Dagang-Orang-di-Negeri-Jiran

INVESTIGASI

Dagang Orang
di Negeri Jiran

Sindikat perdagangan manusia lintas negara dibongkar di Sumur Batu, Kemayoran, Jakarta. Mereka memalsukan paspor dan memaksa mangsanya menjadi pekerja seks di Malaysia. 

Ilustrasi: Edi Wahyono

Rabu, 10 Agustus 2016

Imas (bukan nama sebenarnya) baru tiba di rumahnya di Bandung, Jawa Barat, ketika pesan singkat telepon seluler (SMS) itu masuk. Malam itu, empat temannya sesama perantau ilegal di Malaysia mengirim kabar bakal melompat dari jendela jika tidak ada bantuan.

Teman-teman Imas yang disekap di sebuah apartemen di Cheras, Kuala Lumpur, itu hendak dijajakan kepada pria hidung belang di kawasan Victoria Garden. Sebagian merupakan anak perempuan di bawah umur.

Senin, 2 Mei 2016, itu, Imas akhirnya menguatkan tekad untuk menelepon pengacara Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Alldo Fellix Januardy, dan membuat laporan. Sebelumnya, ia mendatangi LBH di Jalan Diponegoro Nomor 74, Jakarta, hanya untuk konsultasi.

Pas sudah masuk, saya disuruh pakai baju seksi, dandan rapi, dan sebagainya. Nah, dari situ saya mulai curiga, kok spa semacam ini?"

“Saya akhirnya melapor itu karena saya kasihan dengan teman-teman saya. Teman saya yang satunya umurnya masih 16 tahun, sebentar lagi dia mau dijual. Jadi, sebelum kejadian itu, dia mau loncat,” ucapnya ketika bertemu dengan detikX di Jakarta.

Imas sendiri berhasil pulang ke Indonesia setelah mengelabui bosnya di Kuala Lumpur. Ia dipaksa menjadi pekerja seks di sebuah spa di Victoria Garden. Namun keempat temannya masih terperangkap di sana.

Perjalanan Imas terjebak dalam perdagangan manusia di Malaysia itu cukup berliku. Ia berkenalan dengan Apriani Rahman alias Vio melalui media sosial Tagged pada akhir Desember 2015. Vio mengiming-imingi Imas pekerjaan dengan gaji Rp 15-20 juta melalui pesan pribadi.

Dua perempuan mengikuti aksi menentang perdagangan tenaga kerja Indonesia di luar negeri, di Jakarta.
Foto: Agung Pambudhy/detikcom

“Ada yang masuk ke kotak pesan saya, dan terus menawarkan kerjaan. Macam-macam pekerjaannya, ada di restoran, kafe, karaoke, dan spa dengan gaji Rp 15-20 juta per bulan. Dan itu freelance, tidak terikat kontrak,” ujar Imas.

Ia tak langsung percaya. Justru seorang teman yang ia beri tahu mengenai lowongan itu datang lebih dulu ke alamat yang disebut oleh Vio, Tower Emerald Apartemen Gading Nias, Jalan Pegangsaan 2 Nomor 3, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Ia baru menyusul seminggu kemudian dan ditemui oleh Vio. Pembicaraan pun berlanjut serius. Selama ini Imas bekerja sebagai terapis di salah satu hotel di Jakarta. Vio pun menawarkan pekerjaan sebagai terapis di salah satu spa di Kuala Lumpur.

Imas menerima tawaran ini. Apalagi Vio menjamin akan mengurus segala dokumen keberangkatan yang dibutuhkan, walaupun Imas tak memiliki kartu tanda penduduk karena masih dalam proses pembaruan KTP elektronik di kampungnya.

Janji Vio soal dokumen dipenuhi. Imas disuruh bertemu dengan seseorang bernama Syarif Hasan. Syarif-lah yang membuatkan surat identitas dan paspor baru. Sedangkan KTP asli Imas ditahan oleh Vio.

“Jadi KTP, paspor, dan kartu keluarga palsu semua. Terus tanggal lahir, seharusnya tahun 1986, menjadi 1992,” ujar perempuan asal Bandung itu.

