INVESTIGASI

Gelimang Harta Panitera Rohadi

Aset tersangka kasus suap vonis pedangdut Saipul Jamil, Rohadi, di kampungnya menjadi sorotan. Rumah sakitnya diisi dokter bermasalah. KPK telah menyita 18 mobil milik Rohadi.

Ilustrasi: Luthfy Syahban

Selasa, 26 Juli 2016

Nama Wahyu Widayati dirasa cukup sakti bagi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Dedi Rohendi. Pengurusan izin pendirian Rumah Sakit Reysa Permata di Desa Cikedung Lor, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu, melenggang lancar di tangan Widayati.

Izin pendirian rumah sakit swasta tipe D di bawah bendera PT Reysa Permata itu hanya perlu waktu tiga hari untuk dikeluarkan oleh Badan Penanaman Modal dan Perizinan (BPMP) Indramayu. Padahal rumah sakit ini tak memenuhi syarat.

“Itu izin (BPMP) bisa keluar, padahal tidak ada rekomendasi dari kami (Dinas Kesehatan Indramayu). Kata BPMP (Indramayu), nama yang mengajukan adalah Wahyu Widayati, istri Rohadi yang pertama,” ujar Dedi kepada detikX.

BPMP Indramayu tak berkutik dengan status Widayati sebagai istri Rohadi itu. Rohadi, petugas panitera Pengadilan Negeri Jakarta Utara, terkenal sebagai orang kaya di Indramayu. Selain Widawati, menantu Rohadi, Siti Nur, pun ikut mengurus izin itu.

Bangunan Rumah Sakit Reysa Permata di Indramayu. 
Foto: Bahtiar Rifai/detikX

Januari 2016, berkas perizinan itu singgah di Dinas Kesehatan Indramayu untuk mendapatkan izin operasional sebagai rumah sakit umum, tapi langsung ditolak Dedi. Penolakan itu sudah ketiga kalinya, karena Dedi melihat banyak cacat dalam pendirian rumah sakit tersebut.

Pada saat izin pertama kali dilayangkan pada September 2015, direktur yang tercatat dalam akta rumah sakit bernama Siti Komariyah. Menurut Dedi, Siti bukan orang yang berpengalaman dalam bidang medis.

Sedangkan izin kedua dilayangkan pada Desember 2015. Jabatan direktur diisi oleh bekas Kepala Rumah Sakit Umum Daerah Indramayu Zaenal Arifin. Rekam jejak Zaenal cukup buruk. Ia divonis dua tahun penjara oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bandung dalam kasus korupsi kas RSUD Indramayu pada Maret 2015.

Surat izin pendirian Rumah Sakit Reysa, Indramayu
Foto: Bahtiar Rifai/detikX

“Jadi saya tolak karena juga yang mengajukan harusnya Direktur PT Reysa Permata, bukan direktur rumah sakitnya,” ujarnya.

Kepala BPMP Indramayu Toto Sumanto tak dapat ditemui untuk dimintai konfirmasi. Iwan Hermawan, wakilnya, hanya mengatakan tak tahu-menahu mengenai perizinan itu. Iwan hanya menyebutkan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi pernah datang ke BPMP untuk mengecek harta kekayaan Rohadi.

“Dari KPK, datang empat orang ke sini dan menanyakan surat yang sama seperti Anda. Mereka bilang dalam rangka mencari harta kekayaan Rohadi,” ucapnya kepada detikX.

Rumah Sakit Reysa memang menjadi salah satu aset Rohadi yang ditelisik oleh penyelidik KPK. Komisi antikorupsi itu tengah membidik Rohadi dalam kasus pencucian uang. Sumber di KPK menyebutkan, terkait hal itu, KPK sudah menyita 18 mobil, baik dari Indramayu maupun Jakarta.

Adapun Rohadi sudah ditetapkan oleh KPK sebagai tersangka dalam dugaan suap pengaturan vonis penyanyi dangdut Saipul Jamil di Pengadilan Negeri Jakarta Utara. KPK menemukan uang Rp 250 juta dalam operasi tangkap tangan pada 15 Juni 2016.

Kekayaan Rohadi itu berasal dari kerja keras. Rohadi merantau ke Jakarta dengan berjualan buku dan mi sembari bekerja sebagai panitera. Selain itu, Rohadi merambah jual-beli ikan hingga memiliki kapal."

Tonin Tachta Singarimbun, pengacara Rohadi.

Berdasarkan pantauan detikX di Desa Cikedung Lor, rumah sakit milik Rohadi itu berada tak jauh dari rumah orang tuanya di Blok Tarikolot. Rumah sakit itu tutup sejak Rohadi ditangkap KPK. Hanya ada dua unit ambulans yang terparkir di samping rumah sakit.

