Mimpi-Pak-Menteri-Kandas-di-Gunung-Lawu

INVESTIGASI

‘Pak Menteri’ Pun Benar Pergi Jauh 

“Aku mau naik gunung. Besok mobilnya akan aku jual. Orang sopirnya mau pergi jauh.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Kamis, 2 Februari 2017

Sedari kecil, Syaits Asyam di mata keluarga dikenal aktif. Sejak fajar menyingsing hingga senja menjelang, sejumlah aktivitas dilakoninya.

Kebiasaan tersebut terus dijalani hingga Asyam dewasa dan berkuliah di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Sri Handayani, ibu kandung Asyam, mengatakan, saat bersekolah di SMA Kesatuan Bangsa, Yogyakarta, dan tinggal di asrama, hari-hari anaknya itu diisi dengan banyak kegiatan.

“Anak itu (Asyam) paling senang jika ada kegiatan. Makanya kami suka memanggilnya dengan sebutan ‘Pak Menteri’ karena saking sibuknya,” ujar Handayani, yang tinggal di daerah Jetis, Caturharjo, Sleman, Yogyakarta.

Handayani sering mengingatkan Asyam agar tidak terlalu sibuk dengan kegiatan ini-itu. Namun pemuda berusia 19 tahun tersebut beralasan semua itu dilakukan untuk membahagiakan ibunya kelak.

Sebab, selama ini kebutuhan hidup keluarga hanya ditopang Abdullah, ayah Asyam, yang saat ini bekerja di Banjarmasin, Kalimantan Timur.

Jalan Asyam menuju kesuksesan sedikit demi sedikit mulai terlihat dengan berbagai penghargaan di bidang penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa jurusan teknik industri ini.

Misalnya hasil penelitiannya terkait penguraian limbah oli di laut menjadi juara dan mendapatkan medali emas di ajang International Environment & Scientific Project Olympiad di Belanda pada 2014.

Pada tahun yang sama, Asyam berhasil mendapat dua medali emas di International Science Project Olympiad bidang kimia yang digelar di Jakarta.

Untuk mengembangkan diri, Asyam, yang lahir pada 7 Juli 1997, juga punya niat melanjutkan pendidikan di Universitas Oxford, London.

Gedung Rektorat Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta
Foto: dok. CNN

Giatnya Asyam menuntut ilmu dan melakukan penelitian membuat orang tuanya berharap suatu saat Asyam bisa menjadi menteri, mungkin Menteri Riset dan Teknologi.

“Asyam kan suka penelitian. Makanya ibunya berharap anaknya itu bisa menjadi menteri. Dan saya selalu bilang kepadanya agar menjadi orang yang benar, bermanfaat,” ujar Lilik Margono, paman Asyam, kepada detikX.

Namun impian itu kandas ketika Asyam mengikuti kegiatan pendidikan dasar Mapala Unisi UII di Desa Tloglodringo, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, pada pengujung Januari 2017.

Asyam meninggal di Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta, karena gagal pernapasan. Bukan itu saja, di tubuhnya juga ditemukan banyak luka.

Lilik tidak menyangka perkataan Asyam sebelum berangkat mengikuti diksar di Gunung Lawu menjadi pertanda bahwa keponakannya itu akan pergi untuk selamanya.

“Pesannya seperti ini, ‘Aku mau naik gunung. Besok mobilnya akan aku jual. Orang sopirnya mau pergi jauh. Nitip ibu saya, Pakde. Pakde yang aku sayangi.’ Aduh, Mas, terakhir dia omong begitu,” tutur Margono, yang tak kuasa menahan air matanya.

Makam Asyam
Foto: dok. detikcom


Meninggalnya Asyam tentu menjadi pukulan berat bagi keluarga. Namun, menurut Lilik, keluarga sudah merelakannya.

Duka yang sama dialami Syafii, 58 tahun, ayah Ilham Nurpadmy Listia Adi. Warga Nusa Tenggara Barat ini tidak menyangka Ilham, yang disekolahkan hingga ke seberang, harus tewas.

“Jauh-jauh saya sekolahkan anak di UII, berharap jadi anak saleh dan berbakti, tapi malah jadi korban penganiayaan,” kata Syafii.