Cheras, wilayah di Kuala Lumpur yang dijadikan lokasi penampungan korban.
Foto: googlemap

Selama menunggu pemberangkatan, Imas diinapkan di Tower Dahlia, Apartemen Gading Nias, bersama lima orang lain. Mereka berasal dari tempat yang berbeda, ada yang dari Jawa, ada juga yang dari Lampung. Vio menawari mereka pekerjaan melalui media sosial lain, seperti BeeTalk dan WeChat.

Pada 21 Februari 2016, Imas dan dua rekannya diberangkatkan ke Malaysia dengan pesawat. Ia tak mengeluarkan dana sepeser pun untuk tiket perjalanan, penginapan, dan dokumen. Seluruh biaya ini tanpa sepengetahuan Imas dibebankan kepadanya dan seluruh gajinya dipakai untuk mencicil.

Sesampai di Kuala Lumpur, ketiga orang itu dijemput dan dibawa menuju rumah seseorang bernama Afay di Cheras. Keesokan harinya, ia langsung dibawa menuju tempat spa. Sedangkan dua teman lainnya dibawa entah ke mana.

Namun spa tempatnya bekerja ternyata prostitusi terselubung. Imas dipaksa menjadi pekerja seks dan melayani tamu hidung belang. “Pas sudah masuk, saya disuruh pakai baju seksi, dandan rapi, dan sebagainya. Nah, dari situ saya mulai curiga, kok spa semacam ini?” ujarnya.

Imas lantas mencari akal untuk pulang ke Indonesia. Permintaannya melalui Vio tak digubris dengan alasan utang atas biaya pemberangkatan dan pembuatan dokumen. Keluarganya, yang dihubungi melalui ponsel, tak mampu berbuat apa-apa.

Salah satu pesan via media sosial Tagged yang diterima korban yang isinya tawaran pekerjaan.
 Foto: Istimewa

Akhirnya ia menemukan cara untuk pulang dengan alasan orang tuanya sakit keras dan berjanji balik lagi ke Kuala Lumpur. Salah satu anggota keluarga Imas menelepon Afay, mengabarkan kondisi ibu Imas. Imas akhirnya diperbolehkan pulang dengan pengawalan ketat sampai ke Bandar Udara Kuala Lumpur.

Sesampai di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Imas langsung ditelepon Vio untuk memastikan tak lari. Begitu pula selama Imas berada di rumah. Bahkan Vio mengancam akan membunuhnya. “Mengancamnya itu mau bunuh, tapi pakai disantet, karena dia mengaku orang Banten. Saya juga ngeri,” tuturnya.

Namun ancaman itu hanya isapan jempol. Imas akhirnya datang ke LBH Jakarta untuk minta pendampingan saat membuat laporan.

Alldo menyebutkan Imas diantar oleh sopir yang biasa disewa oleh Vio untuk mengantar korban. Ia biasa disuruh mengantar korban sampai ke Bandara Soekarno-Hatta untuk diberangkatkan ke Malaysia.

Namun sopir tersebut tak tahu-menahu mengenai perdagangan manusia. Untungnya, ia masih menyimpan beberapa nomor ponsel beberapa korban. Beberapa di antara mereka masih bisa dikontak dan dimintai keterangan.

Alldo sendiri lantas menghubungi Kedutaan Besar Republik Indonesia Kuala Lumpur pada 2 Mei 2016. Beberapa teman Imas di Kuala Lumpur masih harus diselamatkan. Mereka berjumlah tujuh orang.

Sumber: Bareskrim Polri tahun 2015 dalam Laporan Sekretariat Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang tahun 2015

Sumber: Dirjen Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM dalam Laporan Sekretariat Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang tahun 2015
Infografis: Luthfy Syahban

“Saya langsung mengontak KBRI Malaysia, dubesnya langsung, dan kemudian ke konsuler bagian perlindungan WNI, untuk melaporkan alamat-alamat TKI ditempatkan,” ujarnya.

Konsul Jenderal KBRI Kuala Lumpur, Hesti Dewayani, langsung meneruskan laporan Alldo ke kepolisian setempat. Mereka bertindak cepat. Enam jam setelah laporan itu diterima polisi, korban bisa diselamatkan. Aparat kepolisian langsung menggelar operasi untuk meringkus jaringan yang ada di Malaysia.

Gelar operasi berhasil menyelamatkan tujuh orang di sebuah kamar apartemen di Cheras, satu orang di sebuah hotel kawasan Subang Jaya, dan satu orang lagi di hotel kawasan Kepong. Tiga tempat tersebut berada di Kota Kuala Lumpur. Dua orang korban tercatat di bawah umur.

“Saat ini masih di rumah perlindungan. Kami ada kunjungan rutin. Sebab, kalau mau berkunjung, mesti ada persetujuan dari pemerintah Malaysia,” kata Hesti kepada detikX melalui sambungan telepon.

Mabes Polri sendiri baru menyambangi rumah Vio di Jalan Mustika II Nomor 9, Sumur Batu, Kemayoran, Jakarta Utara, pada Juli 2016. Tujuh polisi mendatangi rumah Ketua RT 13 RW 03, Sumur Batu, Kemayoran, Deddi Supriadi tengah malam. Mereka memastikan identitas Vio cocok.

Sindikat itu biasanya menjerat korban dengan utang. Korban dianggap memiliki utang, yang harus dibayar jika tidak kembali ke Kuala Lumpur."

Namun upaya penangkapan malam itu nihil. Vio tinggal di rumah peninggalan orang tuanya itu bersama suami, Rendi, dan keluarga besarnya. Rumah tersebut kosong ketika polisi datang. Polisi hanya melakukan penggeledahan dan menemukan dokumen korban.

“Begitu digeledah, ternyata ditemukan dokumen-dokumen dan catatan. Kata polisi, ‘Wah, ini nih catatan yang dicari,’” ungkap Deddi.

Vio dan Rendi baru dapat diringkus pada 27 Juli 2016. Deddi mengaku melakukan pendekatan terhadap tetangga yang tinggal tepat di belakang rumahnya itu. Ia menuturkan dekat dengan keluarga tersebut karena ibu Vio pernah menjadi bendahara RT.

Menurut Deddi, Vio pernah minta surat pengantar untuk membuat paspor kepadanya. Saat itu, kata Deddi, Vio punya urusan di Malaysia.

Berdasarkan pantauan detikX, rumah Vio ramai orang. Adik Vio, Akbar, yang sempat dimintai keterangan, enggan menjawab pertanyaan mengenai kakaknya.

Sementara itu, pemalsu dokumen, Syarif Hasan, diringkus di Kantor Imigrasi Jakarta Barat. Ia tergabung dalam Asosiasi Pembuat Dokumen Imigrasi, sebuah perkumpulan biro jasa pengurusan paspor. Salah satu rekan Syarif, Agus, mengaku lima polisi meringkus Syarif di lokasi parkir Kantor Imigrasi Jakarta Barat.

Menurut Agus, Syarif tergolong sebagai orang baru di organisasinya. Ia beberapa kali membuatkan paspor untuk perempuan yang akan bekerja di tempat hiburan di luar negeri. Namun data yang dimasukkannya bermasalah.

Rumah Vio di Jalan Mustika II Nomor 9, Sumur Batu, Kemayoran, Jakarta Utara
Foto: Ari Saputra/detikcom

“Jadi dia membantu proses paspor cewek entertainment. Ternyata tidak sesuai dengan (bayangan), mungkin. Kan awalnya jadi TKI biasa, enggak tahu di sana dipekerjakan sebagai PSK,” kata Agus.

Kepala Unit IV Subdirektorat III/VC-TPPO Direktorat Pidana Umum Badan Reserse Kriminal Mabes Polri Ajun Komisaris Besar Reynold Hutagalung menyebutkan Vio bekerja sama dengan sindikat yang ada di Malaysia. Terdapat dua orang yang menerima korban di Kuala Lumpur, yakni Afay dan Samuel. Hingga kini polisi masih mendalami kasus ini.

Mereka biasa menjerat korban dengan utang. Imas sendiri dianggap memiliki utang sekitar Rp 18 juta untuk pulang ke Indonesia. Utang ini harus dibayar jika Imas tidak kembali ke Kuala Lumpur. Jika Imas kembali, gajinya selama bekerja digunakan untuk mencicil.

Sedangkan ketiga tersangka yang ditangkap Bareskrim berkomplot untuk memberangkatkan pekerja melalui jalur ilegal. Terhadap Vio, Rendi, dan Syarif, polisi mengenakan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang dan/atau Pasal 102 Ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri.


Reporter: Ibad Durohman, Isfari Hikmat, Bahtiar Rifai
Redaktur: Aryo Bhawono
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.

SHARE