Luas rumah sakit itu diperkirakan 5.000 meter persegi. Di dalamnya ada tiga bangunan besar. Bangunan pertama, yang terletak di sayap kiri, merupakan klinik perawatan kecantikan atau skin care.

Bangunan kedua, yang berada di bagian depan, adalah lobi rumah sakit, instalasi gawat darurat, dan apotek. Sedangkan bangunan ketiga, di belakang, adalah ruang untuk rawat inap, klinik cuci darah, dan ruang dokter.

Parmin, seorang penjaga, menyebut Rumah Sakit Reysa, yang mulai dibangun pada 2014, memiliki delapan ruangan untuk rawat inap. Tiap ruangan diberi nama-nama bunga, seperti tulip, teratai, dan kemboja. Tiap ruang rawat inap itu bisa diisi 4-5 pasien.

Dedi menambahkan, rumah sakit itu sudah gembar-gembor mengenai pelayanan kesehatan bagi masyarakat kecil sejak November 2015. Bahkan mereka akan bekerja sama dengan BPJS dalam waktu dekat. Ia khawatir kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit itu tak mumpuni.

Salah satu bangunan di kompleks Rumah Sakit Reysa untuk perawatan kecantikan
Foto: Bahtiar Rifai/detikX

Rumah sakit tersebut sudah memiliki dokter, tapi dokter-dokter itu tak mengantongi surat tanda registrasi. Bahkan, kabar yang didengar Dedi, para dokter itu tersebut merupakan orang bermasalah di berbagai rumah sakit di Jakarta.

“Katanya itu tarikan Rohadi dari RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat), Rumah Sakit Pusat Pertamina, dan orang-orang bermasalah,” tuturnya.

Dedi pun tak bisa melepaskan kecurigaannya terhadap Direktur PT Reysa Permata, Adji Hoesodo. Pria itu memiliki gelar dari sarjana hingga profesor. Anehnya, ia tak mengkhususkan pada satu bidang. Gelar-gelar itu mencakup semua keahlian dari kedokteran, hukum, sosial, hingga elektronika.

Gelar itu juga terpampang di situs pribadi Adji. Disebutkan, ia merupakan lulusan Universitas Indonesia. Pendidikan kedokteran dan kesehatannya diperoleh di Delhi College of Medical, India, di bidang ilmu pengobatan dan bedah; kedokteran Cina di Huaihua TCM Medical College and Hospital untuk penyakit dalam; dan spesialisasi estetika kulit diselesaikan di CIBTAC, Inggris.

Gelar lainnya ia peroleh di San Beda College Manila sebagai doctor of business administration, sedangkan gelar magister hukum dengan spesialisasi kepailitan dan MA program in islamic mysticism di Islamic College for Advanced Studies, London, Inggris.


Naskah: Aryo Bhawono
Infografis: Luthfy Syahban

Ia pun memiliki berbagai sertifikat ilmu kedokteran tradisional, seperti Certified Behavioral Analyst, Certified Property Analyst, Certified Hypnotherapy, Certified Acupuncturist dan Chinese Physician, Certified Professional Homeopath, Certified HACCP, Certified Level 2 NLP, dan International Certificate NLP Practice from Victory Access International. Juga Certified Master Teacher of Shambala, Reiki, dan Karuna Ki.

Pada November 2015, Adji mengklaim Rumah Sakit Reysa bakal menjadi rumah sakit cuci darah terbesar di Indramayu. Mereka memiliki 50 mesin cuci darah. Walaupun fasilitas besar, rumah sakit ini berjanji memprioritaskan pelayanan kepada masyarakat miskin.

Bahkan, pada April 2016, Reysa menggelar seminar kesehatan. Adji datang sebagai Direktur PT Reysa Permata sekaligus perwakilan Lincoln University. Ia menyebutkan rumah sakit itu bakal mampu menyelenggarakan pendidikan bidang kesehatan. Materi perkuliahan dilakukan melalui online dan tatap muka di gedung rumah sakit.

Pembangunan perumahan elite dan water park terhenti karena masalah perizinan. Proyek ini terletak di belakang Rumah Sakit Reysa, Indramayu, yang sebagian pembangunannya juga terhenti.


Selain membikin rumah sakit, Rohadi berencana membangun real estate bernama Dream Park Cikedung, yang letaknya di belakang rumah sakit. Fasilitas kompleks itu bakal dilengkapi dengan supermarket, waterpark, bahkan sekolah bertaraf internasional. Ia mengincar lahan sekitar 160 hektare.

