Misteri-Uang-Tebusan-Sandera

INVESTIGASI

Misteri Uang Tebusan Sandera

Uang tebusan untuk pembebasan sepuluh sandera dari tangan Abu Sayyaf masih menjadi tanda tanya. Yang jelas, operasi pembebasan itu memakan biaya yang tidak sedikit.

Sandera WNI yang dibebaskan tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta
Foto: Rachman Haryanto/detikcom

Selasa, 10 Mei 2016

Celetukan mantan presiden Megawati Soekarnoputri dalam acara diskusi pada Senin, 2 Mei 2016, membuat kehebohan sejumlah pihak yang mengklaim berhasil membebaskan sepuluh warga negara Indonesia yang disandera kelompok militan Abu Sayyaf di Filipina mendadak reda.

Pasalnya, Megawati, saat didapuk menjadi keynote speaker dalam diskusi di Hotel Double Tree, Cikini, Jakarta, bilang pembebasan sepuluh WNI tidak gratis alias berbayar. "Wong sandera itu sudah ada yang ngurusin, kok. Ya, terang saja dilepas, wong dibayar kok," ujar Megawati singkat.

Sayang, seusai acara tersebut, tidak ada keterangan lain yang keluar dari mulut Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu. Megawati memilih bungkam saat ditanya soal uang tebusan untuk membebaskan sepuluh awak kapal Brahma 12 dan kapal tongkang Anand 12 tersebut.

Tugboat Brahma 12 yang dibajak kelompok separatis Abu Sayyaf 
Foto: Istimewa

Informasi yang diperoleh detikX menyebutkan uang tebusan sebesar 50 juta peso atau setara dengan Rp 15 miliar telah dibayarkan oleh PT Patria Maritime Lines (PML), pemilik kapal tongkang yang awaknya disandera. Perusahaan tersebut merupakan anak usaha PT United Tractors Pandu Engineering.

Uang itu dibawa oleh Budiman tapi tidak diserahkan. Uang itu akhirnya dibawa pulang kembali."

Namun, saat kabar itu dimintakan konfirmasi kepada Nanan Soekarna, Komisaris Independen PT United Tractors Tbk, ia enggan menjawab. "Kalau bicara otomotif, saya mau ngomong. Kalau soal itu (penyanderaan), no comment," ucap mantan Wakil Kepala Polri tersebut kepada detikX saat ditemui di acara Reli Wisata Mobil Kuno di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Rabu, 4 Mei 2016.

Jawaban senada disampaikan pimpinan tim negosiator pembajakan dari PT PML, Irjen (Purnawirawan) Bekto Suprapto. Mantan Kepala Detasemen Khusus 88 Antiteror ini hanya mengatakan merasa bersyukur atas pembebasan 10 WNI dari Abu Sayyaf. Namun Bekto tidak mau menceritakan prosesnya secara terperinci.

"Mohon maaf, saya tidak bisa menjelaskan lebih detail. Ke Pak Nanan saja (Nanan Soekarna)," ujar Bekto.

Adanya uang perusahaan yang dibawa untuk menebus para sandera diakui Mayjen (Purnawirawan) Kivlan Zen, seorang negosiator PT PML. Uang itu dibawa perwakilan perusahaan bernama Budiman. Namun, kata pria yang pernah menjabat Kepala Staf Kostrad itu, uang tersebut masih utuh.

"Uang itu dibawa oleh Budiman tapi tidak diserahkan. Uang itu akhirnya dibawa pulang kembali," begitu kata Kivlan.


Seorang sumber detikX yang terlibat dalam pembebasan sandera juga membenarkan bahwa tidak ada uang tebusan. Uang itu masih di tangan Budiman, yang berada di Manila. Menurut dia, memang ada uang dalam pembebasan sandera itu, namun itu adalah biaya yang keluarkan untuk kegiatan operasional tim negosiator.

Kecuali tim Yayasan Sukma pimpinan Ketua Umum Partai Nasional Demokrat Surya Paloh, seluruh tim negosiator dibiayai oleh perusahaan. Jumlahnya tidak sedikit, namun ia menolak menyebutkan angka pasti duit yang dikeluarkan PT PML.

Salah seorang sandera yang juga mualim kapal Brahma 12, Julian Philip, mengisahkan, uang tebusan kerap memicu ketegangan. Penculik akan naik pitam dan mengancam bakal memenggal kepala sandera apabila negosiator tidak memberi kepastian dalam membicarakan uang tebusan.

"Mereka biasanya akan marah-marah. Mengancam akan memotong (kepala)," ujar Julian kepada detikX. Julian mengaku sempat disuruh menanyakan langsung uang tebusan sebesar 50 juta peso kepada negosiator Indonesia melalui telepon. Namun ia tidak tahu apakah uang tebusan itu jadi diberikan atau tidak. 

Cerita lain soal adanya tebusan untuk korban sandera juga muncul dalam proses negosiasi yang dilakukan Yayasan Sukma. Tapi tebusan itu bukan berupa uang, melainkan program kesehatan dan pendidikan di wilayah Filipina Selatan yang dikuasai Abu Sayyaf.

Namun Charles Melkiyansyah, negosiator dari Yayasan Sukma, saat dimintai konfirmasi detikX mengatakan program kemanusiaan di wilayah Filipina Selatan itu dilakukan sejak 2009. Terkait dengan pembebasan sandera, ia mengatakan, Yayasan Sukma mengeluarkan biaya teknis dalam proses pembebasan saja.

Setelah dibebaskan, para sandera WNI dipulangkan dengan pesawat Surya Paloh.
Foto: Istimewa

Menteri Retno Marsudi saat menyambut sandera WNI di Jakarta. 
Foto: Ari Saputra/detikX

"Biaya itu untuk pesawat, makan, hotel, transportasi darat, dan lain-lain," ujar Charles kepada detikX.

Informasi yang diperoleh detikX dari tim negosiasi yang berada di bawah koordinasi Kementerian Luar Negeri juga menyebut hal sama. Mereka hanya mengeluarkan biaya untuk seorang penghubung dan biaya operasional, yang besarannya ratusan juta rupiah.


Reporter: Irwan Nugroho, Bahtiar Rifai, Ibad Durohman
Penulis: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.

SHARE