelek banget. Kalau dilihat sekarang malu banget.. hehehe," ujar Shieny. Saat itu industri game berbasis flash memang sudah terbentuk. Agate sebagai pengembang game pendatang baru bisa dengan mudah masuk dalam industri tersebut.

Tak terlalu sukses dengan karya pertama, Agate tak berhenti. Inovasi terus mereka kejar. September 2010 dirilis Earl Grey and this Rupert Guy. Sebuah game sederhana dengan genre point and click adventure. "Kami sangat bahagia. Karena dalam waktu satu minggu setelah rilis ada sekitar 1 juta klik permainan," ujar Shieny yang merupakan lulusan Fakultas Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung.

Stan Agate di BEKRAF Game Prime 2019 Jakarta
Foto : Pasti Liberti

Kesuksesan itu memicu semangat. Mereka terpacu membuat lebih banyak lagi game yang diminati banyak orang. Saat era game berbasis flash meredup dan diganti game sosial, Agate pun beradaptasi dengan memproduksi game Football Saga. Begitu juga ketika masa meledaknya mobile games yang dimainkan lewat ponsel cerdas, tablet, atau perangkat bergerak lainnya.

Kami sangat bahagia bermain game. Kami pengen buat game yang bikin hidup orang jadi lebih bahagia juga,"

Momen itu Agate menjalin kerjasama dengan Chillingo merilis game berjudul Up In Flames. Chillingo penerbit game yang telah diakuisisi oleh Electonic Arts (EA), pernah membawa dua game menjadi game populer antara lain Angry Birds dan Cut The Rope. "Walaupun secara penjualan tidak terlalu sukses namun bisa kerjasama dengan perusahaan game sebesar itu merupakan pencapaian yang membanggakan," kata Shieny.

Datangnya inspirasi untuk pengembangan sebuah game di Agate bisa dari mana saja. Shieny menyebutnya ide ngalor-ngidul. Namun tentu ada batas-batasnya. Rambu itu berupa potensi pasar yang bisa diraih. Kompetitor-kompetitor yang bermain dalam pasar itu juga harus diperhitungkan dengan matang.

Saat ini genre yang sedang tren seperti First Person Shooter (FPS) atau Multiplayer Online Battle Arena (MOBA) memang punya pengguna sangat besar. "Masuk genre FPS atau MOBA  kompetisinya juga tinggi. Melawan pemain-pemain besar bisa jadi bukan pilihan yang tepat," kata Shieny. "Jadi mengembangkan sebuah game itu kuncinya bagaimana menyeimbangkan ide yang datang itu dengan potensi market. Mengawinkan ini yang selalu jadi challenge."

Pertimbangan potensi pasar itu pula yang mendorong Agate menjual  beberapa produknya ke luar negeri. Valthirian Arc : Hero School Story  yang rilis pada Oktober 2018 lalu hanya dipasarkan di Eropa dan Amerika bagian utara bekerja sama dengan penerbit game PQube. Game yang dijual untuk platform konsol dan personal computer (PC)itu berhasil menembus angka penjualan nomor dua tertinggi di kawasan Inggris.  

CMO Agate Shieny Aprilia.

Pengembang board game Circus Politicus, Phoen Leo (kiri) dan  Rendy Haruman.

Asa Developer Game Indonesia Hadapi Invasi Game Asing
Video : Ashri Fathan/Yolanda Vista/Johan Alamsyah - 20DETIK

"Pangsa pasar di global terutama di Eropa dan Amerika masih besar banget untuk konsol game," kata Shieny. "Di tengah banyaknya mobile games sebuah game konsol itu bisa jadi spotlight. Kami juga mau jadikan produk game premium kita ini menjadi semacam flagship untuk perusahaan game dari Indonesia. Karena game konsol itu secara global masih dilihat sebagai sesuatu yang wow sekali."