Dedi Rohendi, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, Jawa Barat
Foto: Bahtiar Rifai/detikX

Perumahan ini urung dibangun karena sebagian warga menolak menjual tanahnya. Kepala Desa Cikedung Lor, Unggul Baniaji, mengaku Rohadi sudah memiliki 16 hektare tanah yang dibeli dari warga desanya.

Sebanyak 74 warga Desa Mundak Jaya, tetangga Desa Cikedung Lor, waswas lahannya turut menjadi target lahan perumahan. Mereka tak mau menjual tanahnya karena ada kaitan dengan sistem irigasi.

“Itu pemicu warga demo ke desa. Kan rencananya pengembangan perumahan itu luasnya mencapai 160 hektare yang dibutuhkan,” kata Unggul.

Walau pembebasan lahannya belum tuntas, Rohadi tetap melakukan pengurukan pada 2015 dan pembangunan sejak Februari 2016. Kini bangunan ini terbengkalai karena proyek mandek. Sisa lahan masih berupa tegalan.

Pemerintah Kabupaten Indramayu juga menolak memberikan izin pembangunan real estate Rohadi itu. Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah menganggap pemanfaatan lahan untuk perumahan menyalahi Perda No. 1 Tahun 2012 tentang RTRW dan Undang-Undang No. 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.

Selain itu, dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah Indramayu, kawasan Cikedung tidak direncanakan untuk perumahan dan wisata. Tanah di Desa Cikedung Lor dan Mundak Jaya mayoritas diperuntukkan bagi pertanian.

Walau proyek real estate-nya bermasalah, Rohadi tetap saja bergelimang harta. Informasi yang diterima detikX, ia memiliki empat perahu tangkap berukuran 30 gross ton (GT) dan rumah mewah di Grand Royal Park, Karang Malang, Indramayu. Harganya sekitar Rp 700 juta.

Rumah mewah keluarga Rohadi di Indramayu
Foto: Bahtiar Rifai/detikX

Pengacara Rohadi, Tonin Tachta Singarimbun, menyatakan kekayaan Rohadi itu berasal dari kerja keras. Rohadi merantau ke Jakarta dengan berjualan buku dan mi sembari bekerja sebagai panitera. Selain itu, Rohadi merambah jual-beli ikan hingga memiliki kapal.

“Dia beli ikan dari nelayan. Sudah banyak duitnya, terbelilah kapal-kapal itu. Tapi jangan kau bayangkan kapal-kapal besar,” katanya kepada detikX.

Soal rumah sakit dan real estate di Cikedung, menurut Tonin, Rohadi membangunnya karena dijanjikan investasi oleh seseorang dengan gelar profesor. Si profesor tak datang sendirian. Ada lima orang yang menjanjikan investasi kepada Rohadi.

Menurut Tonin, justru merekalah yang bertanggung jawab atas rumah sakit dan perumahan itu. Rumah sakit itu pun bukan kelas yang elite. Orang yang menjanjikan investasi inilah yang menekan Rohadi untuk mengurus perizinan agar cepat selesai.

Mereka juga mendapatkan lima unit mobil Mitsubishi Pajero dari Rohadi. “Jadi orang itu entah dari mana, mau menjanjikan ada investor. Ubahlah sawah ini jadi rumah sakit, water park, dan real estate,” ujarnya.

Rohadi baru sadar karena, setelah memberikan mobil kepada orang tersebut, investor tak datang juga. Padahal Rohadi sudah mengeluarkan uang sekitar Rp 1,2 miliar.

Rohadi setelah diperiksa di gedung KPK, Jakarta.
Foto: Dhani Irawan/detikcom

Karena itu, pembangunannya terpaksa dihentikan lantaran biaya yang terlampau besar. Daripada Rohadi mengalami defisit, kata Tonin, mending pembangunan Dream Park Cikedung dihentikan sama sekali. Apalagi, ketika Tonin meminta akta pendirian rumah sakit, tak ada nama Rohadi di dalamnya.

Juru bicara KPK, Yuyuk Andrianti, mengatakan seluruh harta yang dipunyai Rohadi itu belum dilaporkan ke KPK. Sebagai panitera, sudah seharusnya Rohadi membuat Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara. Jika nanti diperoleh bukti yang cukup bahwa aset itu mengandung unsur korupsi, KPK akan menjerat Rohadi dalam pidana pencucian uang.

“Penyidik akan menelusuri, profilnya sebagai panitera apakah sesuai dengan harta kekayaan dia saat ini. Bisa dikatakan masih proses,” ujar Yuyuk kepada detikX.


Reporter: Ibad Durohman, Bahtiar Rifai, Isfari Hikmat, Aryo Bhawono
Redaktur: Aryo Bhawono
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.

SHARE