Dikatakan Syafii, anaknya sejak 17 Januari mengikuti kegiatan diksar Mapala Unisi UII. Selama kegiatan itu, pihak keluarga tidak pernah mendapatkan kabar dari sang anak.

Beberapa hari berselang, Senin, 23 Januari, justru kabar buruk yang diterima keluarga. Ilham meninggal di Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta.

“Saya dikabari (Senin, 23 Januari) pukul 23.34 WIB, anak saya sudah meninggal,” tutur Syafii.

Selain Syafii, teman kuliah Ilham, Widi Pradana, merasa sangat kehilangan. Dia tidak menyangka Ilham yang dikenal supel dalam bergaul harus diperlakukan seperti itu (dianiaya) saat diksar.

Ibunda Asyam menerima Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M. Nasir
Foto: Bagus/detikcom

Secara fisik, menurut Widi, Ilham punya postur tubuh berisi dan cukup tinggi badannya. Jadi Widi tidak yakin Ilham meninggal karena kelelahan saat menjalani pelatihan di Gunung Lawu.

Di lingkungan temannya, Ilham memang dikenal punya hobi naik gunung. Terakhir pada 2015, mahasiswa jurusan hukum internasional itu naik Gunung Andong, Magelang, Jawa Tengah.

Satu korban tewas lainnya, Muhammad Fadli, 20 tahun, juga dikenal punya kesibukan di alam bebas dan fotografi.

Edy Suryanto, ayah Fadli, mengatakan, saat bersekolah SMK di Batam, Kepulauan Riau, anaknya itu dua kali naik Gunung Merbabu, Jawa Tengah.

Aktivitas sebagai fotografer amatir membuat Fadli dan teman temannya di komunitas fotografi sering melakukan hunting di sejumlah tempat.

Namun, dalam aktivitas pendidikan, Suryanto mengakui prestasi anaknya biasa-biasa saja. “Yang menurut saya tampak menonjol itu dia kan hobi fotografi dan hobi komputer,” Suryanto mengenang.

Saat di SMK, Fadli mengambil jurusan teknik elektro. Begitu lulus, anak sulung dari tiga bersaudara ini memilih kuliah di Jurusan Teknik Elektro UII.

Siapa sangka, Fadli kemudian diketahui meninggal saat mengikuti diksar yang diadakan Mapala Unisi. Tidak ada firasat apa pun di keluarga menjelang kepergian Fadli untuk selamanya itu.

Syafii, ayah Ilham, berjabat tangan dengan Rektor UII Harsoyo
Foto: dok. detikcom

Ma, aku ada ikut mapala, ya. Jangan terlalu pikiran yang macam-macam, ya, Ma."

Hanya, pada hari-hari terakhir, Fadli sering menelepon orang tuanya. Hal ini jarang dilakukan sebelumnya.

“Biasanya tiga hari atau seminggu baru telepon. Itu pun kalau mau minta uang atau ada keperluan lain-lain,” kata Suryanto.

Namun, pada hari-hari terakhirnya, Fadli setiap hari menelepon ibunya, Ngajelinar. “Ma, aku ada ikut mapala, ya. Jangan terlalu pikiran yang macam-macam, ya, Ma,” ucap Suryanto menirukan percakapan anaknya saat ingin mengikuti pelatihan.

Besoknya Fadli menelepon lagi. Kalimatnya sama. Kata-kata itu diucapkan Fadli selama tiga hari berturut-turut.

Tak ada yang menyangka perilaku Fadli yang sering menelepon pada hari-hari terakhirnya itu merupakan sebuah pertanda bagi keluarga akan kehilangan dia untuk selamanya.

Sampai saat ini keluarga tidak mengetahui bagaimana kronologi kejadian dan apa penyebab yang membuat anaknya meninggal.

Yang keluarga tahu, Fadli sudah ditutupi kain kafan saat mereka melihatnya. Kondisinya sudah dibersihkan, sudah dimandikan. Suryanto hanya mendengar keterangan dari Mapala Unisi bahwa anaknya mengalami keram perut.


Reporter: Gresnia Arela F., M. Rizal
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Investigasi mengupas isu panas terbaru yang mendapat perhatian besar publik secara mendalam. Isu ini mencakup politik, hukum, kriminal, dan lingkungan.

SHARE