Sayangnya hanya kurang dari 1 persen yang didapatkan developer game lokal,"

Tak terbuai dengan kesuksesan Valthirian Arc, Agate terus mengembangkan game-game terbaru. Apalagi awal tahun lalu Agate memperkuat sumber dayanya dengan mengakuisi Ekuator Games. Ekuator Games dikenal sebagai salah satu studio yang memproduksi game dengan kualitas grafis mumpuni.

"Ada empat mobile games dan satu consule game baru sedang digarap. Kami juga siapkan Valthirian Arc untuk pasar Asia Tenggara dengan kemasan steel box," katanya. "Salah satu mobile games sudah soft launch kerja sama dengan Intelectual Property Dilan."  

Tak hanya pengembang game sebesar Agate yang menggeliat. Pengembang-pengembang game independen seperti Phoen Leo bersama empat rekannya menciptakan board game dengan judul Circus Politicus yang dirilis akhir Maret 2019 lalu. Mereka bekerja sama dengan Toge Production sebuah perusahaan pengembang sekaligus penerbit game lokal. "Orang Indonesia haus akan konten lokal. Dari sisi developer belum bisa memanfaatkan itu secara optimal," ujar Leo.

Perusahaan analis games dan e-sport, Newzoo melansir survei tahun 2018 yang menyebut Indonesia merupakan pasar game nomor 17 terbesar di dunia. Posisi ini paling tinggi dibandingkan negara lain di kawasan Asia Tenggara termasuk Thailand dan Vietnam. Pendapatan game di Indonesia menurut survei tersebut sepanjang 2018 diklaim mencapai USD 1,1 miliar atau sekitar Rp 15,4 triliun dengan pemain game sebanyak 82 juta orang.

"Sayangnya hanya kurang dari 1 persen yang didapatkan developer game lokal," ujar Operational Manager Asosiasi Game Indonesia, Jan Faris Majd. Menurut data Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) pengembang game lokal Indonesia yang berbadan hukum sebanyak 15 perusahaan. Sementara yang masih berbentuk studio sebanyak 135. Jumlah ini sangat jauh dibandingkan China yang memiliki sekitar 10 ribu perusahaan pengembang game.

Pengunjung BEKRAF Game Prime 2019 antusias mencoba game yang dibuat pengembang lokal
Foto : Pasti Liberti

Survei Newzoo itu juga menyebut lebih dari separuh pasar game Indonesia dikuasai mobile games. "Kita tahu sendiri mobile games seperti Mobile Legend dan PUBG dikembangkan perusahaan besar dari luar," kata Faris. "Untuk menyiasati itu game developer kita cenderung menyasar pasar di luar Indonesia."

Faris mengakui pengembang game lokal masih harus kerja keras untuk bisa menghasilkan game yang bisa bersaing. Dia memberi contoh Mobile Legend yang dalam industri game sudah mencapai klasifikasi Triple-A atau yang tertinggi dari segi pendanaan pengembangan, promosi, dan kualitas. "Kalau disuruh bersaing dengan level itu kita belum bisa."

Banyak yang harus dibenahi agar pengembang game lokal bisa memproduksi game klasifikasi Triple-A. Faris menyebut nilai investasi untuk industri game harus ditingkatkan. Dibandingkan dengan Vietnam saja Indonesia ketinggalan jauh. "Vietnam 10 kali lebih besar," katanya.

Vietnam juga punya regulasi yang sangat membantu pengembang game lokal. Pengembang yang akan masuk memasarkan game  di negeri itu diwajibkan menjalin kerja sama dengan pengembang atau penerbit game lokal. "Harus ada transfer ilmu. Sementara Indonesia masih bebas dan tidak ada regulasi yang atur soal itu."    

Deputi Infrastruktur Badan ekonomi Kreatif Hari Santosa Sungkari menargetkan dalam waktu 5 tahun mendatang 25 persen dari potensi pendapatan dari game akan diambil pengembang lokal. Dia meminta pengembang lokal memiliki pengetahuan soal potensi pasar. "Harus pandai mencari ceruk pasar untuk diisi. Kalau bisa tajam melihat segmen pasar (pengembang) bisa sukses," ujar Hari.


Reporter/Penulis: Pasti Liberti
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE